5

765 Kata
Jehan tersentak bangun karena mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Dia terengah. Matanya membelalak liar selama beberapa saat, lalu mengerjap bingung, mencoba mencerna apa yang terjadi.   Jehan sadar, saat ini dia tidak berbaring di tengah sawah seperti yang ada dalam mimpinya. Sekarang dia sedang berada di dalam sebuah bilik kamar, dengan sebuah tempat tidur berseprai putih, dan meja kecil di sampingnya. Bangun dari posisi berbaringnya, Jehan mendengus saat menyadari bahwa kausnya basah oleh keringat. Sudah tiga tahun setelah perang antar saudara sedesa itu selesai, namun Jehan masih tidak bisa menghilangkan traumanya. Melihat Andi dan Aldo dikeroyok oleh orang-orang yang membawa s*****a tajam, membuatnya berpikir bahwa dia telah kehilangan dua orang laki-laki yang sangat penting dalam hidupnya. Tapi kenyataannya melegakan, Andi selamat, walau dalam keadaan babak belur, setelah berhasil mengalahkan para pengeroyoknya, Andi berusaha mencari sang kakak. Sedangkan Aldo, dia memang berada dalam kondisi kritis karena pengeroyokan itu, tapi dia selamat. Hanya dia harus mendapat beberapa jahitan pada bagian punggung dan perutnya. Selain itu lengan kanannya patah, dan rusuknya memar. Sementara Jehan, karena sebuah keberuntungan dia tidak tersakiti, polisi dan warga menemukannya pingsan di tengah sawah, dengan luka memar pada bagian lutut kaki dan siku. Polisi berhasil mengendalikan keadaan di desa. Beberapa provokator yang memicu p*********n warga kampong bawah ke warga kampong atas ditangkap. Anggota geng Brandalz, seperti Agus, Tio, Baldi, dan Abdilah, juga ditangkap karena mereka dianggap sebagai biang dari permasalahan yang terjadi. Setelah kejadian itu hubungan Andi, Edo, dan Aldo membaik. Keluarga Pak Irwan Hamzah, sementara harus pindah ke rumah saudara mereka di desa lain, sampai rumah mereka—yang sudah hangus dan rata dengan tanah—selesai dibangun kembali. Dan Aldo, seminggu setelah keluar dari rumah sakit, Aldo mengumumkan secara resmi bahwa dia keluar dari geng Brandalz, dia mati-matian mengubah imejnya dari pemuda berandal tukang buat onar menjadi pemuda baik-baik untuk … well, baca saja sendiri kelanjutannya. “Je?” Jehan menoleh saat pintu kamar terbuka, memperlihatkan siluet sosok laki-laki tegap yang sedang membawa plastik belanjaan. “Hai,” sapa Jehan muram. Dia menggigil saat merasakan dinginnya udara laut malam yang menyelinap melalui celah pintu yang terlambat ditutup oleh si lelaki. “Mimpi buruk?” tanya laki-laki itu perihatin sembari berjalan menghampiri Jehan, lalu meletakan barang belanjaannya di meja yang berada di samping tempat tidur. Jehan mengangguk. Laki-laki itu mendesah sedih, dia mengacak pelan rambut Jehan. “Kamu dari mana?” tanya Jehan pada suaminya. Aldo tersenyum lembut. “Habis keluar sebentar beliin cemilan buat kamu di kapal. Ada biskuit, roti, pop mie, sama beberapa minuman kaleng.” Dia mengacak-acak belanjaannya. “Well, sejak perjalanan naik bus dari Jakarta ke Surabaya, kamu selalu lapar dan nggak bisa berhenti ngemil. Dan setelah naik kapal di Banyuwangi, aku baru sadar kalau cemilan kamu sudah habis. Jadi deh aku turun buat belanja. Aku nggak mau istri aku kelaparan,” Aldo tersenyum nakal sambil mengedipkan sebelah matanya pada Jehan, yang dibalas Jehan dengan pukulan ringan main-main pada lengan kanannya. Mereka menikah dua tahun yang lalu, dan sekarang Jehan dan Aldo dalam perjalanan pulang ke desa untuk menemui orang tua mereka. “Aku selalu lapar karena aku hamil Al,” kata Jehan sembari menepuk pelan perut hamilnya yang masih agak rata, karena baru berusia tiga bulan. ”Itu bagus.” “Kalau lapar dan makan kayak gini terus, bisa-bisa di bulan kelima kehamilan aku udah segendut induk kerbau,” keluh Jehan menarik tangan Aldo untuk duduk di sampingnya. “Nggak apa-apa, orang yang endut itu seksi lho.” “Halah! Gombal!” gerutu Jehan sambil memutar matanya. “Oh ya, sekarang kita ada di mana?” “Masih di Selat Bali, kayaknya nunggu antrian buat berlabuh. Di pelabuhan masih banyak kapal,” jelas Aldo. Jehan mengangguk. “Owh, pantas aja kamarnya masih muter-muter,” komentar Jehan skeptis. Dia baru menyadari kalau dia mabuk laut. Aldo terkekeh. “Ya udah kalau gitu kamu istirahat aja.” Jehan menggeleng. “Nggak mau. Makin tiduran makin pusing, ngeliat langit-langit kamar muter.” “Kita duduk di luar aja kalau gitu. Rame lho, asik. Jehan menyipitkan matanya ke arah Aldo, “Kamu mau aku muntah di dek?” “Terus kita ngapain?” tanya Aldo. Ekspresi bingung pengacara muda itu berubah menjadi senyuman hangat saat Jehan menyusup masuk ke dalam pelukannya. “Kamu mau kita duduk kayak gini?” “Hu’um, kalau kayak gini aku nggak pusing,” jawab Jehan sambil mengangguk. “Ya udah. Aku bakal peluk kamu kayak gini terus, sampai kapalnya berlabuh di pelabuhan.” Jehan hanya tersenyum mendengar janji Aldo. Sejak dulu, ketika pertama kali melihatnya, Jehan sudah tahu kalau Aldo adalah lelaki terbaik untuknya. SELESAI  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN