"Emhh,, Khania apakah kau melihat ponselku?" Tanya Candra memecah suasana yang cukup canggung itu.
"Eh maaf kak aku lupa. Tadi bagian administrasi memberikan aku dompet dan ponselmu. Ini aku kembalikan kepadamu" ucap Khania.
Candra pun langsung menerima ponsel itu dan menghubungi Emili. Namun sampai panggilan ke sepuluh Emili masih belum juga mengangkatnya. Dan saat panggilan ke sebelas ternyata nomor ponsel Emili sudah tidak aktif lagi. Ia menghela nafasnya berat. Ia kemudian mengirim sebuah pesan singkat kepada Emili kemudian meletakkan ponselnya kembali.
"Menelfon siapa?" Tanya Khania.
"Istriku" jawab Candra singkat.
"Tidak diangkat ya?" Tanya Khania lagi.
"Mungkin ia sudah tertidur" jawab Candra dengan wajah murung.
Khania yang melihat ekspresi Candra pun menjadi semakin yakin jika Candra memang tidak berhubungan baik dengan istrinya.
"Kau tidak pulang?" Tanya Candra kepada Khania yang masih duduk di sampingnya.
"Aku akan menunggumu sampai sembuh kak" ucap Khania.
"Aku sudah membaik Khania. Dengan kamu membawa aku kesini itu bagiku sudah sangat berterimakasih"
"Maaf kak, aku tetap akan menjagamu. Minimal sampai salah satu keluargamu datang. Jadi aku mohon jangan paksa aku" ucap Khania.
"Kau tidak berubah ya. Masih sangat keras kepala. Baiklah, sekarang kau tidur saja. Aku tau kamu pasti lelah" ucap Candra kemudian diangguki oleh Khania.
**
Emili yang melihat ponselnya terus berdering pun hanya mengacuhkan saat melihat nama id pemanggil tersebut.
"Kurang kerjaan sekali dia. Sudah serumah masih saja menelpon aku. Lebih baik aku matikan saja ponselku dan tidur.
Pagi harinya ia pun menyalakan ponsel dan langsung terlonjak saat mendapati sebuah pesan dari Candra yang isinya.
(Aku tadi kecelakaan dan dirawat di rumah sakit Buana)
Pesan singkat yang entah membuat hati Emili bergetar. Entah mengapa ia takut terjadi sesuatu kepada Candra.
Ia segera bergegas mandi kemudian pergi ke rumah sakit yang di maksud oleh Candra itu.
"Permisi suster, apakah disini ada pasien atas nama Abdul Candra Dinata?" Tanya Dita dibagian resepsionis.
"Sebentar ya Bu saya cek dulu" jawab resepsionis sambil melihat buku catatannya.
"Iya Bu, semalam pasien tersebut mengalami kecelakaan dan dibawa kesini oleh seorang wanita muda. Beliau mengatakan jika beliau merupakan keluarga dari pasien. Saya juga sudah menitipkan barang pribadi pasien kepada wanita itu. Pasien dirawat diruang anggrek 23A lantai dua Bu" jelas resepsionis.
"Baiklah terimakasih informasinya" ucap Emili kemudian berjalan.
Didalam lift ia termenung memikirkan siapa wanita muda yang mengantarkan suaminya ke rumah sakit ini. Bukankah setahu dia jika Candra merupakan sebatang kara namun mengapa resepsionis tadi mengatakan jika wanita yang mengantar Candra adalah salah satu keluarganya.
Sesampainya ia di depan ruangan, ia melihat suaminya yang tengah di suapi oleh seorang wanita cantik. Terlihat wajah Candra sangat bahagia dan terlihat sangat akrab dengan wanita itu.
Entah mengapa d**a Emili berdesir melihat pemandangan didepan matanya. Namun saat ia akan melangkah pergi tiba-tiba suara bariton dari dalam menghentikan langkahnya.
"Dek Mili??? Itukah kamu??" Panggil Candra.
Emili mau tak mau langsung masuk dan menghampiri Candra.
Ia yang sedikit marah dan kesal pun menyedekapkan tangan didepan d**a sambil berkata.
"Kalau sudah ada yang menunggumu kenapa kau mengirim pesan padaku?" Marah Emili.
"Aku hanya ingin memberitahu dirimu dek" ucap Candra.
"Memberitahu aku agar aku melihat kamu bermesraan dengan wanita lain maksud kamu?" Bentak Emili.
"Dek, dia ini sahabatku sewaktu aku masih kecil" jelas Candra.
"Maaf ya mbak, aku Khania sahabat kak Candra. Aku semalam tak sengaja menabrak kak Candra dan membawanya ke rumah sakit" tambah Khania.
"Sudahlah, aku mau pulang. Percuma juga aku disini." Ucap Emili yang ingin pergi namun tangannya langsung di cekal oleh Candra.
"Dek, suamimu sakit kau malah mau pergi?" Tanya Candra.
"Lepaskan aku mas!!! Aku tidak Sudi menjadi istrimu jadi bagus jika ada wanita yang mau merawat mu!!" Bentak Emili sambil menghempaskan tangan yang dipegang Candra.
"Cukup!!! Sikapmu sudah sangat keterlaluan dengan kak Candra. Kau ini istrinya sudah seharusnya merawat bukan malah mencaci maki suamimu!" Marah Khania yang tak terima Candra diperlakukan dengan sangat kasar.
"Tau apa kamu tentang aku dan dia?" Tanya Emili.
"Jangan ikut campur urusanku dan dia!!! Urus saja pria itu" ucap Emili kemudian pergi.
Candra hanya bisa menatap kepergian istrinya dengan mata yang sudah memerah.
Khania yang melihat langsung memberikan air putih kepada Candra agar lebih tenang.
"Kak, aku ini sahabatmu bukan ?" Tanya Khania.
"Tanpa aku menjawab kamu sendiri sudah tau" jawab Candra masih dengan mata merahnya.
"Jadi, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi" ucap Khania.
Candra menatap lekat manik mata Khania.
Ia kemudian menceritakan semua hubungan ia dan Dita. Namun ia tak menceritakan jika Emili memiliki pria lain.
("Kau adalah wanita beruntung namun kau malah menyia-nyiakan orang sebaik kak Candra. Apakah benar kau tidak bisa menerima kak Candra sebagai suamimu? Lalu apakah ini pertanda jika aku masih memiliki kesempatan untuk dekat lagi dengan pria impianku? Apakah aku salah jika rasa itu sampai sekarang masih ada untuk kak Candra. Bahkan meski aku sudah mengetahui jika pria yang aku cintai sudah menikah? Jika memang kak Candra adalah jodohku maka aku akan memperjuangkan itu semua") bathin Khania.
(" Kenapa kamu tega berbicara seperti itu dek? Kenapa kamu malah meninggalkan aku disini?? Aku hanay berharap kau mau menerima aku meski hanya sedikit saja") bathin Candra.
"Sabar ya kak, mungkin lambat Laun ia akan mencintai kakak" ucap Khania.
"Aku sudah selalu berusaha Nia, namun kenyataannya selalu gagal dan gagal. Ia tak pernah melihatku sebentar saja. Ia selalu menganggap aku remeh" ucap Candra.
.
"Sekarang ada aku disini kak , kau tak usah takut lagi karena aku akan selalu mendukungmu." Ucap Khania.
"Terimakasih Khania. Kau memang sahabat terbaikku" ucap Candra yang membuat Khania tersenyum dan ikut merasakan luka yang Candra rasakan.
Sementara itu, di sebuah toilet rumah sakit ada seorang wanita yang tengah menangis.
("Ada apa denganku? Mengapa aku tidak suka melihat wanita lain dekat dengan dia? Mengapa hatiku sakit melihat ia bersama wanita lain? Bukankah itu bagus. Jika ia memiliki wanita lain maka akan mempermudah untuk melepaskan aku. Namun mengapa hatiku tak siap jika ia meninggalkan aku begitu saja. Aku takut ia pergi dari hidupku") bathin Emili kemudian menangis.