"Dokter mengatakan jika nanti sore kamu sudah boleh pulang kak! Sekarang kamu minum obat dulu ya" ucap Khania dengan lemah lembut.
Candra pun mengangguk dan tersenyum ramah.
("Kenapa kamu datang disaat aku sudah mulai melupakanmu Khania?? Mengapa setidaknya kamu datang sebelum aku jatuh cinta kepada Emili. Aku harus apa sekarang? Perasaanku padamu benar-benar telah hilang dan digantikan dengan perasaan sayang yang teramat dalam pada istriku. Mungkin jika waktu itu aku lebih bersabar menunggumu tidak akan seperti ini hasilnya.") Bathin Candra.
"Setelah ini kamu rencana mau kemana?" Tanya Candra.
"Aku akan mengantarkan kamu pulang dan kembali ke rumah, karena mulai sekarang aku akan tinggal di Indonesia" jawab Khania.
("Itu artinya aku akan selalu bertemu denganmu?") Bathin Candra.
"Kok diem?? Kenapa?" Tanya Khania.
"Emhh enggak kok aku tidak apa-apa. Terimakasih sudah merawat aku"
"Sudah kewajiban ku kak"
****
"Halo?? Honey kamu dimana?" Tanya Emili.
"Aku sedang dirumah. Ada apa sayang?" Tanya Mike diseberang telepon sana.
"Bisakah kau menemaniku keluar sebentar? Aku bosan dirumah"
"Tentu saja sayang, aku jemput kamu ditempat biasa ya?"
"Emhh tidak honey, jemput aku dirumah sakit *** ya"
"Kamu sakit?" Tanya Mike cemas.
"Tidak honey, aku habis menjenguk temanku yang sakit. Aku tadi kesini menggunakan taksi jadi aku tidak bawa mobil" ucap Emili.
"Baiklah kamu tunggu disitu ya, dua puluh menit aku sampai disana"
"Thank you honey"
"Your welcome sayang"
Tut, sambungan telepon dimatikan.
"Kamu mau kemana?" Tanya seorang wanita yang kini tengah memeluk tubuh Mike diatas ranjang dengan tubuh yang masih sama-sama polos.
"Aku harus menemui kekasihku! Ini bayaran mu!. Sekarang pergilah, aku sudah tidak membutuhkanmu!"Ucap Mike sambil mengambil uang ratusan ribu di dompetnya dan memberikan kepada wanita bayaran itu.
Ia pun memunguti pakaian yang sudah berceceran dan langsung masuk kedalam kamar mandi.
Mike tetaplah tidak berubah,. Dia masih menjadi sang Casanova yang handal. Ia sebenarnya sering menyewa wanita untuk memuaskan nafsunya itu.
****
"Sayang maaf telah membuatmu menunggu" ucap Mike.
Emili pun mengangguk dan langsung masuk kedalam mobil.
"Tunggu dulu?? Kau kenapa sayang? Kenapa kau terlihat murung? Kau sakit?" Tanya mike.
"Tidak honey, aku hanya lapar karena tadi belum sempat sarapan" jawab Emili.
"Baiklah aku akan segera mengantarmu ke restoran terdekat" jawab Mike kemudian melajukan mobilnya.
Emili tidak berbohong, ia memang belum sempat sarapan karena merasa khawatir dengan keadaan Candra. Namun pemandangan menyakitkan itu membuatnya merasa kesal dan marah. Sungguh ia tak rela jika suaminya ternyata memiliki wanita lain.
Ia menatap arah samping jendela dan termenung.
("Apa benar ucapan mas Candra waktu itu? Aku tidak mencintai Mike dan hanya terobsesi saja? Lantas perasaan aneh apa ini? Aku merasa marah ketika ia dekat dengan wanita lain. Aku tak rela ia dekat dengan wanita lain. Didalam hatiku sungguh tak rela dan perih melihatnya bersama wanita lain. Aku takut ia akan meninggalkan aku sendiri. Sejak ada dia aku merasa dihargai. Aku bahagia meski hidup dalam kesederhanaan. Ahh tapi itu mungkin hanya perasaan biasa saja. Aku mencintai pria yang ada disampingku ini bukan dia") bathin Emili.
****
"Apakah kau yakin bisa berjalan sendiri kak?" Tanya Khania ragu.
"Iya Nia kau tidak usah khawatir, aku bisa sendiri" ucap Candra.
Namun saat ia mencoba berdiri, kakinya masih terasa kaku untuk digerakkan.
Dengan sigap tanpa meminta persetujuan dari Candra, Khania pun langsung menaruh tangan kekar Candra ke atas pundaknya dan memapah pria itu.
Mau tidak mau Candra pun menurut hingga sampai dimobil.
"Rumahmu sekarang dimana kak?" Tanya Khania.
"Belum bergeser dan belum berpindah tempat Nia, masih sama seperti terakhir kamu kesana" ucap Candra.
"Baiklah, oh ya kenapa ibumu tak menjenguk kamu?" Tanya Khania.
"Ibuku mengalami kecelakaan tabrak lari 5 tahun lalu, ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit" jawab Candra.
"Ya Tuhan, aku minta maaf kak, aku benar-benar tidak tahu. Lantas sekarang kamu tinggal dengan siapa?" Tanya Khania.
"Dengan istriku" jawab Candra singkat yang tanpa ia sadari membuat Khania merasakan perih.
Mereka pun sampai didepan gang.
"Aku parkir disini saja ya kak, kamu jangan turun dulu. Aku akan memapahmu sampai rumah" ucap Khania.
Ia pun turun dan memapah sahabatnya itu.
Tepat saat Khania dan Candra turun. Dari arah depan datang mobil mewah berwarna hitam parkir tepat didepan mobil Khania.
Dari dalam mobil nampak sosok yang amat ia kenali. Ya, seseorang yang keluar dari mobil itu adalah istri tercintanya, Emili.
"Terimakasih honey" ucap Emili kepada Mike. Mike pun langsung mengusap sayang kepala Emili. Ia masih belum menyadari jika Candra ada didepannya.
"Kak itu bukannya,,,"
"Istriku" jawab Candra singkat.
"Kau tidak apa kak?" Tanya Khania yang melihat raut wajah Candra yang memerah.
"Ya, aku tidak apa-apa. Ayo antar aku kedalam" ucap Candra.
Khania pun menurut dan langsung memapah pelan Candra.
Emili yang melihat lagi-lagi merasa perih dihatinya. Bahkan wanita itu kini tengah memeluk tubuh kekar suaminya.
Ia pun berjalan pelan dibelakang Candra hingga sampai dirumah.
Khania yang melihat Emili pun menjadi tak enak hati dan memutuskan untuk langsung pulang.
"Kak, aku langsung pulang saja ya," pamit Khania.
"Kau tidak mau mampir dulu?" Tanya Candra.
"Aku ada acara mendadak kak, mungkin lain kali aku akan mampir dan memakan mie goreng buatanmu lagi" ucap Khania sambil tersenyum.
"Mie goreng?? Apa yang ia maksud adalah mie goreng yang sama dengan yang pernah aku makan tempo hari? Siapa gadis ini? Mengapa ia terlihat begitu akrab dengan mas Candra" Bathin Emili.
"Aku pasti akan membuatkan mie goreng kesukaanmu itu kalau kamu mau kesini" ucap Candra.
"Mie goreng kesukaan?? Sudah berapa lama ia mengenal gadis ini sampai sang gadis memfavoritkan mie goreng buatannya?" Bathin Emili lagi.
"Ya sudah, aku pamit dulu ya kak" ucap Khania sambil tersenyum menampakkan gigi gingsul nya .
"Mari mbak" ucap Khania kepada Emili kemudian tersenyum.
"Sial, gadis ini sangat manis sekali. Pantas saja suamiku betah dengan dia" bathin Emili.
Candra pun langsung masuk begitu saja tanpa menghiraukan Emili meski ia harus berjalan sangat perlahan.
Emili yang tak tega langsung memeluk perut dan melingkarkan tangan Candra dipundaknya yang mana membuat Candra langsung terkejut dan membuat jantungnya kembali berdebar. Namun begitu mengingat pemandangan Emili dengan pria lain membuat senyuman tipis yang ada diwajahnya sirna begitu saja berganti dengan wajah yang sangat dingin.
"Malam ini kamu tidur di kamar saja!" Ucap Emili yang menuntun Candra ke dalam kamar kemudian pergi begitu saja.