Khumaira sedang berdiri dalam salat Isyanya. Khusyuknya buyar saat suara pintu kamar dibuka perlahan. Jelas Khumaira masih dalam bacaan dan gerakan salatnya, tetapi tak bisa mencegah pikirannya untuk menduga siapa yang datang melewati pintu di belakang sana. Harusnya seorang wanita karena Khalid tak mungkin kembali secepat itu. Namun, rasa tak nyaman Khumaira bertambah besar ketika jelas telinganya menangkap bunyi pintu di kunci, gemerincing anak kunci yang bersenggolan. Khumaira terus salat hingga salam. Bergenderang degup jantungnya saat berbalik dan mendapati seorang pria yang bukan suaminya berdiri menjulang di dekat Khumaira. “Halo, Sayang!” seringainya mengembang. Khumaira takut. Ia tahu dirinya takut, tetapi belum bisa dikatakan sangat takut. Tak akan ia menampilkan hal itu di

