4

2104 Kata
Perang saudara antar penduduk satu desa itu terjadi selama beberapa hari. Edo dan Aldo yang tidak terima rumah orang tua mereka dirusak warga kampung bawah, mengumpulkan teman-temannya dan juga s*****a untuk membalas orang-orang kampung bawah. Saling memprovokasi dan menyerang di jalanan besar yang kebetulan berada di depan rumah Jehan dan Andi. Beberapa kali Bu Irwan berusaha membujuk suaminya agar mereka pergi mengungsi ke rumah kerabat untuk berjaga-jaga kalau keributan besar terjadi, namun Pak Irwan menolak untuk mengungsi. Beliau mengatakan ; "Mereka nggak akan ngegangguin kita. Kita nggak ada hubungannya sama kerusuhan ini." Bu Irwan hanya bisa mengalah menerima keputusan suaminya. "Tawuran lagi? Di siang bolong?" Jehan mengernyit heran saat melihat beberapa lelaki mondar-mandir di jalan besar depan rumahnya dengan membawa golok dan panah. "Sepertinya begitu Kak," sahut Naufal yang siang itu nongkrong di rumah Andi. Katanya sih mau nonton tawuran. "Di depan g**g Lavendo, beberapa anak-anak Brandalz udah siaga sama s*****a masing-masing." Jehan mengangguk dan ikut duduk di teras bersama adik-adiknya dan Naufal. "Katanya hari ini mereka mau nyerang kampung bawah," gumam Andi sambil mengiris mangga harum manis yang baru saja dia colong dari kulkas Mama. "Iya." Naufal kemudian tertawa. "Si Tio dari pagi tadi udah siaga di Lapangan ngumpulin teman-temannya buat nyusun strategi. Gayanya sok kayak pemimpin pasukan militer." Andi mendengus sinis. "Mau pake strategi apapun mereka tetap bakal kalah. Jumlah mereka sedikit, yang dilawan orang sekampung, kalau mereka berani nyerang ke kampung bawah yang pulang idup-idup palingan cuma dua atau tiga orang," gumam Andi sembari memakan irisan mangganya, "Seperti Edo, Aldo, sama ... Errr ... siapa tuh yang dekil yang badannya besar?" Dia bertanya pada Naufal. Naufal terbahak. "Sam?" "Iya. Sam.” Tak lama kemudian, anak-anak geng Brandalz yang sedang dibicarakan lewat di depan rumah mereka, sambil menenteng s*****a tajam (seperti golok, linggis, panah) dan s*****a api rakitan. Edo dan Aldo ada dalam kelompok itu. Beberapa diantara anak-anak geng Brandalz melirik sinis ke arah Andi, Naufal, Jehan, dan Fathan, yang hanya dibalas Andi dengan seringai mengejek. Mata Jehan tertumbuk pada pada tatapan gelap Aldo, mereka saling berpandangan selama beberapa detik, setelah itu Aldo membuang muka dan berjalan mendahului teman-temannya ke tempat tujuan. "Kita namain mereka apa nih An?" tanya Naufal geli. "Pasukan militer Israel atau gerilyawan Palestina?" Andi terkekeh. "Apa aja boleh deh." Perang antar saudara satu desa yang berlangsung siang itu memakan korban tiga orang, dan semuanya dari kampung bawah. Dua orang terkena panah di lengan kanan, dan perutnya. Sementara satu orang terkena peluru s*****a rakitan di leher. Anak-anak geng Brandalz pulang dengan ekspresi puas setelah membuat beberapa musuh mereka terluka.   ***   Pukul dua belas tengah malam, semua orang yang berada di kampung atas dilanda kepanikan. Si jago merah melalap habis beberapa rumah. Dan orang-orang dari kampung bawah tiba-tiba menyerang dengan membabi buta untuk mencari anggota geng Brandalz, mereka marah karena Brandalz kembali melukai tiga orang dari pihak. "s****n! Apa-apaan mereka?!" geram Pak Irwan kesal sambil berusaha mengeluarkan motornya dari garasi. Di luar rumah orang-orang telah berhamburan panik. "Kita mau kemana Ma?" tanya Fathan takut. Tubuhnya gemetaran melihat kekacauan yang terjadi. Beberapa rumah tetangga mereka telah dibakar warga. "Kita ke rumah Nenek, Sayang," jawab Bu Irwan terlihat agak kerepotan dengan barang bawaannya. Koper pakaian, dan tas yang berisi berkas-berkas penting. "Surat-surat penting dan Ijazah anak-anak udah dimasukin, Ma?" "Iya. Ada di tas ini," Bu Irwan menunjukan tas besar yang dia tenteng. "Surat-surat penting, Ijazah Jehan, Andi, Fathan, sama beberapa ATM dan buku tabungan semua ada di sini," jelasnya. "Ya udah ayo kita pergi. Andi bonceng Kakakmu!" "Iya Pa!" sahut Andi sembari mengeluarkan motor matiknya dari garasi. Dia masih sedikit mengantuk. Andi dan Jehan sama-sama masih memakai pijama dan baju tidur mereka. Motor Pak Irwan dan motor Andi yang membonceng Jehan melaju beriringan. Motor Pak Irwan tak mendapat masalah apapun saat melewati perbatasan desa, namun motor Andi ditahan oleh beberapa pemuda bertopeng yang membawa s*****a tajam. "s****n!" gumam Andi waspada sembari turun dari motor, dan menjaga Jehan agar tetap berada di belakangnya. "Kamu anak kampung atas kan?" tanya salah satu pemuda bertopeng, yang bertubuh tinggi, dia memutar-mutar goloknya dengan penuh gaya. "Ya. Aku tinggal di kampung atas, tapi aku bukan anggota Brandalz," jawab Andi hati-hati. "Halah! Bohong," sambar teman si 'tubuh tinggi'. "Semua anak muda kampung atas yang seumuran kamu anggota Brandalz, jangan coba-coba bohong sama kami!" Andi mendesah. Dia tahu orang-orang di depannya tidak akan percaya pada apapun yang dia katakan, jadi dia harus bersiap untuk segala kemungkinan terburuk. "Kak Jehan," bisik Andi pada Jehan yang sudah pucat dan gemetaran di belakangnya. "Andi?" Jehan mencengkram lengan Andi takut. "Kalau aku nyuruh kakak lari, kakak harus langsung lari dan sembunyi," instruksinya. Mata Jehan melebar ngeri. "T-tapi ..." "Nggak ada tapi-tapian. Pokoknya kalau aku bilang 'lari', kakak harus lari." Andi menatap Jehan tajam, setelah beberapa detik terdiam, Jehan kemudian mengangguk. Dan ketika beberapa pemuda bertopeng itu mengambil ancang-ancang untuk menyerang, Andi berseru pada Jehan, "Lari Kak!" Dengan ketakutan Jehan berlari meninggalkan Andi yang dikeroyok oleh para pemuda kampung bawah. Sesekali dia menoleh ke belakang, untuk melihat sang adik yang mencoba melawan mereka. Jehan menangis. Dia ketakutan dan kebingungan. Dia terus berlari tak tentu arah, berharap tak terjebak dalam perkelahian dan ada seseorang yang menyelamatkannya. *** Dengan panah di tangan, Aldo mengintai dan mengawasi musuhnya dari sebuah rumah kosong yang ada di sebelah kanan g**g Lavendo. Mereka semua (anak-anak Brandalz) tidak menyangka kalau orang-orang kampung bawah berani menyerang, Aldo dan teman-temannya pikir orang-orang kampung bawah akan menunggu sampai besok pagi untuk menyerang, karena setelah kerusuhan yang terjadi siang tadi polisi mulai berjaga di perbatasan kampung atas dan kampung bawah. Mungkinkah para polisi tidak sanggup menahan massa? Aldo mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah tempat persembunyiannya. Dia segera menyiapkan busur dan panah, dan perlahan melangkah ke arah pintu untuk membidik siapapun musuh yang mendekat. Dan ketika panah itu ditodongkan ke kepala si musuh, musuh itu memekik ketakutan hingga jatuh berlutut ke lantai. "Jehan?" Aldo tertegun saat mengetahui bahwa Jehan adalah orang yang dia todong. "Je?" Menurunkan busur dan panahnya, Aldo berlutut di depan Jehan yang terisak histeris, tubuh gadis itu bergetar hebat. Jehan menangis, tak menyahut panggilan Aldo. "Ya Tuhan, Jehan," ucap Aldo perihatin sembari memeluk dan menenangkan Jehan, dia lalu membawa Jehan untuk bersembunyi di dalam rumah kosong. "Je. Ngapain kamu kelayapan di sini? Seharusnya kamu pergi ngungsi sama keluarga kamu. Bahaya kalau kamu tetap ada di sini," dia menangkup wajah Jehan dengan kedua tangannya, menghapus air matanya menggunakan jempol tangan. Jehan tak menjawab. Dia masih menangis sesengukan. "Oh ya. Andi mana? Adik macam apa dia? Nggak seharusnya dia ninggalin kamu di tempat yang berbahaya seperti ini?" geram Aldo. "Andi ... Andi ..." gagap Jehan. "Andi dikeroyok anak-anak kampung bawah di perbatasan desa." "Ya Tuhan." Aldo mendesah putus asa sambil kembali memeluk Jehan. Suara keriuhan teriakan dan dentingan s*****a yang dipukulkan ke jalanan, meredam suara isakan gadis itu. Setelah tangis Jehan mereda, Aldo kemudian berbisik padanya. "Kita harus pergi dari sini. Aku bakal ngebawa kamu ke tempat yang aman." Dia terdiam sejenak. "Mungkin aku bakal ngebawa kamu ke perbatasan desa buat mastiin kamu nggak terluka." Dia merenung lalu mengajak Jehan berdiri bersamanya. Mereka mengendap-endap keluar dari rumah kosong. Menghindari untuk bertemu dengan para warga kampung bawah yang mengamuk. Jehan kembali gemetar takut, dia mencengkram erat lengan Aldo, saat melihat lidah api yang m******t-jilat rumah warga di kegelapan malam. Hampir semua rumah warga kampung atas terbakar, termasuk rumah Jehan. "Sssstttss." Aldo memberi isyarat pada Jehan untuk diam, ketika mengetahui gadis itu akan kembali histeris. "Tenang Je, jangan takut. Aku ada disini buat jagain kamu," janji Aldo. Aldo menuntun Jehan ke arah jalan menuju sawah dan kebun. Dia ingin membawa Jehan ke desa tetangga melalui jalan pintas, setelah memastikan Jehan aman dia akan kembali ke kampung atas untuk membantu teman-temannya. "s**l!" maki Aldo pelan saat melihat tiga orang laki-laki dari kampung bawah, membawa golok, berjalan di sekitar pematang sawah. Dengan cepat dia menarik Jehan agar bersembunyi di semak-semak. "Apa yang mereka lakukan?" bisik Jehan takut. "Patroli mungkin. Sepertinya mereka takut kami akan kabur ke desa tetangga melewati jalan ini," ujar Aldo. Mereka kemudian terdiam, menunggu orang-orang itu pergi, supaya mereka bisa kabur ke desa tetangga melalui pematang sawah. Hening. "Kenapa?" tanya Jehan pelan sambil menatap kegelapan di depannya. "Hmm?" Aldo menoleh ke arah Jehan. "Kamu masih bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. Tapi kenapa kamu malah ngambil jalan kayak gini? Maksudku ..." Jehan mengangkat sebelah tangannya sambil lalu. "... Dengan ikut-ikutan Kak Edo jadi anggota geng. Terlibat hal-hal gila seperti ini ..." Aldo mendesah. "Aku nggak pernah punya pilihan Je." Nggak pernah punya pilihan? Jehan melengkungkan alis. "Bang Edo. Aku nggak bisa ngebantah dia, bukan berarti aku takut sama dia. Aku cuma ... Nggak mau ngecewain dia." Jehan menghala napas berat saat mengetahui bahwa Aldo mulai bercerita tentang keluarganya. "Kamu tahu kan, sejak Ayahku meninggal, Bang Edo yang ngenggantiin posisi Ayah buat jadi kepala keluarga. Dia banting tulang buat ngehidupin kami semua—aku, Ibu, dan kedua adikku. Kehidupan yang keras bikin Bang Edo kayak ... Well, seperti yang kamu tahu, ketua geng, tukang buat onar dan segala macamnya. Tapi Je, asal kamu tahu, Bang Edo itu orang yang baik. Dia penyayang." Aldo menatap Jehan serius, sebuah senyum tersungging di bibirnya saat menceritakan tentang sang kakak. Jehan dapat menyimpulkan kalau Aldo sangat mengagumi Edo. "Dan untuk kasus Hamdi ..." Aldo mengerutkan kening. "Aku sama Bang Edo nggak tahu kalau anak-anak lain nyari masalah di kampung bawah. Agus, Tio, Baldi, sama Abdilah. Ya Tuhan. Anak-anak itu benar-benar sumber masalah," Aldo mendengus frustrasi. "Hamdi itu teman SMA-nya Baldi sama Tio, mereka lulus dua tahun lalu ... Mmm ... Kalau nggak salah mereka adik kelasnya Andi." Dahi Jehan berkerut mencoba mengingat seperti apa wajah Baldi dan Tio, yang merupakan anggota geng Brandalz. Dia yakin pernah melihat atau bertemu dengan mereka di beberapa kesempatan. Tapi ... "Aku benar-benar lupa seperti apa muka mereka," kata Jehan polos. Aldo mendengus geli. "Dulu Hamdi sering ngatain Baldi sama Tio itu cemen, banci. Dan sekarang Baldi sama Tio pengen ngebuktiin sama Hamdi kalau mereka nggak cemen kayak dulu lagi. Tapi mereka malah cekcok, dan ..." Dia mengangkat bahu, "... Terjadilah insiden pembacokan." "Trus kenapa mereka, maksudku gosip yang beredar bilang, kamu terlibat. Padahal kamu nggak tahu apapun soal masalah Hamdi dan yang lainnya?" Aldo menyeringai pahit. "Resiko jadi adiknya Bang Edo," jawabnya singkat. "Maksudmu?" tanya Jehan tak mengerti. "Kamu nggak perlu tahu soal itu. Yang jelas sekarang sebaiknya kita bergegas," Aldo mengintip orang-orang kampung bawah yang tadi berpatroli dari tempat persembunyian mereka. "Orang-orang itu sudah pergi. Ayo!" Dia segera bangun dan menyeret Jehan untuk berlari ke arah pematang sawah. Mereka akan mengambil jalan pintas ke desa tetangga. "Cepat Je!" seru Aldo saat Jehan beberapa kali terjatuh di pematang sawah. Sial bagi mereka, sekelompok laki-laki dari kampung bawah memergoki Aldo yang kabur bersama Jehan lewat sawah. "ADA YANG KABUR LEWAT SAWAH!" "s****n! TANGKAP MEREKA!" "ALDO!" Jehan memekik ngeri. Aldo terus menyeret Jehan. Dan kemudian dia berhenti lalu berbalik untuk memasang anak panah pada busurnya lalu membidik orang-orang yang memburu mereka. Dia memanah beberapa kali. Satu. Dua. Dua orang kena! Setelah itu Aldo kembali lari bersama Jehan. "s****n!" Suara raungan kesakitan dan teriakan marah terdengar di belakang mereka. "KEJAR MEREKA!" "Jehan," panggil Aldo setelah memikirkan beberapa opsi yang tepat untuk menyelamatkan Jehan. "Ya?" Aldo menghela napas berat. "Aku mohon sama kamu. Apapun yang terjadi kamu harus terus lari." Langkah Jehan terhenti mendengar perkataan Aldo. Tidak, tidak, jangan lagi ... Jangan seperti Andi, batin Jehan ketakutan. "Aku bakal hadapin mereka." Dia memegang pundak Jehan. "Kamu harus lari dan cari pertolongan ke desa sebelah," mata Aldo melembut saat melihat air mata mengalir deras di pipi Jehan. "O-okey?" Jehan menggeleng, tak mampu menjawab. "Jehan. Plis. Kita nggak punya banyak waktu ..." Aldo melirik panik pada sekelompok orang marah yang menuju ke arah mereka. Jehan masih menggeleng. Enggan pergi meninggalkan Aldo. Aldo mendesah frustrasi. "Jehan. Plis. Plis. Tolong ... Lari. Demi aku. Demi Andi," mohon Aldo. "Kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu, aku nggak bakalan bisa maafin diri aku sendiri,” katanya. “Aku sayang sama kamu Je, tolong pergi. Demi aku,” bujuk Aldo lagi. “Demi Andi …” Dan ketika orang-orang itu makin dekat, Aldo mendorong Jehan kasar. “PERGI!” Serunya sembari merentangkan busur dan anak panah untuk membidik orang-orang yang menyerang. “Aldo.” Jehan menangis. “PERGI JEHAN!” teriak Aldo marah. Pelahan Jehan melangkah mundur meninggalkan Aldo untuk menghadapi musuh-musuhnya. “Aldo …” “PERGI JEHAN! LARI!” “Hiks … Aldo.” Dan hal terakhir yang Jehan ingat pada malam itu adalah dia yang berlari menjauh, dan orang-orang kampung bawah telah mencapai Aldo. Mereka mengerumuni dan mengeroyoknya hingga … “ALDOOO!” … Jehan Jatuh pingsan di tengah sawah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN