Cindy
Malam ini, malam ketiga aku datang untuk ladies night di club Bianca's ini. Club ini hanya dikunjungi oleh orang-orang dari kalangan atas, tapi ada juga orang-orang yang 'mengincar' orang atas datang ke club ini. Seperti aku. Dengan dress ketat biru dongker, walau tubuhku cenderung krempeng, tapi tetap saja aku harus pede maksimal. Dengan rambut keriting yang aku cat coklat kubiarkan terurai, membuat pesonaku semakin kuat.
Akhirnya setelah tiga malam tiga minggu, aku melihat pria tampan ini, wajah yang bule, mungkin di keturunan campuran, hidung yang mancung dan besar, ough... titiuw nya semancung dan sebesar apa tuch? Ough, adek minta dicelup bang... Badannya juga bagus, tidak gemuk tidak kurus, jari-jarinya panjang, ough bisa sampe mentok ga ya?
Lihat ada cewek cantik, semok atas bawah, pakaian dan tasnya branded, sepatunya limited edition. Cewek high class. Parah sih, cewek seperti itu ditolak sama nih laki... Emh, kamu membuat dedek semakin menginginkanmu babang tamvan.
Aku dekati dirinya, dia duduk di kursi bar, aku memesan scotch, aku lirik dia, dia sedang galau rupanya, putus cinta kah? Ouh... siapa b***h itu yang berani menyuramkan raut wajahmu babang?
"Kamu tahu ga? Sejarah alkohol." Sambil memegang gelas scotch wishky pesananku lalu melirik kearahnya, dia membalas tatapanku.
"Apa?" Jawabnya. Wow he click the bait.
"Alkohol itu asalnya dari timur tengah sana, daerah Arabia sana, disana alkohol itu lebih banyak dijadikan obat luka luar, bisa dibandingkan dari buku-buku sejarah sana juga dari beberapa kitab suci, biasanya alkohol itu buat luka luar, lalu terjadilah perang antara Eropa dan Arabia." Aku berhenti sejenak, memperhatikan apakah dia masih tertarik dengan ocehanku ini?
"Lanjutkan." Katanya, datar.
"Lalu sama tentara Eropa, dibawa pulang ke Eropa, jadi obat juga, tapi obat luka dalam." Aku langsung menenggak one shoot minumanku.
"Hahahaha nice joke. Aku hampir percaya kalau itu sejarah sungguhan."
"Tapi memang alkohol pertama kali dari timur tengah sana, mungkin karena mereka sudah punya ragi dari jaman dahulu."
"Jadi ini sejarah betulan?"
"Ya, ngga, itu karanganku aja, hastag Cindy Pedia." Aku sengaja memberitahu nama samaranku terlebih dahulu, jaga image dikit dong.
"Oh jadi nama kamu Cindy, nama yang bagus. Aku, Sofio."
"Wow, malaikat kejujuran, jangan-jangan kamu salah satu dari manusia setengah malaikat."
"Jarang yang tahu nama Sofio." Ujarnya sambil menyesap long island.
"Namamu dan wajahmu berbanding lurus. Nama malaikat, wajah malaikat." Tapi kalau di ranjang malaikat atau iblis bang? Pikirku nakal. Nakalin adek bang... please...
Aku harus cari cara agar dia bisa aku kendalikan. "Kamu mau aku ceritakan sebuah sejarah lagi?" Kataku untuk memancingnya.
"Boleh." Jawabnya.
"Tapi kamu harus minum ini dulu." Aku sodorkan gelas scotch yang sudah aku kasih obat perangsang.
"Emh..." Dia tampak ragu.
"Ya, kalau ga mau juga gak papa sih, ini prolog dari sejarahnya, kamu harus minum ini supaya tahu rasanya, jadinya nyambung, tenang aku yang bayar." Ujarku meyakinkan dia. Ayo dong babang diminum...
-Glek glek glek- one shoot. Dia meminumnya. Daebak.
"Sudah. Rasanya ga enak banget! Kok kamu bisa suka kayak begini?"
"Hidup bukan hanya untuk mampir minum kopi aja bang, tapi sekali-sekali minum whisky juga, biar tahu hidup itu ga cuma pahit aja tapi kadang bikin puyeng juga."
"Hahaha, kamu lucu, tapi... aku... aku sepertinya harus ke toilet." Dia pergi ke arah toilet... Uuh efeknya udah bekerja. Aku mengikuti dia. Dia hampir menjatuhkan tubuhnya.
"Sofio? Kamu gak papa?"
"Aku... aku... pusing banget."
"Ayo aku antar pulang" Tawarku padanya.
"Tapi aku bawa mobil."
"Ya sudah aku bawa mobilnya, kamu kasih alamatmu."
"Apartemen Green Pearl, penthouse."
WTF. Penthouse? Good job girl, it's a jackpot.
***
Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan penamaan tokoh, tempat dan atau lainnya itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan.
Palgiator dilarang nyolong!
Terimakasih buat para pembaca, tolong kasih bintang 5, like dan komen.