Edward POV
Nyatanya aku makin tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Jennie memang sedang libur hari ini, karena projek akan masuk dalam tahap editing. Namun, wanita itu tetap memenuhi rongga kepalaku hingga rasanya hampir pecah. Leherku tegang, dan aku sudah menghabiskan 5 cangkir kopi sejak tadi pagi.
Parahnya, ini adalah keadaan rapat. Semua team-ku seolah penasaran dengan keadaanku, namun aku tahu jika tidak seorangpun dari mereka yang berani bertanya jika sudah menyangkut masalah pribadi. Aku tahu hal itu.
“Bos, seseorang ingin menemui Anda di luar. Rapat juga sudah selesai, aku akan menyelesaikan sisanya, sebaiknya Anda istirahat dulu. Kelihatannya Anda tidak baik-baik saja!”
Suara Cindy membuyarkan lamunanku. Benar, sepertinya semua tatapan di meja rapat tertuju padaku. Aku jadi merasa kasihan pada diriku sendiri. Menertawakan diriku yang bahkan tidak tahu harus seperti apa. Semua pikiranku di penuhi dengan ucapan Jennie. Si rubah itu benar-benar mempengaruhi otakku.
“Siapa yang datang?”
“Aku rasa itu nona Rose, bos. Dia terlihat kesal sejak tadi, dia sudah hampir 2 jam menunggu Anda!”
“Baiklah, aku keluar dulu!”
Benar, begitu aku tiba di ruanganku. Rose dengan tatapan matanya yang tajam menodongku seolah aku sedang kepergok selingkuh. Aku menarikkan satu tangan saat Rose hendak bicara, dia lekas diam dan hanya mengikutiku ke arah sofa.
Di tangannya ada sekantong makanan. Terlihat jelas karena kantong dan bungkus plastik itu transparan. Aku sama-sekali tidak lapar, padahal sejak pagi sama-sekali tidak menyentuh makanan. Aku hanya diam dan memperhatikan Rose yang sudah beranjak dan menuangkan makanan itu ke atas piring yang entah sejak kapan sudah ada di ruanganku.
“Astaga, Ed. Kenapa kau sangat kacau sekali? Istrimu menyuruhku untuk membelikan ini padamu, dia bilang kau belum sempat makan dan kau katanya sibuk?”
Perkataan Rose lebih mirip ke arah interogasi, sebelah alisnya bahkan terangkat saat mengatakan kalimat terakhir. Aku tidak terlalu peduli, aku hanya bisa diam.
“Rose, apa kau sudah punya kekasih?”
“Kenapa tiba-tiba otak sintingmu itu bertanya seperti itu?” nada suara Rose tiba-tiba berubah, seperti dia tidak suka ditanya topik itu. Jelas itu bukan gaya khas dari sahabatku itu. Aku sangat tahu Rose, dan aku jelas tahu jika dia tengah menutupinya dariku.
“Siapa?”
“Ck, makan dulu!”
“Sudah berapa lama? Kenapa kau tidak memberitahu pada kami? Kau ini sahabat kami, tapi terus saja bertindak seorang diri tanpa mengatakan apa-apa. Sekarang katakan padaku jika…”
“Tapi tolong jangan beritahu pada orang tuaku, Ed. Aku masih tidak siap jika harus menikah saat ini, kau tahu, aku lebih suka hidup sendiri!”
“Apa kau masih trauma?”
Sebagai teman, aku, baik Arina dan Kay, tau semua masing-masing masa lalu setiap orang. Termasuk masa lalu Rose yang tidak terlalu baik dalam dunia percintaan. Ditinggal menikah adalah hal yang menjadi trauma bagi setiap orang, tidak hanya bagi wanita saja, tapi juga bagi laki-laki.
Rose sekarang ini adalah Rose versi terbaik dalam hidupnya, sepanjang yang aku amati. Meskipun pertamanan kami ber-4 tidak murni hanya sebatas teman, namun aku beruntung memiliki mereka. Rose memang pernah menyukaiku, namun aku tidak bisa membalas perasaan itu.
Anggukan Rose cukup memberitahuku bahwa dia masih trauma.
“Dia seorang pelukis, dan juga menyukai seni sepertimu. Aku harap hubungan kami baik-baik saja, dan…aku harap dia bisa menerimaku!”
“Siapa namanya?”
“Berhenti mengintrogasiku, Edward. Makanlah, kau terlihat seperti mayat hidup, bagaimana bisa Hana masih bertahan menjadi istrimu? Kenapa kau tidak menceraikannya saja dan mungkin Jennie bisa menjadi wanita incaran mu, Ed. Dia menarik dan tidak membosankan!”
“Berhenti membicarakan Hana, Rose. Aku tidak suka kau menjelek-jelekannya seperti itu.”
“Tapi dia alasan kau dicoret dari keluarga Dominic, Ed. Apa kau lupa bagaimana kau…”
Bruhhh
Entah kenapa aku membanting meja dengan tiba-tiba. Rose terkejut, begitu juga dengan Cindy yang baru saja masuk. Rose berdecak kesal, dan segera bangkit berdiri. Aku tahu jika Rose tidak pernah menyukai Hana, tapi sekarang Hana adalah istriku.
“Kau akan menyesal, Ed. Aku pergi dulu, dan satu lagi, nama pacarku Peter!”
Rose segera beranjak pergi.
“Berapa usianya, Rose?”
Aku mencegatnya sebelum benar-benar menghilang dari ruanganku. Cindy yang tahu dengan keadaan ini segera keluar dan menutup pintu. Rose berbalik dengan wajah memerah, dia menatapku dengan takut-takut. Kali ini sepertinya dugaanku benar, Rose pasti memacari berondong lagi. Dia benar-benar tidak bisa diajak bicara. Bagaimana bisa seorang wanita memacari lelaki yang lebih muda darinya?
Atmosfer di ruang kerjaku sudah mulai memudar. Rose kembali duduk di hadapanku dan menundukkan wajahnya yang memerah.
“25 tahun!”
Cukup sudah. Rose sudah berusia 30 tahun, dan sebentar lagi akan memasuki usia 31 tahun. Berpacaran dengan lelaki di bawah umurnya adalah hal yang hampir tidak benar. Dulu, Rose juga mengalami hal yang sama. Dia berpacaran dengan lelaki berusia 20 tahun saat dia sudah beranjak 25 tahun.
Dan lihat? Hubungan mereka tidak berhasil.
Lelaki yang lebih mudah umumnya tidak memiliki pikiran yang matang.
“Aku…”
“Aku menyukainya, Ed. Begitu juga dengan dia. Terkait dengan masa laluku, dan juga masalah dia lebih muda, aku sudah mempertimbangkannya lebih dulu. Dia berbeda, dan aku yakin dia bisa membuatku bahagia. Tolong jangan mengkhawatirkan mengenai keputusanku, karena ini adalah masalah asmaraku sendiri!”
Tidak ada yang bisa aku katakan, sebab aku sendiri juga masih dilanda dengan dilema. Dan perkataan Jennie beberapa hari lalu kembali terbesit di pikiranku.
“Apa kau tidak peduli pandangan orang lain?”
Seketika itu juga Rose terkekeh dan menepuk pahaku dua kali.
“Kenapa aku harus peduli dengan stigma orang lain, Ed? Aku makan dari hasil kerja kerasku sendiri, dan aku tidak membuat mereka rugi. Toh juga mereka tidak akan memberiku makan jika aku mendengarkan mereka. Selagi masih ada kesempatan, aku hanya ingin memanfaatkannya.”
“Apa kau…bahagia?”
Wajah Rose mendadak memerah, dan aku sudah tahu jawabannya.
“Dia membuatku tidak bisa memikirkan pria lain yang mendekatiku, Ed. Dia membuat jantungku bergetar, dan dia membuatku nyaman. Mungkin masa laluku membuatku trauma untuk pergi ke jenjang pernikahan, tapi dia datang dengan segala daya tariknya. Apa yang harus aku lakukan saat hatiku juga menginginkannya?”
***
Pembicaraan siang itu dengan Rose membuatku tidak lagi bisa berkutik. Aku lekas menyambar ponselku begitu semua rapat dan pekerjaan telah usia, dan mengetikkan pesan pada Jennie. Aku harap dia membalasku.
“Bos, masih di studio?”
Cindy menatapku dari balik pintu, hanya setengah badannya yang kelihatan. Dia sepertinya sedang buru-buru. Aku mengangguk singkat.
“Semuanya sudah diamankan, saya pamit dulu bos. Ingat jika bos juga butuh tidur!” Teriak Cindy dari kejauhan, namun aku masih mendengar dengan jelas teriakannya.
Gadis itu juga berbakat, dan pantang menyerah. Dia sudah menjadi bagian dari studioku ini sejak mulai merintis. Tidak ada pernah aku lihat pekerjaannya mengecewakan.
Aku di depan
Membaca pesan singkat itu, aku lekas beranjak dari dudukku dengan sedikit semangat. Namun, sebelum pergi, aku kembali menatap ponselku. Panggilan dari Hana membuatku tertahan. Tapi Jennie sudah di depan. Aku memilih untuk menutup ponselku, dan membuangnya entah kemana.
Jennie kini berada di depanku. Dia mengenakan training berwarna serba hitam, jaket denim hitam menutupi bagian atasnya yang sedikit menerawang. Dia memang selalu datang dengan berbagai kejutan. Senyuman di wajahnya mengalihkan perhatianku.
Dengan segera kami pergi ke kantorku, aku tidak ingin ada yang melihatku dengan seorang wanita pada jam seperti ini, melihat bahwa aku memiliki istri dan seorang putri yang menungguku pulang.
Kini kami duduk saling berhadapan, dia membawa minuman juga.
“Kau tidak keberatan aku membawa minum bukan? Pembicaraan tanpa minum rasanya ada yang kurang!”
“Tidak masalah!”
Jennie tersenyum sambil menuangkan alkohol itu ke dalam gelas yang ada di atas meja. Lalu duduk sambil menyilangkan kakinya seolah sudah siap dengan pembicaraan kami yang sejujurnya, aku juga tidak tahu harus memulai dari mana.
“Banyak hal yang aku pikirkan setelah pembicaraan kita saat itu. Kau membuatku tidak bisa memegang janji pernikahan yang sudah aku ucapkan di altar, Jane!”
Jennie POV
“Banyak hal yang aku pikirkan setelah pembicaraan kita saat itu. Kau membuatku tidak bisa memegang janji pernikahan yang sudah aku ucapkan di altar, Jane!”
Aku tersenyum senang mendengar kata-kata itu akhirnya keluar dari mulut Edward. Dia tersenyum dengan smirknya yang membuatku tidak bisa menahan diri. Bahkan senyumannya saja bisa membuatku tidak berkutik.
“Jadi, kau siapa untuk perjalanan baru?”
Edward sedikit lama untuk menjawab, namun akhirnya dia mengangguk.
“Aku senang mendengarnya, jadi, mari kita rayakan dengan minum?”
Kini suasananya benar-benar berbeda setelah pengakuan Edward beberapa jam lalu. Botol minuman kami sudah hampir habis, padahal aku membeli dengan ukuran besar. Suasana ini lebih santai, dan aku menyukainya.
Kami saling menatap satu sama lain, tersenyum dan saling menatap penuh dengan rasa yang baru. Aku tidak tahu jika semua keputusan yang aku ambil ini benar. Dari semua kenalan orang berbahaya yang pernah aku jalani, keterlibatan tidak pernah aku lakukan, kecuali bersama dengan Edward.
Dia terlalu berharga untuk aku lewatkan.
“Jadi, kau selalu memanggilku Jane. Kenapa?” Aku mengingat jika dia selalu memanggilku dengan nama itu, dan kedengarannya sangat seksi jika kata itu keluar dari bibirnya. Rasanya aku ingin mendengarnya dengan keadaan yang lebih seksi lagi. Maksudku, saat kami sama-sama berada dalam surga duniawi, dan saling mendesahkan nama masing-masing.
Sialan, aku bahkan sudah o*****e saat memikirkan hal itu.
“Karena, aku suka memanggilmu seperti itu. Lebih dari itu, aku ingin memanggilmu seperti itu saat kita tengah melakukannya!”
Edward sepertinya sudah setengah sadar, dia menatapku sejak tadi. Itu bukanlah satu hal yang baik bagiku. Aku mendekatkan tubuhku kepada nya, dan meniup telinganya. Edward memejamkan matanya, dan itu benar-benar seksi. Sialan, bagaimana mungkin dia diciptakan dalam keadaan begitu sempurna seperti ini?
“Ed, kau tau apa yang lebih seksi dari ini?”
“Hmmm?” Edward membuka matanya dan menatapku.
“Saat kita saling…”
Sebelum aku selesai menyelesaikan kalimatku, bibirku sudah lebih dulu di tindih oleh bibir tebal nan seksi milik Edward. Ini benar-benar dadakan sekali, jika biasanya aku yang memulai lebih dulu, maka kali ini dia yang memulai. Suatu kemajuan yang tidak terpikirkan olehku sebelumnya.
Aku begitu menyukai tindakan spontan Edward.
Tanganku dengan cepat mengalung di lehernya, meraih bibir bawahnya di antara gigiku. Aku suka melakukan itu karena membumbui ciuman. Tapi aku terkejut saat tangan Edward mencengkram pinggangku dan mengangkatku sehingga aku bisa mendekat dan duduk di atasnya. Ini benar-benar lampu hijau. Aku menggerakkan pinggulku secara perlahan dan sensual, memberikan tekanan pada tonjolan yang sedang tumbuh semakin besar di antara pahaku.
Sialan, baru saja seperti ini aku sudah basah.
Dia dengan kasar memasukkan lidahnya ke dalam mulutku dan mulai merasakannya. Edward benar-benar sangat ahli dalam membuatku tidak berkutit. Dia mengabsen semua sisi mulutku, dan belum pernah hal ini terjadi sebelumnya. Tangannya mendorong tengkukku untuk memperdalam ciuman kami. Salah satu tangannya mulai menyusup hingga ke bokongku, meremasnya dengan pelan, namun mampu membuatku mendesah.
Sejak kapan tangannya memasuki celanaku?
“Apa ada yang pernah memuji b****g indahmu ini, Jane?” dia bertanya sambil menyerang bibirku kembali, bahkan aku sedikit mengeram saat dia menggigit bibirku pelan. Seolah bibirku adalah permen baginya, sepertinya bibirku tidak akan berbentuk lagi karena ulahnya.
Tapi aku menyukainya.
“Aku tidak pernah memperhatikan lawan mainku saat kami sedang bercinta, Ed!”
“Mmmhhhh…” Edward untuk pertama kalinya mendesah saat tanganku dengan nakal menyentuh benda keras itu.
Dia mengencangkan genggamannya, dan meremas pinggangku seolah dia mengendalikan dirinya untuk tidak menelanjangiku di sini sekarang. Aku hampir saja melucuti pakaiannya sebelum ingat akan satu hal yang lebih baik dari sini.
“Sebaiknya kita pergi ke apartemenku, akan terasa lebih nikmat jika kita menodai ranjang putihku!”