Lama".ucap Dira yang baru saja sampai keruang makan, Dira mengomel tanpa suara, apalagi ia masih kesal dengan sikap Andra yg tidak merasa bersalah setelah memberikan nya hukuman yang tidak masuk akal.
"Apaan sih". Dira menepis tangan Andra yang menariknya guna duduk disamping kursinya.
"Gak boleh gitu tau". Andra meneliti penampilan Dira yang sudah segar, jauh berbeda dengan tadi, handuk yg masih bertengger di kepala, dan juga pakaian hello Kitty yg digunakan oleh Dira. Menambah kesan imut pada penampilan Dira.
"Abisnya, kak Andra jahat banget". Omel Dira.
"Bagian mana yang aku jahat hmm?", Andra menatap Dira dengan lembut namun nadanya juga tersirat rasa penasaran. Tolong beritahu dia dibagian mana dirinya berlaku jahat pada Dira.
"Ah gak tau de, aku mau pulang aja malas sama kak Andra". Dira segera meninggalkan meja makan. Ia bahkan belum menyentuh sedikit pun makanan yang berada di piringnya.
Andra yang menatap Dira pergi hanya menatap datar sang tunangan dengan yang sudah menjauh dari pandangannya. Ia kemudian berdiri dari kursinya, menatap datar makanan yang tersedia diatas meja, kemudian menatap dengan dingin para pelayan yang sedari tadi berdiri disekitar meja makan.
"Buang semuanya, lain kali kalo Dira berlaku kayak gitu lagi , kalian yang akan menerima akibatnya".
Para pelayan itu menunduk tidak ada yang berani mengangkat kepalanya. Dalam hati mereka merutuki nona muda mereka yang pergi dengan seenaknya, perlu diketahui jika sang tuan tidak menyukai tindakan yang dilakukan oleh sang tunangan, yang akan menerima akibat dan hukuman adakah orang orang yang berada disekitar tuannya.
Andra mungkin memang tidak akan pernah menyakiti Dira atas kesalahan yang perempuan itu perbuat, tapi Andra akan menyakiti orang lain karena perbuatan Dira. Sudah tidak terhitung berapa banyak korban hanya karena ego dan cinta yang berlebihan dari sang tuan pada kekasihnya.
"Kenapa diam?, kalian mau mati?".
Andra menatap jengkel pada para pelayan dirumah nya. Dasar tidak ada yang berguna, lihat kan Dira sudah pergi jadi untuk saat ini ia tidak harus menunjukkan sikap yang selama ini Dira kenal. Ia bisa bersikap semaunya jika sang tunangan sedang tidak berada disekitar nya. Untuk masalah Dira, tenang saja, kalian pasti tidak akan lupa jika Andra menyewa bodyguard untuk mengikuti Dira 24 jam, jadi saat ini ia harus bergegas untuk membujuk tunangan tercinta.
Sementara itu Dira sedang berjalan di trotoar jalan dengan kaki yang menendang batu batu kecil didepannya. Entahla rasanya saat ini moodnya sedang tidak baik, ia tidak tau apa yang ia inginkan tapi yang pasti perutnya mulai terasa nyeri.
"Ish kenapa sih".
Dira menekan perut nya yang mulai seperti terasa ditekan. Ia duduk di kursi yang tersedia tidak jauh dari tempat ia berdiri.
Keringat dingin kini mulai menetes, rasanya dunia seperti berputar, dan ia yakin tak lama lagi kesadaran nya tidak akan bertahan. Benar saja dunia seakan gelap, dan ia tidak mengetahui apa apa lagi.
Sementara itu dikediamannya, Amel sedang bersiap untuk berangkat sekolah. Sudah terlambat memang, tapi daripada berada dirumah bukannya lebih baik ia pergi keluar, kerena yang bisa jadi tempat pelariannya untuk saat ini hanya lah diluar rumah.
"Buruan masuk".
Suara serak seorang pemuda menyambut Amel yang baru keluar dari kediaman milik orang tuanya. Ia bisa melihat raut wajah datar milik Arjun. Pemuda itu meneliti penampilan Amel dari ujung kaki hingga ujung rambut, kemudian memandang Amel dengan remeh.
"Ckk murahan".
"Maksud Lo apaan?".
Amel sudah tidak tahan lagi, ditambah masalahnya juga sedang banyak, ia bertanya dengan nada yang tidak biasa. Bisa ia lihat Arjun tersentak dengan nada yang belum pernah ia keluarkan. Jangan berpikir karena selama ini dia diam, dia bisa menerima segala kelakuan dari pria ini. Ia juga manusia biasa, dan pasti ingin diperlakukan layaknya manusia biasa pula.
"Pakaian Lo gak ada yang lain, mau ngejalang lo"?".
Bukannya menjawab pertanyaan Amel Arjun justru kembali bertanya, jujur saja menurut nya pakaian yang saat ini digunakan oleh Amel tidak lah mencerminkan perempuan baik baik. Dengan rok yang lima Senti diatas lutut, dan jangan lupakan baju yang dikecilkan itu, membuat bentuk badannya tercetak dengan jelas.
"b*****t Lo, lagian Lo mau ngapain disini?".
Tanpa menjawab pertanyaan Amel, Arjun justru menarik tangan Amel dan membawanya menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri, dia mendorong Amel dengan kasar hingga masuk kedalam kursi samping kemudi mobilnya. Tanpa kata Arjun pun masuk kedalam mobil dan menjalankan mobil itu dengan kecepatan yang tidak bisa dikatakan pelan.
"Pelan pelan bisa gak sih, gue masih mau hidup".
Amel berkata dengan nada menyindir, tapi dari raut wajahnya jelas terlihat ketakutan terbukti dengan tangganya yang memegang sabuk pengaman dengan begitu erat.
Melihat hal itu Arjun justru kian menambah laju mobilnya, mengabaikan teriakan ketakutan dari Amel, ia sesekali melewati pengendara yang juga berada di jalur yang sama, sudah tidak terhitung berapa banyak umpatan yang mereka terima hari ini.
"Turun!".
Mereka sampai di sekolah tempat Amel menuntut ilmu, dengan tidak merasa bersalah Arjun menyuruh Amel untuk segera turun, ia mengabaikan raut wajah pucat Amel, tanpa pamit ia segera memutar balik mobilnya, dan melaju dengan tenang.
Sedangkan Amel yang ditinggal hanya bisa membuang nafas dengan kasar, ia menormalkan detak jantung yang tidak lagi beraturan, nafasnya ngos-ngosan.
"Dasar anjing". Umpat Amel setelah menetralkan jantung nya.
Ia kemudian melihat kearah gerbang yang sudah ditutup, berpikir sejenak, ia kemudian memutuskan untuk pergi ke belakang sekolah, melihat tembok yang tidak terlalu tinggi dan memutuskan untuk menumpuk beberapa batu dan mulai naik keatas tembok tersebut, tak lama setelahnya ia sudah berada diatas tembok, bisa ia lihat jika keadaan sedang sepi, memutuskan untuk segera melompat dari atas tembok, namun sepertinya kesialan sedang tidak berpihak padanya, dari arah sebrang ia bisa melihat sang ketua OSIS yang terkenal tegas sedang berjalan kearahnya.
"Bangun!".
Dengan pelan, Amel bangkit dari posisinya yang semula, ia melihat sang ketua OSIS dengan pandangan memelas, jujur saja saat ini Amel sedang lelah fisik, dan batin, jadi bisakah hari ini ia tidak menambah masalah.
"Hehe, Hanif makin ganteng aja Lo".
Orang yang dipanggil Hanif itu menaikkan alisnya bingung. Ia tau trik yang akan dikeluarkan salah satu badgirl disekolahnya itu. Lihat saja kali ini ia tidak akan tertipu.
"Berdiri terus ikut gue".
Tak mau berlama lama Hanif segera membantu Amel untuk berdiri, ia memegang tangan cewek itu dengan erat, eh tapi jangan salah paham dulu, ia melakukan hal itu guna Amel tidak bisa kabur, kali ini ia akan memberikan hukuman yang akan membuat Amel jera.
"Berdiri disini, sampai waktu yang tidak ditentukan, dan awas aja kalo Lo kabur".
Hanif meletakkan Amel ditengah lapangan, matahari sedang terik dan Amel pun tidak sarapan tadi. Jadi bisakah ia melakukan hukumannya ini.
"Ya ellah Nif, Lo gak kasian sama gue".
Melas Amel, dengan tangan yang menahan tangan Arjun yang hendak pergi. Tapi laku laki itu hanya menatapnya dengan datar, dengan pelan Hanif melepaskan tangan Amel yang berada di lengannya. Ia kemudikan meninggalkan Amel sendiri ditengah tengah terik matahari, mau tidak mau Amel mulai mengangkat tangannya disisi wajahnya, memberi penghormatan pada bendera merah putih dengan begitu khidmat.
"Ya ampun sial banget''.keluh Amel merutuki nasibnya.
Andra menggeram marah mendapat laporan tentang tunangannya yang sedang pingsan di halte tidak jauh dari lokasi rumahnya. Ia tidak akan pernah membiarkan Dira menunggu terlalu lama, tapi tidak juga akan membiarkan siapapun menyentuh miliknya termasuk bodyguard. Bahkan dalam situasi apapun ia takkan pernah rela jika Dira disentuh oleh orang lain.
"Tunggu aku sayang". Gumam Andra ditengah tengah rasa panik yang sedang melanda.
Dengan kecepatan tinggi Andra menuju tempat yang sudah di berikan oleh bawahannya. Namun saat ia Samapi dialokasi ia tidak menemukan siapapun lagi disana, termasuk bodyguard yang sudah ia bayar dengan mahal.
Andra mengambil ponselnya yang sedang bergetar, dengan marah ia menuju rumah sakit. Berani sekali orang itu membawa tunangan nya tanpa izin. Lihat saja ia akan memberikan pelajaran pada siapapun yang sudah dengan lancang menyentuh miliknya.
✖️✖️✖️✖️
"Gimana keadaan nya dok?". Arjun menatap sang dokter dengan raut wajah yang khawatir. Entah hilang kemana sikap datar yang selama ini ia perlihatkan.
"Nona Dira hanya kekurangan cairan, dan juga sepertinya nona tidak sarapan tadi pagi, mengakibatkan maghnya kambuh". Sang dokter menjelaskan dengan mata yang menatap Arjun dan juga Abim bodyguard Dira.
"Jangan bohongin gue Lo ya, kalo sampe Lo bohongin gue, kerjaan Lo jadi taruhannya". Arjun mengancam sang dokter. Ia kemudian berlalu dan masuk kedalam ruangan dimana Dira berada.
"Hei bangun".
Arjun berbicara didekat telinga Dira. Ia membelai tangan dengan lembut. Ia menelisik wajah wanita yang sedang tertidur itu. Wajah yang begitu bersih dan juga terawat, hidung yang tidak terlalu mancung, dan mata bulat yang ia yakini sangat indah.
"Baru beberapa hari gak ketemu kamu makin cantik".
"Kapan sih kamu jadi milik aku".Arjun kian mengaco, kini wajahnya kian mendekat dan tak lama lagi kedua benda kenyal itu akan menyatu sebelum.
"Bughh.....bughh.....bughh....."
Arjun terpental dengan begitu kasar dilantai, Arjun yakin jika wajahnya pasti sudah sangat memar.
"Mau ngapain lo?". Tanya Andra murka. Ia murka, membayangkan apa yang akan terjadi jika ia telat. Ia tidak bisa membayangkan hal itu dan takkan pernah mengijinkan hal itu terjadi.
"Anjigg apaan Lo?". Arjun bangkit dan bertanya dengan sarkas.
"Ngapain Lo mau nyium cewek gue?".balas Andra dengan nada yang tidak santai.
"Gue pastiin dia jadi milik gue".
"Jangan harap, dan bangun dari mimpi Lo".