Bab 18 – Wanita dari Masa Lalu

1415 Kata
Tanpa perlu melapor dan meminta izin pada receptionist gedung maupun receptionist dan satpam kantor JJSG, Melinda dapat langsung saja memasuki kantor dan ruang kerja Direktur Utama JJSG dengan leluasa. Ia memiliki kartu akses gedung dan kartu akses kantor JJSG yang dapat membuatnya datang ke kantor Abi kapan pun ia mau. Abi yang memberikan kedua kartu akses itu pada Melinda agar istrinya itu dapat mengunjunginya kapan saja. Hari sudah malam. Kantor JJSG pun sudah tampak sepi. Sudah banyak karyawan yang pulang kembali ke rumahnya dan berkumpul kembali dengan keluarganya. Hanya ada beberapa karyawan saja yang masih harus bekerja lembur berhubung mereka sedang menuju tenggat waktu penyelesaian pekerjaan mereka. Dari luar ruang kerja Direktur Utama, Melinda dapat melihat punggung seorang wanita membelakangi pintu ruangan tersebut yang pintunya terbuka lebar. Melinda yakin wanita itu adalah sekretaris temporer yang menggantikan Maulina selama Maulina cuti hamil. Ia juga yakin untuk berkenalan dengan sekretaris temporer Abi itu agar nantinya sang sekretaris tidak bingung jika ia tiba-tiba datang untuk menemui suaminya. Namun, seketika kedua mata Melinda terbelalak dan mulutnya ternganga. Hatinya terasa panas saat dirinya mengenali wajah sang sekretaris. “Vika?! Ngapain lo di sini?!” bentaknya seraya meletakkan tas kerja yang dibawanya di atas meja kerja Abi. Setelah mendapatkan kabar dari Harfandi melalui sambungan telepon bahwa Melinda akan segera datang ke kantor Abi, Vika segera memutar otak untuk dapat berbincang berdua dengan sang pewaris JJSG itu. Ia pun mendapatkan ide untuk memberikan brosur restoran baru dekat kantor mereka pada Abi yang ia dapatkan dari karyawan restoran tersebut saat jam istirahat makan siang tadi. Vika mengatakan pada Abi bahwa lokasi restoran tersebut sangat strategis dari kantor JJSG sehingga mereka dapat melaksanakan acara kantor di sana berhubung dalam waktu dekat ini mereka akan merayakan ulang tahun salah satu Manager di JJSG. Untung baginya karena Melinda datang ke ruang kerja Abi saat dirinya berada di dalam sana. Ia berharap Melinda akan salah paham dengan keberadannya di sana dan bertengkar dengan Abi. “M-melinda, ... a-aku ...,” ujar Vika yang terpotong oleh Abi. “Mel, ... Vika yang gantiin Maulina selama Maulina cuti hamil,” ujar Abi setelah bangkit dari kursinya dan melangkah menghampiri Melinda. Melinda pun merasa sangat kecewa karena Abi telah tidak jujur padanya mengenai siapa sekretaris temporer yang menggantikan Maulina dan tidak menanyakan pendapatnya apakah ia setuju jika Vika bekerja untuk suaminya itu. “Apa?! Kenapa harus dia?!” ujar Melinda seraya menunjuk Vika tanpa peduli apakah Vika akan tersinggung atas sikapnya itu atau tidak. “A-aku keluar dulu,” ujar Vika. Ia segera melangkah keluar dari dalam ruang kerja Abi karena Melinda menatapnya dengan sangat tajam hingga membuatnya merasa tidak nyaman. Tidak lupa ia menutup pintu ruang kerja bosnya itu. “Mel, ... suami Vika udah meninggal dan dia ninggalin banyak utang. Mereka gak membuat perjanjian pra nikah untuk pisah harta, jadi, Vika harus melunasi utang suaminya itu. Vika juga harus biayain sekolah anaknya. Saat ini Vika gak punya pekerjaan, jadi, apa salahnya kalau dia kerja di sini? Lagipula, dia gak akan lama, kok, kerja di sini” ujar Abi setelah Vika keluar dari dalam ruang kerjanya. “Usir dia dari sini! Pinjami saja dia uang!” balas Melinda. “Nanti dia bayar utangnya gimana kalau dia gak kerja, Mel? Dia cuma sementara di sini. Aku kontrak kerja dia setahun. Selama dia menjalani kontrak kerjanya di sini, dia bisa sambil cari kerja di tempat lain, jadi, dia tetap bisa dapat uang sebelum dapat kerja tetap di perusahaan lain.” Melinda tampak mendengus kesal setelah mendengar penjelasan Abi itu. “Kamu yakin dia mau cari kerja di tempat lain?” tanya Melinda dengan tatapan sinisnya. “Dia punya utang yang sangat banyak, Mel, dan dia gak punya siapa pun yang bisa menolong dia. Kalau kontrak kerja di sini selesai, mau gak mau dia harus cari pekerjaan baru,” jawab Abi dengan mantap. “Tidak akan! Dia gak mungkin mau melepaskan kamu! Dia akan menggugah rasa iba kamu lagi. Usir dia sekarang juga! Kasih semua uang yang dia butuhkan. Gak perlu dia balikin uang itu dan jangan pernah berpikir aku akan diam saja kalau kamu berani bawa dia kembali ke kehidupan kamu!” ujar Melinda seraya menatap kedua mata Abi dengan tajam. Abi pun mendesah pelan mendapati sikap Melinda. “Melinda, ... ini bukan masalah besar. Kamu pikir aku akan kembali pada Vika? Mel, aku bukan laki-laki rendahan seperti itu! Atau jangan-jangan kamu yang gak percaya diri dan takut kalah saing dengan Vika? “Aku gak cemburu. Aku cuma kecewa sama keputusan kamu untuk menerima Vika kerja di sini tanpa merundingkannya dulu sama aku. Kamu kan tau bagaimana dulu dia mau merebut kamu dari aku. Dan aku benar-benar kecewa kamu udah bohongin aku. Tindakan kamu itu benar-benar sudah melukai harga diri aku!” Setelah mengungkapkan kekecewaannya, Melinda menyambar tasnya dan melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Abi tanpa berpamitan. Ia menatap tajam Vika saat melewati meja kerja sekretaris Abi itu. Namun, Vika tak merasa gentar. Ia justru tersenyum pada Melinda. Hatinya senang bukan kepalang mendapati Abi bertengkar dengan istrinya. *** Setelah keluar dari dalam kantor JJSG, Melinda mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia menghubungi Durna seraya menunggu pintu lift terbuka. “Halo, Bu,” ujar Durna menjawab panggilan telepon Melinda. “Bawa mobil ke lobby. Saya mau pulang sekarang.” “Baik, Bu.” Ding! Pintu lift terbuka. Melinda pun masuk ke dalam lift dan memencet tombol lift dengan ganas. Mood-nya sedang memanas. Untunglah Durna tidak membuat amarah Melinda semakin meledak. Sopirnya itu dengan sigap mengendarai mobil dari area parkir mobil ke halaman lobby gedung sehingga Melinda bisa segera masuk ke dalam mobil setibanya ia di lobby. “Malam, Bu Mel,” sapa Durna. “Malam. Ayo, Pak, jalan sekarang,” balas Melinda. Ia ingin segera pulang ke rumah tanpa mempedulikan Abi yang seharusnya pulang bersamanya. “Bapak gak bareng kita, Bu?” “Enggak!” “Nanti bapak pulangnya gimana, Bu?” “Terserah dia. Mau pulang naik taksi, kek, mau naik bajaj, kek, bodo amat!” “Lho?” “Jalan sekarang. Saya mau cepat pulang.” “Baik, Bu.” Durna segera melajukan mobil mewah milik Melinda yang dibelikan Abi itu kembali ke rumah majikannya yang tak kalah mewah. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi, ia tahu Melinda sedang marah pada suaminya. *** Setelah Melinda keluar dari dalam kantor JJSG, Vika kembali masuk ke dalam ruang kerja Abi. Ia mendapati Abi sedang memasukkan laptopnya ke dalam tas. Pria itu sedang bersiap-siap untuk pulang. “Bi,” panggilnya. “Ya?” balas Abi. “Melinda marah ya aku kerja di sini?” tanya Vika untuk mendapatkan simpati Abi karena sebenarnya ia tidak peduli apakah Melinda marah atau tidak karena ia tidak akan mau jika harus meninggalkan JJSG. “Enggak. Dia cuma kaget aja ada kamu di sini,” jawab Abi seraya memasukkan charger laptopnya ke dalam tas. “Apa sebaiknya aku resign aja?” tanya Vika lagi dengan keyakinan penuh Abi tidak akan memintanya mengundurkan diri. “Gak usah. Nanti malah jadi aku yang repot harus cari pengganti Maulina lagi,” jawab Abi seraya menyampirkan tas ranselnya di pundak. “Makasih, ya, Bi. Aku senang kamu belain aku,” ujar Vika seraya memberikan senyuman manisnya. Sayangnya, Abi tidak mempedulikan senyumannya dan tidak lagi membalas ucapannya. Pria itu keluar dari dalam ruang kerjanya dan meninggalkan kantornya. Ia sudah tidak berkonsentrasi pada pekerjaannya karena saat ini yang terpenting adalah meminta maaf pada istrinya. *** “Halo, Pak,” ujar Durna menjawab panggilan telepon Abi saat ia sedang menantikan lampu lalu lintas berubah dari warna merah ke warna hijau. “Bawa mobil ke lobby. Saya mau pulang sekarang,” ujar Abi di sambungan telepon seraya melangkah menuju lift. “Oh, baik, Pak. Tunggu sebentar ya, Pak. Saya jalan balik dulu ke kantor.” “Hah? Memangnya pak Durna di mana?” “Udah di jalan pulang ke rumah Pak Abi. Tadi ibu minta pulang duluan.” “Anterin saya pulang dulu,” ujar Melinda pada Durna dengan wajah cemberut karena dari obrolan Durna di telepon sangat jelas bahwa Abi meminta Durna menjemputnya. “E-eh, i-iya, Bu,” balas Durna. Di dalam lift Abi memijat kepalanya karena ia mendengar suara Melinda yang terdengar dari sambungan teleponnya dengan Durna. “Ya sudah, pak Durna antar Melinda pulang dulu, abis itu jemput saya di kantor, ya.” “Oh, ya, baik, Pak,” balas Durna. Pintu lift terbuka di lantai dasar. Abi menunggu kedatangan Durna di ruang tamu lobby gedung seraya memainkan ponselnya dan memikirkan bagaimana cara untuk meminta maaf pada Melinda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN