Pagi ini aku mematut penampilanku di cermin yang ada di sudut kamar. Aku menggunakan turtleneck bodycon dress berwarna hitam, selutut, dan tanpa lengan yang dipadukan dengan vintage blazer berwarna khaki agar tubuhku tidak terlalu tercetak jelas. Aku menggerai rambut dengan poni yang sudah ku tata menutupi dahi.
Kalau kalian menganggap penampilanku terlampau modis, nggak juga sih. Mungkin karena kami bekerja di bagian marketing dan berada di industri periklanan, kami jadi tidak memiliki aturan busana yang pakem. Syaratnya hanya harus rapi dan sopan. Persyaratan masuknya di lowongan untuk posisiku kan berpenampilan menarik. Jadi biasanya diujung minggu begini, kantorku rasanya seperti sedang mengadakan pagelaran fashion show.
Setelah sepuluh menit menunggu di ruang tamu kosku, taksi online yang kupesan akhirnya datang. Setelah aku masuk ke dalam mobil, taksi ini segera melesat menuju ke tempat tujuanku. Tidak berapa lama, kami berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah. Saat aku sedang mengamati kendaraan dari jendela samping, kulihat seseorang dari mobil sebelah yang cukup kukenal. Walaupun kaca mobilnya agak gelap, tapi karena posisinya yang mungkin dekat dengan mobilku, aku jadi bisa melihatnya sedang memeriksa sesuatu tabnya.
Aku menyunggingkan senyum melihat pemandangan laki-laki itu. Rahang tegasnya dan mata tajamnya terlihat samar dan jarak ini. Walaupun dia seperti kanebo kering yang kaku, tapi pesonanya memang gak bisa digantikan.
Aku semacam memiliki hubungan love-hate relationship dengannya. Lampu kembali hijau dan mobil yang ku tumpangi berjalan lebih dahulu. Ternyata sesampainya di kantor setelah aku turun, tidak lama mobil Nashby yang tadi terlihat juga memasuki pelataran gedung kantor. Mau tidak mau aku berhenti untuk mempersilahkannya lewat terlebih dahulu.
Nashby berjalan melewatiku dengan muka yang datar dan tatapan mata yang tajam. Walaupun aku menunduk, tapi ekor mataku menangkap dia sempat memandangiku beberapa saat. Saat ia sudah memasuki lift khusus petinggi akupun bernafas lega. Mataku masih tak lepas menatap ke arah lift.
“Hey! Ayo! Jangan ngelamunin si Nashby aja,” bisik seseorang ditelingaku. Aku yang kaget dengan reflek menolehkan kepalaku dan mendapati Ratna ada disampingku.
“Ngagetin aja sih, Mbak.”
“Habis lo khusyuk banget mandanginnya,” ucapnya yang lalu menyeretku memasuki lift menuju ruangan kami.
“Mbak Ratna cantik banget hari ini,” ucapku yang memperhatikan penampilan Ratna yang menggunakan v neck pencil dress berwarna hitam dengan rambut yang dikuncir kuda.
“Mana ada anak ruangan kita yang gak cantik. Eh by the way, samaan kita warna hitam gini. Pada samaan gak nih se tim?”
Kuperhatikan baju kami memang berwarna hitam. Aku semakin terkejut setelah memasuki ruangan kami karena ternyata kami berlima memakai baju dengan warna dasar yang sama, yaitu hitam. Seperti biasanya, Rey dan aku menggunakan warna yang mirip sekali.
“Nah, gini dong. kompakan. Jangan cuma Rey sama Alsha doang yang sehati sejiwa!” ucap Mbak Fika yang hari itu memakai blouse hitam, celana hitam, dan blazer bermotif plaid berwarna coklat.
“Kita foto yuk, mumpung kompakan ini!” seru Ratna dengan mengacungkan ponselnya.
Kamipun berpose dan tidak sadar bahwa bos besar memasuki ruangan ini. Aku tidak tahu dia sudah memperhatikan tingkah kami berlima sejak kapan, yang kutahu dia sudah bersandar di kubikelku saat aku mengarahkan pandanganku menuju meja kerjaku. Mataku membulat sempurna karena terkejut. Untuk sesaat kami mematung lalu kami menunduk bersamaan.
“Pagi Pak,” ucap kami kompak.
“Kok berhenti fotonya? Sudah puas?”
Glek!
Aku menelan saliva ku dengan tenaga ekstra.
“Maaf Pak,” ucap Mbak Fika yang membuat kami semua berhambur menuju kubikel masing-masing.
Aku tentu yang paling merinding karena mejaku ada di samping si kanebo kering ini. Aku selalu mendapati Nashby memperhatikanku sepanjang aku berjalan menuju kubikelku. Ia menghembuskan nafasnya berat.
“Saya gak larang kalian berfoto bersama, tapi bukan berarti kalian bisa korupsi waktu kerja kalian untuk bercanda. Itu mengganggu teman kalian yang udah mulai kerja. Paham kalian?!” ucap Nashby datar.
Kami semua hanya mengangguk tidak ada yang menjawab. Selain ini masih pagi sekali, sepertinya dia juga bukan tipikal yang mau dibantah. Kami masih butuh uang, mau bagaimana lagi jika kami tidak menuruti ucapannya..
“Alshamira, ikut saya!” Perintah Nashby.
Aku jadi berpandangan dengan rekan kerjaku yang lain. Seperti memainkan bahasa isyarat, aku dan Rey saling mengkode menggunakan isyarat mata. Rey mengedikkan bahunya seolah mengatakan ‘gak tau, kenapa sih?’. Haduh, apalagi ini!
“Ayo, Alsha!” ucapnya dengan muka yang menatap lurus ke dalam manik mataku. Disaat seperti ini rasanya jantungku gak bisa diajak kerjasama. Ini jelas bukan degup takut, tapi malah kagum akan ketampanan Nashby. Bisa-bisanya jantung aku gak bisa di ajak kerjasama di saat seperti ini!
“Ba – baik, Paaak..” kataku dengan suara super pelan.
Aku berdiri dan segera mengambil buku catatan untuk mengikutinya. Aku mengikuti laki-laki itu dibelakangnya. Sebelum meninggalkan ruangan, aku sempatkan melihat wajah rekan kerjaku dengan raut muka meringis meminta tolong. Rekan satu tim ku menampilkan berbagai ekspresi. Ada yang mengepalkan tangan sambil mengatakan semangat, ada yang menampilkan senyuman terpaksa, ada juga yang hanya manggut-manggut dengan sorot mata yang mengasihani. Kenapa mereka gak ada yang mau bantu aku.
Sesampainya di ruangannya aku berdiri tak jauh dari pintu.
“Ngapain di situ, Alsha? Kemari.”
“I –iya, Pak.”
Aku mendekat ke arahnya dengan langkah tidak yakin.
“Duduk.”
Aku hanya mengangguk dan duduk di hadapannya. Ia melepaskan jasnya dan menggantungnya di sandaran kursinya. Ia melipat lengan bajunya hingga siku, barulah ia duduk di kursi kebesarannya. Ia mengambil tumpukan berkas yang berada di sisi kanannya dan mengecek satu-satu pekerjaan dan membubuhkan tandatangan. Aku kira ini akan bertahan beberapa menit saja dan mungkin dokumennya sangat penting sehingga ia ingin menyelesaikan pekerjaannya dulu.
Satu menit..
Lima menit..
Sepuluh menit..
Sebentar, sepertinya orang ini lupa kalau dia bawa manusia lain ke ruangan ini.
Jujur saja, ini memang menyenangkan memandang wajah Nashby dari dekat. Tapi asal kalian tahu saja, pekerjaanku bukan hanya ini. Aku tidak mau makan gaji buta. Mau kutanya ‘ada apa ya, pak?’ kesannya aku sedang memburu waktunya. Kalau tidak aku tanya, ini sampai kapan aku bakalan berada disini? Aku jelas tidak mau lembur!
Aku menghembuskan nafas kasar. Aku sih merasa sudah mengatur volumenya. Ternyata, Nashby masih bisa mendengarnya dan menatapku dengan tajam.
“Eh, pak.. eeng.. mungkin ada yang bisa saya bantu, pak?”
Nashby menghentikan pekerjaannya. Ia menyandarkan tubuh ke sandaran kursi yag terlihat nyaman itu.
“Sudah berapa lama kamu kerja disini?”
“Ini bulan kedelapan, pak.”
“Oh.” Nashby hanya manggut-manggut mendengar jawabanku.
Serius? Hanya begini saja? Sangat bermutu sekali.
“Jadi ini ada apa ya, pak? Apa ada yang bisa saya bantu, pak?”
“Kamu lulusan apa?”
“Teknik Industri, pak.”
“Kamu tau alur proses bisnis operasional disini?”
“Sedikit, pak.”
“Sedikit?” ucap Nashby dengan mengernyitkan dahi.
“Hanya tau secara garis besar saja, Pak. Tidak mendalam.”
“Oh, tau soal keuangan?”
“Sedikit, Pak.”
“Bantu saya cek dokumen keuangan. Kalau sudah kamu cek, kamu yang laporkan ke saya gimana isi dokumennya.”
Maaf – maaf ini, Pak. Bapakkan bayar sekretaris buat ngerjain kayak gini, pak. Kenapa saya? Ya itulah yang bisa ku katakan dalam hati karena kenyataannya, mulutku mengucapkan yang lain.
“Baik Pak,” ucapku sambil beranjak untuk mengambil tumpukan dokumen.
“Mau kemana kamu?” tanya Nashby sambil menatapku tajam.
“Ngerjain dokumen, pak.”
“Dimana?”
Ditanya dimana membuatku jadi celingukan, aku jadi bingung sebenarnya aku mau kemana.
“Hehe..” Aku hanya tersenyum canggung dan kembali duduk di hadapan bosku itu.
Aku akhirnya membaca dokumen itu dan mengangkatnya tinggi hingga menutup wajahku yang menunjukkan ekspresi kesal. Ya Tuhan, kerjaanku saja belum aku selesaikan, kenapa aku jadi mendapatkan tugas begini. Kenapa aku?
***
Kulirik jam yang ada di pergelangan tanganku, sudah pukul setengah 2 siang dan tidak ada satupun diantara kami yang beranjak dari kursi yang kami duduki. Mataku mulai gelisah karena perutku terasa perih. Argh! Perut. Bekerjasamalah, tolong! Please!
Gruuuukkk..
Aduh! Mati aku. Kenapa suaranya kencang sekali. Aku menggaruk dahiku yang sama sekali tidak gatal, bingung bagaimana harus bilang ke Nashby tentang bagaimana menderitanya perutku yang daritadi ingin diisi.
PIP!
“Dimas, bawakan saya makan siang.”
“Siap, Nash!” jawab orang dari seberang sana.
Klik!
Jangan tanya kenapa Dimas berani memanggil Nashby hanya dengan nama. Sekretarisnya adalah teman Kakaknya, Handerson Danuardara, alias Pak Hans. Jadi wajar saja jika mereka sudah akrab.
“Kita makan siang di ruangan saya aja, gak apa-apa kan?” tanyanya dengan mata yang masih menatap laporannya.
“Iya, Pak.” Mau apalagi kalau jawabannya bukan iya. Aku merasa di penjara, terkungkung, dan tidak bisa bergerak. Kayaknya aku bakal ambeien deh. Minumku kurang, apalagi seharian ini aku cuma duduk. Huhu.. nasibku.
Tiba-tiba aku ingin buang air ini kesempatan untukku melarikan diri sejenak sebelum kembali dengan laporan laknat yang bukan menjadi tanggung jawabku ini.
“Permisi, Pak. Saya mau ke toilet.”
“Oke, Toiletnya ada di balik pintu itu,” ucap Nashby sambil menunjuk sebuah pintu yang letaknya ada di sebelah rak buku yang menjulang tinggi di ruangan itu.
“Oh.. eh.. saya mau pakai tolet karyawan saja, Pak. Diluar kan ada..”
“Gak perlu, kejauhan. Itu aja.”
“Tapi, Pak..”
Nashby tidak mengatakan apapun selain memandangku dengan tajam. Tatapan matanya membuatku aku ciut.
“Permisi, Pak.” Hanya itu yang bisa kukatakan karena matanya itu seperti bilang ‘gak usah bantah dan jangan ribet! Saya lagi banyak kerjaan.’ Haduuuh.. bisa-bisanya aku seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.
Aku membuka ruangan itu dan menemukan ruangan yang seukuran dengan kamar kosku. Ada lemari, kasur, nakas, seperti perabotan yang ada di kamar kos pada umumnya. Aku mengamati dengan seksama ruangan itu dan mataku menemukan sebuah pintu lain yang kuperkirakan itu adalah pintu menuju toilet.
Sebelum masuk lebih jauh, aku ingin kembali memandang bos besarku. Ini beneran aku boleh masuk kesini? Bukannya ini adalah ruangan privat. Saat aku menoleh ke arahnya, rupanya ia juga sedang memandangku, kami jadi saling pandang beberapa saat sampai aku sadar aku ingin buang air.
“Permisi, Pak. Saya boleh..”
“Cepetan! Saya gak mau kamu ngompol di ruangan saya. Apalagi di karpet,” ucapannya datar sih, tapi sakit juga saat masuk ke telinga. Akupun bergegas lari menuju toilet. Dasar atasan kayak kanebo kering.
Duk!
“Aduuuh!!”
Kaki kiriku sudah menabrak kusen pintu yang tebal dan sangat keras itu. aku malu dan kesakitan dalam waktu yang bersamaan. Dasar pintu sialan, apa dia gak tau aku lagi buru-buru!
“Kenapa, Sha?” ucap Nashby yang sudah menyusulku ke dalam kamarnya itu.
“Gak apa, Pak. Nabrak pintu,” ucapku sambil meringis menahan malu dan sakit disaat yang bersamaan.
“Hmm.. Hati-hati, Sha.. Gimana dong? Bisa kamu ke kamar mandi sendiri?” tanya Nashby sambil memegangi pundakku agar aku bisa berdiri lebih tegak.
Aku hanya mengangguk sambil meringis.
“Yakin, kamu gak perlu saya bantu ke kamar mandi? Gendong mungkin?”
“Gak perlu, Pak. Ini nanti juga enakan.”
Nashby hanya mengangguk, “yaudah, saya ke depan dulu. Takut dimas nyariin saya buat naruh makanan.”
“Iya, Pak.”
“Kamu beneran gak mau dibantu? Itu pasti sakit banget! Keras banget soalnya.”
“Gak perlu, Pak.”
“Oke.”
Setelah Nashby berlalu, aku bergegas masuk ke toilet. Dasar aku! Malu-maluin banget sih. Rasa sakit tadi rasanya sirna saat aku masuk ke dalam kamar mandi milik Nashby, lumayan luas juga dan indah. Kamar mandinya terlihat mewah sih, ada toilet otomatis, bathtub berbentuk lingkaran yang lebih mirip dengan jacuzzi dan mungkin muat buat berdua, lalu juga ada beberapa peralatan mandi yang ditata dengan apik di rak-rak yang tersedia, jangan lupakan juga televisi empat puluh dua inch di depan bathtub.
Setelah selesai buang air kecil, dengan langkah kaki yang masih kesakitan aku menuju ke arah wastafel dengan kaca yang lumayan besar disana. Gila sih ini, toiletnya bikin betah. Kayaknya Nashby doyan banget ke toilet.
Aku jadi berpikir bahwa Nashby memang terbiasa mandi disini, apalagi toiletriesnya lengkap sekali. Aku jadi yakin bahwa tempat ini mungkin memang sering ditinggali oleh Nashby, mengingat aku yang sering mendengar dia sangat workaholic. Itu bukan gosip kayaknya, emang bener gila kerja. Pantes sih, kamar ini bagus. Kelihatannya memang dia sering pakai. Ruangan kamar sama toilet ini bahkan baunya udah bau Nashby banget.
Melihat kemewahan yang dimiliki Nashby, aku jadi berpikir bahwa rentang perbedaan kasta kami semakin jauh. Mengobrol sedekat ini saja buatku adalah hal yang gak pernah aku mimpikan sama sekali. Walaupun aku tahu aku cantik, boleh ya narsis sedikit, tapi aku tahu dirilah, namanya orang pasti akan mencari dengan kelas yang samakan?
Sudahlah merenungnya, aku harus segera pergi dari ruangan ini. Kembali ku amati penampilanku dikaca dan merapikan sedikit anak-anak rambut yang mulai tidak rapi. Dengan langkah masih tertatih aku keluar dari ruangan ini. Saat aku membenarkan dress yang kupakai sambil keluar dari ruangan, mataku bersinggungan dengan Dimas yang merupakan sekretaris Nashby. Aku tahu raut muka yang ia tampilkan adalah raut aneh dan bertanya, tapi aku juga tidak tahu apa yang ia pertanyakan.
Setelah memandangiku Dimas berbalik memandang Nashby dan membuatku jadi memandangnya juga. Setelah ku amati ternyata penampilan Nashby sudah acak-acakan, dia sudah tidak lagi menggunakan dasi yang ia pakai, lengannya sudah tergulung acak sampai siku, dan dua kancing bajunya sudah terbuka.
Sesaat kemudian Nashby sudah memandangku.
“Sudah?” tanya Nashby.
Aku hanya mengangguk, entah mengapa perasaanku tidak enak saja.
“Masih, sakit?” ucapnya sambil sekilas memandang kaki kiriku.
“Sedikit,” ucapku sambil berjalan tertatih menuju samping Nashby.
“Makan dulu, maaf karena jadi ganggu waktu istirahat karena lupa waktu. Kamu pasti lapar,” ucapnya dengan datar.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Aku berjalan tertatih menuju kursi yang sedari tadi ku duduki dihadapan Nashby. Entah mendapa ilham dari mana, ia membantuku membuka kotak makanan dan aku membantunya untuk menyiapkan minuman jus yang telah di beli. Setelah selesai, kami pun hendak menyuapkan makanan ke mulut. Kegiatan kami seketika terhenti karena kami berdua sadar bahwa ada yang memperhatikan kami di sudut lain. Aku dan Nashby pun menoleh secara bersamaan ke arah yang sama.
“Adalagi Dim?” tanya Nashby.
“Hm?” Dimas terlihat kikuk di pandanganku.
Kami bertiga jadi saling pandang gak jelas. Apa sih ini?
“Ooo.. Hm.. ya.. kalian mending kunci pintunya biar gak sembarangan orang masuk. Takut kentang,” kata Dimas dengan wajah jenaka.
“Hah?” Aku dan Nashby merasa aneh.
“Inget ya Nash, nyokap lo galak. Play safe. Kalau bisa jangan di kantor, diluar aja.” ucapnya sambil terkekeh lalu meninggalkan kami berdua yang sedang terpaku.
Apa sih itu bapack-bapack. Aku gak paham omongannya. Aku jadi cuma bisa menganga dan gak habis pikir apa yang ada di dalam otaknya. Terserahlah, pokoknya aku mau makan! Aku lapar!
***