3. The Hell Inside My Head (2)

1164 Kata
Chapter 3 : The Hell Inside My Head (2) ****** YOHAN menghela napas, pemuda itu lantas menggeleng dan langsung berbalik. Ia berjalan untuk menghampiri kursinya tadi, lalu menyeret kursi itu agar lebih dekat dengan Hea. Setelah duduk kembali di kursi itu, Yohan langsung menatap Hea kembali dan kedua tangannya langsung memegang tangan kiri Hea. Ia menggenggam jemari tangan Hea dengan erat, lalu mengelus punggung tangan gadis itu dengan lembut. Kedua matanya yang memerah itu kini menatap Hea dengan penuh tanda tanya. “Hea. Bukankah kau bilang padaku bahwa kau akan bertahan, setidaknya sedikit lebih lama lagi?” Hea masih tertunduk. Masih diam seribu bahasa. Yohan meneguk ludahnya dengan sulit. Terasa berat dan pahit; ludahnya seakan tersekat di tenggorokan. Yohan lalu menghela napasnya dan menggeleng. “Kalau aku tidak datang ke rumahmu hari ini dan masuk melalui jendelamu, niscaya kau akan pergi, Hea. Kau akan—” Yohan melipat bibirnya, tak sanggup melanjutkan perkataannya sendiri. Pemuda itu tertunduk dan kembali meneguk ludahnya dengan sulit. Napasnya memburu; tanpa sadar ia mengeraskan rahangnya. Isi kepalanya mendadak jadi kalut akibat memikirkan banyak sekali kemungkinan terburuk. Akhirnya, Yohan kembali menghela napas. Pemuda itu pun mengangkat kepalanya kembali dan ia menatap Hea dalam-dalam. Tatapan matanya terlihat sendu. Ia tak berharap Hea langsung mau meresponsnya. Ia sudah cukup bersyukur dapat menyelamatkan Hea sebelum terlambat. Yohan lalu berbicara lagi. “Saat ini kau sudah ada di ruang rawat inap, Hea. Kau sudah dipindahkan dari IGD. Dua k*****t itu sedang tidak ada di rumah saat aku menemukanmu. Jadi, aku menggendongmu keluar melalui pintu depan dan langsung membawamu ke rumah sakit,” ujar Yohan. Penjelasannya itu sukses membuat Hea jadi sedikit melebarkan mata. Yohan telah menjawab seluruh pertanyaan yang bergumul di benak Hea sejak tadi. Hea lantas mengangkat tangan kirinya. Tangan yang tadinya sudah ia gores dan robek dengan menggunakan pisau. Tangan yang tadinya terus mengucurkan darah. Sekarang sobekan di tangan Hea itu sudah dijahit. Luka-luka Hea yang ada di lengannya itu juga telah diperban. Semua luka itu ditutupi perban. Andai luka hati juga bisa diobati seperti ini. Andai saja obatnya bisa dicari. Kedua mata Hea menatap pergelangan tangan kirinya itu dengan sedih. Sedih, kecewa, sakit… Mata Hea berkedip beberapa kali. Kini matanya mulai berkaca-kaca. Bu, hari ini aku belum jadi ke sana. Tunggu aku, ya, Bu. Air mata Hea pun akhirnya jatuh. Gadis itu merasa bahwa ada sesuatu yang menohok jantungnya dengan sangat kuat. Rasa sakitnya itu ternyata sudah mengantarkannya hingga ke tahap terakhir, yaitu membunuh dirinya sendiri. Ia hampir mati. Ia seharusnya sudah mati. Akan tetapi, Yohan menyelamatkannya. Tangan kanan Yohan terangkat ke atas, lalu pemuda itu menggerakkan jempolnya untuk menghapus air mata Hea. Tatkala Yohan tengah menghapus air mata Hea, gadis itu pun perlahan-lahan mengangkat kepalanya. Ia menatap langsung ke kedua bola mata Yohan yang terlihat begitu jernih di bawah sinar matahari. Bola mata cokelat gelap milik pemuda itu tengah menatap Hea dengan iba. Penuh pengertian. Ia seakan bisa merasakan sakit yang Hea rasakan sebab ia dan Hea sejak awal memiliki kerusakan mental yang sama. Saat Yohan menjauhkan tangannya dan menggenggam jemari Hea kembali, Hea pun mulai duduk bersandar. Tubuh Hea refleks mencari sandaran karena di luar dari semua yang telah Yohan lakukan, tubuhnya masih tak berdaya. Ia masih kehilangan semua harapan untuk hidup. Hea menatap Yohan dengan mata lelahnya; wajahnya tak memiliki ekspresi. Bagaikan air yang tak beriak, bagaikan manusia yang telah direnggut seluruh jiwanya. “Apa suara bisikan di dalam kepalamu itu semakin mengganggu?” tanya Yohan. Yohan menyatukan alisnya, ia benar-benar ingin tahu. “Apakah suara itu semakin terdengar menuntutmu?” Hea mendengar seluruh pertanyaan Yohan. Namun, tak disangka-sangka…tiba-tiba Hea tersenyum miring. Gadis itu tersenyum, tetapi yang bergerak hanya bibirnya. Ekspresinya masih sama. Tatapan dari kedua matanya masih sama. Akan tetapi, dia tersenyum. Jika orang yang ada di hadapan Hea sekarang bukanlah Jung Yohan, maka orang itu pasti akan bergidik. Yohan sedikit melebarkan matanya, kemudian pemuda itu melihat Hea yang mulai mengarahkan tatapannya ke depan. Benar-benar ke depan, bukan ke arah Yohan. Hea menatap lurus dari posisinya saat ini, yaitu tepat ke arah pintu masuk ruang rawat inapnya. Senyuman Hea kini berubah menjadi senyuman tipis. Senyumannya itu sangat tipis, tetapi masih kentara. Bibirnya pucat dan pecah-pecah. Wajahnya juga tidak memiliki rona. “Hea…” panggil Yohan pelan. Ia menunggu jawaban Hea. Diam selama tiga detik…hingga akhirnya Hea pun mulai merespons Yohan. Akan tetapi, gadis itu sama sekali tak menoleh ke arah Yohan. Ia masih memandang lurus ke depan. “Yohan.” Hea bernapas samar. Senyuman tipis itu masih setia menghiasi wajah pucatnya, tetapi itu bukanlah jenis senyuman yang mengajakmu untuk ikut tersenyum. Senyuman itu justru merupakan jenis senyuman yang akan membuatmu jadi kasihan dan menangis. Senyuman itu terlihat menyakitkan. Pedih. Yohan mengangguk. “Iya, Hea. Katakan padaku.” “Yohan…” panggil Hea lagi. Ia berucap perlahan-lahan…dengan suara yang lirih. “meskipun bisikan itu telah mengganggu atau menuntutku, aku yakin bahwa kali ini…bukan bisikan itu yang membuatku ingin mengakhiri hidupku. Aku sendirilah yang ingin mati.” Mendengar itu, Yohan pun tertunduk. Rahangnya mengeras. Dahinya berkerut. Matanya kembali memerah, lalu mata itu mengerjap sebanyak dua kali. Ia tengah menahan getir. Ia terlihat frustrasi karena sialnya…ia tahu apa yang Hea maksud. Ia paham seutuhnya. Setelah itu, tanpa menunggu respons darinya, Hea pun kembali berbicara. Masih tanpa semangat. Tanpa harapan. Tanpa motivasi. “Aku memerangi isi kepalaku setiap saat, Yohan,” ujar Hea. Gadis itu meneguk ludahnya dengan susah payah. Ia seakan tengah menelan seluruh kepahitan di dalam hidupnya. “tetapi aku akhirnya sadar bahwa isi kepalaku tidak akan kacau apabila kehidupanku sedikit lebih baik. Kekacauan di dalam kepalaku tidak akan ada apabila aku sedikit lebih baik.” Yohan kembali menatap Hea. Hea lalu melanjutkan, “Aku sudah menyimpan terlalu banyak hal di dalam kepalaku dan akhirnya aku kehilangan kewarasanku sendiri.” “Hea,” panggil Yohan pada akhirnya. “Tidakkah kau sadar bahwa kau dan aku memiliki satu sama lain? Sejak awal, seharusnya kau membiarkanku membantumu. Seharusnya kau biarkan aku—” “Katakan padaku, Yohan,” potong Hea. Perlahan-lahan…akhirnya gadis itu menoleh kepada Yohan. Mata mereka pun bertemu. Di antara cahaya matahari yang masuk melalui jendela ruangan rawat inap itu, mereka tampak fokus kepada satu sama lain. Tatapan itu penuh dengan rasa sakit. Rasa sakit yang bercampur dengan iba serta afeksi. “Katakan padaku,” lanjut Hea lagi. Namun, kali ini gadis itu pelan-pelan mulai memiringkan kepalanya ke sisi. Hea…tersenyum lagi pada Yohan. Namun, kedua mata gadis itu berkaca-kaca. Ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya. “Ketika aku membuka mataku untuk melihat dunia yang kita tinggali ini, neraka yang ada di dalam kepalaku terasa semakin menjadi-jadi, Yohan. Aku selalu berpikir bahwa mungkin saja…jika aku berhenti melihat dunia, maka neraka di kepalaku akan hilang,” ujar Hea. Dia menggeleng pelan, matanya melebar tak habis pikir, tetapi senyumnya masih ada. Ia agaknya betul-betul sudah kehilangan segalanya, termasuk sebagian besar kewarasannya. “Jadi, tolong katakan padaku, Yohan… Mengapa tatkala aku hampir saja mencicipi kematian, hatiku berkata padaku bahwa setelah aku mati nanti…aku tetap takkan melihat surga?” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN