Design 16

2148 Kata
This is the truth,  I don't feel good anymore The way i felt before  I don't feel the same way when i hear your name... ----- MAHARDI AND CO, Jakarta Kantor sedang sibuk seperti hari-hari biasanya, Bian sedang sibuk menggambar di ruangannya, merevisi sedikit. Design yang ia buat baru saja di approve dan klien minta dibuatkan maket segera. Saking sibuknya sampai lagi-lagi mengabaikan Jihan. Jihan juga sudah mulai terbiasa, karena, ya memang ini konsekuensinya dari awal. Jihan harus paham Bian yang sibuk melebihi dirinya, walaupun hati sebetulnya terus menggerutu. Telepon di ruangan Bian berbunyi beberapa kali, sempat ia mengabaikan namun akhirnya Bian jengah juga. "Ya?" "Pak Bian, dipanggil Bapak Hardi ke ruangannya." "Oh, iya mbak. Makasi," Bian meletakkan kembali gagang teleponnya lalu beranjak dari sana. Ia segera menuju ruangan Papa, tidak biasanya, pasti ada sesuatu yang penting. Tapi apa? Bian menyapa sekretaris Papa lalu mengetuk pintu di depannya perlahan. Ia masuk setelah Papa menyahuti dari dalam. "Ada apa, Pa?" tanyanya setelah dipersilakan duduk. "Besok kamu ke Cirebon, ya? Ada proyek yang harus kamu tengok. Proyek lama Pak Winar yang sempat mangkrak itu," beliau menjelaskan dengan santai. "Besok banget, Pa?" Bian meyakinkan sekali lagi. "Iya, besok. Kenapa? Kamu ada janji kencan sama Jihan?" tebaknya. "Nghh, nggak ada sih, Pa." "Ya sudah, berangkat besok. Papa minta ke Patricia buat kosongin jadwal kamu sampai sabtu, dan pesankan tiket kereta pergi-pulang, juga hotel dan transport selama di sana." paparnya lagi dan berhasil membuat Bian menahan napas. "Tapi saya ada janji mau ketemu sama orang tuanya Jihan, Pa." Batinnya. Bian mengangguk pasti, mengiyakan perintah Papa yang sekaligus atasannya ini. "Ada lagi, Pa?" "Cukup. Kamu kembali ke ruanganmu, lagi kerjakan punya klien kita yang dari Aussie, kan?" "Iya Pa. Saya balik ke ruangan." Bian segera keluar dan kembali ke ruangannya. Selama itu pula ia ia sedang menyusun kalimat agar Jihan bisa mengerti bahwa besok--hingga beberapa ke depan Bian akan berada di luar kota dan akan mengubah jadwalnya untuk bertemu Ibu dan Bapak. 10 missedcall Jihan  3 Unread Messages Dua notifikasi keramat muncul saat Bian menyalakan ponsel hitamnya, ia mendesah pasrah kalau setelah ini Jihan akan ngambek mode on, lagi. Bian men-dial nomor ponsel Jihan beberapa kali namun urung dijawab. Hanya suara operator yang kembali menyahuti. Bian memilih kembali sibuk dan tenggelam dengan pekerjaannya hingga menjelang jam pulang kantor sampai akhirnya ia lupa mengabari Jihan. . .. . Sementara di KMC, Jihan tengah sibuk menyalin beberapa data dan merapikan tugas-tugasnya di nurse station yang sedang sepi, jam pulang sebentar lagi tapi sepertinya Bian tidak akan menjemput hari ini. Buktinya, sejak tadi pesan dan teleponnya tak ada yang dijawab satu pun. Hanya ada tanda centang biru tercetak, tanda pesan sudah dibaca namun tak dibalas. Jihan menutup berkas-berkasnya, merapkiannya sesuai abjad dan diletakannya kembali ke tempat semula. Ia lepas snellinya, meregangkan sedikit tubuhnya yang rasanya pegal karena sejak 2 jam tadi hanya duduk dan menulis saja. Poli hari ini tidak ramai seperti biasanya, jadi Jihan bisa mengerjakan tugas-tugasnya dan menyalin status pasien yang bertumpuk hingga 50+ berkas. "Jihan, lo balik sama siapa?" tanya Shasya yang baru saja duduk di samping Jihan sambil menyedot s**u cokelat kotakannya. "Sama lo aja deh, Sya. Mas Bian kayaknya nggak jemput. Line, wa, telepon gue pun nggak dijawab," keluh Jihan sambil menatap layar ponselnya dengan jengah. "Anterin gue," paksanya. "Ah elah lu, calon istri penerus perusahaan arsitektur terkenal masa nggak dikasih supir buat pergi pulang," celoteh Shasya lalu terkikik sendiri. "Rese lo! Masih calon gue! Gila kali gue minta macam-macam segala supirlah diminta," sahut Jihan sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. "Anterin! Nggak nerima penolakan!" "Ck! Iyeeee!!" Mereka berdua lalu absen dan pulang dari rumahsakit, menumpang mobil Shasya, Jihan diantar pulang. Riuh tawa meledak saat Shasya bercerita tentang pasien yang kentut tepat di wajah Shasya saat digantikan perban. Jihan tak bisa menahan tawanya lebih lama lagi, ia terpingkal dengan wajah memelas Shasya yang mau marah pun tak bisa. "Sabar, Sya," lalu Jihan masih terkekeh. "Reseee lu, Jihan!! Karma lu ngetawain gue," celoteh Shasya lagi namun tak menghentikan tawa Jihan. Tanpa sepengetahuan Jihan, di rumah sakit saat ini ada Bian yang baru saja sampai. Ia lantas memarkirkan mobilnya lalu menuju bagian informasi dan menanyakan apa anak-anak koas sudah pulang atau belum. "Sore sus," sapa Bian. "Eh? Lho dr. Bhima?" herannya, Suster ini mengerutkan dahinya dalam-dalam. "Saya bukan dr. Bhima, suster. Saya Bian, kembarannya," jawab Bian datar. Suster bername tag Inggid itu hanya ber-oh ria saat Bian menjelaskan siapa dirinya. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" "Koas sudah pada pulang belum, sus?" "Wah, kalau koas shift pagi sudah dari sejam yang lalu pak. Bapak cari siapa ya?" "Saya cari Koas Jihan, sus. Dia juga sudah pulang?" "Sudah juga, pak. Sama temannya sih tadi, perempuan kok." Bian mengangguk paham lalu mengucapkan terimakasih pada Suster Inggid dan segera beranjak darisana sesegera mungkin. Bian mendial nomor Jihan beberapa kali namun ponselnya tidak aktif. Ia memutuskan untuk menyusul Jihan ke rumahnya segera walau kemacetan Jakarta tetap melanda tak mengurangi niat Bian untuk menyusul Jihan walau badannya juga lelah dan butuh istirahat agar besok tidak telat ke stasiun. Jam berikutnya Bian sudah sampai di depan rumah Jihan. Ia segera turun dari mobil, ia ketuk pintu itu perlahan seraya mengucapkan salam. "Eh, den Bian. Silakan masuk," sapa Bik Sri. "Iya bik, Jihan ada?" "Non Jihan ada di kamarnya. Duduk den, bibik panggilkan," Bian duduk di salah satu sofa sampai Ibu tiba-tiba muncul dari teras belakang. "Lho, Le? Baru dateng, ta?" tanyanya seraya menghampiri Bian yang sudah berdiri lalu menyalami Ibu. "Nggeh buk, baru aja sampai. Ibuk baru pulang juga?" "Nggak, udah daritadi kok. Adikmu dikamar tuh, belum tur-- eh itu dia. Yawes, ibuk ke kamar ya, le." pamitnya disambut anggukan dari Bian. Jihan menghampiri Bian dengan wajah tertekuk sebal, bahkan ia memilih duduk di seberang Bian. Masih dengan wajah cemberut, Jihan enggan menatap Bian, ia lebih memilih menatap televisi yang sedang menayangkan berita. Bian memandang Jihan dalam diam, ia tahu hari ini kesalahan sama diulanginya, lagi, untuk kesekian kalinya. Ia pindah duduk di sebelah Jihan. "Ji," panggilnya. "Hmm," "Lihat saya," Bian membalik tubuh Jihan agar menghadapnya. "Apaa?" Bian diam sebentar sebelum bicara. "Besok saya mau ke Cirebon, ada proyek yang harus di tinjau sampai sabtu, minggu balik ke Jakarta lagi. Kamu nggak apa-apa kan kalau acara pertemuan keluarga kita di undur?" ujar Bian setenang mungkin, Jihan mengerutkan dahinya dalam saat mendengar kalimat terakhir Bian. Jihan melepaskan tangan Bian yang masih memegang kedua bahunya. "Udah aku duga sih. Ya udah nggak apa-apa, pergi aja." sahutnya tanpa ada lagi emosi yang meletup. "Jii..." "Apa? Ya udah berangkat aja, toh, ada yang lebih penting kan?" "Saya nggak tenang berangkat kalau kamu nggak ridho gini," sahut Bian. "Saya juga nggak mau menunda lebih lama lagi, tapi ini tuntutan pekerjaan saya, kamu tahu kan?" Jihan diam, mencoba mencerna kata perkata yang Bian ucapkan. Ia memejamkan matanya sebentar, mencoba meredam egonya, mencoba untuk tidak menghadapi hal ini dengan emosi. Toh, Bian begini juga untuk Jihan nanti kan? "Hhhhh, maafin aku, mas. Nggak seharusnya aku jawab kayak tadi, harusnya aku dukung kamu, doain supaya lancar dan cepet kelar, biar kita nggak ketunda-tunda terus. Maaf," Jihan tertunduk dalam setelah mengucapkan kata maafnya. "Saya tahu kamu kesel karena telepon sama chat kamu nggak saya balas, kan?" tanya Bian sambil mengangkat wajah Jihan. Jihan mengangguk. "...saya tadi sibuk kerjakan sketsa dan maket. Persiapan dokumen untuk besok juga. Saya tadi susul kamu ke rs, ternyata udah pulang," "Iya bareng Shasya. Kamu lama," jawab Jihan sambil mencubit pipi Bian. "Aduh! Sakit Jihan, belum apa-apa udah kdrt," Jihan terkikik mendengar protesan Bian lalu mengelus pipi yang tadi dicubitnya. "Mr. Polar bear sama siapa besok ke Cirebon?" "Sama Pak Khairul, berdua aja." Jihan meletakkan kepalanya di d**a Bian. Ia diam cukup lama, menikmati elusan tangan Bian yang kini berada di kepalanya. Satu hal yang Jihan benci dari pekerjaan Bian yaitu suka pergi kesana kesini mendadak seperti ini. Tapi mau tak mau Jihan harus terbiasa dengan hal ini, sejak awal pun Bian juga sudah memberitahukannya. "Aku mau coba pakai kerudung dari kamu besok, mas." ujar Jihan lalu melepaskan pelukannya. Bian menatap Jihan serius. "Yakin kamu?" "Insha Allah yakin, mas." jawab Jihan mantap. "Setelah dipakai, satu hal yang mas minta, jangan pernah sekali-kali kamu lepas kerudungmu, apapun alasannya, bisa?" "Insha Allah. Bimbing aku terus," pinta Jihan, Bian mengangguk pasti. "Ini alasanku yakin padamu, mas. Aku yakin kamu bisa bimbing aku, karena suatu saat nanti aku ingin di surgaNya bersamamu," "Iya sayang. Kita belajar sama-sama," Bian mengusap pipi kanan Jihan. "Yaudah gih, kamu pulang, packing, besok hati-hati ya. Hubungi aku terus," Bian mengangguk pasti, sekali lagi ia mengecup kening Jihan sebelum akhirnya pamit pulang. Ada rasa tak tega juga lagi-lagi harus menunda acara pentingnya ini, namun apalah daya, Bian hanya mengikuti perintah kantor yang tak bisa ia bantah sekalipun kantor itu milik Papanya sendiri. . . . . Satsiun Gambir, 9.30 pagi Sepagi ini Bian bersama Pak Khairul sudah berada di Stasiun Gambir, tak diantar Jihan hanya diantar Pak Amir saja. Bian tak memaksa Jihan harus bahkan wajib mengantarnya sampai stasiun, Bian cukup paham dengan kegiatan Jihan yang juga padat sebagai koas. Sebelum berangkat Bian terlebih dahulu menelepon Jihan, memastikan semua akan baik-baik saja sampai dirinya kembali. Di rasa cukup, Bian kembali membuka macbooknya. Membaca dan mempelajari kembali berkas yang di terimanya via email yang di kirimkan Patricia barusan. Proyek kali ini bukan proyek yang sejak awal Bian pegang, ini adalah proyek limpahan dari arsitek sebelumnya yang sudah pensiun dari kantor Mahardi and Co. . . . . Perubahan penampilan Jihan mendapat sambutan positif dan teman-temannya, apalagi Shasya yang tak habis memandang Jihan dengan takjub. Ia masih tak menyangka bahwa teman seperjuangnnya ini bisa berubah secepat ini. Apakah ini efek yang di timbulkan Pak Arsitek atau hanya ajang coba-coba saja? Akhirnya Jihan juga yang harus menjelaskan mengapa sekarang sehelai kerudung berwarna pink salmon itu menutupi kepalanya. Dan sekarang, poli umum 3 tengah ramai pasien sejak pagi hingga tengah hari ini, Jihan sibuk keluar masuk ruangan dokternya sambil membawa setumpuk medical record nya. Sungguh Jihan lelah tapi inilah konsekuensinya, pekerjaannya. Jihan tak akan mengeluh, kurang bersyukur apa dirinya kalau masih juga mengeluh sementata di luaran sana banyak orang yang susah untuk memiliki pekerjaan. Sudah jam 12.30, itu artinya sudah jam istirahatnya namun masih ada beberapa pasien lagi di depan. Tak apa, Jihan bisa makan nanti ketika selesai. Lima belas menit kemudia semuanya selesai, beres tak tersisa. Para koas bisa bernafas lega dulu sebelum akhirnya memilih untuk makan di kantin rs. Namun perasaan tak enak menghampiri Jihan. Bukan Bian, bukan. Bian sudah meneleponnya sesaat setelah pasien terakhir keluar tadi. Jihan mengintip dari baik kaca pintu poli umum, matanya membulat, di kejauhan ada seseorang yang begitu di kenalnya sedang berjalan Ke arah nursr station di ujung koridor. Cepat-cepat Jihan keluar dengan masih menggunakan masker dan menuju meja depan poli dan berpesan pada Suster disana. "Sus, kalau orang itu tanya saya, bilang aja nggak kenal atau apapun itulah alasan suster ya, plis plis bantuin sayaa.." mohonnya. "Emang kenapa dek?" "Ceritanya panjang, Sus. Plis oke, ya? Traktir makan deh habis ini," tawarnya lagi, tanpa banyak ba bi bu, Suster tadi menganggul lalu Jihan berjalan cepat menghindari seseorang itu. Dante. Dan benar saja, Dante menghampiri meja poli dengan wajah innocent nya. "Siang suster, saya cari koas Jihan ada?" ujarnya santai. "Wah, koas Jihan lagi nggak masuk, Pak. Kayaknya ke kampus deh ada berkas yang harus diurus katanya," jawab si Suster lancar tanpa hambatan. "Lho, tadi kata suster yang di depan itu koas Jihan ada? Mana yang benar sih?" Dante mulai kebingungan karena jawaban kedua Suster yang ia tanya tak ada yang sama. "Yang benar itu, koas Jihan ke kampus. Kan saya disini seharian, suster depan mah, tahunya koas masuk semua. Saya lebih tahu, pak." Skak! Dante diam begitu di skak mat Suster paruh baya di depannya ini. "Ya sudah, terimakasih, Sus." ucapnya dan berlalu dari hadapan Suster tadi yang sedang berusaha menahan tawanya saat ia merasa Dante telah berhasil ia kelabui. Di kejauhan, Jihan yang menyaksikan dari balik pot pohon plastik hanya bisa terkikik melihat Dante di kelabui ibuk-ibuk. Bisa saja usaha Jihan mengelabui Dante kali ini berhasil, entahlah kedepannya bagaimana. Jihan tahu dan kenal Dante bagaimana. Ia takkan menyerah sebelum dapat apa yang ia inginkan. Jihan jadi parno sendiri, ingin ia hubungi Bian namun ia takut yang ada Bian segera kembali ke Jakarta, ia tahu Bian akan kalap. Mengingat kejadian sebelumnya yang berakhir Jihan menangis tersedu di mobil akibat Bian mengamuk setelah tak sengaja mereka bertemu Dante. Jihan bergidik ngeri membayangkan wajah marah Bian. Sepertinya untuk saat ini Jihan takkan mengadu apapun, tapi nanti begitu Dante mengganggunya lagi, Jihan tak segan-segan untuk berteriak agar heboh satu rumahsakit sekalian dan Dante di blacklist tidak boleh masuk ke area KMC bahkan ke parkirannya sekalipun. Setidaknya Jihan bisa bernapas lega untuk tidak lagi bertemu Dante. Saat ini, ya, saat ini. Entah nanti bagaimana, Jihan enggan memikirkannya. Tapi yang jadi pertanyaannya kali ini, darimana Dante tahu bahwa Jihan Koas di KMC? "Apa jangan-jangan dari...." Tbc....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN