Diabaikan, dicuekin, nggak ada kabar. Rasanya sudah kebal bagi Jihan, namun ada masanya ketika ia mulai jengah dengan sikap Bian yang seolah abai dan kadang, lupa bahwa Jihan itu ada.
Buktinya, sudah beberapa hari ini Bian tak ada kabar sama sekali. Jihan tahu, masnya itu pasti sibuk, tapi apa sama sekali tak ada semenit pun untuk mengetik, i'm fine don't worry me.
Atau sekedar menjawab teleponnya walaupun hanya beberapa detik, setidaknya Jihan tahu bahwa Abiandra, manusia kutub, kulkas dua pintu, tuan polar bearnya ini baik-baik saja.
Seperti saat ini, puluhan kali Jihan menelepon namun tak ada jawaban sama sekali. Hanya suara operator yang lagi-lagi menyahuti panggilannya.
Fix. Masalah miss komunikasi mereka belum selesai.
Jihan menatap ponselnya dengan kesal, ingin rasanya ia meremukkan ponsel berlambang apple yang tergigit itu lalu dibelahnya menjadi beberapa bagian dan membiarkan Bian kalang kabut mencarinya, seperti dirinya saat ini.
Kekesalan level= Not detected.
"Fine!!" geramnya sambil menahan suaranya agar tak menjadi pusat perhatian.
Jihan memilih ganti baju, jam jaganya sudah selesai. Saatnya pulang. Selesai dengan segala perintilannya, Jihan melangkah keluar ruang ganti seraya mengetik satu pesan untuk Bian.
"Jangan cari aku!"
Send!
Ia terus melangkah keluar sampai satu suara mengagetkannya.
"Saya disini."
Jihan menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dan mendapati Abiandra ada disana. What the hell?!
"Ngapain kamu di situ? Pulang sana," usirnya, Jihan membalikkan badannya lalu kembali berjalan ke luar. Ia tak ingin jadi center of attention disini.
Bian menangkap tangan Jihan, ia balik menyeret Jihan ke basement dimana si hitam terparkir manis di sudut sana.
Jihan terus mencoba melepaskan cengkeram tangan Bian. Ia tak ingin teriak, otaknya masih waras untuk tak meneriaki Bian.
"Lepas!!" tegasnya begitu mereka sampai di basement, Bian melepasnya. "Saya bisa jalan sendiri!!"
"Jihan, maafin saya." ucapnya begitu mereka sampai di depan mobil.
"I don't need." sahut Jihan. "Kamu jahat tahu nggak?!!" Jihan mulai goyah. Sesekali ia mulai terisak.
Bian meraih telapak tangan yang menutupi mulut Jihan dan di genggamnya erat-erat. "Iya saya jahat. Saya nggak kabarin kamu, saya sadar. Maaf,"
Punggung Jihan bergetar hebat saat kalimat itu meluncur dari mulut Bian.
"..Saya tahu kamu pasti khawatir, saya baca semua pesan kamu, saya lihat missedcall kamu. Tapi maaf udah beberapa hari ini saya nggak bisa pegang hp, klien saya kasih deadline. Terserah setelah ini kamu mau marah atau gimana, saya terima,"
Tangis Jihan memang tak bersuara, tapi rasanya sesak mendengar ia terisak seperti ini. Jihan memukul lengan Bian keras-keras, melampiaskan kekesalannya pada sang calon suami hingga ia terengah kelelahan.
"Hhhh!!!" teriaknya lalu Bian menarik Jihan ke pelukannya dan tangis Jihan kembali memuncak.
"Maafin aku," Bian mengecup puncak kepala Jihan dalam-dalam sampai di rasa tangisnya mereda lalu Bian membawanya masuk ke dalam mobil.
Jihan masih diam sepanjang perjalanan. Ia pasrah setelah ini mau di bawa kemana oleh Bian. Ia sudah tak ada lagi tenaga untuk marah.
"Mampir butik, saya mau bawa kamu ke kondangan. Saya tahu kamu nggak pernah pakai kartu debet yang saya kasih." ujar Bian sambil mengarahkan mobilnya ke arah butik teman Mama.
"Mau buat apa? Ya kan mas bilang buat yang perlu-perlu aja." jawab Jihan setengah bergumam.
"..Selama itu masih bisa ku jangkau buat beli sendiri ya aku beli sendiri, itukan untuk kegunaan kita, bukan aku aja. Aku kan nggak mungkin hamburin uang kamu buat yang lain-lain mas, kamu cari uang kesana kemari, capek.. ya aku gak bisa gitu aja abisin uangnya, maafin deh..!" jawabnya panjang lebar.
"Apa sih sayang? Malah ke mana mana deh ngomongnya,"
Jihan terdiam lagi, menghapus air matanya yang tidak sopan meluncur, lagi. "Udah tahu kan masnya kerja apa? Ya kayak saya nih nggak jelas gitu kabarnya,"
"Iya tahu. Mencoba paham," gumamnya lagi.
.
.
.
.
Sampai di parkiran butik, mereka langsung turun dan masuk ke dalam. Si empunya toko langsung mengenali Bian. "Eehh, Abian ya?" tebaknya.
"Iya tante. Tante tahu saya?"
"Ya tahu dong. Mana lagi anak teman tante yang kembar, selain anaknya Mailanny." ujarnya, Bian dan Jihan langsung menyalami.
"Ini calon, Bi?"
"InshaAllah tante. Mohon doanya,"
"Cantik," pujinya, Jihan tersenyum malu-malu. "Eh kalian cari apa?"
"Oh ya tante, ada gaun buat kondangan. Yang simple aja," jawab Bian.
"Oh ada ada. Banyak, mau buat kapan?"
"Malam ini juga,"
"Coba tante carikan ya. Mau maxi atau short dress?"
"Maxi aja," sahut Bian duluan lalu melirik Jihan. Tante Michelle langsung memilihkan maxi dresa berwarna biru dan shoulder off dress lewat selutut berwarna baby pink.
"Bagus nggak mas? Gimana?" ujar Jihan.
"Bagus kok. Nggak terlalu rame juga," Bian malah menunjuk shoulder off dress baby pink yang bahkan jadi opsi kedua.
"Ya udah. Saya coba ya tan," Jihan mengambil dress tadi dan dibawa ke ruang ganti. Sesaat Jihan terpaku melihat price tag yang tercantum di baju yang akan di cobanya. "1,5juta?" batinnya. Ada rasa bimbang untuk mengiyakan membeli gaun ini, tapi sebagaimana Jihan menolak pasti Bian akan memaksa.
"Oya silakan,"
Tak sampai lima menit, Jihan sudah keluar dengan gaun pilihan Bian. "Mas,"
Bian tersenyum tipis. "Cantik. Ya udah tan, saya ambil ini,"
"Boleh. Oh iya, bonus sepatunya nih buat kamu," tante Michelle mengangsurkan kotak sepatu pada Jihan yang memang tadi juga sudah ia coba.
"Loh, nggak apa-apa tan?"
"Nggak apa-apa ambil aja. Cocok sama dress soalnya," ujarnya tersenyum.
"Makasih ya tan," sahut Jihan.
Bian segera mengurus pembayaran, lalu pamit setelah selesai. Ia mengarahkan mobilnya ke suatu tempat, entah malam ini seolah Jakarta tengah bersahabat sepertinya. Jalanan sedang tak sepadat biasanya dan kini mereka sudah sampai di tempat yang dituju.
"Lho? Mas? Kamu salah tempat ya?" Jihan mengernyitkan dahinya saat mobil berhenti di parkiran sebuah restoran berkonsep garden dan rooftop di salah satu bilangan Jakarta Pusat.
Bian diam saja lalu membukakan pintu mobil Jihan masuk ke dalam restoran, mereka di sambut alunan merdu trio biola ketika pintu restoran terbuka.
Di sudut sudah ada seorang penyanyi yang tengah melantunkan lagu Ed Sheeran- Perfect dengan manisnya.
"Duduk. Tunggu sini," perintah Bian saat sudah menarik sebuah bangku di meja yang kosong.
"Ada apa sih ini?" Jihan masih nampak bingung saat Bian meninggalkannya sendirian di meja. Sementara Bian tampak membisikkan sesuatu ke salah satu kru dari restoran ini, entah apa yang di katakannya.
Bian kembali ke meja lalu duduk di hadapan Jihan, dengan menatap serius dan dalam. "Jihan," panggilnya.
"I..iyaa, Mas?"
"Sayaaa," ucapan Bian menggantung, Bian gugup setengah hidup. Ia genggam kedua tangan Jihan erat-erat, Jihan berkaca-kaca dibuatnya.
"Dengerin lagunya aja deh,"
Forever can never be long enough for me
Feel like I've had long enough with you
Forget the world now we won't let them see
But there's one thing left to do
Now that the weight has lifted
Love has surely shifted my way
Marry me
Today and every day
Marry me
If I ever get the nerve to say
Hello in this cafe
Say you will
Mm-hmm
Say you will
Mm-hmm
Together can never be close enough for me
Feel like I am close enough to you
You wear white and I'll wear out the words I love you
And you're beautiful
Now that the wait is over
And love and has finally shown her my way
Marry me
Today and every day
Marry me
If I ever get the nerve to say hello in this cafe
Say you will
Mm-hmm
Say you will
Mm-hmm
Promise me
You'll always be
Happy by my side
I promise to
Sing to you
When all the music dies
And marry me
Today and everyday
Marry me
If I ever get the nerve to say hello in this cafe
Say you will
Mm-hmm
Say you will
Mm-hmm
Marry me
Mm-hmm
Lagi, Jihan kembali menangis. Namun kali ini tangisnya adalah tangis bahagia karena tak pernah terpikir olehnya bahwa Bian bisa melakukan semua ini. Bian nya yang dingin, hari ini lain, punggung Jihan bergetar hebat, Bian menggenggam lagi tangannya sambil menatap Jihan lalu menyodorkan sebuah cincin bermata berlian indah pada Jihan.
"Saya tahu saya masih sering bikin jengkel.
Saya tahu saya nyebelin, saya juga tahu saya belum punya banyak waktu," ucapnya, Jihan makin terisak sambil mendengarkan Bian berbicara.
"..Tapi, saya mohon kamu mengerti itu. Ingatkan saya, saya butuh kamu untuk itu, kita jalan bareng-bareng.."
"Iya mas," jawab Jihan terisak.
"Kamu bersama langkah saya, sokong saya dan jadilah rumah bagi saya, saya nggak ingin menunda lebih lama. Sesuai janji, kamu udah lulus dan saya nggak ingin perbanyak maksiat, jalan ke mana-mana sama kamu, saya ingin kamu halal bagi saya."
"Aku..." Jihan tersendat. "..Aku juga. Maaf kalau masih kayak anak kecil, aku juga butuh kamu buat bimbing aku jadi yang lebih baik, jadi istri idamanmu, Ibu yang baik buat anak-anak kita nanti. Aku memilihmu karena aku percaya kamu bisa bimbing aku, lebih dekat sama Allah, mas,"
"InshaAllah sayang. Be my last and forever for me, will you?"
"I do. Really do," jawabnya dengan masih sesekali air matanya menetes. Bian segera memakaikan cincin tadi ke jari manis Jihan.
"Suka nggak?"
"Suka. Cantik banget, siapa yang milih?"
"Saya sendiri. Orang rumah belum tahu,"
"Selera kamu bagus juga mas, aku suka, pas pula," Jihan memutar-mutar cincin yang kini terpasang, ada senyum merekah dari wajahnya, mata yang sejak tadi memancarkan amarah terpendam, kini hanya ada pandangan bahagia akibat perlakuan Bian padanya malam ini.
"Satu lagi," Bian mengambil sesuatu yang sejak tadi sudah ia sembunyikan. "Maaf. Bukan maksud,"
"Mas...?"
"Kamu mau nggak, ke surga bareng saya?"
"Mau mas," ucap Jihan mantap.
"Pelan-pelan ya,"
Jihan mengangguk lagi. "Bimbing aku,"
Bian membuka ikatan yang menggulung kerudung tadi, lalu di pakaikannya pada Jihan. "MashaAllah. Dari hati, saya katakan, kamu cantik, lebih cantik lagi Jihan."
"Makasi mas,"
"Yauda, sekarang disimpen dulu aja. Besok di coba ya,"
"Iya,"
Bian meraih kepala Jihan lalu di kecupnya lama dan dalan sampai Jihan memejamkan matanya dan menikmati kecupan itu.
"I love you mas,"
"Love you more. Much. Uncountable,"
"Kamu bisa romantis juga ya, Mr. Polar bear. Makasi yaa," ujar Jihan, Bian hanya tersenyum.
"Sesegera mungkin, saya minta mama dan papa nemuin Bapak dan Ibuk. Biar segera dapat tanggal, biar kita kencannya nggak haram terus, nggak nyaman gini terus,"
"Aku tunggu,"
Bian mengangguk pasti.
"Tapi, mas, kamu nggak pengin buru-buru punya baby kan?" tanya Jihan ragu-ragu, Bian tersenyum.
"..Iihh! Aku butuh jawaban bukan senyum," protesnya.
"Niatan saya bukan soal nafsu. Juga bukan hanya soal ingin punya anak, apa kamu masih ragu?"
"Iya mas aku paham. Tapi aku tanya lho, aku nggak ragu,"
"Kalau soal anak kamu belum siap, kita bisa bicarain nanti kan, ya?"
Jihan mengangguk paham. Acara sederhana itu mereka akhiri dengan makan setelahnya lalu pulang. Namun sepertinya Jihan akan menginap di rumah Bian malam ini.
"Mas, mau ngasih kado buat mbak Al. Kemarin belum sempat, mbak dimana?"
"Mbak lho di rumah, saya teleponkan ibu ya. Kemalaman kalau antar kamu pulang,"
"Ya udah, nanti mampir baby shop ya,"
"Ya,"
Bian segera mendial nomor telepon calon ibu mertuanya dan meminta izin agar Jihan bisa menginap dirumahnya malam ini dan berangkat kerja besok pagi dari Pejaten.
.
.
.
.
.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam. Darimana kalian?" tanya Mama setelah keduanya bersalaman.
"Ma, Jihan mau nginep sini," sela Bian sebelum Jihan menjawab apapun. "Mas capek kalau nganterin balik lagi,"
"Iya, sama Kani boboknya ya. Kayak biasa," sahut Mama mengiyakan.
"Mas ke atas dulu yaa," pamit Bian, Mama hanya mengangguk.
"Mbak mana, ma?"
"Itu, di ruang tv. Kamu cuci muka dulu deh kalau mau main sama Kenzie," pesan Mama.
"Nggeh ma," Jihan langsung beranjak ke kamar mandi lalu mencuci tangan dan kakinya agar bisa bermain dengan Kenzie.
"Mbak Al,"
"Hei. Ada tante Jihan,"
"Heii ganteng. Kok belum bobok?" Jihan mengusap pipi Kenzie perlahan.
"Beyuum tantee. Habis mimi barusan," sahut Aliya lagi.
"Oalaa.. iyaiya masih mau main yaa? Oiya, mbak ini ada hadiah buat Kenzie," Jihan menggeser kado yang lumayan besar untuk Kenzie.
"Wah tante kok repot-repot sih. Makasih yaa,"
"Sama-sama. Aku mau gendong dong mbaakk,"
Aliya segera memindahkan gendongannya pada Jihan. "Mbak buka ya, Jih. Waaah Kenzie punya mainan baru, makasyii tante," ucap Aliya saat membuka lembaran kertas kado yany membungkus hadiah untuk Kenzie.

"..Dari mana Ji? Kok rapi banget?"
Jihan senyam senyum ketika di tanya begitu. "Di ajak kondangan, tapi kondangan palsu mbak." kekeh Jihan setelahnya.
"Hah? Kondangan palsu gimana?"
"Iya, tadi mas jemput. Bilang mau kondangan, sampai beli baju ke butik temennya mama itu, eh sampai venue taunyaa..." Jihan menggantung ucapannya lalu menunjukkan jari manisnya.
"Waaah! Ya ampun! Maaaaaa!! Kani, Jasmine, sini deh,"
"Hiks...,oeeeeekkk"
"Eehh, sstttt maaf maaf sayang. Astagfirullah, maafkan mom sayang cupcupp," Aliya langsung mendekap Kenzie yang tiba-tiba menangis kaget karena Mommynya teriak-teriak.
"Apa sih , Al?" Mama segera menghampiri ketika mendengar Aliya berteriak tadi.
"Ada apaan mbak?" Kani dan Jasmine datang bersamaan.
"Nggak. Ini lho, ternyata. Ada yang habis dilamar, makanya rapi banget gini,"
"Hahhh?? Lhoaalaaaaa,"
"Tuh lihat jarinya," tambah Aliya, Jihan mendadak blushing.
"Hehehe. Mas kasih surprise tadi," ucapnya malu-malu.
"Syelamaaattt mbaak Jiihhh," Kani segera memeluk Jihan yang tepat ada di sampingnya.
"Cieee congrats koas Jihan," timpal Jasmine.
Mama langsung memeluk Jihan. "Selamat ya sayang. Selamat datang di Prayuda family," ujarnya sambil memeluk erat putri barunya ini.
"Iya mama, makasi. Jihan seneng banget,"
"Alhamdulillah. Akhirnya bisa juga tuh es balok ngomong," seloroh Kani lalu di hadiahi tatapan serius dari Mamanya.
"Dia, Mr. Polar Bear ternyata bisa romantis juga," gumam Jihan setelah pelukan Mama terlepas.
"Yang sabar dan ngalah sama mas mu ya sayang,"
"Iya ma,"