"Loh gelasnya kok cuma ada tiga ma?" Tanya Emili heran saat mamanya hanya mengambilkan tiga buah gelas mangkuk es.
"Iya sayang, gelas yang lain baru saja di cuci dan masih basah. Sudahlah kalian bertiga saja yang makan es pudingnya" kata mama Susan.
"Eh jangan gitu dong mah, begini saja biar Emili nanti berbagi dengan mas Candra. Mama tunggu saja didepan sebentar lagi esnya sudah jadi" ucap Emili.
"Baiklah mama tunggu didepan ya" kata mama Susan kemudian berlalu meninggalkan Emili.
***
"Bagaimana nak, apakah Emili masih sering melukai hatimu?" Tanya papa Wirawan kepada Candra.
"Tidak pa, Alhamdulillah dek Mili sekarang sudah banyak berubah dan sudah tidak pernah berkata kasar lagi padaku" jawab jujur Candra.
"Kau tidak berbohong kan?" Tanya papa Wirawan lagi.
"Tidak pa" jawab Candra.
Papa Wirawan pun bisa melihat kejujuran Candra dari raut wajahnya yang semakin kesini terlihat bahagia.
"Syukurlah kalau begitu"
"Bagaimana pekerjaan kamu nak?" Tanya mama Susan yang baru saja datang dan ikut duduk santai di sofa.
"Alhamdulillah baik dan lancar ma" jawab Candra.
"Sudah sukses merebut hati anak gadis mama ya?" Tanya mama Susan dengan senyum tipis.
"Maksud mama apa?" Tanya papa Wirawan.
"Tadi didapur anak kita Emili senyum-senyum terus pas ditanyain soal Candra pa" terang mama Susan.
"Benarkah?? Wah ini kabar yang sangat baik"
Sementara Candra hanya tersenyum tak percaya mendengar penuturan dari mama mertuanya itu.
"Kalian lagi membicarakan apa sih kayaknya seru" suara Emili dari arah belakang sambil membawa tiga gelas es puding dan duduk disamping suaminya.
"Kami membicarakan masalah pekerjaan dek" jawab Candra.
"Oh gitu, oh ya mas, pa, aku baru saja membuat es puding mangga. Cobain deh aku harap kalian suka" ucap Emili.
"Wah, pengertian sekali. Tau saja kalau papa sedang ingin menikmati yang segar-segar" respon papa Wirawan dengan girang.
"Kok cuma tiga?" Tanyanya lagi.
"Ini pa, wadah yang bersih cuma ada tiga jadi Emili cuma bikin tiga hehe" jelas Emili.
"Kalau begitu kita makan berdua saja ya dek" kata Candra.
"Memangnya boleh?" Tanya Emili.
"Tentu saja, mau aku suapi? Sini akkk" Tanya Candra yang mana membuat jantung Emili berdetak sangat kencang kemudian menoleh ke arah kedua orangtuanya.
"Tidak usah malu, kalian kan sudah menikah" kata mama Susan yang paham akan tatapan anaknya itu.
Emili pun menerima suapan itu dengan wajah yang memerah.
"Lihatlah pa, anak kita malu-malu kucing." Ucap mama Susan.
"Namanya juga pengantin baru ma, kaya mama gak pernah ngalamin aja" ujar papa Wirawan sambil tersenyum.
Mereka pun memakan puding itu diselingi candaan yang hangat. Tak lupa juga Candra dengan telaten menyuapi istrinya itu.
Emili merasakan kebahagiaan yang mendalam karena ini baru pertama kalinya ia menikmati waktu mengobrol dengan kedua orangtuanya. Sungguh kebahagiaan yang hakiki.
Tak terasa jam pun sudah menunjukkan pukul 19.00 pertanda sudah waktunya makan malam.
"Tuan, nyonya, nona, makan malamnya sudah siap" ujar seorang maid.
"Baiklah kami akan segera kesana" ucap papa Wirawan.
"Ayo kita makan malam dahulu nak" ajak papa Wirawan.
"Mari pa" jawab Candra.
Makan malam kali ini sungguh terasa hangat. Mereka semua bahagia lantaran bisa menikmati kehangatan ini.
Setelah makan malam selesai, Emili pun masuk kedalam kamar dan diikuti Candra.
Ia langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Candra yang melihat pun mengambil salah satu selimut dan hendak beranjak namun suara Emili mengehentikan langkahnya.
"Kamu mau kemana mas?" Tanya Emili.
"Tidur dek, ini sudah malam" jawab Candra.
"Emhh tidur dimana?" Tanyanya lagi.
"Di sofa itu" jawab Candra sambil menunjuk sofa tempat ia tidur pertama kali dirumah ini.
"Ohh" jawab Emili sambil tersenyum canggung.
"Ada apa dek?"
"Tidak ada apa-apa mas"
"Yasudah kalau begitu mas tidur dulu ya" ucap Candra hendak melangkah namun suara Emili kembali mengentikan langkahnya.
"Mas??"
"Iya dek??"
"Tidurlah disini" kata Emili sambil menutup wajahnya menggunakan selimut.
"Maksudmu?"
"Tidur disini, disampingku" kata Emili lagi.
Jantung Candra langsung berdetak kencang saat mendengar permintaan Emili. Ia tersenyum lebar saat Emili masih saja menyembunyikan wajahnya karena malu.
"Memangnya boleh?" Tanya Candra.
Emili pun mengangguk dalam selimut.
Candra dengan sigap langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan bersebelahan dengan Emili yang sedang membelakanginya.
"Huhh dingin ya" kata Candra.
"Pakailah selimut ini mas" ucap Emili sambil melonggar selimutnya agar bisa dipakai berdua dengan Candra.
Candra semakin senang dan langsung masuk kedalam selimut yang sama dengan Emili. Dengan sedikit ragu ia memanggil istrinya.
"Dek??" Panggil Candra.
"Iya?" Jawab Emili masih dengan tubuh yang membelakangi suaminya karena masih malu.
"Suaminya lagi bicara kok malah mengahadap kesana sih" kata Candra.
Emili pun langsung menghadap Candra dan seketika kedua mata mereka beradu pandang. Cukup lama mereka saling menatap dalam diam hingga entah mengapa naluri Candra sebagai seorang laki-laki mendekati Emili dan mencium bibir tebal istrinya itu.
Emili yang dicium kembali berdetak kencang jantungnya dan entah mengapa ia pun tak menolak ataupun marah saat Candra menciumnya.
Merasa tidak ada penolakan, Candra pun melumat bibir istrinya. Emili masih diam mematung tak bergerak. Candra yang sudah semakin yakin mendapatkan sinyal dari Emili pun langsung memperdalam ciumannya hingga ciuman yang awalnya sangat lembut menjadi ciuman yang sangat menuntut.
Tanpa Emili sadari, ia melenguh terbuai oleh ciuman Candra dan naluriah membalas ciumannya. Mereka pun terlibat ciuman yang cukup panas. Candra langsung meremas dua gundukan kenyal milik istrinya yang masih sangat kencang itu karena memang Candra lah yang pertama untuknya. Bahkan ciuman ini pun ciuaman pertama mereka berdua yang sama-sama belum berpengalaman. Meski sedikit kaku mereka pun melanjutkan ciumannya hingga keduanya kehabisan nafas.
"Maafkan aku dek," ucap Candra yang diliputi rasa bersalah karena sudah tidak bersabar menunggu hingga Emili mencintainya.
"Aku paham kok mas" jawab Emili.
"Maafkan aku yang tak bisa menahan diri saat dekat denganmu dek. Aku janji tidak akan menyentuhmu sebelum kamu mencintaiku" kata Candra.
"Bagaimana jika aku sudah mulai mencintaimu?" Tanya Emili yang membuat Candra terkejut.
"Apa maksudmu dek?"
"Bagaimana jika aku sudah mulai menerimamu?" Tanya Emili lagi.
"Kau mau memberikan aku kesempatan layaknya seorang pria kepada wanita?? Bukan terhadap sahabatnya?" Tanya Candra.
"Aku bukan hanya akan memberimu kesempatan mas, tapi aku merasa aku sudah mulai menyukaimu" jujur Emili.
Candra pun tersenyum bahagia dan langsung memeluk tubuh istrinya itu.
"Terimakasih dek sudah mau membuka hati untukku, aku janji akan menjadi suami yang baik untukmu" ucap Candra terharu.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" Tanya Emili.
"Apapun itu asalkan aku sanggup dek"
Emili pun tersenyum dan menyentuh dan mengusap lembut bibir suaminya. Entah mengapa ia menjadi sangat menginginkan bibir itu lagi. Bibir yang baru saja menjadi yang pertama untuknya. Ciuman itu sangatlah memabukkan. Rasanya sungguh sangat manis dan membuat tubuh Emili merasakan getaran aneh.
Candra yang paham pun tanpa menjawab langsung melumat kembali bibir milik istrinya itu.