REZA PERGI

1585 Kata
Fajar sudah kembali menyingsing, sang surya kembali menjalankan tugasnya menerangi bumi. Manusia manusia yang penuh dengan ambisi sudah kembali melakukan aktivitas masing masing. Namun berbeda dengan gadis yang masih berada dalam dunia mimpi ini, ia masih asik dengan tidurnya. Rambut yang acak acakan, posis kaki yang hampir jatuh, dan jangan lupakan mukanya yang penuh dengan iler itu. Sungguh pose yang sangat tidak elit, dari tidurnya saja dapat dipastikan jika gadis itu mempunyai sifat yang jauh dari kata seorang cewek. "Bangun". suara lembut, dan juga jepitan dihidung nya dengan keras membuat gadis itu langsung melotot pada pelaku. "Andra kamu jahat banget si".Dira mengelus elus hidungnya yang sudah memerah. Andra kemudian mengambil tangan Dira ,kemudian menggantikan cewek itu mengelus hidung yang tidak bisa dikatakan mancung tersebut. "Hidung kamu ko mancung kedalam si by".Andra berkata dengan tidak ada dosanya. Mendengar itu Dira menghempaskan tangan Andra ,kemudian ia berlalu masuk kedalam kamar mandi, apalagi jika bukan untuk melakukan rutinitas nya. Melihat hal itu bukannya marah Andra justru tersenyum geli, kakinya mulai melangkah kesana kemari untuk mempersiapkan keperluan sekolah Dira, mulai dari memeriksa tugas cewek itu, menyiapkan buku yang harus dibawa sesuai roster, hingga seragam dan juga sepatunya. Daripada tunangan, bukankah Andra lebih baik jadi seorang ayah?,tapi apapun itu ia hanya ingin memastikan selama Dira tidak kekurangan apapun selama bersama dirinya. Setelah dirasa semua siap dan lengkap Andra turun kebawah guna memeriksa makanan yang menjadi sarapan untuk mereka berdua. "Singkirkan mie itu".perintahnya tak ingin dibantah. Salah seorang maid maju dan berkata. "Maaf tuan, tapi itu makanan yang nona pesan semalam".Maid itu menatap takut takut pada tuannya. Memang benar semalam setelah tamu dan juga tuannya masuk kedalam ruang kerja sang majikan, nona mudanya berkata ingin dimasakkan mie goreng pedas untuk sarapan. "Saya bilang singkirkan,".sekali lagi Andra berkata dengan nada dinginnya. Dengan cepat maid itu membawa mie goreng tersebut dari atas meja ke dapur. Selamat pagi Bangun pagi gosok gigi Cucu muka tak mandi Pakai baju minum susu Kejut kak Andra tunangan ku Selamat pagi ,selamat pagi Selamat pagi senangnya hati Kucing, kambing Burung, lembu Semuanya sahabatku Suara nyanyian bak anak kecil itu membuat suasana rumah yang tadinya sunyi menjadi penuh suara, disana Dira dengan langkah bak anak kecilnya berjalan kearah Andra dengan bernyanyi. mengenakan seragam SMA namun bersikap layaknya anak TK, perlu dipertanyakan sebenarnya Dira ini bisa masuk sekolah jalur mana?,lihatlah tingkahnya sekarang dia mencium pipi Andra yang menatapnya dingin. Ia bahkan sudah melupakan kejadian beberapa menit yang lalu. "Lagu apaan tu?".tanya Andra iseng. Ia baru pertama kali mendengar lagu seperti itu. Tadi saat ia mendengar suara nyanyian Dira yang tidak bisa dikatakan baik,ia hanya bisa menatap cengo dan juga mengelus d**a. Tunangannya memang ajaib. "Kak Andra gak bakal tau, orang kak Andra katrok".jawab Dira dengan enteng.Sekali lagi Andra hanya bisa mengelus dadanya sabar, Dira ini memang polos polos b*****t, kelakuannya emang polos si, tapi kadang perkataan nya bisa menusuk sampai jantung, sakit guys. "Loh mie pesanan aku mana?".setelah diteliti Dira baru sadar jika makanan yang ia minta semalam tidak ada diatas meja. Ia melihat kerah maid yang berdiri tidak jauh dari meja makan, hendak bertanya, namun belum sempat ia membuka suaranya, Andra menyelanya dengan berkata. "Gak ada makan makan mie, apalagi itu pedas, dan ini juga bukan jadwal kamu makan mie kan?". Mendengar perkataan Andra Dira hanya bisa mengangguk lesu. Ia memilih jengkol balado, ayam bakar, dan juga shop daging untuk lauknya. Seperti biasa dengan porsi yang tidak bisa dikatakan sedikit. Melihat itu Andra dengan cepat mengambil jengkol balado yang ada di piring Dira. "Gak baik, nanti napas kamu bau".peringatnya lembut. "Ih semua aja gak boleh".Dira berdecak dan langsung memakan makanan yang ada di piringnya. Ruangan itu kembali hening, yang terdengar hanya suara sendok yang beradu dengan piring. Ini memang aturan yang dibuat oleh Andra, ia hanya ingin saat dimeja makan semua orang fokus pada makanan mereka, dan juga merupakan aturan turun temurun dari keluarga Matteo, walau kadang Dira masih suka melanggar si. Kalau dipikir-pikir mana tahan seorang Dira tidak membuka suaranya walau hanya lima menit. Makanan yang ada piring kini sudah berpindah kedalam perut. Andra selesai terlebih dahulu, baru disusul oleh Dira. "Yok berangkat".ucap Dira berdiri dari kursinya, ia menyerahkan tasnya untuk dibawa Andra, dan diterima cowok itu dengan senang hati, sementara Andra tas kerjanya dibawa oleh salah satu maid. Jadi siapa sebenarnya yang lebih berkuasa?. Andra membuka pintu mobil untuk Dira, setelahnya baru dirinya dibukan pintu oleh sang sopir, bucin sekali bukan, Andra kemudian meminta sang sopir untuk menjalankan mobilnya. "Jalan pak".sang sopir pun menjalankan mobil mewah itu setelah mendengar perintah tuannya, ia melirik kearah belakang melihat sang tuan yang mendengar kan sang nona bercerita random. Perjalanan mereka terasa ramai saat sang nona tidak berhenti bercerita walau sang tuan kadang tidak menanggapi sebab tak mengerti, dan nonanya itu akan mengomel saat tuannya salah menjawab. Pasangan serasi. Gerbang SMA Matteo internasional sudah terlihat, s mobil itu melaju dengan pelan menghindari para pejalan kaki,sekolah dengan tiga tingkat ini merupakan sekolah terbaik yang ada di kota ini, dan tentu saja dari namanya sudah ditebak siapa pemilik bangunan megah ini, kekayaan keluarga Matteo memang tidak main main. "Kita sudah sampai tuan, nona".mendengar informasi dari sang sopir, Dira melihat sekeliling dari dalam mobil dan memang benar kalo saat ini mereka sudah berada di area parkir sekolahnya. Ia merapikan kembali penampilannya yang sedikit berantakan, mengambil tasnya dan menyandang tas tersebut, saat hendak membuat pintu mobil tangannya ditahan oleh seseorang, yang tak lain dan tak bukan Andra. "Kamu masih ingat peraturan nya kan?".tanya Andra menatap Dira lembut. "Gak boleh dekat dekat cowok, gak boleh makan makanan cepat saji, dan harus ngabarin kamu saat jam istirahat".Dira menjelaskan peraturan yang sudah ia hapal diluar kepala tersebut. "Bagus". ucap Andra dengan senyumnya. "Dan satu lagi, kamu wajib selalu mikirin aku".tambahnya dengan nada tegas. Dira yang melihat itu hanya memutar matanya bosan. "Aku pamit ya, baik baik kerjanya, biar aku bisa jadi orang kaya hahaha".gurau Dira, ia mengambil tangan kanan Andra dan menjabatnya tak lupa juga mencium tangan besar itu saat mendekatkannya pada wajahnya tanda ia menghormati pemuda itu. Sejujurnya kegiatan seperti itu merupakan hal yang sudah biasa untuk Andra dan juga Dira, namun tetap saja Andra merasa bahagia saat saat Dira bersikap seperti ini. Andra mencium kening Dira tanda perpisahan, "Aku pergi ya, bay kak Andra ganteng, bay pak Alam jelek".pamit Dira, turun dari dalam mobil. dan berlari layaknya anak kecil memasuki sekolahnya. Andra yang melihat itu hanya bisa tersenyum geli, setelah Dira hilang dari pandangannya, ia mengubah wajah yang tadi manis dan hangat itu ke wajah yang datar dan dingin. "Jalan" perintahnya dengan Dingin. Aura didalam mobil seketika berubah seratus delapan puluh derajat, dari yang tadinya ramai kini jadi hening, dan yang paling mencolok adalah aura tuannya yang sangat menyeramkan. Tiba gedung pencakar langit, Alam bergegas keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk sang tuan, dan setelahnya bergegas masuk kembali guna untuk memarkirkan mobil tersebut. Sementara Andra berjalan dengan angkuh, ia tidak menjawab sapaan yang keluar dari mulut para pegawainya, ia bergegas masuk kedalam lift khusus yang hanya boleh digunakan oleh dirinya dan keluarganya, dengan Dira tentu saja. Tiba dilantai ruangan miliknya ia bisa melihat Riko sekretaris pribadinya yang sudah berkutak dengan komputer di depannya. "Selamat pagi pak Andra".sapa pria bernama Riko saat melihat atasannya berjalan kearahnya ah lebih tepatnya kearah ruangan pria itu. "Jadwal?".tanya Andra dingin. Memang seperti ini lah sifatnya jika tidak bersama dengan Dira, dingin ,angkuh dan otoriter. Sangat jauh berbeda saat bersama dengan sang tunangan,entah bagaimana reaksi Dira jika mengetahui sifatnya yang seperti ini. "Jam sepuluh nanti bapak ada rapat dengan investor dari cina, kemudian selebihnya bapak hanya perlu memeriksa bebarapa dokumen dokumen yang tidak sempat bapak periksa sebelum berangkat ke Kanada kemarin. "Hmmm, kamu boleh keluar, dan ingatkan saya jika tiga puluh menit sebelum rapat dimulai". mendengar perintah dari bosnya Riko bergegas keluar dari ruangan tersebut setelah sebelumnya ia mengangguk tanda mengerti dengan perintah sang boss. Tinggallah Andra disini, dengan berbagai tumpukan tumpukan berkas yang bisa dibilang tidak sedikit.ah ia merindukan tunangan cerewetnya, padahal ia baru saja bertemu beberapa menit yang lalu. Menyingkir pikiran tentang Dira untuk sejenak ia mulai mengambil salah satu berkas dan membubuhi tanda tangan diatas kertas tersebut, begitu juga berikutnya. SMA MATTEO INTERNASIONAL SCHOOL Jika Andra disibukkan dengan dokumen dokumen miliknya, berbeda dengan Dira yang asik bergosip dengan teman sekelasnya, mereka membicarakan hal-hal yang tidak tentu, mulai dari hal penting hingga hal yang tidak jelas. Memang benar ya perempuan itu tidak akan bisa tenang Jiak tidak melakukan aktivitas gosipnya. "Parah Lo Ra, anjir Uda Uda perut gue sakit".itu suara Amel salah satu teman Dira. Amel tidak bisa menahan tawanya saat Dira menceritakan kejadian saat melihat teman sekelas mereka yaitu Reza nyungsep ke parit, saat dikejar oleh seekor anjing. "Woy gue ada info woy".suara teriakan Doni menghentikan kegiatan mereka sejenak,semua penghuni kelas memusatkan perhatiannya pada Doni, sementara yang Doni yang ditatap seperti itu menarik napasnya dalam dalam kemudian berkata. "Reza, teman kita meninggal dunia karena kecelakaan", ia melihat kearah teman temanya yang terbengong , sudah ia duga Jiak teman sekelasnya akan bereaksi seperti itu, syok.dan pastinya tidak akan percaya. "Lo jangan ngarang Din, ini tu nyawa gak usah main main".itu suara Arif ketua kelas mereka. "Gue serius, dan gue dapat info dari salah satu keluarganya".ungkap Dino tegas tanda ia tidak berbohong. Semua anggota kelasnya menangis sambil berpelukan, mereka merasakan perasaan yang sulit dijelaskan, kehilangan salah satu anggota yang sudah bersama dengan mereka selama kurang lebih 2 tahun bukanlah hal yang muda, terlalu banyak kenangan yang mereka ukir bersama, namun ini lah kenyataan kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi bahkan hanya jangka waktu lima menit kedepan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN