Khumaira sadar kalimatnya. Ia pun yakin Windi sempat terkejut. Faktanya Khumaira tak menyimak cerita Windi, kecuali degup jantungnya sendiri. “Tuan Rahman!” Seorang perawat menarik perhatian pria itu. Rahman menghentikan langkah, “Ya?” “Sebentar lagi istri Anda akan di ----“ Khumaira lewat di sisi mereka begitu saja, tanpa suara. “Khumaira?!” Khumaira mendengar gumaman Rahman tapi ia sadar nama istri Rahman sama dengannya. Maka, ia pun terus melangkah ditemani suara Windi. “Habibaty!" seru Rahman. "Khumaira Abinaya!” Khumaira tak salah dengar, tetap langkahnya anggun diteruskan. Windi yang berbalik sedikit berucap, “Beliau memanggil Anda, Nona.” “Terus melihat ke depan, tetap berjalan!” “Anda ingin saya mengatakan kalau beliau salah orang?” bisik Windi ragu. Khumaira menggeleng

