ATURAN

1518 Kata
Dira berjalan dengan riang menuju halte untuk pulang dan mengistirahatkan tubuhnya. Hampir satu harian berada disekolah dan berkutak dengan berbagai pelajaran yang cukup membosankan membuatnya ingin cepat cepat sampai dirumah dan mandi guna menyegarkan badannya . Dengan riang ia bersenandung, sambil sesekali melihat kearah jalan saat dirasa bis datang terlalu lama, sebenarnya tadi ia sudah ditawari untuk pulang bersama dengan Amel sahabatnya, akan tetapi ia menolak sebab jalur mereka yang berlawanan. Sebuah mobil yang tidak asing berhenti tepat disampingnya, seketika Dira ingin menghilang dari bumi saat ia melihat siapa yang turun dari mobil tersebut. "Kak Andra". Cicitnya dengan nada pelan. Orang yang dipanggil Andra tersebut mendekat ke arah Dira, ia menatap tajam gadis didepannya. "Ngapain pulang sendiri?". Andra mencengkram rahang Dira saat gadis itu masih menunduk . "Maaf ka".ucap Dira tak jelas sebab rahangnya masih di cengkraman Andra. "Aku tanya kenapa Dira, aku gak butuh permintaan maaf kamu".Andra melepaskan cengkraman nya dengan kasar,membuat kepala Dira terhempas kesamping. "Aku cuman pengen ngerasain pulang naik bus,"., Ucap Dira yang hanya dianggap angin lalu oleh Andra. Baginya kesalahan tetap kesalahan, dan ia tidak menyukai orang yg tidak mematuhi peraturan yang ia buat. Tanpa mendengar perkataan Dira selanjutnya, Andra menarik tangan Dira dengan kasar untuk masuk kedalam mobilnya, ia baru saja kembali dari luar negri untuk urusan bisnis, rencananya hari ini ia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Dira, namun laporan yang ia dapat dari orang suruhannya membuat emosinya naik. Tunangan nya sudah mulai nakal, apa selama ini ia masih kurang keras dalam memperlakukan tunangannya. Kesalahan Dira sudah tidak bisa ia toleransi lagi, pertama makan mie instan, kedua berbicara dengan lawan jenis, dan tadi menolak untuk dijemput. Ah hukuman apa yang pantas untuk orang seperti gadis yang sedang ketakutan disampingnya ini. "Kamu pikir selama aku di luar negri, kamu bisa bebas, gak Dira, aku selalu ngawasin kamu".Dira hanya bisa terdiam mendengar perkataan tunangannya, ia tidak tau harus berbuat apa lagi. Yang jelas saat ini ia merasa ketakutan apalagi Andra terlihat lelah, maka habis lah ia kali ini. Lagian kenapa pula Andra sudah ada di Indonesia, bukannya ia harus berada di Dubai selama satu Minggu untuk mengurus bisnisnya, tapi sekarang baru juga tiga hari pemuda itu sudah ada disini. "Kak bisa pelan pelan gak aku takut".Andra tidak mengikuti keinginan Dira, yang ada di otak nya saat ini adakah cepat sampai di rumah dan menghukum Dira. Tak mendapat respon dari Andra Dira hanya bisa berdoa agar Tuhan masih berkenan memberikan dirinya umur yang panjang. "Turun".nada dingin itu mengayun dengan indah telinga Dira. Ia baru menyadari jika mereka sudah sampai ke rumah yang lebih sering ia kunjungi dari pada rumah orang tuanya, rumah dengan gaya klasik dan ornamen ornamen indah ini, merupakan rumah pribadi miliki Andra tunangannya,rumah ini dibeli saat mereka menjalani hubungan untuk satu tahun pertama, ini adalah salah satu bukti keseriusan dari seorang Afandra Matteo. "Bisa pelan pelan gak si, sakit tau".Dira tanpa sadar sudah mengomel, entah kemana rasa takutnya tadi. "Panggilkan pak Alam". Perintah Andra pada salah satu maid di ruamahnya. Orang yang disuruh pun dengan segera melaksanakan tugasnya, takut tuannya kembali marah. Saat ini mereka sedang duduk dengan tenang di kursi empuk milik Andra, Dira bahkan dengan seenaknya tiduran dengan kepala yang berada di atas paha Andra. Memang dasarnya Dira, orang yang bersikap cuek dan polos, ia berpikir semuanya bisa selesai dengan sendirinya. Lihatlah dia bahkan tidak sadar dengan apa yang baru saja ia alami, seakan akan semuanya tidak pernah terjadi. Andra yang melihat Dira, tertidur tersenyum kecil, ia seakan melupakan amarahnya, melihat wajah polos Dira saat tertidur membuatnya emosinya menguap entah kemana. Ia membelai rambut halus yang ada dipangkuan nya dengan lembut walaupun wajahnya masih tetap datar, namun matanya memancarkan kelembutan dan kasih sayang yang besar untuk gadis ini. "Maaf menggagu tuan ,apa tuan memanggil saya".Alam berkata dengan pelan takut membangunkan nona mudanya yang sedang tertidur. "Bapak tau apa kesalahan bapak,?".tanah Andra dingin. "Maafkan saya tuan, saya berjanji tidak akan mengulangi hal serupa lagi".Andra yang melihat Alam mengiba menarik napasnya dalam, ia kemudian menggerakkan tangannya tanda menyuruh pergi. Biarlah kali ini ia memaafkan kesalahan pak Alam, terlebih lagi pria itu sudah bekerja cukup lama dengan nya. "Terimakasih tuan, saya pamit undur diri ". Alam sekita merasa lega, ia tidak tau lagi jika sampai dirinya dipecat, entah mau dikasih makan apa anak dan istrinya dirumah. Ia pergi dari ruangan tempat tuan dan nonanya berada, entah mengapa ia merasa pasangan merupakan orang yang baik, walaupun kadang-kadang nonanya juga bisa bersikap keras kepala. Seperti tadi yang menolak dengan keras untuk dijemput, dan ya ini lah akhirnya. "Bangun".ucap Andra tepat disamping kuping Dira. Ia merasakan sedikit segar setelah tertidur sebentar. Setelah tadi pak Alam pergi ia kemudian ikut tertidur disamping Dira, dengan posisi memeluk Dira erat, sofa yang sempit tidak menggangu tidur mereka sama sekali. Bahkan tanpa mereka sadari sedari tadi para pelayan sudah gemas melihat tuan dan nona mereka yang tertidur dengan posisi yang membuat para jomblo itu iri. "Sayang".Andra membelai wajah mulus Dira, ia begitu memuja sosok didepannya ini. "Eunghhh,".Dira menghempaskan tangan Andra yang sedari tadi berada diwajahnya. Ia merasa terganggu sedari tadi, rasanya matanya sungguh berat untuk terbuka dan mimpinya juga cukup indah untuk dilewatkan. Melihat tunangannya yang tak jua membuka matanya, Andra dengan kasar mendorong tubuh Dira hingga jatuh mengenai lantai yang untungnya dilapisi oleh karpet tebal. "Aww, sakit banget". Dira meringis, mata nya seketika membola saat ia merasakan sakit yang luar biasa di badannya. Ia padahal tadi sedang bermimpi bermain sepeda dengan Kim Namjoon sang idola, namun dengan naas ia malah terjatuh. Andra yang melihat itu hanya terdiam dan tak ada niatan untuk membantu sedikit pun. "Bangun, terus makan". mendengar suara hang tidak asing Dira mendongak kan kepalanya dan melihat raut wajah datar dari tunangannya yang menjulang tinggi di depan nya. "Bantuin".rengek ya dengan tangan yang direntangkan. Bukannya membantu Andra malah pergi meninggalkan Dira, berdecak kesal ,Dira pun berdiri dan mengikuti Andra yang berjalan menuju ruang makan. "Cuci muka dulu Dira, baru kamu makan".nasehat Andra saat melihat Dira mendudukkan dirinya di kursi meja makan, ia bahkan bisa melihat dengan jelas di wajah gadis itu terukir pulau pulau kecil yang ia yakini berasal dari iler. Entah mengapa ia bisa jatuh cinta pada gadis didepannya ini. "Lebih enak tau , makan tanpa cuci muka". Jawab Dira. Tangannya bahkan sudah mengisi piring didepannya dengan porsi yang besar. Entah mengapa Dira memang merasa lebih enak makan saat ia baru bangun dan tidak mencuci mukanya, satu hal yang sungguh perlu dipertanyakan. "Itu kamu aja yang jorok". balas Andra malas. Namun pada akhirnya ia tersenyum tipis melihat tunangannya yang makan dengan begitu lahapnya. Mengapa gadis ini tidak pernah jaim saat bersamanya?,batin Andra. "Sekarang hukuman kamu".Dira yang baru saja selesai makan terkejut dengan perkataan Andra. Ia pikir hukuman nya sudah tidak lagi berlaku, padahkan Andra sudah bersikap baik namun ternyata semua itu hanya dusta belaka, dasar Andra gila. "Ouhhgg, hukuman apaan emang aku ada salah?".setelah bersendawa dengan tidak tau malunya ia malah bertanya yang suda jelas jelas tau jawaban. "Hmm, sebagai hukuman kamu wajib nginap malam ini".ungkap Andra menghiraukan pertanyaan un faedah Dira. Sebenarnya tanpa alasan itupun Andra akan membaut Dira menginap, mengenai orang tua gadis itu ia sudah meminta izin terlebih dahulu. "Itumah kecil, yaudah kalo gitu aku mandi dulu de, gerah".Dira berlaku menuju kamar Andra ia bahkan tidak mendengar jawaban yang akan dikeluarkan oleh Andra. Hari sudah berganti menjadi malam, saat ini Dira sedang menonton televisi sendirian, Andra?,ia sedang berada diruang kerjanya, berkencan dengan pacar pacar kesayangan miliknya itu, ia bahkan heran bagaimana bisa Andra tahan berada didepan komputer hampir setiap hari, dan jangan lupakan juga angka angka membingungkan itu,Jiak saja itu Dira sudah pasti ia akan gila duluan. Ding....dong...Ding..dong... Suara bel rumah mengalihakan pandangan Dira dari televisi yang sedang menampilkan dua orang b***k kembar yang tidak memiliki rambut tersebut. Yaps Dira sedang menonton Upin Ipin. "Ganteng bangetttt".gumam Dira saat ia baru saja membuka pintu rumah. Dihadapannya berdiri sosok malaikat dengan wajah yang tampan, rahang kokoh, dan jangan lupakan dad bidang pria itu. "Halo boleh masuk".ujar sang tamu saat melihat gadis yang berada didepannya hanya menatapnya dengan mata yang tidak berkedip. "Oh hai silahkan tampan".ujar Dira centil. seketika jiwa jiwa buayanya muncul saat melihat ciptaan tuhan yang begitu sempurna ini. "Mau cari siapa tampan, kalo mau cari yang setia dan mencintai kamu sepenuh hati, kamu datang ketempat yang tepat". Dira mencoba merayu pria yang ada didepannya. 'maksudnya?". tanya pemuda itu dingin. "Kamu datang ketempat yang tepat, karena ditempat ini kamu menemukan cinta sejati kamu, yaitu aku.".kata Dira centil. Setelahnya ia tersenyum sendiri mengingat perkataan nya. "Dasar centil".ujar pemuda itu menatap Dira dingin. "Tapi orang yang centil ini akan buat kamu bertekuk lutut Lo".tantang Dira tidak menyerah. "Andra".panggil pemuda itu, seketika tubuh Dira langsung menegang, sementara pemuda tersebut hanya tersenyum remeh melihat Dira yang menegang hanya karna ia mengucapkan satu nama. Dira melihat kebelakang , dan tersenyum manis saat melihat Andra yang menatap mereka dingin. Ia kemudian berjalan kearah Andra dan bergelayut manja di lengan pemuda itu. "Gak usah centil bisa".Andra menatap kearah Dira yang sedang bergelayut dilengan nya. Sementara gadis itu hanya mengangguk dan menatap kearah tamu itu dengan aura permusuhan. "Awas kamu".ucapnya tanpa suara. halo teman teman semoga kalian suka ya sama cerita aku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN