Design 10

3661 Kata
Abiandra baru saja keluar dengan wajah datar walau sebenarnya ia sedang senang karena design yang di kerjakannya sudah di setujui klien setelah meminta revisi design. Padahal minggu lalu mereka sudah sepakat dengan design yang Bian buat, namun beberapa hari setelahnya mereka malah meminta design alternative dan setelah di buat, mereka malah minta kembali ke design awal. Klien plinplan dan banyak mau-- Manusia Akhirnya, setelah membuat Bian bergadang sampai shubuh, ujungnya kembali pada design awal yang maketnya sudah setengah jadi. Bian menuju parkiran sambil membawa barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam mobil. Ia masuk ke kursi pengemudi lalu melajukan civicnya keluar dari area kantor tersebut. Dahi Bian mengkerut dalam. Ponselnya bergetar di atas dashboard, Bian melirik sekilas, Jihan meneleponnya. Namun Bian enggan menjawab, ia tak mau menjawab, ia sedang buru-buru Lebih baik di abaikan sajalah. Sampai di kantor, Bian langsung menaiki lift lalu masuk ke ruangannya, dengan wajah dingin dan datarnya, bahkan Patricia saja tak di pedulikannya. "Pak ini ada---" BRAKKK!! "Makan siang dari Bu Jihan...." Gumamnya saat pintu itu sudah benar-benar rapat tertutup. Patricia terpekur di mejanya, syok. Sesungguhnya ia sudah  biasa mendapat perlakuan seperti itu dari atasannya ini. Namun tetap saja, walaupun sudah sering, Patricia masih takut dan syok begitu Bian mengabaikannya. Apa yang salah dengan dirinya? Eh. Sementara setelah Bian membanting pintu, ia langsung meletakkan barang-barangnya begitu saja di meja dekat sofa. Bian melirik papan gambarnya, dahinya mengkerut dalam saat melihat papan itu tanpa kertas yang sedang ia kerjakan dan sedikit lagi selesai. Bian mendekat, mungkin jatuh. Ia mencari di bawah meja tapi tak ada kertas yang berceceran. "PATRICIAAAAAA!!!" Panggil Bian kencang membuat Patricia hampir jatuh dari kursinya, ia buru-buru bangkit dan dengan hati-hati membuka pintu ruangan atasannya itu. "I-iiya, pa-pak..?" Tanyanya tergagap di depan pintu. Bian membuang napasnya kasar. "Kamu lihat kertas saya yang di papan gambar? Ada yang masuk-masuk ke ruangan saya?" Tanyanya datar. "Eng-enggak, Pak. Kan ruangan bapak otomatis, kuncinya pakai keycard. Bu-bukan pakai anak kun-kunci.." jawabnya masih tergagap. Bian berpikir sejenak. Iya juga. Tapi jaman sekarang apapun bisa di sadap to? "Benar nggak ada?" Bian meyakinkan Patricia sekali lagi. "I-iya, pak! Sumpah demi Tuhan! Nggak ada, pak..." Ujarnya yakin sambil mengacungkan dua jarinya ke udara membuat huruf V. "..Eungh.. pak..." "Apalagi?" Bian memutar badannya jengah sambil memijit pelipisnya. "I-itu ad-ada makan siang dari Bu Jihan..." Bian terdiam mendengar Patricia menyebut nama Jihan, ia jadi teringat pesan Line dari Jihan tadi pagi yang hanya di baca saja. Ada sedikit sesal di hati Bian, tapi rasa sesal itu kalah dengan rasa kesalnya. "Ya nanti saya makan. Bilang kalau ibu telepon, saya lagi sibuk..." Ujarnya dingin. "B-baik pak, permisi..." Patricia pamit keluar, takut Bian marah lagi. Ia hanya bisa mengelus dadanya untuk meredakan detak jantungnya yang tiba-tiba tak karuan. Mungkin sebentar lagi apnea.. Bian mulai gusar, kemana gambar yang sedang ia kerjakan itu? Padahal tinggal finishing sedikit lagi dan akan di presentasikan dalam dua hari ke depan. Zzzzzttttt... Zzzzzttttt Ponsel Bian bergetar, nama klien muncul di layarnya. Bian terkesiap lalu segera menjawabnya. "Ya, hallo, dengan Abiandra..." Ujar Bian setelah berdeham dan menetralkan perasaannya. "Hallo pak Bian. Gimana? Sudah siap presentasi lusa kan?" "Mampus gue" batin Bian. "Siap pak siap, tinggal finishing saja kok.." "Oke, baik kalau begitu. Sampai ketemu lusa di kantor saya ya.." "Iya, pak.." Klik. Bian menutup teleponnya dan terdiam sejenak, ia lalu mencari soft copy design di ipadnya. Tapi design di ipadnya ini adalah design awal, bukan yang sudah di revisi beberapa kali oleh Bian. Migrain seketika menyambar kepala Bian. "Harus saya selidiki ini. Siapa yang ambil kertas gambar saya..." Gumamnya. Ponsel Bian kembali bergetar di atas meja. Kali ini nama Jihan kembali muncul di layar. Bian menggeser tombol hijau di layar dan menjawab panggilan Jihan. "Ya Ji?" Ucapnya datar. "Assalamualaikum, mas?" Sapa Jihan. "Eh. Wa'alaikumsalam. Ada apa?" "Nggak, cuma mau telepon aja. Nggak boleh emangnya?" Bian meraup wajahnya dengan sebelah tangannya yang bebas. "Serius deh, Ji. Jangan bercanda, saya lagi nggak pengin, saya lagi pusing!" Ujar Bian, nada bicaranya sedikit tinggi. Di seberang sana Jihan tengah merengut mendengar ucapan Bian, sepertinya Jihan menelepon di saat yang kurang tepat.  "Iya iya. Ya udah, aku kan cuma mau tanya kamu udah makan siang apa belum? Daritadi nggak ada kabar..." Bian terdiam sejenak mengingat kembali titipan makanan yang ada di Patricia tadi. "Belum. Saya masih sibuk, nanti saya makan. Udah dulu ya, Ji, saya sibuk..." Klik. "Ha-hallo?" Jihan menatap nanar layar ponsel yang kembali menghitam setelah Bian mematikan teleponnya secara sepihak. Ada apa sih dengan bapak Arsitek satu ini? Apa karena kemarin Jihan merajuk pada Bian soal undangan untuk datang ke sidang skripsi Jihan 2 minggu lagi yang akhirnya nanti bisa di pastikan Bian tidak bisa datang? "Apa aku salah pengin kamu datang, mas?" Gumamnya setengah bergetar. "Atau kamu marah karena akhir-akhir ini aku terlalu manja sama kamu?" Gumamnya lagi lalu terisak hingga punggungnya bergetar hebat. "Jihan?" Panggil ibu heran. Beliau kebetulan sedang libur hari ini. "Adek?" Panggilnya lagi, namun tak di sahuti. Jihan bangkit dan lebih memilih naik ke kamarnya dan menumpahkan kekesalannya di sana. "Ji?" Ibu mengetuk pintu kamar Jihan beberapa kali dan lagi tanpa jawaban. "Jihan?? Kamu kenapa nduk? Jih??!!" "Jihan pengin sendiri bukk!!" Teriak Jihan di sela tangisnya. Ibu memilih menyerah dan tak lagi menanyakan ada apa pada anak gadisnya ini. Jarum jam dinding sudah menunjukkan waktunya tepat pukul 11 malam dan Bian masih berada di dalam ruangannya. Sendirian. Sejak siang tadi, Bian belum lagi keluar dari ruangannya, hanya sholat Ashar, Magrib dan isya saja. Itu pun ia lakukan di ruangannya, ia tak ingin mengulur-ulur lagi waktu yang tersisa. Dengan berbagai macam usaha Bian lakukan demi mengingat apa yang sudah ia gambar di kertas yang hilang itu walau pada akhirnya tetap ada perubahan sana sini. Bian meregangkan tubuhnya dan di saat yang bersamaan perutnya bunyi keroncongan. "Astagfirullah..., Jam 11?" Ucapnya, ia memperhatikan lampu-lampu gedung sebelah yang sudah meredup. Sejak tadi ruapanya Bian tidak sadar bahwa hari semakin malam dan larut. Ia mengusap wajahnya kasar, ia ambil ponselnya dan melihat ada begitu banyak notifikasi yang tampil di layarnya. MAMA 10 Missed Call JIHAN 20 Missed Call 5 New Message From Mama Kirana Jihan Send You A Message Bian hanya bisa menggelengkan kepalanya begitu melihat isi ponselnya, berserakan pesan dan telepon tak terjawab dari Jihan bahkan Mama. Isi pesan dari Mama yang tak lain hanya menanyakan kemana lelaki sulungnya ini belum lagi pulang padahal sudah hampir tengah malam. Bian lalu membuka pesan LINE dari Jihan. Kirana Jihan Mas? Kamu kemana? Kenapa teleponnya di tutup gitu aja? Mas! Jawab dong! Mas Abi!! Kamu marah sama aku? Mas Abi?! Makan siangnya jangan lupa di makan.. Mas... Mas... Mas... Mas... Ah yaudahlah! -Read Makan siang? Bian mengernyitkan dahinya dalam. Astaga! Bian segera keluar dari ruangannya dan menemukan tas tupperware di atas meja Patricia yang berisi tiga susun tupperware merah- kuning -biru serta tumblr air minum dan sekotak buah yang sudah di kupas dan di potong. Di kotak paling atas Bian melihat note yang di tempel Jihan. "Mas, ini ada makanan kesukaanmu. Jangan lupa makan pak Arsitek... ;)" Love, Jihan. Bian segera membuka kotaknya, ada sekotak nasi merah. Jihan ingat rupanya, Bian ingin makan nasi merah, di kotak kedua ada Calamary goreng tepung krispi dan jamur enokki yang tampaknya sudah tidak krispi lagi. Di kotak terakhir pula ada capcay juga tumis kentang dan kacang kapri balado dalam plastik klip yang kelihatannya menggugah untuk di makan. "Jihan..." Gumamnya. Ia tahu pasti Jihan yang membuat semua ini, Jihan sudah libur kuliah. Pastilah ia meluangkan waktu dan memasak untuk Bian. Bian mengeluarkan ponselnya lalu mencoba menghubungi Jihan. 3 kali, 5 kali, 10 kali, tak ada jawaban. Hanya suara operator saja. Ia mendesah pasrah saat panggilan terakhirnya tak juga terjawab. "..Maafin saya, Ji...." Bian membereskan kotak makanan yang tadi sudah ia bedah isinya. Lebih baik ia pulang dan meletakkan lauk pauknya ke dalam kulkas, ia akan tanya Bibik, apa ini masih bisa di makan atau tidak. Jujur, Bian tak tega membuang makanan yang sudah pasti di buat dengan susah payah. Ia kembali ke ruangannya dan membereskan semua bawaannya termasuk kertas di papan gambar tadi sepertinya harus di masukkan dalam tabung hitam kesayangannya dan di bawa pulang. Lalu besok, harus ia selidiki siapa pelaku sebenarnya yang berani masuk ke dalam ruangannya tanpa izin. Bian buru-buru turun ke lantai basement dan masuk ke dalam mobilnya yang tinggal sendirian di parkiran lalu segera melajukannya keluar dari sana. Jalanan Jakarta sudah tidak seramai sore tadi ketika semua orang kompak pulang dari kantor menuju rumah. Hanya ada beberapa yang lalu lalang, Bian melajukan civicnya dengan kecepatan sedang hingga sampai di depan rumah, memundurkan mobilnya masuk ke carport dan turun dengan bawaan yang cukup banyak. Saat Bian masuk, di sana masih ada Mama dan Papa yang masih menunggunya pulang. "Mas! Dari mana?? Jihan bilanh kamu nggak ada kabar dari tadi siang" Tanya Mama khawatir sambil mengelus dadanya dan menghampiri Bian. "Bian lembur ma..." Jawabnya datar. Ini yang membuat Bian malas pulang saat sedang banyak pikiran. "Lembur?  Bukannya semua kerjaan kamu udah selesai?" Papa mengerutkan dahinya mendengar Bian yang masih mengerjakan lemburan. Bian diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Papa. "Design buat Pak Santoso hilang, pa. Tadi pagi masih ada, pas Bian balik dari kantornya Pak Arifin udah nggak ada di meja gambar. Bian tanya Patricia, dia juga nggak tahu katanya..." Ujar Bian setenang mungkin. "Hilang? Kok bisa? Kamu presentasi lusa, Bian!"  Ujar Papa keras. "Ya Bian nggak tahu, pa. Makanya Bian lembur buat bikin ulang designnya. Bian pusing, pa!" Papa mengusap wajahnya kasar. "Dia klien besar, Bian! Papa nggak mau kejadian kayak gini ke ulang lagi. Kalau perlu, cari sampai ketemu!" Bian bangkit dari sofa lalu naik ke kamarnya tanpa memberi pembelaan apapun. Mama hanya bisa terdiam melihat kedua lelakinya bertengkar seperti ini, mereka jarang sekali membawa masalah pekerjaan ke rumah, tapi kali ini sepertinya fatal. "Udahlah, pap, toh Bian udah berusaha buat kerjain ulang, kan? Kita tidur aja yuk,...?" Ajak mama. Papa kembali mengusap wajahnya kasar dan menuruti kemauan istrinya untuk tidur karena waktu pun tak bisa di perlambat. Sudah semakin larut rupanya. Bian memilih melanjutkan pekerjaannya setelah ganti baju dan memanaskan makanan tadi siang lalu makan sendirian di ruang makan. Ia matikan ponselnya agar tak ada yang menganggu pekerjaannya. Tepat saat adzan shubuh berkumandang 80% pekerjaan Bian selesai, ia akan lanjutkan di kantor pagi ini. Bian siap-siap mandi lalu menunaikan shalat shubuhnya di kamar. Bian tidak tidur, bahkan sepertinya ia tak merasakan mengantuk sama sekali akibat banyaknya pikiran yang menguasainya. Mulai dari hilangnya design yang sudah selesai di kerjakan, ia juga harus mencari siapa yang menyusup keruangannya sampai tiba-tiba wajah Jihan muncul begitu Bian duduk bersama Mama Papa di meja makan. "Sarapan, Bi, itu lho di makan jangan bengong..." Perintah Mama saat melihat Bian hanya terpekur memandang makanannya. "Eh iya, ma.." Bian segera menyuap makanannya, sesuap demi sesuap namun sepertinya Bian sudah tidak ingin. Ia bangkit dan buru-buru pamit. "Bian duluan, ma, pa..." Pamitnya lalu mencium tangan Mama Papa nya. Sementara di tempat lain, Jihan tengah gelisah dan khawatir. Sejak kemarin telepon terakhirnya, Bian tak lagi bisa di hubungi. Hanya suara operator yang menyahuti, ada apa sih dengannya? Apa Bian marah? Bian benar-benar membuat Jihan kalang kabut sejak kemarin. Sudahlah telepon di tutup sepihak, line cuma di baca dan sekarang, ponselnya pula nggak aktif. Apa Jihan tidak khawatir? "I hate you, mas!!" Gumamnya sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan chat terakhirnya dengan Bian kemarin siang. "...Kamu nggak tahu kan rasanya khawatir kayak apa??" Setitik bening air mata kembali meluruh. Mata Jihan sudah bengkak tak karuan karena menangis. ---- Bian memasuki area kantor, tiba-tiba ia terdistraksi dengan suara dari deretan sofa yang tak jauh dari lift, kebetulan memang sedang sepi, ia bersembunyi di balik pot pohon dan mendengarkan dengan seksama obrolan yang menyebut-nyebut namanya. "Gimana? Lo udah dapetin design anaknya pak dirut lo itu?" Ujar seseorang itu. Bian menajamkan pendengarannya, ia mengintip dari sela-sela pohon. "Irfan?" Ucap Bian tanpa suara. Ya, Irfan adalah rival Bian dari kantor arsitektur sebelah, ia lalu mengeluarkan ponselnya dan merekam semua pembicaraan antara Irfan dan salah satu karyawan admin dari tim Bian, Edwin. "Nih, gue udah berhasil dapetin yang lo mau.." Edwin memberi gulugan kertas yang sangat Bian kenali, ujung kertas itu agak terlipat sedikit. Itu miliknya. Bian terus merekam keduanya. "Gitu dong, Win. Nih buat lo..." Irfan memberi sebuah amplop coklat yang Bian yakini itu berisi uang. "Kan gue jadinya nggak capek ngerjain dan bergadang semalaman..." Tambahnya, keduanya tertawa. Keadaan kantor memang masih sepi. Belum terlalu banyak orang. Bian mematikan ponselnya dan masuk ke dalam lift. Ia sudah dapat pelakunya, ia akan memanggil Edwin nanti. Ia akan minta penjelasannya bagaimana bisa ia masuk ke ruangan Bian. "Pat.." sapanya. "Eh, iya pak?" "30 menit lagi kamu panggil Edwin ya. Suruh dia ke ruangan saya.." perintah Bian. "Baik pak. Segera nanti saya panggil Pak Edwin. Oiya pak, ini jadwal bapak selama seharian ini. Ada meeting jam 10 nanti pak, sisanya bapak kunjungan keluar.." jelas Patricia. "Oke, thanks.." Bian segera berlalu masuk ke ruangannya dan membawa lembaran yang Patricia beri tadi. Ia segera duduk di kursi kesayangannya itu dan membuka beberapa berkas yang belum sempat Bian tanda tangani sejak kemarin. Lalu beralih pada sisa designnya yang sedikit lagi selesai, ia akan selesaikan segera. Bian melirik jam tangannya, ah, sudah 30 menit rupanya. Ia mengambil gagang telepon dan menekan angka 1. "Pat, panggil Edwin..." "Siap pak..." Jawabnya. Patricia langsung melakukan tugasnya, tidak sampai 5 menit, Edwin datang dengan wajah yang tampak pucat. "Ci, gue di panggil Pak Bian?" Tanyanya gusar. "Iya. Kenapa sih lo sama bapak? Lo nggak ngelakuin yang aneh-aneh kan?" Selidiknya. "Engh-enggak..., Udah ah, gue masuk deh..." Kilahnya, Patricia menyipitkan matanya, tanda ia tak yakin dengan jawaban Edwin. Edwin pun mengetuk pintu ruangan Bian perlahan. Setelah menyahut, Bian mempersilakannya masuk. "Bapak panggil saya?" "Iya,..." Ujar Bian dingin. Seperti biasanya, Edwin mendekat perlahan. Bian memperhatikan gelagat Edwin yang nampak gelisah dan tak bisa menyembunyikannya. Ia amati dengan seksama gerak-geriknya. "Saya mau tanya sesuatu sama kamu. Kamu bisa jelaskan ini?" Bian memutar rekamanan yang tadi ia rekam dengan ponselnya. Mata Edwin membulat sempurna ketika melihat dirinya di dalam rekaman itu dan dengan jelas memberi gulungan tadi kepada Irfan. Rekaman sekitar 2 menit itu berhasil membuay wajah Edwin pucat pasi dan keringat dingin mengucur deras. "Bisa kamu jelaskan? Sebelum kasus ini saya seret ke kantor polisi..." "Ja-jangan pak. Saya mohon jangan pak.." mohonnya. "Saya akan jelaskan tapi saya mohon jangan laporin saya ke polisi pak. Nanti anak sama istri saya mau makan apa?" "Silakan jelaskan, saya dengar.." Ujar Bian dingin. Edwin memulai penjelasannya. "Jadi gini pak. Saya sebenarnya di suruh sama Pak Irfan. Dia iri sama bapak karena bapak selalu menangani proyek-proyek besar, dia juga dendam sama bapak karena proyek Pak Santoso kemarin harusnya perusahaan Pak Irfan yang menangani, jadi dia mencari segala cara buat nyuri design yang bapak buat..." Jelasnya. Ia menjeda sebentar. "Dan saya yang mengambilnya, pak. Saya khilaf..." Tambahnya lalu tertunduk dalam. "Kenapa kamu lakukan itu? Demi uang? Iya?" Cecar Bian, namun tetap terlihat cool sambil mengepal tangannya tanda ia sedang kesal. "Iya pak. Untuk biaya melahirkan istri saya pak.." Sungguh, amarah Bian sudah di puncaknya, tapi ia belum bisa meluapkannya sekarang. Ia tidak bisa gegabah saat ini, ia harus mendengar penjelasan Edwin terlebih dahulu. "Kenapa kamu nggak bilang sama saya? Saya juga bisa bantu kok kalau cuma untuk biaya itu. Bahkan saya bisa kasih gratis kalau kamu memang butuh uang dan tidak tahu bisa menggantinya atau tidak, saya tidak habis pikir sama kamu..." Bian menggelengkan kepalanya. "Maafkan saya pak. Saya menyesal..." "Saya mau tahu, gimana caranya kamu masuk ruangan saya?" Tanya Bian akhirnya. Ia masih penasaran bagaimana caranya Edwin bisa ada di ruangannya. "I-itu saya..., Saya matikan sensor kartunya pak dan ternyata bisa saya buka secara manual.." akunya. "Patricia tahu?" "Tidak pak. Patricia sedang keluar sepertinya saat itu..." Akunya lagi, ia semakin menunduk takut karena Bian menatapnya begitu intens dan tajam. Bian terdiam. Ingin ia memecat Edwin sekarang namun sisi lain Bian mengatakan jangan tapi berlawanan dengan sisi yang terus berbisik agar karyawan tak tahu terimakasih ini di pecat sekalian. Ia mengangkat gagang teleponnya, lalu menelepon sekretaris Papa. "Hallo, mbak Ratri?" "Pagi pak, ada yang bisa saya bantu?" "Bapak ada di ruangan, mbak?" Tanyanya. "Oh ada..." "Ya sudah, bilang jangan kemana-mana ya. Saya mau ke atas.." "Baik pak.." "Makasi mbak..." Tutup Bian. "Ikut saya ke ruangan Pak Hardi..." Ia bangkit dari tempat duduknya di ikuti Edwin di belakangnya. "Pat, ikut saya..." "Iya pak.." Patricia bangkit lalu mengikuti Bian juga Edwin. Sebenarnya, sejak tadi Patricia juga sudah memiliki firasat buruk. Pasalnya, tak biasanya Edwin sampai di panggil ke ruangan Bian seperti barusan. Mereka menaiki lift untuk naik ke satu lantai di atas ruangan Bian dan berjalan lurus sampai ke meja mbak Ratri, sekretaris Papa. "Bapak udah nunggu di dalam.." ujarnya, Bian mengangguk. "Permisi, Pak?" Bian membuka pintu ruangan di depannya. "Ada apa, Bian? Masuk..." Ujarnya. Papa mengerutkan dahinya saat ada orang lain yang masuk ke ruangannya. "Ada apa?" "Begini pak, saya sudah menemukan pelaku yang mencuri gambar saya..." Ucap Bian datar. Papa menatap Edwin dan Patricia. "Kamu, Pat?" Tuduhnya. "Eh? Saya? Bukan pak..." Patricia menggeleng keras menolak tuduhan. "Lalu?" "Edwin, pak..." Jawab Bian akhirnya. "Mana buktinya?" Papa menodong bukti pada Bian. Bian mengeluarkan ponselnya dan kembali memutar rekaman video tadi. Mata Papa membulat sempurna, ia melihat seseorang yang sudah menjadi rivalnya beberapa tahun lalu, seorang arsitek muda yang licik. "Jadi kamu sekongkol dengan Irfan?!" Papa menunjuk wajah Edwin dengan segala amarahnya. "Sa-saya bisa jelasin pak..." Nafas Papa sudah memburu, naik turun menahan kesal. "Jelaskan! Sedetail mungkin!" Edwin menjelaskan sedetail mungkin, seperti apa yang tadi ia ceritakan pada Bian tadi. Papa hanya mampu menggelengkan kepalanya. "Saya nggak habis pikir sama kamu, Edwin. Kamu sudah lama bekerja di kantor ini tapi kamu malah berkhianat seperti ini?" "Maafkan saya pak..." Ujarnya tertunduk. "Kembalikan gambar yang sudah kamu ambil dan mulai senin depan, kamu tidak perlu ke kantor lagi, kamu saya pecat!" Ujar Papa saat dirinya sudah mulai tenang. "Tapi pak?" "Tidak ada tapi-tapi!! Kesalahanmu fatal!!" Teriaknya keras. "Keluar sekarang dan ambil gambar milik perusahaan ini..!!" "Ba-baik, pak. Saya permisi.." Edwin pamit keluar dari ruangan itu. "Pat, kamu boleh keluar..." Perintah Bian. Patricia mengangguk lalu pamit keluar juga. "Gimana ceritanya kamu bisa tahu mereka sekongkol, Bi?" "Tadi pagi Bian mau naik lift, Pa. Terus nggak sengaja dengar mereka ngobrol di lounge dekat lift bawah, mereka nggak sadar waktu Bian lewat..." Papa mengangguk paham. "Ya sudah, Bi. Kamu tenang aja, biar masalah ini Papa yang selesaikan. Kamu kunjungan aja ke proyek, meeting juga kayaknya kita reschedule aja.." "Iya pa, udah jam segini juga. Ya udah, Bian berangkat sekarang ya pa..." Pamitnya. "Iya hati-hati..." Bian keluar dari ruangan Papa, kembali sebentar ke ruangannya. Ponsel Bian bergetar. Jihan. Astaga... "Assalamualaikum, Ji?" "Wa'alaikumsalam.." jawabnya terisak. "Mas, kamu kemana aja sih??" "Maaf, Ji. Saya sibuk banyak kerjaan..." Sahut Bian datar. "Hiks. Segitunya kah sampai telepon aku juga nggak di jawab? Kamu tahu kan aku khawatir??" Ujarnya to the point. "Kamu anggap aku ini apa, mas?" Bian terpekur. "Maaf, Ji..." "Saya nggak suka denger kamu minta maaf, mas. Saya cuma butuh waktu kamu, udah, itu aja!!" "Jihan!! Udah berapa kali saya bilang? Kalau saya sibuk!! Saya nggak ada waktu buat debat sama kamu!!" Di ujung telepon Jihan terhenyak mendengar teriakkan Bian. Salahkah Jihan ingin Bian punya waktu untuknya? "Yaudah, kalau kamu sibuk!" Klik. Jihan menangis tertahan sambil memeluk kedua kakinya. "Aku tuh butuh kamu, mas..." Gumamnya. Ia memilih keluar, menghibur dirinya, pergi tak tentu arah. Lebih baik begini daripada Jihan membatin karena Bian, biar saja Bian merasakan khawatir saat dirinya menghilang tanpa kabar. Akhinrya time zone jadi pilihan Jihan. Ia membuang semua energinya dengan bermain dare to dance di sana tanpa ia sadar ponselnya sejak sejam lalu bergetar. Puas bermain dan mendapatkan banyak tiket yang sudah ia tukar menjadi boneka, Jihan baru mengecek ponselnya. Ada 50 missedcall dan puluhan pesan lainnya di line dari Bian. Jihan mengabaikannya. Hari sudah sore, sambil memakan shi-lin dan menumpang gojek, Jihan pulang ke rumah dengan perasaan yang plong. Walau masih ada yang mengganjal di hatinya, tentang pertanyaannya soal Bian yang sejak kemarin menjadi pemarah entah apa penyebabnya. "Makasi ya pak.." Jihan mengembalikan helm dan membayar ongkos gojeknya. Ia terpekur begitu melihat mobil yang sudah sering datang ke rumahnya terparkir manis di halaman rumahnya. Jihan masuk ke dalam rumah dengan santai dan mendapati Bian juga Ibu Bapak di ruang tengah. "Jih?? Gusti..., Darimana tho nduk??" Ibu menghampiri Jihan yang masih menenteng boneka teddy bear hasil main di time zone dan memegang bungkus shi-lin di tangannya. "Ji habis main kok ke Taman Anggrek. Sendiri aja.." jawabnya santai. "Ya Allah nduk..., Itu lho mas mu nyariin, kenapa hapemu nggak bisa di hubungi?" "Oh bisa nyari juga?" "Jihan! Itu masmu!" Jihan melirik Bian yang berdiri mematung di belakang ibu tanpa berusaha apapun. "Udah buk, Jihan capek, mau tidur..." "Jii..." Bian menarik tangan Jihan saat dirinya sudah di anak tangga kedua. "Saya mau bicara..." "Nggak ada yang perlu lagi di bicarakan mas. Kalau masih sibuk, silakan selesaikan pekerjaanmu dulu, saya nggak akan ganggu..." Sahut Jihan tanpa melihat Bian. "Jihan, nggak gitu..." Belanya. "Dengar saya dulu, tolong..." Jihan menghela napasnya kasar. Bian menarik Jihan ke belakang setelah meletakkan boneka di pelukan Jihan ke sofa. "Maafin saya, Ji. Nggak seharusnya saya bentak-bentak kamu kayak tadi..." Bian menjeda. Jihan hanya bisa mendengarkan. "...pikiran saya sedang bercabang, pekerjaan saya sedang menumpuk. Belum lagi gambar saya yang di curi orang lain, maaf. Kamu jadi pelampiasan saya..." Ujarnya penuh sesal. "Hhh..., Yaudahlah mas. Udah kejadian juga, aku juga minta maaf. Aku kayak anak kecil, tapi aku serius, kesal sama kamu! Rasain! Emang enak khawatir?" Bian menarik hidung Jihan hingga memerah dan terpekik kesakitan. "Jangan gitu lagi mas..., Mbok ya kalau punya masalah setidaknya cerita. Apa gunanya aku kalau aku nggak bisa jadi pendengar yang baik buat kamu. Aku akan berusaha mengurangi sifat ke kanak-kanakanku..." "No! Jangan. Aku nggak mau kamu berubah, Ji. Jadilah Jihan yang pertama saya kenal..." "Iya mas..." Bian menepuk puncak kepala Jihan pelan dan mengacak-acak rambutnya hinga secercah senyum kembali di wajah Jihan. "Kita sama-sama instrospeksi diri, Ji. Saya nggak sempurna. Tegur saya dan lagi, kalau butuh sesuatu, bilang, saya nggak peka.." pesan Bian, Jihan mengangguk paham. TBC---    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN