Aku mematut diriku di cermin sambil menetralkan deru nafas yang semakin cepat. Akad akan dilakukan kurang dari satu jam lagi. Aku mengikuti adat dimana aku tidak dipertemukan dahulu dengan pengantin lelaki sampai dengan akad dinyatakan sah, jadi aku akan menunggu di ruang tunggu sambil melihat layar televisi yang akan menampilkan Miles mengucapkan janjinya kepada tuhan untuk mengambil alih atas aku, menerima dan menanggungku sebagai istrinya di hadapan Papaku, Papanya, dan seluruh tamu undangan yang hadir. “Ca..” suara Mama yang pertama kali menyapaku di ruangan ini. Aku memandang Mama yang sudah bersiap untuk menangis. Ia memandangku lekat kepadaku yang memakai kebaya bernuansa putih. Mama yang sudah hendak menangis membuatku juga bersiap untuk menangis. Untungnya kontak lensa membant

