Haneda Airport, Japan
Bian baru saja mendarat setelah penerbangan selama kurang lebih 8 jam dari Jakarta menuju Jepang setelah sebelumnya transit di Bali. Ada pekerjaan yang harus Bian selesaikan di sini sampai beberapa hari ke depan. Memang terkesan mendadak, Papa bahkan baru mengabarinya beberapa hari lalu.
Bian keluar dari airport setelah bertemu dengan driver yang memang di sediakan untuk menjemputnya hari ini. Mereka menuju Keio Plaza Hotel, sepanjang perjalanan Bian hanya diam, ada sesuatu yang mengganjal.
Bian pergi tanpa pamit pada Jihan.
Ia menatap ponselnya yang baru saja menyala dengan nanar. Wajah Jihan nampak di sana, ponsel Bian belum mendapat signal dan belum bisa menghubungi Jihan sampai detik ini.
Bian masih tak mengeluarkan sepatah katapun, ia bahkan tak sadar kalau mobil sudah berhenti di depan lobby hotel. "Sir, we're arrive." ucap si driver dengan aksen Jepang yang kental.
Bian mengerjapkan matanya berkali-kali. "Ah, sorry," Bian lalu keluar dari dalam mobil bersama kopernya setelah sang driver menyampaikan besok Bian akan di jemput pukul 8 pagi.
Setelah mengurus administrasi kamarnya, Bian di antar langsung ke atas. Kamar dengan view langsung ke Shinjuku Chou Park yang cantik. Bian membuka lebar-lebar pintu kaca geser di balkonnya.
Semilir angin sore hari di musim gugur menyapa ketika Bian berdiri menghadap taman di depan balkonnya. Sementara di dalam ponsel Bian mulai mendapatkan signal wifi dan satu persatu email juga pesan masuk ke ponselnya.
Sementara di Jakarta di hari yang sama,
Sudah puluhan bahkan sepertinya ratusan kali Jihan mencoba untuk menghubungi Bian. Namun lagi-lagi hanya operator yang menyahuti, apa-apaan ini?!! Sudah sejak kemarin ponsel Bian sulit di hubungi, Jihan sudah khawatir bahkan berpikir yang tidak-tidak.
Ke mana masnya itu? Bisa-bisanya selalu buat Jihan kuwalahan dan khawatir seperti ini. Waktu istirahat Jihan habis dengan menelepon Bian namun sia-sia, chat w******p hanya centang satu, line tidak di bacanya.
"Uughh!!!" geram Jihan kesal karena teleponnya lagi-lagi tak dijawab.
Ia masih duduk di pojok kantin bersama makanan yang sudah tak selera ia santap.
Kegalauan level not detected.
"Jihan?" panggil seseorang.
Jihan menongak. "Eh, dr. Lanny," ujarnya pelan.
Mama menarik kursi di depannya lalu duduk di hadapan Jihan yang dari wajahnya beliau sudah tahu bahwa Jihan sedang kesal. Dilihat dari dahinya yang mengkerut dalam. "Jihan, ada apa?"
Ia menggeleng.
"Mas mu ya?" tebaknya.
Jihan diam.
Ya siape lagi mammm?
Mama menatap calon menantunya ini dalam diam. Tanpa perlu Jihan menjawab ia juga sudah tahu kalau Jihan begini pasti karena Bian. Mama tak sengaja melihat nama Bian saat Jihan memutar-mutar ponselnya di atas meja.
"Mam, Jihan mau tanya,"
"Tanya apa?"
"Mas tuh ke mana sih, mam?" tanya Jihan akhirnya.
Kini giliran Mama yang keheranan. Apa Jihan tidak tahu? Atau jangan-jangan Bian tidak memberi tahu Jihan saat berangkat? "Ji, apa mas nggak izin sama kamu?"
"Izin? Izin apa, ma?" Jihan semakin bingung dengan Mama yang balik bertanya.
"Mas mu berangkat ke Jepang tadi shubuh, sendirian ada kerjaan Papa bilang. Makanya mas mu disuruh kesana, itupun dadakan, mas baru di kasih tahu belum lama ini,"
Deg.
Jihan diam, berusaha mencerna kata-kata Mama. Mas Bian? Ke Jepang? Nggak izin? Apa Bian lupa kalau ia sudah mengikat hati perempuan yang kini mengkhawatirkannya hingga tidak nyaman mengerjakan apapun.
"Mas nggak bilang apa-apa ke Jihan, ma." Gumam Jihan. Mama sudah menduga.
"Bener-bener si Bian," geram Mama. "Masih belum bisa dihubungi mas mu?"
Jihan menggeleng. Wajahnya lesu, ia jadi tak bersemangat melakukan apapun, rasanya ingin pulang saja. Ada nyeri di hati Jihan saat Bian pergi tanpa pamit seperti ini padahal sebelum ini mereka baru saja pergi kencan.
"Saya permisi, dok," Jihan pamit permisi dengan menahan tangis serta gejolak amarah di hatinya meninggalkan Mama yang kehilangan kata-katanya, baru kali ini beliau melihat Jihan dengan ekspresi seperti itu.
"Ji," panggil Mama, namun Jihan semakin menjauh. "Astagfirullah, Abiandra!!" Mama semakin geram.
Jihan pergi ke sudut rumah sakit yang paling sepi, yang jarang di lewati orang. Ia duduk di salah satu bangku, menatap ponselnya dengan sekuat tenaga menahan tangisnya namun tak bisa.
Kesal. Itu yang Jihan rasa sekarang, rasanya Jihan ingin menampar wajah Bian nanti bila dia pulang. Apasih, susahnya untuk bilang dan tidak menghilang seperti ini?
Apasih susahnya untuk satu menit bicara, 'Jihan, saya ke Jepang, besok.' tak perlu panjang lebar Jihan pasti mengerti bahwa Bian ada pekerjaan di sana.
Sesak. Jihan menangis hingga dadanya terasa sesak. Di anggap apa dirinya selama ini oleh Bian? Kenapa kejadian seperti ini selalu terulang lagi dan lagi? Apa Bian tidak belajar dari kesalahan sebelumnya?
Jihan menghapus air matanya, ia buka lagi ponselnya dan mengetik satu kalimat pesan yang di yakininya Bian pasti kalang kabut.
Masku
Missed voice call at 13.30
Missed voice call at 13.35
Missed voice call at 14.00
Missed voice call at 14.30
Jangan cari saya,✓✓
Jihan kembali mematikan ponselnya, menenangkan dirinya dan kembali ke poli. Ia sudah terlalu lama di sini, semoga tidak ada yang menyadari kalau Jihan tadi tidak ada.
.
.
.
Ponsel Bian bergetar beberapa kali di atas nakas saat ia sedang sibuk di depan laptopnya. Bian meraihnya dan menekan home button, banyak sekali notifikasi dari Jihan dan Mama yang mendominasi tampilan di ponselnya.
Perasaan Bian tak enak, ia buka satu persatu pesan pertama dari Mama yang sepertinya berisi amarah karena lelaki sulungnya ini ternyata pergi tanpa pamit pada Jihan.
Bian mendesah pasrah membaca omelan-omelan Mama di chat w******p nya. Bian mengaku salah kali ini. Lalu ia membuka pesan dari Jihan, Bian menggumam membaca satu pesan di bubble chat terakhir paling bawah setelah puluhan missedcall Jihan tinggalkan.
Ia segera menelepon Jihan, namun kali ini Jihan yang menghilang tak menjawab telepon Bian. Bian mondar-mandir kesana kemari seperti setrika sambil menempelkan ponsel ke telinganya.
"Jih, angkat telepon saya," gumamnya.
Bian mengusap wajahnya kasar, ia tahu pasti Jihan marah besar karena tahu hal ini dari Mama. Bukan dirinya sendiri yang memberi tahu.
Bian sudah hapal perangai Jihan, ia sudah siap bila Jihan meneriakinya di telepon. Ia kembali mencoba menelepon Jihan untuk yang entah ke berapa kalinya.
Di dering ke empat, telepon Bian akhirnya di jawab. "Hallo? Jihan?"
Hening, Bian tak tahu saja kalau Jihan tengah menangis sesegukan setelah sampai di rumah barusan.
"Jihan? Kirana Jihan? Sayang?" panggil Bian sekali lagi.
"Bagus ya mas, pergi nggak ngomong, mana aku tahu kalau mama nggak ngomong," sahut Jihan bergetar.
"Jihan, saya..--"
"...Pantesan aja nggak hubungi aku ya. Ya udah, aku cukup tahu aja," lanjutannya, Bian takkan menginterupsinya.
Terdengar helaan napas Jihan, ia sedang mencoba menguatkan hatinya sendiri. "Selama ini saya apa buat kamu?!! Pergi jauh nggak ngomong, apa saya nggak khawatir? Udah bosan sama saya? Iya?? Jawab mas!!! Saya ini apa buat kamu!??!!!!" pekik Jihan setengah terisak di ujung telepon berhasil membuat Bian kaget.
".. sekarang, terserah kamu. Saya nggak bisa melarang, maaf, saya berlebihan, saya memang bukan siapa-siapa kamu. Maaf."
Klik.
Jihan menutup telepon tanpa sempat mendengar penjelasan Bian. Ia muak dengan segala alasan yang Bian utarakan. Rasanya, Jihan ingin mengakhiri ini semua namun sisi hati lainnya seolah tak bisa melepas Bian begitu saja.
Jihan menarik nafasnya dalam-dalam, menenangkan dirinya sendiri. Ini hanya egonya, amarahnya, kali ini Jihan takkan mudah luluh.
Ini bukan lagi sesekali atau dua kali, sudah berulang kali Bian melakukan hal yang sama dan berujung minta maaf. Jihan sepertinya harus tegas kali ini.
Sementara Bian masih terpekur setelah teleponnya di tutup sepihak seperti tadi. Demi apapun, baru kali ini Jihan memperlakukannya seperti itu
"Kamu tunangan saya. Calon istri, besok jadi istri saya. Maafin saya, Jihan," gumamnya.
Rasanya ingin Bian segera pulang malam ini juga untuk menyelesaikan masalahnya dengan Jihan. Ia tahu kali ini benar-benar fatal, kalau saja pekerjaan ini tidak mendadak, mungkin Bian masih bisa izin dan pamit pada Jihan dan tidak akan berakhir seperti ini.
.
.
.
.
Jihan benar-benar mengabaikan Bian setelah insiden telepon itu beberapa hari yang lalu. Ia sama sekali tidak menjawab satu pun chat atau telepon dari Bian sampai akhirnya Mama menghampiri Jihan saat ia baru saja ingin pulang karena mama merasa Jihan menghindarinya akhir-akhir ini.
"Jihan," Mama mencekal tangan Jihan setelah menutup pintu ruangan koas.
"Eh," Jihan salah tingkah. "Dr. Lanny, anu, saya.."
Mama menarik Jihan ke taman rumah sakit untuk berbicara hanya berdua. Bukan maksud Mama ingin mencampuri urusan Bian dengan Jihan, tapi Mama menghubungi Bian tepat setelah Jihan menutup telepon Bian dan si kulkas reflek memanggil Mama dengan nama Jihan namun bukan Bian namanya kalau tak bisa menutupi segala hal yang terjadi padanya.
Cobaan menuju pernikahan bagian awal.
"Maaf dok, tapi saya harus segera pulang," alibinya.
"Jihan, dengar mama. Kalian kenapa?" nada bicara dan tatapannya khawatir.
"Siapa, mam?"
"Kamu dan masmu,"
"Kami nggak apa-apa kok, mam." Jihan menampilkan senyumnya yang di buat seceria mungkin.
"Bener kalian nggak apa-apa?" Mama masih curiga.
Jihan mengangguk pasti sekali lagi meyakinkan Mama bahwa ia dan Bian baik-baik saja walaupun sesungguhnya, tidak sama sekali. "Maaf, mam, Jihan harus pulang sekarang. Ibuk telepon Jihan tadi, permisi mam. Assalammualaikum," Jihan meraih punggung tangan Mama lalu diciumnya.
"Wa'alaikumsalam,"
Ada yang mereka tutupi, Mama tahu. Tak biasanya Jihan menghindar seperti ini. Ah tapi sudahlah, mereka sudah dewasa, biar saja mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Tanpa campur tangan dari Mama atau bahkan Papa.
Jihan pulang ke rumah dengan ojek online yang di pesannya beberapa saat setelah pergi dari hadapan Mama. Ia tak ingin air matanya jatuh di depan Mama, lebih baik ia pendam sendiri, ia tak ingin Mama tahu soal apapun yang terjadi belakangan ini.
Begitu sampai di rumah, Jihan segera masuk ke dalam rumah tanpa menyadari ada sepatu siapa di depan. "Jihan," panggil Bapak.
"Bapak, mas?" Jihan terpaku ketika melihat ada Bian duduk berseberangan dengan Bapak.
"Duduk sini, nduk." ajak Bapak, Jihan menggeleng enggan lalu naik ke lantai atas tanpa menghiraukan Bian di sebelah Bapak.
"Kejar Jihan," perintah Bapak sambil menepuk bahu Bian.
"Nggeh, pak."
Bian segera naik ke atas, mengetuk pintu kamar Jihan berkali-kali namun kembali diabaikannya. Bian terus mengetuk pintu di depannya hingga tangannya memerah. Jihan akhirnya menyerah, ia memutar kuncinya dua kali lalu dibukanya. Wajahnya memerah, matanya sembab usai menangis, dadanya juga masih terasa sesak. "Ngapain kamu ke sini?!"
"Mau nyamprein tunangan saya yang lagi ngambek," ujar Bian sambil menangkup wajah Jihan namun Jihan berusaha melepasnya.
Jihan masih menatap Bian dalam diam namun menusuk. "Kamu jahat tahu nggak!!" geram Jihan lalu memukul lengan Bian dengan kesal. "Kamu biarin aku khawatir!! Aku tuh takut kamu kenapa-kenapaaa!!!"
Bian merengkuh Jihan dalam dekapannya, Jihan masih sesekali memukuli d**a Bian sampai lemas tak ada tenaga lagi. "Jahat kamu jahat!! Nggak ada salahnya kabarin aku kan? Apa segitu sibuknya kamu sampai nggak ada waktu untuk telepon aku? Aku ini apa buat kamu, mas??!!!" ujar Jihan sesegukan di d**a Bian, menangis sampai kemeja Bian basah.
"..kenapa sih kamu selalu mengulang kesalahan yang sama?? Aku capek!!" lanjutnya, Bian membiarkan Jihan menumpahkan kekesalannya, biar saja ia menangis sepuasnya. Bian terima karena memang ini salahnya.
"Kamu tunangan saya, calon istri saya, calon ibu dari anak-anak saya. Iya, saya ngaku, saya salah. Maaf." ujar Bian penuh sesal.
"Harus berapa banyak maaf lagi yang aku dengar, mas? Hiks,"
Si kulkas kembali merengkuh Jihan, lalu di tangkup wajahnya dengan kedua tangan Bian. Di kecupnya kening Jihan, ia hapus air mata yang menganak sungai di wajah Jihan. "Maafin saya, Kirana Jihan. Kamu boleh tampar saya, pukul saya atau apapun itu. Tapi maafin saya, kamu tahu saya orangnya begini,"
"..please, maafin saya?"
Jihan menatap Bian dengan mata yang masih basah. "Aku mohon sama kamu, jangan kayak gini lagi. Aku nggak mau tengkar sama kamu hanya karena hal kayak gini. Apapun, komunikasikan, biar semuanya tenang, aku nggak khawatir. Kamu, kalau aku lakuin hal yang sama pasti marah dan kalap kan?"
Bian terdiam. Iya juga ya. Bian pasti akan lebih kalap dari Jihan bila Jihan melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukannya kemarin.
Terkadang, Bian lupa akan hal kecil yang jadi perhatian Jihan. Ia terlalu di sibukkan dengan pekerjaannya, dengan klien-kliennya sampai ia tidak begitu memperhatikan bahwa Jihan mengkhawatirkannya.
Ia jadi ingat kejadian beberapa bulan lalu, saat Jihan mengiriminya makanan dan ia memakannya tepat tengah malam saat sampai dirumah. Ia mengabaikan Jihan hari itu. Bian meraup wajahnya kasar, ia tatap Jihan dalam-dalam. "Maafin saya, saya salah selama ini nggak pernah memposisikan saya sebagai diri kamu. Saya tahu pasti sakit rasanya di abaikan, maafin saya, Kiran Jihan." dipeluknya Jihan kembali, Jihan membalas pelukan Bian tak kalah erat.
"Maafin aku juga, aku terlalu berlebihan sama kamu, aku cuma khawatir sama kamu,"
Bian menggeleng. "Terimakasih karena kamu khawatir sama saya. Itu tandanya kamu sayang sama saya, saya juga sayang sama kamu. Kita percepat akad dan resepsi kita, kamu mau kan?"
"Hah? Kamu nggak bercanda kan, mas?"
"Saya serius, Jihan. Besok saya bawa mama papa saya ke sini, kita bicarakan tanggal dan hari apa sebaiknya akad di laksanakan,"
"Ta-tapi venue, dan lain-lainnya gimana?" gagap Jihan.
"Kita akad dan resepsi di rumah aja, mas nggak mau ramai-ramai seperti Bhima kemarin. Mas mau hanya keluarga dekat dan teman-teman dekat saja, mas kurang suka keramaian. Yang penting akadnya, kan?" usul Bian sambil membawa Jihan duduk di sofa.
"Iyasih mas, uangnya juga bisa kita gunakan buat yang lain kan?"
Bian mengangguk, "Besok kita bicarakan lagi sama mama papa sekalian ya,"
"Iya mas,"
Selesai dengan semua drama yang terjadi hari ini, Bian lalu pulang kerumah. Di dapatinya Mama Papa di ruang tamu saat ia sampai. Dan benar saja, Mama langsung menginterogasinya soal Jihan yang nampak lain beberapa hari ini.
"Kamu lho mas," Mama menggeleng.
"Iya ma, maaf. Mas salah. Oh iya ma, pa, besok bisa kan kita ke rumah Jihan? Mas udah nunda dua kali karena selalu bentrok,"
"Bisa kok, ya kan, pap?"
"Boleh, jam 7 malam besok kita ke sana."
"Makasi ma, pa. Hmm, soalnya Bian mau pernikahan mas sama Jihan di percepat,"
Mama menatap Bian horor. "Emm, mas kamu nggak aneh-aneh kan?"
"Astagfirullah! Nggak lah, ma. Bian nggak segila itu, mas punya adik perempuan, ma. Nggak lah. Bian mau mempercepat supaya kami nggak dosa terus tiap ketemu atau bareng-bareng, toh kami juga hampir setahun kan?"
Mama menghela napasnya lega. "Mama kirain," ujarnya sambil mengusap-usap dadanya.
"Yawes mas, kalau mau dipercepat, senin nanti kamu urus berkas-berkasnya terus ke KUA deh,"
"Nggeh pap, nanti Bian dan Jihan segera urus."