Kami telah berada di kamar hotel, saling memeluk satu sama lain. Aku yang memang berbadan lebih kecil darinya nyaman menyandarkan kepalaku di dadanya. Aku mendengar detak jantung yang tidak beraturan disana. Selalu sama setelah bertahun-tahun berlalu. Aku tersenyum manis mendapati perasaan dan sensasi yang masih sama saat bersamanya. “Aku nyesel ngundang mantan pacar kamu,” ucapnya terdengar kesal. “Aku gak pernah keberatan kalau kamu gak undang dia. Lagipula kamu kan bisa anggap dia kolega. Diundangan aja tulisannya HND Media.” “Masa aku anggep dia sebagai kolega kalau tatapan dia ke kamu masih kayak gitu!” “Gitu gimana?” aku mendongakkan kepalaku untuk melihat Miles. Aku tidak tahu bagaimana keadaan Nashby kemarin saat datang. Aku tidak sampai memperhatikannya karena rasanya aneh. Ak

