BUKAN PACAR

2326 Kata
Sejak kejadian beberapa hari lalu, kini aku dan Nashby sering mengerjakan beberapa laporan bersama. Tentunya atas sepengetahuan Pak Daniel dan Rey. Kadang aku membawa tugas yang dikerjakan untuk bagian marketing ke ruangan Nashby. Beruntungnya aku tidak mendengar perkataan miring dari bagianku. Entahlah, aku yang tidak mendengar atau mereka memang sengaja tidak membicarakanku didepan. Sejujurnya aku tidak suka suasana ini, karena karyawan biasa sepertiku tiba-tiba harus bekerja langsung dengan direktur utama di perusahaan. Aku jadi ingat saat Dimas masuk ke ruangan Nashby dan mengira aku ada sesuatu dengannya, apalagi jalanku yang tertatih dan keluar dari kamar pribadi Nashby. Semoga saja dia tidak kelepasan berbincang dengan orang lain dan mengatakan kesalah pahamannya soal itu kepada semua orang. Nanti dikira aku melakukan hal yang tidak-tidak dengan pak bos. Semoga saja Nashby menceritakan kejadian yang kemarin dengan jelas kepada Dimas, agar tidak ada salah paham lagi. Aku takut menggiring opini publik terhadapku karena Nashby yang sering sekali menyuruhku datang ke ruangannya. Aku menarik nafas dalam sambil memandangi diriku yang berada di hadapan cermin. Sudah semenjak tadi aku berada di toilet wanita lantai kerjaku. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dan sudah siap untuk melakukan presentasi produk jasa baru yang akan launching dalam seminggu ini. Saat aku kembali ke kubikelku, aku melihat Rey yang seperti biasanya memakai warna senada. Kali ini aku memakai dress berwarna maroon selutut dengan kerah berwarna putih, sedangkan Rey kini memakai kemeja dan dirangkap dengan sweater berwarna maroon. Saat aku melihat ke sekeliling ruangan, beruntungnya kali ini timku kembali kompak dengan memakai pakaian dengan aksen warna maroon. Mungkin karena produk jasa yang akan kami presentasikan punya logo dasar berwarna maroon, jadi secara alami kami jadi terpikirkan untuk memakai warna itu. “Duhilaaah.. sekarang ketemu lo, kayak ketemu pejabat, Sha. Susah bener. Koordinasi kadang via w******p,” keluh Rey. “Ck! Lo pikir gue seneng. Bilangin dong Mas Rey, biar gue gak sering-sering ke ruangan Pak Nashby. Gue gak enak tau.” “Hmm.. Masa’? Lo kan ngefans parah sama Pak Nashby.” Ya iya siiiih.. tapi gak gini dong caranya. Lagian kerjaan yang gue kerjain itu bisa banget di kerjain sama Dimas. Protes ini cuma bisa ku adukan dalam hati saja. “Capek, ya?” Aku mencebik ke arahnya sambil mengangguk. Aku ingin protes, tapi aku seperti tidak ada kuasa untuk menolak. Mataku sudah berkaca-kaca mengingat load pekerjaan yang membuatku jadi bolak balik ruangan Nashby dan kubikel kerjaku. Rey, mengusap pucuk kepalaku dengan pelan. “Sabar, ya. Gue denger lo bakalan…” “Alshamira!” panggilan yang cukup keras itu sanggup membuat seluruh ruangan hening. Seolah tahu siapa pemilik suara itu, seluruh orang di ruangan mendadak seperti sedang sibuk bekerja. Terdengar suara ketikan dari keyboard komputer yang menghiasi ruangan itu. Sedangkan aku dan Rey sudah mematung mendengar sapaan itu. Rey segera menarik tangannya dari pucuk kepalaku. Jantungku berdegup kencang, kesalahan apalagi ini ya Tuhan disaat masih pagi begini. Aku itu malu, kesal, canggung, campur aduk banget rasanya sering di panggil Nashby secara langsung seperti ini dihadapan banyak orang. Lama-lama aku jadi benci nih sama dia, gak jadi kagum kalau sering diginiin. Aku tiba-tiba ingin menangis saja. Mungkin hormon karena mendekati jadwal menstruasi, bisa juga karena burnout akibat beban pekerjaan yang menggila. Aku menatap Nashby yang sudah berjarak beberapa langkah dariku. “Bawa perangkat yang kamu butuhkan untuk kerja dan berkas yang urgent aja. Saya tunggu di ruangan saya,” ucap Nashby yang menurutku lebih lembut dari teriakannya tadi walaupun masih datar. Saat ia akan berbalik tiba-tiba ku dengar Rey bersuara. “Maaf Pak,” ucap Rey yang mampu menghentikan langkah kaki Nashby. “Ya?” “Mohon maaf Pak, sebelumnya. Mungkin Alsha perlu disini untuk mendiskusikan beberapa hal dengan kami. Mengingat nanti kami akan presentasi, jadi saya mohon agar Alsha bisa ikut bergabung sama kami untuk nanti. Apalagi saat ini Alsha juga masih dalam satu tim dengan kami, Pak. Dia juga nanti akan menjelaskan beberapa hal saat presentasi. Mohon untuk dapat diizinkan dia disini terlebih dahulu ya Pak. Demi kelancaran presentasi kami.” Ucapan Rey tidak mendapatkan tanggapan apapun, aku baru saja akan menyambar berkasku hingga suara Nashby terdengar ditelingaku. “Oke,” ucap Nashby dengan muka datarnya dan segera berbalik meninggalkan ruangan itu. Seperti bencana yang teratasi, kami semua langsung menghembuskan nafas panjang seolah telah melewati hal-hal yang berat. “Gila sih, sebenernya lo disuruh ngapain sih, Sha? Udah beberapa minggu ini lo kayak gini,” keluh Mbak Fika dengan berapi-api. “Tau, Kita sampe mikir lo pacaran sama Nashby.. eh, Pak Nashby. Lupa gue kalau di kantor. Duuuh! Kesel,” ucap Ratna yang juga ikut tersulut emosi. “Iya, gue juga ngira gitu. Tapi melihat kadar kestresan lo yang kayaknya udah sampe di level sangat tidak sehat atau bisa dikatakan mencapai kasta tertinggi yaitu burnout. Apalagi kegiatan lo yang sering lembur dan tidak mencerminkan work life balance ala anak kekinian yang sering bilang mental health matters. Gue kan jadi curiga, mana ada pacaran kelihatan terlihat menyiksa seperti ini!” ucap Mbak Fika yang semakin berapi-api. “Ngomong apa deh, Fika.” “Iya.. apa sih Mbak Fik.” “Pusing gue juga dengerinnya.” Walaupun kata-kata Mbak fika sudah mirip ceramah kultum subuh ala-ala yang dibawakan oleh cendekiawan, tapi itu cukup membuat aku yakin bahwa penampilanku kini sudah jelek dengan sudut bibir yang sudah naik turun dan mata berkaca-kaca. Itu menusuk sekali. Akhir-akhir ini aku seperti merasakan melakukan pekerjaan ganda dan itu lumayan menguras tenagaku. Nashby yang terkesan gak mau ku tinggal dan Marketing adalah pekerjaan utama yang pasti tidak bisa ku tinggal karena gak ada perintah meninggalkan pekerjaan itu juga. Mungkin karena melihat ekspresi jelekku Ratna dan Mbak Fika memelukku. Mereka sepertinya kasihan denganku. Diberi perhatian seperti ini aku kan jadi terserang penyakit ingin menangis kencang, karena malu aku jadi cuma terisak. “Lo selalu punya pilihan untuk resign Sha,” ucap Mbak Fika sambil mengusap punggungku. “Mbak Fikaaa!” “Mbak Fiik!” “Fiikaaa..” Respon beragam mereka membuatku ingin tertawa. Aku jadi mengangkat kepalaku lalu menatap Mbak Fika. “Gue baru kerja mau jalan 9 bulan Mbak Fik. Susah buat gue dapet surat riwayat kerja kalau gue resign sekarang.” “Iya sih,” ucap Mbak Fika dengan nada sedih. “Tapi sumpah ini aneh deh, kayak semua bebannya cuma ada di Alsha doang. Gue ngerasa gue kerja biasa aja,” ucap Ratna. Kulihat Mbak Fika dan Iqbal manggut-manggut tanda setuju, sedangkan Rey hanya menghembuskan nafas kasar lalu meneguk minuman yang ada di botol minum yang entah semenjak kapan berada ditangannya. “Udahlah, ayo kita siap-siap di ruang rapat. Sambil kita diskusi dan perbaikin materi. Siapa tau masih ada yang kurang. Paling nggak kita bisa monopoli Alsha sampai makan siang,” ucap Rey yang dijawab oleh anggukan oleh semua orang di Timku. *** Beruntungnya presentasi tadi berjalan cukup lancar, banyak diantara para General Manager yang memuji rencana yang kami buat untuk peluncuran produk jasa yang baru. Aku yang dalam presentasi bertugas sebagai sales untuk mencoba mempresentasikan kepada customer juga mendapat apresiasi yang diluar ekspektasiku dihadapan para atasan. Aku juga tak sengaja mendapati Nashby yang ku kagumi, si kanebo kering itu, tersenyum tipis untuk presentasiku. Haahh.. lumayan melegakan. Setidaknya untuk sekarang. “Alsha.” Lamunanku seketika buyar ketika ada seseorang yang memanggilku. Saat aku mengarahkan pandanganku, tak ku sangka ternyata Reymond, yang jelas bukan Rey dari bagianku itu, terlihat berjalan tergesa menghampiriku. “Ada apa ya, Pak?” “Berasa tua gue, Sha.” Aku hanya tersenyum canggung menanggapinya. “Emh.. ini soal presentasi yang buat visual ke customer. Gue hubungin lo kan buat tau detailnya? Tadi bos gue bilang, anak Marketing butuh bantuan anak desain buat bikinin presentasi. Gimana?” “Oh, sorry Pak. Buat saya yang handle, mungkin bisa langsung ke Mas Rey kepala tim saya buat tanya-tanya, Pak.” “Yaelah, Sha. Panggil Rey lo pake Mas. Masa panggil gue Bapak. Umur gue sama Rey gak jauh beda kok.” Lagi-lagi aku hanya mengangguk dan tersenyum canggung. Mau gimana, aku tidak terbiasa mengobrol dengannya. Aku jadi agak canggung dan bingung menanggapinya. Catat ya, bingung dan canggung! Bukan sombong. “Yaudah deh kalo gitu, gue nanti coba hubungi Rey. See you Sha,” ucapnya dengan senyuman manis dan segera berlalu dari hadapanku. Kalau dilihat-lihat Reymond ini oke juga kok, tipikal style anak-anak seni yang berantakan tapi berdamage, tapi karena aku suka tipe yang Nashby banget jadilah menurutku Nashby tetap yang paling tampan walaupun seperti kanebo kering, manja, dan tukang perintah. Eh bentar deh, aku tak boleh melamun disini. Aku harus segera menuju ruangan bos besar sebelum hari ini aku makin malam pulangnya. Baru berapa langkah aku berjalan. “Alsha!” Ya Tuhan, siapa lagi? Aku menoleh ke sumber suara dan mendapati Rey yang tidak lain dan tidak bukan adalah supervisorku, sedang berjalan mendekat ke arahku. Aku benar-benar merasa menjadi artis hari ini, banyak sekali yang memanggil namaku seharian ini. “Gue kira lo ada di ruangan, Mas. Baru aja Pak Reymond nyamperin gue nanya soal desain power point buat pemasaran ke konsumen sama gue.” “Bisa aja alasan Reymond nyapa elo. Dia kan biasanya langsung ke gue.” “Tau deh. Ada apa nih Mas manggil gue?” “Oh iya, nih..” Ia menyodorkan botol minum yang biasa ku bawa. “Ketinggalan. Tadi gue udah kirim chat ke elo. Lo pasti gak liat HPkan?” Aku mengangkat barang bawaanku yang berada di tangan kanan dan kiriku. Bagaimana aku bisa bawa kalau tanganku penuh dengan berbagai berkas dan juga laptop yang kubawa. “Gue bantuin ya?” pertanyaan Rey lebih seperti pernyataan karena ia langsung menyambar laptop yang kubawa. “Yok jalan,” ucapnya sambil tersenyum sumringah ke arahku. “Lo gak apa-apa nganterin gue, Mas?” “Gue anter sampe depan ruangan bos aja. Gue bukan takut, tapi gak enak aja sama bos karena gak berkepentingan. Gak apa kan cuma sampe depan pintu?” Aku hanya mengangguk dan berkata terima kasih lirih. Kami pun berjalan beriringan menuju ruangan Nashby sambil mengobrol ringan masih seputar pekerjaan. Sesekali kami bercanda dan aku menimpalinya dengan gerutuan kala Rey terus-terusan menggodaku. Sesampainya di depan ruangan Nashby, aku terkejut karena pintu terbuka saat aku sedang menata barang bawaanku sedang ditata posisinya oleh Rey. Kami bertiga saling pandang untuk sesaat, hingga akhirnya suara Nashby terdengar. “Ngapain kamu?” Entah bertanya pada siapa si Nashby ini. “Saya bantu Alsha aja, Pak. Bawaannya terlalu banyak,” jawab Rey dengan datar. Tumben banget Rey bersikap seperti ini. “Biar saya bawa,” kata Nashby sambil menatap tangan Rey seolah menunjuk botol itu menggunakan mata. Rey mengulurkan botol milikku dan dengan cepat Nashby menyambar botol minum lalu mengambil laptop dan beberapa berkas yang berada di tumpukan paling atas. Tidak ada kata yang terucap dari mulutnya. Pria itu berjalan masuk kembali ke ruangannya dan akupun menatap Rey. “Makasih ya Mas,” Ucapku dengan senyuman tulus. “Sama-sama. Udah sana cepet masuk,” Jawab Rey sambil mengacak rambutku lalu berbalik menjauh dari ruangan Nashby. Aku pun berbalik untuk masuk ke dalam ruangan Nashby. Baru beberapa langkah aku berjalan, Bugh! Aku menabrak sesuatu didepanku. Aku mengadu kesakitan karena semenjak tadi aku berjalan menunduk dan kepalaku sukses menabrak sesuatu dengan agak kencang. “Bapak kok tiba-tiba berhenti sih, Pak!” gerutuku sambil memegangi dahiku yang berdenyut. Itu punggung terbuat dari apa sih? Kok keras banget. Nashby menatapku dengan matanya yang tajam seolah tidak suka. Aku langsung menarik kesadaranku secara penuh yang sejak tadi melupakan fakta bahwa Nashby adalah Direktur perusahaan ini dan aku yang remah-remah ini digaji olehnya. Astaga dragon! Sudah barangku dibawain, ku tabrak, aku bentak lagi. Mampus! Nashby kembali berjalan. Aku masih mematung di posisiku karena takut dan tanpa sadar menggigit bibir bawahku. Aku semakin terkejut saat ia sampai di mejanya dan menata barang-barang yang kubawa diposisi biasanya aku membantunya bekerja. Kulihat Nashby menghembuskan nafas berat lalu menatapku lekat. “Sampai kapan mau disitu? Ayo kerja!” “I – iyaa pak,” ucapku ragu sambil mendekat ke kursi biasanya aku bekerja. Baru juga aku duduk sambil mulai menyalakan laptop yang ku bawa, suara Nashby mengagetkanku. “Kamu uda berapa lama pacaran sama Rey?” “Eh, gimana Pak?” tanyaku lirih tapi cukup mampu didengar. Bagaimana aku tidak kaget, sepertinya aku salah dengar pertanyaan Nashby. “Saya gak peduli sih kalian mau berapa lama pacaran, tapi tolong bersikap profesional di kantor. Apalagi sampe ngelakuin hal receh janjian baju seperti anak-anak remaja alay yang harus pakai barang apa itu? couple-an?” omel Nashby sambil melihat ke arah komputernya. Hello? Nashby ngomel? Kalau membentak atau memerintah aku percaya. Ini ngomel loh? Aku sudah bekerja hampir beberapa minggu ini dengannya. Baru kali ini aku mendengarnya berkata satu kalimat yang panjang. “Saya tidak pacaran dengan Mas Rey, Pak. Saya pastikan juga bahwa baju yang kami pakai bukan karena janjian,” ucapku dengan nada sopan tapi dingin. “Mana ada gak janjian kembar terus?” Lah .. faktanya begitu bapak! Gimana ya bosque? “Mulai besok saya usahakan untuk tidak sama warna pakaian dengan Mas Rey.” “Bagus! Mulai besok, panggil semua rekan kerja yang lebih tua dari kamu dengan sebutan Bapak.” “Lho? Kok gitu, Pak?” Aku menatap mata bos semena-mena ku ini. “Biar profesional.” Haduh! Kebanyakan mau bosku yang satu ini. Itu mas-masnya sekarang kupanggil Bapak apa gak nambah geli. Aneh deh! “Oh iya, malem ini saya mau ada pertemuan dengan kolega untuk pesta pernikahan anaknya. Nanti kamu temani saya sekalian untuk prospek beberapa calon konsumen potensial.” “Kok sama saya, Pak?” “Kamu tega saya berangkat sama Dimas? Masa batang sama batang?” “Hah?” Apa deh ini mas-mas genit, masa ngomongin batang. Gile! Buat yang paham aja deh maksud bos saya. “Kamu kan yang paham produk barunya, lagipula ini kesempatan yang bagus. Kamu jadi kenal sama beberapa rekanan dan bikin riset pasar kan.” Yaelah.. pesta aja masih disuruh mikir kerjaan, ini sih lembur namanya. Nasibku, kasihan sekali. Aku hanya bisa menghembuskan nafas kasar tidak bisa menentang keinginan bos mudaku ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN