PROLOG
Ngapain berduan' sama cowok lain?.Dira terdiam kaku saat suara rendah itu memasuki gendang telinganya.
"Kita cuman bahas soal OSIS ka".jawab Dira dengan tenang, berbeda dengan cowok yang berada disebelahnya. Pria itu sudah mengeraskan rahangnya sejak ia melihat sang tunangan berbicara dan dekat dengan pria yang tidak ia kenali.
"Jangan macam-macam Ra, kamu tau aku kayak gimana". Ungkap Andra, tangannya sudah gatal ingin melampiaskan emosi yang sudah tertahan sejak tadi.
"KAMU DENGAR GAK SI AKU NGOMONG APA". Dira yang sedang memainkan ponselnya seketika terdiam kaku. Ponsel yang sejak tadi ia mainkan pun kini sudah jatuh tepat mengenai lantau yang keras.
"Kakak apa apaan si masalah sepele kayak gitu aja dipermasalahin". Dira tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh, ia tidak mengerti kenapa tunangannya berubah sejauh ini. Orang yang dulunya lembut dan hangat berubah menjadi orang dingin dan kasar.
"Masalah yang kamu bilang sepele itu, bisa jadi masalah besar buat aku". Kata Andra dingin. Ia terdiam sesaat, kemudian mendekat kearah Dira yang sudah menangis , dengan lembut ia berkata,
"Kamu yang mancing emosi aku Ra, jangan salahin aku kalo aku sampai nyakitin kamu". Andra menghapus air mata Dira dengan telapak tangannya, ia juga membersihkan hidung yang sudah dipenuhi dengan ingus tanpa merasa jijik.
"Tapi aku cuman ngobrol sama teman aku,".Dira tidak menyadari jika ia sudah membangkitkan emosi Andra yang belum sepenuhnya padam.
"Kalo gue bilang jangan ya jangan, kenapa ngotot banget si Lo mau jadi jalang ha?".Dira syok mendengar perkataan Andra, seumur hidup ia belum pernah ada yang mengatakan hal itu padanya, dan sekarang orang yang ia anggap spesial lah yang mengatakannya untuk pertama kalinya. Rasanya dadanya kian sesak.
."kak, kakak ko berubah si, kakak kaya bukan ka Andra yang selama ini aku kenal". Andra yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya dari Dira, kian menatap tajam gadis yang sudah bersama dengannya ini dari 3 tahun yang lalu,
"Andra yang Lo kenal itu gak ada, yang ada adalah Andra yang saat ini sama Lo,".desis Andra .
Dira hendak mengambil ponsel yang sejak tadi berada dilantai ,namun belum sempat tangannya menggapai benda tersebut, kaki Andra sudah lebih dulu menendang ponsel itu hingga hancur.
"Kakak apaan si, itu kan punya aku". Dira menatap ponselnya yang sudah tidak berbentuk dengan pandangan nanar.
"Gak sengaja".ucap Andra cuek.