4. Not a Telenovela (1)

1217 Kata
Chapter 4 : Not a Telenovela (1) ****** KATANYA, suatu saat kau akan menemukan seseorang yang bisa melihat jiwamu. Antara dia yang bisa melihat jiwamu, kau yang bisa melihat jiwanya, atau bahkan keduanya. Jika kesempatan itu jatuh padamu, saat kau menatap mata orang itu, kau seolah-olah akan menemukan kaca yang merefleksikan jiwanya. Isi hatinya. Siapa dirinya. Hea tidak tahu siapa yang pertama kali membuat gagasan itu. Kata-kata itu bisa jadi benar, tetapi bisa jadi juga hanyalah mitos. Namun, agaknya itu bukan mitos belaka, kalau dalam kasus Hea. Sekitar dua bulan yang lalu, sebelum api neraka di hidupnya benar-benar membakarnya, Hea pernah bekerja di sebuah restoran. Itu adalah satu-satunya restoran yang ada di desa tempat Hea tinggal. Restoran itu cukup luas; menu restoran itu adalah makanan-makanan khas Korea. Namun, berhubung penduduk di desa itu tidak banyak, pelanggan di restoran itu biasanya tidak terlalu ramai. Sore itu, sekitar jam lima, Hea berdiri di balik meja kasir seperti biasanya. Hea ingat bahwa si pemilik restoran sedang menghidupkan lagu lawas yang berjudul “How Can I Tell Her” oleh Lobo sore itu. Hea memakai seragam restoran yang berupa kemeja merah dan topi merah. Sebenarnya, seragam itu tidak penting—mengingat tempat itu hanyalah restoran biasa yang juga bertengger di desa—tetapi pemilik restoran itu mungkin ingin melihat sesuatu yang…terlihat lebih formal dan seragam. Hea kira, hari itu akan berjalan seperti biasanya. Pekerjaannya akan berakhir pada jam setengah enam sore, lalu ia akan pulang dan menghadapi dua monster biadab yang ada di rumahnya. Kehidupannya, masa depannya, semuanya terlihat gelap, tetapi setidaknya ia bisa bernapas dengan tenang saat berada di restoran. Namun, dugaannya salah. Hari itu tidak akan berjalan seperti biasanya. Soalnya, tiba-tiba ada tiga pemuda yang masuk ke restoran itu. Meja kasir Hea selalu ada di samping pintu—maksudnya, saat kau masuk melalui pintu, meja kasir itu akan ada di sebelah kirimu—jadi Hea tak bisa melihat penampakan ketiga pemuda itu saat mereka masih di luar restoran. Tahu-tahu, mereka sudah muncul dari pintu yang ada di samping Hea. Pelanggan lainnya juga seperti itu, sih, tetapi yang kali ini Hea sebetulnya agak kaget. Soalnya, biasanya tidak ada anak muda yang datang ke restoran sore-sore begitu. Jangankan anak muda, pria dan wanita paruh baya pun jarang datang ke restoran jam segitu karena mereka sudah tahu kalau restoran itu akan tutup. Tiga pemuda itu muncul, lalu menoleh kepada Hea. Hea bisa melihat rupa ketiga pemuda itu dengan jelas. Satunya berambut pendek dan memakai topi baseball, satunya memakai hoodie berwarna biru tua, dan yang satu lagi… …memakai jeans jacket. Hea tidak pernah melihat ketiga pemuda itu. Namun, saat melihat pemuda yang terakhir, mata Hea mendadak melebar. Tidak, Hea tidak tahu apa sebabnya. Tiba-tiba tubuhnya mematung. Matanya enggan beralih. Napasnya sempat tertahan. Seperti ada sebuah angin yang berembus di depan mata Hea. Angin yang entah datang dari mana, melewati Hea begitu saja, bagaikan menghantam wajahnya. Menyadarkannya bahwa sesuatu sedang terjadi. Sesuatu sedang menghampirinya. Layaknya ketika jarum panjang dan jarum pendek sama-sama bertemu di jam dua belas tepat, angin itu seakan memberitahu Hea bahwa: …inilah momennya. Momen yang tidak tahu akan berakhir sampai mana. Seperti ketika ada arc yang dimulai dalam sebuah buku, tetapi tidak tahu akan berakhir di chapter berapa. Apakah sampai halaman terakhir buku itu? …atau selesai sebelum mencapai halaman terakhir? Hea tidak salah mengira. Jelas tidak. Soalnya, pemuda itu pun… Menatapnya dengan intens. Begitu dia menemukan sosok Hea, dia langsung memberikan Hea tatapan yang sama. Tatapannya begitu dalam. Seakan-akan mereka sudah saling kenal, padahal tidak sama sekali. Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Seolah-olah mereka melihat ke cermin… Pemuda itu tampan. Tubuhnya cenderung kurus; dia tidak terlalu tinggi, tetapi juga tidak pendek. Wajahnya mulus, kulitnya tampak halus dan lembut. Akan tetapi, pembawaannya tidak mengkomplemen wajahnya. Dia terlihat penuh misteri. Dia terlihat ‘tajam’. Tatapannya langsung bisa menembus hingga ke jiwa Hea. Pemuda itu memakai celana dan jaket jeans. Di balik jaket jeans-nya, dia terlihat memakai sebuah kaus polos yang berwarna putih. Rambutnya berwarna hitam dan cukup panjang (tetapi tidak gondrong). Maksudnya, dia bisa mendorong bagian poninya ke belakang kalau dia mau. Hea bertatapan dengannya selama beberapa detik. Mereka fokus pada satu sama lain, menerawang hingga ke jiwa, dan melupakan apa pun yang ada di sekitar mereka seakan semua orang hanyalah angin lalu. Hea tak ingat apa-apa sampai tiba-tiba salah satu dari pemuda itu mulai mengajaknya berbicara. Pemuda yang memakai topi baseball. “Umm…Nona? Apakah di sini menyediakan sup ayam ginseng?” Hea tersentak. Gadis itu langsung menatap pemuda bertopi baseball itu dan mengerjap. Matanya melebar. “Ah—ya, itu adalah salah satu menu kami.” Cepat-cepat Hea mengambil kertas menu yang ada di mejanya, lalu memberikan kertas itu kepada si pemuda. “Ini menunya. Silakan dilihat-lihat dahulu.” Benar. Pemuda-pemuda ini memang konsumen baru. Hea berusaha mati-matian untuk tidak menoleh lagi kepada sang pemuda yang ada di paling kanan, pemuda yang tadi bertatapan dengannya. Namun, dari ujung matanya, Hea bisa merasakan bahwa pemuda itu masih memperhatikannya dengan lekat. “Oke. Aku mau sup ayam ginseng. Bagaimana dengan kalian?” tanya pemuda bertopi baseball itu ke teman-temannya. Pemuda yang ada di tengah—yang memakai hoodie—langsung meraih menu itu dan membacanya sebentar, lalu berkata, “Ayam goreng saus pedas.” “Bagaimana denganmu, Yohan?” tanya pemuda bertopi baseball itu lagi. Mau tidak mau, Hea harus kembali menatap pemuda itu. Oh. Jadi, namanya adalah Yohan. Seperti yang Hea duga, saat Hea kembali menatap pemuda itu, pemuda itu masih tetap memperhatikannya. Menatapnya dalam. Tak sedikit pun pemuda itu mengalihkan pandangan darinya, bahkan saat si pemuda bertopi tengah menanyakan sesuatu. Pemuda bernama ‘Yohan’ itu tentu bisa mendengarkan pertanyaan dari temannya, tetapi dia tetap menatap Hea. Hanya mulutnya saja yang mulai membuka suara, “Samakan saja denganmu.” “Oke,” sahut si pemuda bertopi. “Dua porsi sup ayam ginseng dan satu porsi ayam goreng saus pedas.” Hea menatap pemuda bertopi itu, lalu mengangguk. “Baik. Minumannya?” “Air putih saja.” Hea mengangguk lagi. Dia pun mengulurkan tangannya, menunjuk kursi-kursi restoran yang sebenarnya saat ini kosong semua. “Baik. Silakan duduk di mana pun yang Anda sukai. Pesanannya akan segera kami siapkan.” “Oke.” Pemuda yang bertopi dan ber-hoodie itu menjawab secara bersamaan, lalu mereka berjalan ke deretan kursi restoran. Namun, pemuda yang paling ujung, yang namanya Yohan itu, tampak hanya diam. Matanya masih menatap Hea saat dia mulai bergerak. Akan tetapi, ketika dia sudah berjalan selangkah, akhirnya dia berhenti menatap Hea. Dia mulai mengikuti teman-temannya ke depan sana, ke deretan meja dan kursi pelanggan yang posisinya ada di depan Hea. Sialnya, pemuda yang bernama Yohan itu justru mengambil kursi yang menghadap ke Hea. Kursi yang memungkinkan mereka untuk melihat satu sama lain. Meskipun posisi Yohan agak jauh, wajah pemuda itu tetap menghadap ke Hea. Hea bisa melihat wajah pemuda itu dari jauh. Ini sedikit tidak masuk akal. Mereka menarik satu sama lain tanpa alasan yang logis. Hanya berbekal dengan suara di belakang kepala yang mengatakan, ‘Ada sesuatu tentangnya yang mirip denganmu. Kau mengenali getarannya.’ Seperti melihat dirimu, atau mungkin bagian dirimu, di tubuh orang lain. Sayangnya, itu bukan bagian yang baik untuk diceritakan. Itu juga bukan bagian yang manis untuk ditelan. Sepertinya, ketertarikan mereka justru disebabkan oleh sesuatu yang buruk. ‘Bagian diri’ yang dimaksud pun…mungkin adalah bagian yang rusak. Tercela. Abnormal. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN