Tujuan akhir dari kehidupan manusia adalah kematian, segala sesuatu yang dikejar dengan mati Matian pada akhirnya akan ditinggalkan saat kematian itu tiba. Namun mengapa rasanya masih sesak saat ditinggal kan untuk selamanya, padahal kita bahkan tau jika kita pun akan mengalami gak hal yang sama nantinya.
Ditengah tengah ruangan yang penuh dengan manusia manusia yang sedang menangis dan terpukul, terbujur kaku seorang pemuda, wajah yang biasanya menampakkan senyum itu kini sudah tertidur dengan tenang,mata yang biasanya menampilkan senyum manis itu kini sudah terkatup, orang yang mereka lihat kemarin berjalan dengan sehat kini sudah tak lagi bernyawa.
Kematian memang unik, ia tak pandang bulu, mau itu muda , tua, sehat, sakit, atau bahkan saat sedih, dan senang, jika memang sudah waktunya ia akan menghampiri. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia mempersiapkan hal yang akan kita bawa saat ia tiba.
"Ini benaran Mel, Reza mungkin lagi nge Prank kita, dia kan suka bercanda".Dira menatap tubuh yang dilapisi kain itu.
"Tapi ini memang kenyataannya Ra"balas Amel menatap wajah Dira yang sudah sembab sebab menangis. Ia memeluk tubuh mungil yang berada disampingnya ini. Tau bagaimana perasaan Dira, biar bagaimanapun Dira dan Reza cukup dekat walaupun kedekatan itu hanya dihiasi dengan pertengkaran pertengkaran, tapi terlepas dari semua itu Dira dan Reza saking peduli walau tertutup oleh gengsi mereka atau lebih tepatnya gengsi Reza, jika Dira ia akan menunjukkan langsung perhatian nya , bahkan kadang mereka bisa dibilang layaknya pasangan kekasih, saking dekatnya.
Amel meneliti tiap ruangan, melihat orang tua Reza yang menangis pilu disamping jenazah anaknya, kemudian ada bebarapa warga yang sedang membacakan surat Yasin , dan teman teman sekelasnya yang keadaan nya tidak jauh berbeda dengan mereka.
Selepas adanya berita duka tentang teman sekelas mereka, mereka semua memutuskan untuk pergi melayat saat jam istirahat pertama berbunyi. Tentu atas persetujuan dari guru, dan wali kelas mereka pun ikut mendampingi.
"Kita balik yok, Ra".ajak Amel setelah mereka merasa cukup lama berada di rumah duka ini. Melihat beberapa tetangga yang juga datang untuk melayat.
"Hmmm yauda Mel, lagian nanti malam kita datang lagi ya".setuju Dira. Ia kemudian bangkit dari duduknya diikuti Amel dibelakang nya. Teman teman sekelasnya sudah pulang lebih dulu.
Berjalan dengan langkah lesu, Dira sesekali menatap kedalam ruangan, melihat sekali lagi wajah yang akan ia rindukan kelak.
Saat ia sampai di teras rumah, dapat ia lihat seorang pemuda yang menatapnya dengan datar. Tanpa pikir panjang Dira langsung berlari dan memeluk pemuda itu dengan erat.
"Kak Andra, Reza ka Reza dia ninggalin aku".adu Dira pada Andra yang entah sejak kapan sudah berada di kediaman ini.
"Kakak tau sayang, kamu yang kuat ya, ikhlas in Reza biarkan di tenang disana". Andra mencium pucuk kepala dari Dira, ia membalas pelukan perempuan ini dengan erat. Ia m membimbing Dira untuk masuk kedalam mobilnya yang terparkir tidak terlalu jauh.
"Amel gimana?".tanya Dira saat sudah didalam mobil, ia melihat Amel yang hanya diam dan tak bergerak untuk masuk.
"Dia suda besar dan bisa pulang sendiri''.jawab Andra tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Dira.
"Gapapa ko Ra, gue balik bareng Dito aja nanti''sahut Amel merasa tidak enak, dia tau jika sejak tadi saat matanya berpapasan dengan pandangan Andra.
"Yakin Mel?".tanya Dira memastikan.
"Yakin, yaudah Lo balik dulu sana".usir Amel namun pandangannya menatap takut kearah Andra.
"Gak usah dipaksa sayang, lagian diakan punya banyak orang yang bisa diminta tolong".ucap Andra dengan arti ganda. Namun Dira saja yang polos dia hanya mengangguk.
Sebelum menjalankan mobilnya Andra melihat kearah rumah duka dan Amel secara bergantian, kemudian ia tersenyum sinis.
"Kerja bagus".gumamnya yang sayangnya tidak didengar Dira.
Saat ini Andra dan Dira sudah tiba di perusahaan milik Andra. Ia membawa gadisnya memasuki ruangan pribadinya kemudian mendudukkan gadis itu di kursi kebesaran miliknya. Ia menatap Dira penuh selidik dan akan segera mengintrogasi gadis nya ini.
"Kenapa pergi gak ngabarin?'tanya Andra tegas namun suaranya masih tetap lembut. Dira yang ditanyai menundukkan kepalanya, tak berani menatap pada mata Andra yang saat ini menatapnya dengan pandangan menuntut.
"Hey liat aku, aku gak marah aku cuman mau kamu jujur". mendengar suara Andra yang saat ini jauh lebih lembut Dira memberanikan dirinya untuk menatap Andra, ia kemudian menggembungkan wajahnya dan mata yang juga menampilkan mata memelas miliknya.
"Kak Andra maaf, tadi aku panik terus juga kata Amel gak usah minta izin sama kak Andra nanti gak dibolehin".jelas Dira. Memang benar tadi sebelum berangkat Dira hendak mengabari dan meminta izin pada Andra, namun Amel datang dan berkata hal itu tidak penting. Katanya ada saatnya Dira tidak perlu meminta izin dan pamit pada Andra, ada saatnya Dira tidak perlu bergantung pada pemuda itu.
"Dia berani ngomong gitu?".tanya Andra memastikan. Andra sudah menduga itu Amel bukan orang yang tepat untuk menjadi teman dari tunangannya yang polos. Percayalah Amel tidak sebaik yang terlihat selama ini.
"Hmmm, Amel juga ngajak aku buat pergi ketempat yang keren nanti malam, tapi setelah pergi dari rumahnya Reza si, katanya nanti kita dirumah Reza nya sebentar aja".cerita Dira dengan semangat. Baginya Amel adalah sahabatnya.
"Ketempat yang bagaimana?".tanya Andra mengorek informasi, ia yakin jika Dira saat ini sedang tidak menyadari jika ia sudah mengatakan hal yang akan ia lakukan nanti malam.
"Katanya tempatnya buat joget joget, terus disana juga ada minumnya yang bisa buat orang senang''. cerita Dira. Ia bahkan sudah melupakan rasa takutnya tadi pada Andra.
"Hmmm Dira". ucap Andra dengan nada yang lebih dingin. Ia sudah panas saat Dira berkata ingin pergi ke Klub yang bahkan ia hindari mati matian untuk menjaga Dira tak pergi ketempat itu.
"Upss, kak Andra tadi itu gak benar ko, suerr".Dira mengangkat kedua tangannya berbentuk huruf V, ia juga menutup mulutnya seakan baru melakukan satu kesalahan. Ia menatap takut takut pada Andra yang saat ini menatap dirinya tajam, dengan keberanian entah darimana Dira bangkit dari kursi kebesaran Andra, ia mendekat pada pria yang sejak tadi berdiri didepannya ini, ia memberanikan diri untuk memeluk Andra dan namun cowok itu tak membalas walau tak menolak pula.
"Kaka Andra maafin Dira, jangan Dira gak bakal pergi kalo kak Andra gak kasih izin".tidak ada balasan dari Andra, cowok itu hanya diam membuat Dira kian menangis .
"Kak Andra ngomong dong, jangan diemin Dira, Dira gak suka".sekali lagi tidak ada balasan dari Andra, Dira kian mengeratkan pelukannya sungguh diamnya Andra adalah hal yang paling Dira takuti selama ini.
"Hmm, kamu lebih baik pulang" ucap Andra mencoba melepaskan pelukan Dira, namun cewek itu kian mengeratkan pelukannya.
"Gak mau, maunya sama kak Andra".tolak Dira sesenggukan , hidungnya bahkan sudah mengeluarkan cairan.
"Kenapa katanya mau pergi sama Amel, yauda sana pulang".ujar Andra dengan nada yang masih dingin.
"Kak Andra maaf aku gak bakal lakuin itu lagi, aku gak mau pulang maunya sama kak Andra".ujar Della, tangannya yang satu membersihkan ingusnya, tangan satu lagi masih memeluk pinggang Andra.
Andra tidak menjawab lagi, ia membiarkan Dira yang menangis. Sejujurnya ia tak tega, tapi ia juga ingin memberikan pelajaran pada cewek ini. Ia hanya tak suka dengan sikap Dira yang perlahan mulai suka membangkang. Selama ini ia sudah membuat Dira bergantung pada dirinya dan tentu saja ia tak ingin gadis ini berubah. Jika bisa selamanya ia hanya ingin Dira bergantung dan tak bisa apa apa jika tidak ada campur tangan darinya.
Dirasa sudah cukup untuk mendiami gadisnya, Andra membalas pelukan Dira, ia juga mengangkat dagu Dira lembut, menghapus air mata dari gadis, dan juga membersihkan wajah penuh ingus dengan tangannya sendiri.
"Sudah jangan nangis lagi, kakak gak marah ko".bujuk Andra dengan mendudukkan dirinya di kursi dan Dira berada dipangkuan nya.
"Sudah dong, nanti kamu sakit kelamaan nangis, jangan nangis lagi ya".Andra masih mencoba untuk membujuk Dira yang tidak berhenti menangis.
"Ishh gak bisa, air matanya gak mau berhenti ". ucap Dira dengan tangan yang mengisap air matanya kasar.
"Kenapa gak mau berhenti Hem?".tanya Andra terkekeh kecil.
"Gak tau air matanya nakal, ".ucap Dira dengan membersihkan ingusnya menggunakan kemeja yang dipakai oleh Andra.
"Iya nanti biar kakak marahin air matanya".hibur Andra.
Saat akan menjawab kembali, suara pintu yang terbuka menghentikan suaranya yang sudah ingin keluar. Mereka kompak melihat kearah pintu yang menampilkan pria yang sama dengan pria yang datang bertamu ke rumah Andra semalam. Pria itu menatap datar kearah Dira yang berada dipangkuan Andra.
"Kenapa?".tanya Andra dingin seperti biasa.
"Ini soal yang semalam".ucap pemuda itu duduk di depan kursi kebesaran Andra yang hanya terhalang oleh meja.
"Sayang turun dulu ya, kakak mau kerja".ucap Andra mencoba membujuk Dira yang tak bergerak dari posisi nya.
"Gak mau, aku nyaman kaya gini"tolak Dira dengan cepat. Ia kian menenggelamkan wajahnya pada d**a bidang milik Andra. Tangisnya sudah berhenti saat pemuda itu masuk tadi, sebenarnya ia hanya malu untuk menampilkan wajahnya yang pasti sudah sembab.
"Bentar aja, nanti kakak peluk lagi hmm".Andra masih mencoba membujuk Dira. Ia sebenarnya tidak masalah Dira berada dalam pangkuannya , yang jadi masalah adalah ia merasa tidak bisa bergerak bebas, jika tentang pemuda didepannya ia tak masalah pemuda itu aku berpikir seperti apa.
"Dasar manja".ujar pemuda yang duduk didepan Andra. Ia sudah jengah sedari tadi melihat kelakuan gadis manja yang tak lain merupakan tunangan Andra.
"Gak peduli".jawab Dira cuek. Ia malah mencium bibir Andra sekilas. Sebelum kembali menenggelamkan wajahnya. Mengabaikan wajah syok dari dua pemuda itu. dasar Dira tidak tau tempat.