Beberapa hari berlalu, pilek Khumaira masih selalu membuat hidungnya memerah seperti buah tomat matang. Napasnya jadi pendek-pendek mirip orang asma saja. Padahal hari ini ada jadwal yang mulai harus dikerjakan mereka bersama. Tepatnya pukul 10 pagi akan ada rapat anggota keluarga Abinaya, pertemuan pertama bagi Khumaira sebagai pemimpin rapat atau pemegang takhta Abinaya. "Kau sudah bertanya kepada Abati apa yang harus dilakukan?" tanya Khalid. "Mengapa?" "Aku gugup,” kata Khalid khawatir. Khumaira mengangkat wajah dari kertas yang sejak tadi dipelajarinya. "Kau ... gugup?" "Yah, tiap kepalaku ingat nominal harta kekayaan Abinaya, aku takut satu angka tercecer entah ke mana." Khumaira tertawa. "Aku serius, Mai. Uang sebanyak itu bisa mengangkat kehidupan seluruh rakyat miski

