Berteman

1338 Kata
Esok paginya, Emili bangun lebih awal dan mencoba untuk membuat sarapan untuk Candra. Ia tadi malam sudah meyakinkan tekad jika ia harus berdamai dengan Candra meski hanya sebatas teman. "Dek kamu sudah bangun?" Tanya Candra yang kaget melihat Emili yang tengah memasak di dapur. "Sudah mas!" Ucap Emili. Candra pun langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, namun saat ia masuk tiba-tiba terdengar suara seperti orang terpeleset jatuh di dalam. Emili yang mendengar langsung mendobrak pintu kamar mandi karena sangking khawatirnya. Beruntung itu hanyalah pintu biasa dengan sebuah kunci dari sebatang kayu. Emili terkejut melihat Candra yang tengah terjatuh dalam posisi duduk sedang meringis kesakitan. Dengan sigap Emili langsung membantu Candra dan membawanya duduk di kursi tempat mereka makan. Ia mengambil air hangat untuk mengompres luka yang kembali berdarah di lutut Candra itu. "Akhhh" teriak Candra saat lukanya di basuh air hangat. "Sakit ya?? Sebentar ya mas ini tidak akan lama" ucap Emili.  Setelah itu Emili mengambil dua porsi nasi goreng keatas meja dan dua gelas teh hangat. "Kamu yang masak ini?" Tanya Candra. "Kan tadi kamu lihat sendiri!" Ucap Emili. Candra heran melihat beberapa potongan aneh yang ada di dalam nasi goreng itu. Namun ia mencoba menghargai usaha Emili. Candra pun mencoba mencicipi nasi goreng buatan istrinya. Saat ia menyendokkan ke mulut ia terkejut mendapati rasanya. Rasanya sangat aneh dan cenderung sangat asin dan pedas. "Bagaimana mas?? Enak tidak??" Tanya Emili. Candra pun memaksakan senyuman kemudian berkata. (Rasa apa ini? Ada jahe, kunyit, lengkuas, bahkan ada ketumbar yang masih utuh.") Bathin Candra "Ini adalah nasi goreng paling enak yang pernah aku makan dek. Kalau boleh tau bumbunya apa saja?" Tanya Candra. "Benarkah??? Aku tidak tahu itu bumbunya bernama apa saja, namun semua bumbu yang ada disana aku potong-potong saja dan aku tumis" ucap Emili sambil tersenyum. Candra pun melongo mendengar jawaban Emili. Ia menatap Emili yang tengah menyendokkan nasi goreng itu. "Huekkk, rasanya aneh dan sangat asin. Seleramu sungguh aneh mas," ucap Emili. ("Memang seperti itu rasanya") bathin Candra. "Aku sudah kenyang mas, diwajan masih banyak kalau kamu suka kamu makan saja semuanya" ucap Emili. "Oh tidak dek aku sudah kenyang" ucap Candra sambil meminum s**u. ("Hmmm teh ini lumayan lah tidak seburuk nasi goreng itu") bathin Candra. Ia menghargai usaha dari istrinya itu dengan tidak mempermasalahkan rasanya. Setelah menyelesaikan sarapan, Emili pun mencuci semua alat yang kotor meski harus berdebat dahulu dengan Candra lantaran Candra sebenarnya tidak mengijinkan ia mencuci kemudian setelah selesai ia mendekati Candra. "Mas bolehkah aku bicara?" Tanya Emili. "Ada apa dek, sini duduklah dahulu" ucap Candra menepuk kursi kosong disebelahnya. Emili pun menurut dan duduk disamping Candra. "Mas, meski kita tidak saling mencintai bolehkah kita menjadi teman?? Aku tak mau kita menjadi musuh seperti ini. Setidaknya meski begitu kita bisa akur dan hidup dengan pasangan masing-masing. Kau dan wanitamu itu dan aku dengan kak Mike" ucap Emili. ("Jadi namanya Mike") bathin Candra. "Aku tidak keberatan dengan permintaanmu itu dek, tapi ketahuilah jika dia bukan wanita ku, dia adalah sahabatku sejak aku masih SD dan dia pindah keluar negeri mengikuti orang tuanya dan sekarang dia kembali ke Indonesia karena pekerjaan" jawab Candra. "Berarti dia bukan pacar kamu?" Tanya Emili dengan mata sedikit berbinar. "Aku sudah punya istri dan sudah kewajibanku untuk menjaga kesucian pernikahan ini dek" ucap Candra. Emili pun bagai tertampar mendengar ucapan Candra. Malu, sungguh ia malu kepada Candra. Suaminya mampu menjaga pandangan meski i tak mencintai dirinya. Suaminya selalu sabar menghadapi kata-kata kasar dari mulutnya. Ia tak pernah menghargai suaminya dan bahkan ia telah memiliki pria lain di belakang Candra. "Kamu kenapa murung?" Tanya Candra. "Mas, maaf" lirih Emili. "Kenapa kamu minta maaf?" Tanya Candra. "Aku sudah mengkhianati pernikahan kita" ucap Emili. "Aku tau sebenarnya kamu bukan wanita yang seperti itu dek. Mas akan menunggu sampai kamu bisa menerima dan mencintai mas. Meski awalnya kita hanya berteman tapi setidaknya aku ada kesempatan untuk dekat denganmu dek" ucap Candra. Emili pun mengangguk dan tersenyum. *** Satu Minggu kemudian. Selama satu Minggu penuh Emili benar-benar merawat Candra. Mulai dari menyiapkan air hangat, membuat makanan, dan membuat teh hangat setiap pagi. Semua kebutuhan Candra dipenuhi. Candra bahagia lantaran sang istri sudah sedikit menyadari tugasnya sebagai istri. Pagi harinya Emili dan Candra tengah menyantap masakan  "Mas, besok papa meminta kita untuk menginap disana karena ada acara 1000 hari nenek" ucap Emili. "Baiklah nanti sore kita kesana ya. Pagi ini aku harus cari uang dulu" ucap Candra. "Kamu yakin mas sudah sehat betul?" Tanya Emili. "Aku yakin dek, lagipula kalau aku tidak kerja siapa yang akan menafkahimu?" Tanya Candra. "Mas uang ku lebih dari cukup untuk membeli sebuah rumah dan membangun usaha" kata Emili. "Aku tau dek, tapi yang istri adalah uang istri. Suami haram hukumnya menyentuh uang istri. Meski sedikit aku akan berusaha mencarinya dek untukmu" jawab Candra. Emili pun terharu dengan jawaban Candra. Sungguh inilah kebahagiaan yang selama ini Emili cari. Hidup sederhana namun penuh kehangatan. "Terimakasih mas" kata Emili. "Untuk apa?" "Perjuanganmu. Aku sangat menghargainya" jawab Emili. Setelah itu Candra pun langsung berangkat mencari nafkah, karena sudah satu Minggu semenjak kecelakaan itu pun ia tidak kemana-mana. *** Rumah keluarga besar Wirawan. "Assalamualaikum" ucap Emili dan Candra bersamaan. "Walaikumsallam" jawab orang-orang yang ada dirumah. "Emili!" Teriak mama Susan bahagia saat bertemu kembali dengan anaknya setelah sekitar hampir 3minggu belum bertemu lagi. Emili langsung memeluk mamanya dan melepas rindu. "Mama tak menyangka kamu benar-benar akan datang nak" ucap Susan haru. "Mana mungkin aku mangkir dari acara sepenting ini mah." Jawab Emili. Susan pun tersenyum. "Terimakasih ya nak Candra sudah mau mengantar anak gadis mama kesini" ucap Susan. "Sudah menjadi kewajiban saya ma" jawab Candra sambil tersenyum. "Bagaimana kabarmu? Baik kan?" Tanya papa Wirawan. "Kemarin mas Candra sempat,,," belum sempat Emili meneruskan kata-katanya tiba-tiba Candra memotong. "Alhamdulillah baik pa, ma, kalian tidak usah khawatir" jawab Candra sambil tersenyum ke arah Emili. "Syukurlah, mari masuk nak kamu pasti lelah" kata papa Wirawan kepada Candra dan ia pun mengangguk.  "Ayo kita kesana. Mama sudah masak puding mangga kesukannmu" ucap Susan langsung memeluk dan menarik tangan Emili. Diruang keluarga. "Kok pakai piring besar biasanya pakai lepek kecil?" Tanya mama Susan heran saat Emili memotong puding dan meletakkannya disebuah piring berukuran cukup besar untuk dimakan sendiri. "Mama ini bagaimana sih, aku menyiapkan ini untuk papa dan suamiku ma, ini nanti akan aku buat es puding mangga. Mama mau tidak?" Tanya Emili. Susan terkejut dan sedikit terharu dengan perubahan sikap Emili yang menjadi sedikit lebih hangat kepada Candra. Ia sangat bersyukur karena ternyata suaminya tidak salah memilih calon suami untuk anak gadis satu-satunya yang mereka punya itu. "Kok bengong sih ma?" Tanya Emili lagi. "Eh, tadi kamu ngomong apa?" "Aku mau membuat es puding mangga untuk papa dan mas Candra, apakah mama mau juga?" Tanya Emili lagi. "Iya sayang, mama tidak sabar mencoba es buatanmu itu" jawab Susan. Emili pun tersenyum sambil memotong puding dengan ukuran kecil. "Mil?" Panggil mama Susan. "Iya ma, ada apa?" Tanya Emili. "Mama lihat kamu lebih ceria dari pertama kali kamu meninggalkan rumah ini. Apakah kamu bahagia menikah dengan pilihan papamu?" Tanya ibu Susan. "Entahlah ma, aku sekarang mulai terbiasa dengan mas Candra. Aku juga nyaman jika sedang bersamanya. Namun aku tidak tau pasti apakah aku sudah menyukainya atau belum" jawab Emili apa adanya. "Mama sudah pernah bilang bukan? Jika (Witing Tresno Jalaran Soko Kulino) cinta akan tumbuh karena terbiasa bersama. Mama yakin semakin lama kamu akan mengetahui bagaimana perasaanmu sebenarnya kepada dia. Ingat pesan mama ya nak, kamu sudah memiliki suami maka kamu harus menjaga pandanganmu dan menjaga jarak dengan pria lain. Jadilah istri yang bermartabat dan berkualitas ya nak. Seorang istri itu akan dipandang buruk jika sudah memiliki suami namun dekat dengan pria lain" nasehat mama Susan. Emili pun langsung mengingat pengkhianatan dirinya kepada Candra. Ia menyesal terlalu gegabah menerima Mike menjadi kekasihnya. Namun nasi sudah menjadi bubur, ia sudah menjadi kekasih dari Mike. Bagaimana mungkin ia mengakhiri hubungan dengan Mike. Alasan apa yang harus ia berikan pada Mike. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia sudah menikah dan membohongi Mike karena takut akan membuat kekasihnya terluka. Ia hanya terdiam dengan kesalahan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN