Design 17

2513 Kata
"Apa jangan-jangan dari...." gumam Jihan sambil menatap layar ponselnya. Ia menggerakkan jarinya, lalu membuka aplikasi w******p. Di sana ada group Alumni SMPnya dulu, dan benar saja di dalam sana ada Dante dan lagi Jihan juga baru ingat bahwa ada yang pernah menanyakan dimana rumahsakit tempat Jihan Koas? Dan Jihan menjawabnya. Jihan mengumpat dalam hati. Aya-aya wae maneh teh, Jihan!! Piye tho, Jihhh!!! Ia juga tak sadar bahwa Dante ada disana, ia bahkan tak pernah muncul dalam obrolan group w******p ini. Jihan memukul-mukul pelan kepalanya dengan ponselnya itu sambil mengumpati dirinya bodoh. "Ugh! Sudahlah!" Jihan keluar dari tempat persembunyiannya, kembali ke meja poli dan mengajak Suster yang tadi membantunya makan siang. . . . . . Sudah dua hari ini Bian berada di luar kota, proyek terbengkalai itu sudah kembali berjalan seperti semula. Kini Bian tengah mengawasi dari jauh, lengkap dengan rompi, sepatu boots dan helm proyeknya. Netranya terus mengawasi, inilah setiap hari yang di lewatinya. Kalau dulu saat di Jerman Bian lebih banyak mengerjakan proyek-proyek kecil, kini dirinya terjun langsung ke lapangan. Papa yang secara tak langsung mendorong Bian masuk ke dalam dunianya. Sejak kecil, Papa yang lebih sering membawa Bian ke kantor dan ke  proyek-proyek yang sedang di tanganinya. Bukannya Kani dan Bhima tak pernah diajak, hanya saja mereka berdua lebih banyak menghabiskan waktu bersama Mama di klinik. Jadilah Abiandra yang paling terkontaminasi pikirannya agar suatu saat nanti ia bisa seperti Papanya. Seketika ingatan masa kecilnya lewat begitu saja. Bermain di pinggir proyek sambil di awasi Papa dengan pasir juga tanah adalah hal favoritenya dulu. Membuat miniatur gedung dari bebatuan yang di temukannya, sampai akhirnya Papa pun menyadari bahwa lelaki sulungnya ini tertarik dengan apa yang ada di hadapannya. Dan benar saja, hingga menjejak sekolah menengah pertama, cita-cita Bian tak berubah. Jadi arsitek adalah pilihan utamanya, lain dengan Bhima dan Kani, mereka akan tetap memilih sebagai tenaga kesehatan apapun itu, entah dokter, perawat, bidan atau bahkan apoteker. Ala bisa karena terbiasa. Bian yang terbiasa dengan Papa dan Bhima juga Kani yang terbiasa dengan Mama. Bukannya tak ada pilihan pekerjaan lain, namun apa yang di tanamkan kedua orang tuanya sudah terlalu melekat pada mereka. Mama dan Papa bahkan membebaskan anak-anaknya untuk menjadi apa yang mereka mau, tapi apa boleh buat bila mereka ingin mengikuti jejak kedua orang tuanya? Bian tersenyum samar, ah, rasanya ia masih belum apa-apa di bandingkan Papa. Bian masih harus banyak belajar, suatu saat ia akan menggantikan Papa, memimpin sebuah perusahaan, mengendalikan begitu banyak kepala yang bernaung di bawah kepemimpinannya. Lamunannya terhenti begitu ia menyadari bahwa sang surya sudah menyingsing ke barat. Tenggelam dengan semburat jingganya, sudah sore. Ia baru sadar juga bahwa para pekerja sudah ada yang berganti dan sepertinya ini saatnya Bian kembali ke hotel. "Pak Bian," "Eh, iya pak Irul?" Bian menoleh begitu namanya dipanggil. "Balik hotel, pak. Apa mau kulineran dulu? Saya lapar nih kebetulan," ajaknya. "Boleh pak, saya kebetulan pengin coba kuliner khas sini," ujar Bian sambil melepas helmnya. "Ya sudah, kalau begitu ayo." Bian menanggalkan atribut proyeknya lalu keluar bersama Pak Khairul menuju salah satu depot makam empal gentong khas Cirebon. Saat tengah menyantap makanannya, ponsel Bian bergetar panjang. Jihan menelepon. Jihan is calling Bian menggeser ikon hijau lalu menjawabnya. "Assalammualaikum," "Wa'alaikumsalam, mas? Udah balik hotel?" "Belum. Ini masih makan, ada apa?" "Ooh, nggak. Ini lho mas, aku habis di ajak belanja sama Mama. Beli kerudung dan baju, banyak banget." jelas Jihan di ujung telepon. "Hhmm.., ya syukur deh. Gimana ada kendala nggak selama beberapa hari ini?" "Masih rada kagok aja sih mas, tapi nggak apa-apa. Aku harus belajar terbiasa kan," sahut Jihan. "Hmm, iya bagus itu. Kamu udah makan?" "Udah mas tadi sama Mama, kan. Kamu?" "Ini lagi maem soto apa ini, empal." "Enak. Aku kangen, mas" "Iya, sabar yaa. Lusa saya pulang," jawab Bian mencoba menenangkan Jihan. "Yaa. Ya udah kamu lanjutin deh maemnya, jangan lupa sholatnya. Miss you, Assalammualaikum" "Heum, wa'alaikumsalam." Bian meletakkan ponselnya lagi, Pak Khairul hanya bisa senyam senyum penuh arti mendengar pembicaraan Bian dan Jihan barusan. "Perhatian banget dia, pak." ujar lelaki paruh baya ini. "Yaa, begitulah pak. Walaupun kadang keras kepala dan manjanya ampun-ampun." sahut Bian sambil menyuap makanannya lagi "Di nikmati. Toh nanti akan lain ketika yang di sayang sudah nggak ada," Pak Khairul menyunggingkan senyum getirnya. Jleger!! Bian menelan makanannya secara terpaksa. "Pak, udah nggak usah di lanjutin," Bian tahu, Pak Khairul baru saja kehilangan istri tercintanya beberapa bulan lalu akibat kecelakaan lalu lintas. "Nggak apa-apa, saya sudah ikhlas. Saya beritahu, kunci dalam awetnya sebuah hubungan itu adalah komunikasi. Dimana pun, mau sebentar atau lama, setidaknya jangan pernah buat pasangan kita khawatir karena kita tak memberi dia kabar. Dia khawatir, tandanya sayang. Apapun itu, komunikasi. Jangan abai dan saya contohnya, saya abai." Duaaarr!!! Serasa disambar petir, hati Bian mencelos. Apa-apaan ini!!! Heeeyy!! Mengingat kejadian lalu-lalu Bian merasa getir sendiri. Apalagi waktu Jihan sakit dan Bian memilih meeting daripada segera menyusul langsung ke UGD. Perkataan Pak Khairul ada benarnya, komunikasinya dengan Jihan memang kurang bagus sejak awal. Tapi, dari mana Bian harus mulai memperbaikinya? Bian menghabiskan makanannya dalam diam, ia jadi kepikiran Jihan. Apa teleponnya tadi sudah cukup membuat Jihan tenang dan percaya bahwa dirinya disini baik-baik saja? . . . . . Seperti pagi-pagi biasanya di KMC, Jihan sibuk di poli hingga waktu menunjukkan pukul 12 lewat sampai poli akhirnya sepi. Kosong melompong dan Jihan serta temannya yang lain bisa bernapas lega. Tak tercekat seperti tadi. "Permisi," ucap seseorang. "Ya, ada yang bisa di---" ucapan Jihan terhenti begitu ia menongak dan melihat siapa seseorang di depannya itu. "Hai, Jihanney." sapanya lagi. Dante, lagi. "s**t!" maki Jihan dalam hati. "Woow, kamu beda ya sekarang. Lebih cantik," ucapnya sambil mencoba untuk menyentuh wajah Jihan dan Jihan menepisnya. "Don't touch me! Don't you dare! Atau, saya panggilkan satpam untuk usir kamu dari sini?!!" sergah Jihan sambil memberikan tatapan sinisnya. Sialnya, sekitar poli tengah sepi. Koas ada di ruangan, Jihan sendirian di meja depan sedang mengerjakan status pasien. "Eeee, berani ya sekarang. Di ajarin siapa siih? Sama calon suami kamu itu ya? Hmm, inget ya, Jihanney, kita belum putus lho, dan kamu mau kan..." Dante menggantung kalimatnya sambil menaik turunkan alisnya menggoda Jihan. Jihan tak menjawab apapun, ia merapikan mejanya dan lebih memilih meninggalkan Dante. Ia berjalan--setengah berlari menjauh ke tempat ramai namun Dante seolah tak takut dan tetap mengikutinya. "MAU KAMU APAAA???!!!" teriak Jihan kencang hingga membuat orang di sekitar melihat ke arahnya. Sadar akan menjadi bahan tontonan, satpam KMC langsung mendekat dan melerai sebelum Dante bertindak lebih jauh. "Anda mengganggu ketertiban rumah sakit, pak. Silakan, pintu keluar sebelah sana." "Tapi saya ada perlu sama dokter ini, pak!!" tak menyerah Dante terus berusaha melepaskan cengkeraman kuat dua satpam ini. Mama Nadia yang menyadari akan adanya keributan di rumahsakitnya segera mendekat. Ia mengernyitkan dahinya begitu yang di lihatnya adalah Jihan disana, sigap, ia segera mendekat dan merangkul Jihan yang nafasnya sudah naik turun. "Ada apa ini, pak?" tanyanya sambil menenangkan Jihan. "Ini dokter, bapak ini mengganggu ketertiban rumah sakit. Dia bilang dia kenal dengan adek koas ini, dan ada urusan. Tapi sepertinya ada yang janggal dok," Mama Nadia menatap Jihan. Ini pasti ada sesuatu yang salah. "Sudah pak, bawa dia keluar. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya," beliau langsung membawa Jihan menjauh dari kerumunan dan masuk ke ruangannya. Ia meminta para suster untuk keluar dari dalam sana dan menyisakan mereka berdua. "Jihan, ada apa?" tanyanya lembut. Jihan menggeleng. Ia tak mau aibnya diketahui semua orang. Ia memilih bungkam sekalipun Mama Nadia menyanyakan hal yang sama sampai beberapa kali. "Saya nggak apa-apa dokter. He's psychopath. Tapi saya nggak apa-apa kok dok, hanya masa lalu yang belum bisa ikhlas melupakan saya." jawab Jihan pelan. Mama Nadia menatap Jihan yang masih tertunduk dengan intens, ia tahu ada sesuatu yang Jihan sembunyikan namun ia tak berhak untuk tahu lebih jauh. "Are you sure?" Jihan mengangguk. "But, promise me. Jangan sampai dr. Lanny tahu, dok. Saya malu." mohonnya. "Pegang janji saya, Jihan. Kebetulan juga beliau sedang tidak masuk hari ini bukan? Nanti juga hilang sendiri, dr. Lanny bukan orang yang peduli sama gossip di rs ini. Ya kalau sampai dr. Lanny tahu, ya jelaskan. Beliau akan mengerti," ujar Mama Nadia lalu mengulas senyum menenangkan. "Iya dok," gumam Jihan. "Kalau begitu, saya permisi. Terimakasih sudah melindungi saya, dok. Mari," "Yaa," Jihan keluar dari ruangan Mama Nadia dengan menahan segala gejolak yang bergemuruh di hatinya. Buat apa Dante datang lagi? Apa belum puas Dante mempermalukan dirinya di depan Bian waktu itu? Dan apalagi ini?? Sekarang ia malah ingin mempermalukan Jihan di depan seisi rumah sakit. Tuhan!! Cobaan apalagi ini?? Jihan segera masuk ke ruang koas, ia menyendiri di sana sampai Shasya dan Ranza datang menanyakan mengapa dirinya menangis? Shasya yang paham, langsung memeluk Jihan dan membiarkan sahabatnya itu menumpakan kesedihannya dalam pelukan Shasya sementara Ranza hanya menjadi penonton saja. "Gue malu, Sya. Gue takut dr. Lanny sampai tahu, apa nggak double malunya?" ujar Jihan sambil terisak. "Udah Ji, lo kenal mama lo itu, beliau maklum pasti. Semua orang punya masa lalu, kan'?" Jihan menyusut air matanya dengan tissue yang sudah hampir habis. Dan lagi, apa kabarnya kalau sampai Bian tahu Jihan bertemu siapa siang ini? Ia yakin, apapun akan Bian lakukan untuk membumi hanguskan Dante jika macam-macam dengan Jihan. Harusnya itu membuat Jihan tenang, namun apalah daya, ia menjadi tak tenang sekarang. Jihan justru takut akan adanya perpecahan setelah ini, mengingat Bian begitu marah saat Jihan menceritakan masa lalunya yang berujung Bian menyalahi dirinya sendiri kenapa tidak bisa melindungi Jihan sejak sebelum-sebelumnya? Jihan ingat pesan Bian bahwa ia tak boleh pulang sendiri atau dengan laki-laki lain kecuali urgent. Dan nanti sore, Jihan akan pulang dengan Shasya saja. Ia takut bila Dante, si lelaki psikopat itu mencegatnya di tengah jalan bila ia pulang sendirian. . . . . . Sesekali Bian menatap layar ponselnya, wajah Jihan terlihat di sana sebagai wallpaper ponselnya. Kemana Jihan? Tumben sekali belum menghubungi Bian? Padahal jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, dua jam lagi Jihan pulang. Tanpa pikir panjang, Bian mendial nomor Jihan. Hingga di dering terakhir tak juga di jawab, ia ulangi higga beberapa kali. "Assalammualaikum, Jih?" "Wa'alaikumsalam, maaf mas, engh, aku tadi ikut Cito. Ada apa mas?" sahut Jihan di seberang sana. Bian sedikit lega mendengar jawaban Jihan. "Oh nggak apa-apa. Saya kira kamu kemana," "Cie khawatir yaaaa," kelakar Jihan, lalu tawa mengelegar setelahnya. "Rasain khawatir, emang enak hahaha," kekehnya. "Jihaaann," "Iya iya maaf mas ku, polar bear ku. Ya udah mas, aku mau beres-beres dulu ya bau darah nih," "Ya sana ganti, saya juga mau ke proyek lagi nih." "Heum, hati-hati. Helmnya di pakai ya, Assalammualaikum." "Wa'alaikumsalam," Klik Layar kembali ke wallpaper semula. Ada perasaan lain hinggap di hati Bian, ia merasa ada yang tak beres dari nada bicara Jihan. Pasti ada sesuatu yang di tutupi Jihan, tapi apa? Halah, sudahlah. Bian mengedikkan bahunya dan memilih keluar dari hotel, ia kembali tadi karena merasa pening di kepalanya. Ketika ia berjalan keluar dari sana, ada seseorang menghampirinya. "Abiandra?" Bian berhenti tepat di depan seseorang itu. Ia mengernyitkan dahinya, darimana wanita---berpakaian kurang bahan ini tahu namanya? "Hallo, Abiandra? Lupa ya? Ini aku Vannesha, teman SMA kamu," Oh astaga dragon! Nenek lampir yang suka mengejar-ngejar Bian dulu waktu SMA? Ya Lord. "Oh, kamu." sahut Bian dingin. "Kamu, ngapain di sini? Kembaran kamu mana?" tanyanya penasaran. "Ya di Jakarta lah." "Lama nggak lihat kamu. Kamu nggak berubah ya, tetep ganteng dan dingin kayak dulu. Ngomong-ngomong, kamu di sini ngapain? Ada kerjaan?" cerocosnya. "Ya," "Kamu, sudah menikah ya?" tanya Vannesh saat melirik jari manis Bian yang melingkar cincin tunangannya dengan Jihan. Beberapa hari setelah acara lamaran di cafe waktu itu, Bian mengambil cincin yang sepasang dengan Jihan, jadilah ia sekarang memakainya, memang cincinnya nampak seperti cincin kawin. "Seperti yang kamu lihat," alibi  Bian. Vannesh terpekur mendengar jawaban Bian. Ia berpikir, sejak kapan??? Atau jangan-jangan sudah punya anak? "Kamu sudah punya anak?" tanyanya lagi. Bian tersenyum miring, niat menjahili Vannesh muncul di benaknya. "Sudah. Baru saja lahir beberapa bulan lalu, mau lihat?" tanpa menunggu jawaban Vannesh, Bian membuka ponselnya dan menunjukkan fotonya bersama Kenzie yang di gendong Jihan. Mamam, di kerjain Bian .... "Lucunya, ini istri dan anak kamu?" "Iyalah. Siapa lagi?" Vannesh membulatkan mulutnya dan beroh ria, ia pikir Bian masih single and available tapi ternyata sudah berkeluarga. Gagal sudah niat Vannesh mendekati lagi Bian. Mereka terdiam, mendadak canggung. Bian melirik jam tangannya, ah sepertinya ia harus buru-buru kembali ke proyek sekarang. "Ekhem, saya harus pergi dulu, Vannesh. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Permisi." Bian segera berlalu dari hadapan Vannesh "Eh, i-iya iya." Vannesh menatap punggung Bian dengan nanar. Gagal maning gagal maning. Bian tersenyum puas bisa mengerjai Vannesh dengan alibi bahwa ia sudah menikah, ia akan menceritakan pada Jihan nanti. Ia tak ingin mengambil risiko bila mengaku masih tunangan, ia takut akan terusik, jadi lebih baik mengaku sudah menikah saja. "Sudah enakan, Pak Bian?" tanya Pak Khairul saat melihat Bian memasuki area proyek. "Alhamdulillah Pak, sudah. Gimana, ada kendala apa selama tadi saya tinggal?" "Nggak ada, semua lancar-lancar dan kayaknya udah bisa kita tinggal. Lusa kita sudah balik Jakarta, saya mau belanja oleh-oleh untuk cucu saya," "Boleh Pak, saya juga mau belikan untuk keponakan saya." "Ya sudah, nanti setelah maghrib kita keluar," Bian mengangguk paham lalu netranya kembali memindai sekitaran hingga senja kembali menyapa kota yang terkenal dengan terasi udangnya ini. "Sabar ya, Ji. Saya pulang sebentar lagi." batinnya. ---------- Minggu sore di Stasiun Gambir. Rintik hujan masih turun dari langit mendung Ibu Kota. Jihan turun dari mobilnya dengan payung sampai di pintu masuk stasiun Gambir. Ia melipat payungnya, menunggu Bian keluar dari dalam stasiun. Ia sudah bilanh pada Bian akan menjemput dan menunggu di minimarket dalam stasiun. Netra Jihan menangkap sosok Bian yang sedang berjalan dengan tas ransel di pundaknya serta kardus sedang di tangan kirinya bersama seorang bapak parubaya yang Jihan ketahui itu adalah Pak Khairul. Jihan bangun dari duduknya menyambut Bian begitu makin mendekat. "Mas," Jihan mencium punggung tangan Bian lalu bersalaman dengan Pak Khairul. Mareka lalu pamitan dan menuju parkiran. Tangan kanan Bian menggandeng Jihan hingga sampai di depan mobil. "Saya aja yang nyetir." ujar Bian. "Kamu capek mas, aku aja ya?" "No, saya aja. Sini kuncinya." Bian merebut kunci mobil Jihan dan membukakan pintu samping mobil agar Jihan segera masuk dan tak ke basahan. "Ji, mau tahu sesuatu nggak?" ujar Bian sambil mengarahkan mobil ke jalan raya. "Apa mas?" "Tapi janji jangan marah, ya?" "Nggak. Iya apa?" Dan mengalirlah cerita Bian, awalnya Jihan mengerutkan dahi lalu senyum terbit di wajahnya lalu tawa mengelegar hingga terpingkal keluar dari mulut Jihan. "Ya ampun mas, hahahaha. Kamu lho, ada aja, segitu nggak sukanya sampai teman SMA mu di kerjai begitu." Jihan menyeka air mata yang keluar karena tawanya. "Ya habis gimana yang? Kalau mau ngaku masih tunangan, nanti dia macem-macem. Mas nggak mau," "Ya, kalau jodoh mah susah di tikungnya, mas. Hahahaha, terus pas kamu tunjukin foto kita sama Zie, apa reaksinya?" "Kaget, diem, cuma bisa "oh" aja." jawab Bian masih lempeng-lempeng saja, lain dengan Jihan yang masih tak bisa menghentikan tawanya. Jihan menggelengkan kepalanya masih sambil tertawa. "Ada gunanya juga kita foto bertiga sama Kenzie, hahahaha," Senyum masih terkembang manis di wajah Jihan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Bian dengan manja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN