Sudah dua hari ini Jihan sama sekali tidak ada komunikasi dengan Bian. Dua hari lalu, Jihan menelepon Bian untuk sekali lagi menanyakan apa hari ini ia bisa datang atau tidak.
Hari ini hari penting bagi Jihan, hari penentuannya setelah 4 tahun kuliah yaitu sidang skripsinya. Jihan sudah rapih dengan kemeja putih, di balut blazer hitam dan rok span sebatas lutut juga sepatu formalnya, tapi ada satu yang kurang hari ini. Mas nya, Bian.
Bian benar-benar sama sekali tak menghubungi Jihan hari ini, tidak menanyakan apapun perihal sidangnya siang nanti atau pub sekedar ucapan doa agar sidangnya lancar.
Masa bodo' lah, Jihan menikmati kembali sarapannya bersama Ibu dan Bapak di meja makan. "Dek, masmu nggak datang?" tanya Ibu sambil menyuap makanannya.
"Nggak. Dari kemarin emang nggak janji juga mau datang, kok," jawab Jihan sekenanya.
"Ya maklumi aja, dek. Masmu kan sibuk," ujar Bapak.
"Heum. Udah buk, pak, adek berangkat sekarang. Doain ya," pamitnya sambil bergantian menicum tangan Ibu dan Bapaknya sebelum berangkat.
"Iya sayang," kecup manis Bapak mendarat manis di kening putri tunggalnya ini.
Tiin tiin, ada suara klakson di depan. Shasya sudah datang rupanya. Jadwal sidang mereka berdua berbarengan, hari ini. "Di jemput siapa, nduk?"
"Shasya, buk"
"Oh, yawes, hati-hati,"
"Nggeh. Assalammualaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Jihan segera keluar dari rumah menuju mobil Shasya yang menunggu di depan pagar dan segera masuk ke dalamnya. "Bete amat lu bu dok?" goda Shasya sambil menjalankan mobilnya keluar komplek.
"Diem, lu, ah"
"Gue tahu nih, mas arsitek nggak datang, kan?" tebak Shasya tepat sasaran. Jihan hanya berdeham tak peduli. "Ya udah, sih, Han. Yang penting doanya dia lho, walaupun nggak terucap ke lo, tapi pasti setiap akhir doanya selalu nyebut nama lo, biar segalanya di mudahin. Wujud sayang itu nggak harus dia datang kan? Lewat doa lebih mujarab, Han. Doa itu adalah cara mencintai dan menyayangi yang paling rahasia, tanpa lo tahu, dia pasti, pasti nyebut lo di doanya,"
Eh? Tumben si Shasya bener. Apa efek mau sidang jadi religius begini?
"Han? Lo dengerin gue nggak sih?!" protes Shasya karena Jihan tak kunjung bereaksi setelah kalimat terakhirnya tadi.
"Iya gue denger," jawab Jihan lesu, Shasya kembali fokus menyetir hingga sampai di parkiran kampus. Mereka turun lalu bergabung dengan teman-teman yang hari ini juga jadwalnya mereka untuk sidang skripsi. Jadwal Jihan jam 9 pagi ini, itu tandanya beberapa menit lagi ia akan masuk ke dalam ruangan untuk melakukan sidangnya.
Sementara di kantor, Bian sedang sibuk di dalam ruang meeting dengan salah satu tamu dari luar negeri. Meeting sudah berjalan sejak pukul 7 tadi pagi, itulah mengapa Bian akhir-akhir ini tidak bisa di hubungi, dirinya beserta para staff di kantor sedang sibuk untuk meeting juga presentasi hari ini.
Meeting selesai pukul 9.30 pagi, ngaret dari jam yang di tentukan karena presentasi yang lumayan alot. Bian beserta tamunya keluar dari ruang meeting setelah bercakap-cakap sebentar lalu Bian juga Patricia mengantar mereka sampai ke lobby depan.
"Pak," panggil Patricia.
"Ya?"
"Bukannya hari ini bapak ada jadwal keluar?"
"Ke mana?"
"Bu Jihan sidang hari ini, kan?" Patricia memang tahu semua jadwal Bian setiap hari Senin hingga Jumat.
Bian terdiam, ia melirik jam tangannya, sudah jam 9.45 rupanya. Sidang Jihan sudah berjalan 45 menit, tandanya sudah selesai, mau menyusul juga rasanya percuma. "Tolong kamu telepon florist langganan, belikan buket bunga. Kamu kirim ke kampus Trisakti, fakultas kedokteran," putus Bian akhirnya. "Kartu ucapannya jangan lupa. 'Selamat atas sidang S.Ked-nya. Maaf saya tidak bisa hadir' udah gitu aja. Saya mau kunjungan proyek," Bian segera berlalu dari hadapan Patricia dan menuju mobilnya terparkir.
Patricia terpekur begitu melihat Bian berlalu begitu saja, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja sambil sesekali membatin 'ngidam apa sih dulu Bu Lanny, kok, anaknya kayak gini?'
"Bu Jihan kok tahan sih sama si Bapak? Saya kalau jadi Bu Jihan juga kayaknya bakalan tinggalin bapak, deh, dingin banget kayak kulkas," gumamnya sambil mencari nomor telepon florist langganan kantor.
Sidang selesai tepat 9.45 Jihan keluar dari ruangan itu, wajahnya nampak pucat namun ada gurat lega tersirat dari hembusan nafas panjangnya yang juga terdengar lebih ringan. "Alhamdulillah, akhirnya!!" pekiknya sambil memeluk Shasya yang juga keluar dari ruangan sebelah. "Bersyarat, Sya," gumamnya.
"Eh, gue juga kali. Revisi ceunah!" Gerutunya. "Eh tapi nggak apa-apalah, yang penting udah sidang itu rasanya lega!!! Beban terangkat, duh, Gusti nu agung, Alhamdulillah" euforianya masih sangat kental terasa sampai rasanya ingin meledakkan konfetti saat itu juga.
"Masih belum ada kabar, Sya," ujar Jihan saat mendaratkan tubuhnya di kursi panjang sambil melirik ponselnya dengan wajah cemberut, bibir maju 3 senti.
"Sabar," Shasya menepuk pundak sahabatnya yang hari ini tengah di buat gegana alias gelisah, galau, merana.
"Jihan!!" Ada yang meneriakkan namanya.
"Eh, kenapa lo, Za?" Jihan mengerutkan dahinya dalam-dalam melihat Ranza, teman angkatannya yang juga sidang hari ini membawa buket bunga.
"Ada titipan nih dari kurir florist, katanya buat lo," ujarnya sambil menyodorkan buket bunga di tangannya.
"Buat gue?" Jihan masih bingung. Ia mengambil kartu yang terselip di antara bunga mawar merah itu.
To
Kirana Jihan Wicaksono, S.Ked
Selamat atas sidang S. Ked-nya. Maaf saya tidak bisa hadir
From
Abiandra Satrio Prayuda
Jihan mengerjapkan matanya seolah tak percaya bahwa Bian, si kulkas dua pintunya ini mengirimkannya bunga? Apa tidak salah alamat? Satu sisi hatinya senang namun sisi lainnya menggerutu sebal.
"Aku butuhnya kamu datang, bukan cuma bunganya aja" gumamnya sambil melipat kembali kartu ucapannya dan di selipkan di bunga.
Jihan menghela nafasnya berat, bersandar pada punggung kursi memandangi bunga itu dengan kosong. Ranza dan Shasya menatap Jihan dengan heran, Shasya tahu pasti siapa tuan pengirim bunga itu. Tak lain tak bukan ya, Abiandra, siapa lagi?
"Dari siapa sih, Sya?" bisik Ranza.
"Calon suaminya Jihan," balas Shasya. Mata Ranza membulat, seolah tak percaya.
"Ah, yang bener lo, Sya!" Deliknya tak percaya.
"Yeh, nggak percaya. Ya udah,"
Beberapa kali ponsel Jihan terlihat bergetar, ada chat dari Bian namun di abaikannya. Ada juga pesan w******p dari Ibu yang menanyakan apa sidangnya sudah selesai atau belum, namun Jihan sepertinya enggan membalas pesan yang masuk itu. "Sya, masih nunggu apa lagi?" Tanya Jihan pelan.
"Ehm, kayaknya nggak ada deh. Foto-foto juga udah. Langsung balik atau lo mau jalan dulu?" Shasya memberi Jihan pilihan sambil dirinya sibuk mencari kunci mobilnya.
"Anterin gue balik aja, Sya," putus Jihan. Shasya tahu, Jihan sedang dalam keadaan mood yang kurang bagus.
"Yaudah, ayo gue anterin balik,"
Jihan hanya mengangguk lalu berjalan di samping Shasya. Begitu sampai di mobil Jihan juga diam saja, ponselnya bergetar panjang, ada telepon namun lagi-lagi ia mengabaikannya. Bahkan tak segan di reject.
"Dia punya caranya sendiri buat nunjukin kalau dia sayang, Han." ujar Shasya saat mobilnya sudah kembali masuk ke area komplek rumah Jihan.
Jihan hanya diam sampai di depan rumahnya. "Sekali lagi, Han. Dia pasti punya alasan kuat kenapa dia nggak menghubungi lo dua hari ini. Tapi, see, at least dia mencoba menghubungi kan setelah kirim bunga?"
"Tapi yang gue mau dia, bukan bunga atau apapun itu, Sya. Gue duluan, thanks." Jihan buru-buru turun, air matanya sudah tak kuasa lagi ia bendung, ia menangis sejadi-jadinya saat masuk ke dalam rumah dan buru-buru ke kamarnya.
Ia menenggelamkan wajahnya dalam-dalam. Sungguh Jihan kesal dengan Masnya! Apapun alasan Bian, setidaknya dia datang, walaupun setelah sidang, 5 menit saja. Tak masalah bagi Jihan, tapi ini?
Zzzzzttttt..., Zzzzzttttt Ibuk is calling
Jihan segera menggeser icon telepon dan menjawab telepon dari Ibu. "Assalamualaikum, buk?"
"Dek, gimana sidangnya? Lancar?"
"Alhamdulillah, lancar bu. Tapi ya revisi, sedikit"
"Ooh, alhamdulillah, yawes. Kamu di mana ini?"
"Rumah,"
Ibu juga paham, pasti ada yang kurang beres denga putrinya ini. "Yawes, ibuk balik kerja lagi ya, assalammualaikum"
"Hmm, wa'alaikumsalam"
Jihan mengusap wajahnya pelan, ia berjalan pelan ke kamar mandi dan seger mengganti bajunya dengan baju santai. Sepertinya ia akan menghabiskan waktunya hari ini dengan tidur saja, ia lelah.
Bian masih berada di area proyek, sudah beberapa kali Bian menghubungi Jihan namun tak ada jawaban. Terakhir teleponnya malah di reject, ia tahu, Jihan pasti marah karena akhir-akhir ini tidak menghubungi Jihan sama sekali.
Sebentar lagi pasti dirinya kena amuk lagi. Sepertinya nanti setelah ada waktu luang, Bian akan datang ke rumah Jihan saja.
Jujur, sebenernya Bian bangga pada Jihan. Ia benar-benar menepati janjinya untuk tidak menunda-nunda skripsi agar segera koas. Karena janji Bian kemarin juga akan menikahi Jihan secepatnya setelah ia mendapat gelar S.Ked-nya.
"Maafin saya, Jihan," gumam Bian menatap ponselnya.
Hari sudah sore, Bian segera pamit pada kepala proyek, lalu buru-buru melesat ke Jakarta Barat. Sepanjang jalan Bian juga mencoba menghubungi Jihan namun lagi-lagi hasilnya nihil dan barusan, telepon Jihan di matikan.
Kemacetan sudah menyapa Bian sejak keluar area proyek tadi, hal yang sudah tak asing lagi bagi Bian. Apalagi daerah rumah Jihan, Bian sudah terbiasa. Pelan tapi pasti, mobil Bian sudah masuk ke komplek rumah Jihan.
Civic itu berhenti tepat di depan rumah Jihan, rumah bercat biru itu nampak asri, lampu terasnya sudah menyala, ada mobil terparkir juga di halaman. Sepertinya Bapak dan Ibu sudah pulang, atau mungkin baru sampai.
Bian segera turun setelah mengunci mobilnya dan masuk ke rumah Jihan, ia mengetuk pintu coklat di depannya perlahan. "Assalammualaikum," ucapnya.
"Wa'alaikumsalam. Eh, den Bian. Silakan masuk," sapa Bik Sri saat membuka pintu.
"Iya, bik, Jihannya ada?"
"Ada, ibuk sama bapak juga ada," jelasnya sambil membawa Bian masuk ke dalam.
Bian segera menyalami Ibu dan Bapak, mereka sedang santai nonton tv. Namun hanya berdua, Jihan masih di kamarnya belum juga turun sejak siang tadi kata Bik Sri.
"Adikmu, kalau ngambek ya begitu, le" ujar Bapak sambil menyeruput tehnya perlahan.
"Nggeh, pak, saya paham. Saya izin samperin Jihan ke kamarnya ya, buk, pak?" ucap Bian meminta izin.
"Silakan, le. Seharian ini dia ngedumel terus kamu nggak datang ke sidangnya. Tuh, bunga dari kamu, bik Sri yang pindahin ke vas sebelum layu. Lha wong daritadi nggak keluar-keluar kamar," cerocos Ibu panjang lebar.
Bian menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu sambil mengulas senyumnya tipis lalu pamitan naik keatas di temani Ibu. Beliau mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada jawaban apapun, ia putar kenop pintu dan membukanya perlahan dan mendapati Jihan sedang lelap tertidur atau pura-pura tidur?
"Ji, ada masmu nih," sontak Jihan membuka matanya namun enggan berbalik.
"Suruh pulang aja, buk!" Jihan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ibu mencoba menarik selimut itu beberapa kali namun tak berhasil, yang ada Jihan malah makin kencang memegang ujung selimutnya.
"Kirana Jihan!" Hentak Ibu. "Yang sopan! Ada masmu!"
Jihan melepaskan selimutnya, wajahnya merengut, melirik Bian dengan tatapan sinis nan mematikan khas Jihan yang sedang marah tingkat akut. Ibu lalu memilih mundur dan membiarkan anak-anaknya ini menyelesaikan masalahnya sendiri.
Hening tiba-tiba berpendar. Belum ada yang mau membuka suaranya lebih dulu, Jihan sudah dalam posisi duduk bersandar pada punggung tempat tidurnya, menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. "Ngapain kamu kesini?" tanya Jihan sinis setelah sesi diam-diaman beberapa lama
"Maafin saya, Ji," ujar Bian.
"Dua hari ngilang, gitu nggak hubungi balik,"
"Tapi saya tadi berusaha buat hubungin kamu, eh, tapi malah kamu reject, kamu matiin habis itu hapenya,"
"Terserah!"
Bian menghela nafasnya berat saat mendengar kata terserah keluar dari mulut Jihan. Itu tandanya, ia kembali harus menerka dan berusaha lebih keras untuk meminta maaf.
"Kamu anggap aku ini apa, mas? Aku juga perempuan. Setidaknya hubungin aku normal-normal aja bisa, kan? Terlepas dari kamu mau datang atau nggak ke sidang aku tadi pagi," cerocos Jihan tanpa jeda.
"Oke, Jihan, saya minta maaf. Saya tahu, saya salah nggak hubungin kamu, nggak datang ke sidang kamu tadi pagi. Maaf, Ji, maaf. Kamu tahu pekerjaan saya kan? Nggak setiap hari saya ada di dalam kantor, waktu saya banyak di habiskan di area proyek, kunjungan. Kecuali memang ada meeting seperti tadi pagi saya ada klien dari Jepang, saya nggak mau staff saya repot sendiri mengurusi tamu yang akan datang itu. Saya juga harus turun tangan. Saya sibuk pasti ada alasannya, Jihan. Kamu harus terbiasa sama saya yang seperti ini, supaya kamu nggak kaget setelah kita menikah nanti," jawab Bian panjang.
"..., Saya ya begini, Ji. Kamu tahu, kan?" sambungnya.
Jihan terdiam, matanya berkabut, pelupuknya basah, air matanya meluncur tak tahu malu di depan Bian seperti ini.
"This is how i show my love to you, Ji. Maaf kalau kamu kurang suka dengan cara saya, tapi inilah saya. I don't need to show off to other people, show off that i love you so much. Rasa sayang dan cinta saya ke kamu nggak perlu harus di pamerkan ke orang banyak, cukup saya, kamu dan Allah yang tahu," Bian menyentuh pipi Jihan, menghapus air mata yang luruh dan menggenang. Jihan masih diam.
Dia masih marah pada Bian sebenarnya, ia mencoba untuk menekan lagi egonya dan berusaha mengerti bahwa inilah Bian. Bian itu lain, tidak seperti laki-laki kebanyakan di luar sana.
"Aku butuhnya kamu datang mas. Bukan cuma bunga kamu aja yang tiba-tiba sampai di kampus, hiks. Aku sadar kok, kamu sibuk, akupun akan sibuk ketika koas nanti. Tapi aku mohon sama kamu, please perbaiki komunikasi kita, mas. Semenit it's okay, yang penting kita sama-sama tahu, kalau gitu insha Allah nggak akan ada miss komunikasi lagi di antara kita," ucapnya sambil terisak mengeluarkan segala unek-uneknya.
"Iya Ji, iya. Saya minta maaf, saya janji akan perbaiki komunikasi kita ke depannya dan aku janji sama kamu, wisuda kamu nanti aku pasti datang," ucapnya lagi sambil kembali menghapus air mata Jihan yang kembali luruh saat bicara tadi lalu mengecup puncak kepala Jihan dengan sayang.
"This is me, this is how i show my love to you, Kirana Jihan," ujarnya. "Maafin saya?"
Jihan paling tidak bisa kalau Bian sudah mohon-mohon seperti ini. Receh memang, tapi rasanya ia tak tega melihat wajah sendu Bian saat memohon maaf padanya. Ia mengangguk pelan, lalu Bian memeluk Jihan, meletakkan kepala Jihan di dadanya, mengelus kepalanya, mengecup puncaknya lagi dengan sayang dan lama.
Tbc----
Nantikan episode berikutnya