Setelah acara pesta ulang tahun Kokoh Bersatu Engineering berakhir, para karyawan pulang ke rumah masing-masing. Ada yang dijemput oleh keluarganya, ada yang dijemput oleh kekasihnya, ada yang pulang dengan membawa kendaraan sendiri, ada yang pulang dengan menumpangi kendaraan umum, dan ada juga yang menumpang di mobil rekannya. Malam hari itu Melinda memutuskan untuk menerima ajakan Harfandi untuk pulang bersamanya karena Nicky dan Tyo juga akan pulang bersamanya, maka, Melinda mengirimkan pesan pada Durna untuk tidak perlu menjemputnya dan tetap menunggu di kantor Abi karena ia akan segera ke kantor suaminya. Saat Melinda, Nicky, dan Tyo sedang ke toilet, Harfandi menunggu mereka di lobby hotel seraya menelepon Vika.
“Halo, Har. Ada apa?” ujar Vika menjawab panggilan telepon Harfandi.
“Masih di kantor?”
“Masih. Abi belum pulang, jadi, aku gak enak kalau pamit duluan.”
“Good! Sebentar lagi Melinda datang ke kantor Abi. Manfaatkan kesempatan ini untuk buat dia marah.”
“A-aku harus ngapain?”
“Gak harus ngapa-ngapain. Tetap di sana sampai Melinda datang. Kalau bisa, ngobrol akrab sama Abi biar Melinda cemburu.” Sebelum Vika membalas ucapannya, Harfandi mendapati Melinda dan Nicky melangkah menghampirinya. Ia pun buru-buru mengakhiri panggilan teleponnya. “Melinda berangkat sekarang,” ujarnya pada Vika lalu memutus sambungan telepon.
“Hai. Tyo mana?” tanya Melinda begitu ia dan Nicky tiba di hadapan Harfandi.
“Itu dia,” jawab Harfandi yang mendapati Tyo sedang berlari-lari kecil menuju mereka.
“Eh, maaf, lama ya nunggu saya?” ujar Tyo.
“Enggak, kok,” balas Harfandi. “Yuk, kita pulang sekarang.”
Melinda dan Nicky mengikuti langkah Harfandi dan Tyo yang berjalan di depan mereka. Harfandi dan Tyo tampak berbincang santai. Melinda pun berbisik pada Nicky, “Gimana tadi dinyanyiin sama bos ganteng lo?”
“Hus! Jangan sampai kedengeran dia!” balas Nicky panik yang membuat Melinda terkekeh.
“Ganteng, kan?”
“Iye! Makasih, ya, udah nyuruh gue request lagu.”
“Anytime for you, Baby!”
Setibanya di mobil Harfandi yang terparkir di area parkir basement, buru-buru Melinda menarik tangan Tyo yang akan membuka pintu penumpang jok depan. “Tyo, ... Nicky aja yang duduk di depan,” ujarnya.
“Lho? Kenapa, Kak?” tanya Tyo.
“Nanti kan pak Harfandi nganterin kamu duluan sebelum Nicky. Masa nanti kamu turun si pak Harfandi sendirian di depan,” jawab Melinda mencari-cari alasan.
“Kan bisa tukeran nanti abis aku turun di kosku,” ujar Tyo.
“Ah, lo nyusahin! Udah, duduk aja di belakang bareng gue!” balas Melinda. “Nick, duduk di depan, ya.”
Nicky ternganga saat Melinda dan Tyo masuk ke jok belakang. Sahabatnya itu benar-benar serius menjodohkannya dengan Harfandi. Dengan perasaan sedikit tegang, Nicky duduk di samping kursi kemudi. Harfandi pun segera melajukan mobilnya ke gedung kantor Abi untuk mengantarkan Melinda ke medan perang rumah tangga. Ya, ia yakin sesaat lagi Melinda akan bertengkar dengan Abi karena kehadiran Vika.
“Gimana tadi penampilan saya? Suka, gak?” ujar Harfandi membuka obrolan dengan Nicky saat mobilnya sudah melaju di jalan raya.
“Eh, i-itu, ... bagus, Pak,” balas Nicky gelagapan. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu dari Harfandi.
“Kalau menurut kalian gimana?” tanya Harfandi pada Melinda dan Tyo.
“Bagus, Pak,” jawab Tyo.
“Bagus banget. Makasih banyak, ya, Har, udah mau isi acara ulang tahun kantor kita,” jawab Melinda.
“Sama-sama, Mel. Saya juga senang bisa menyanyikan lagu kesukaan kamu,” balas Harfandi.
***
Harfandi menurunkan Melinda tepat di lobby gedung kantor tempat JJSG bertengger. “Makasih banyak, ya, Har,” ujar Melinda sebelum keluar dari dalam mobil Harfandi.
“Have fun, ya, Mel,” balas Harfandi tanpa Melinda tahu maksud sesungguhnya dari ucapannya itu.
“Duluan, ya, Nick, Yo,” ujar Melinda berpamitan pada Nicky dan Tyo.
“Ya, Kak,” balas Tyo.
“Salam buat kak Abi, ya, Mel,” balas Nicky.
Melinda melambaikan tangannya saat Harfandi mulai melajukan mobilnya sebelum ia masuk ke area dalam gedung dan naik ke lantai 20. Dari kaca spion mobilnya, Harfandi dapat melihat Melinda yang melangkah masuk ke dalam area gedung.
“Kamu kenal sama suaminya Melinda?” tanya Harfandi saat mobilnya sudah kembali melaju di jalan raya.
“Kenal, Pak. Dulu waktu kuliah, saya dan suaminya Melinda sama-sama ikut BEM,” jawab Nicky.
“Oh, aktif juga, ya, kalian.”
“Bapak ikut BEM juga dulu?”
“Enggak. Saya gak punya waktu ikut-ikut organisasi atau kegiatan mahasiswa begitu.”
“Jadi, Bapak tuh *mahasiswa kupu-kupu, ya?” ujar Nicky seraya terkekeh. (*mahasiswa kupu-kupu = mahasiswa yang selesai kuliah langsung pulang)
“Saya mengajar di tempat les,” balas Harfandi.
“Hah? Bapak ngajar les?”
“Iya. Saya ini mahasiswa beasiswa. Untuk bisa bertahan hidup, saya ngajar les di bimbel dan juga les privat untuk anak-anak orang kaya.”
“Oh, ...,” gumam Nicky yang menjadi merasa sungkan karena tadi ia sudah meledek bosnya itu sebagai mahasiswa kupu-kupu, “maaf, Pak, saya tadi bercanda aja kok bilang Bapak itu mahasiswa kupu-kupu.”
“It’s ok. Memang sehabis kuliah saya langsung pulang, kok. Pulang ke tempat les bimbel,” ujar Harfandi seraya terkekeh yang membuat Nicky dapat merasa lega karena suasana seketika mencair.
“Eh, Tyo kok gak ada suaranya, ya? Ini kita udah sampai di Setiabudi, nih,” ujar Harfandi lagi yang baru menyadari sedari tadi Tyo diam saja. Nicky pun menoleh ke jok belakang dan mendapati Tyo sedang tertidur. Tyo sangat lelah hari itu karena sejak pagi ia sudah sibuk mendekor ballroom hotel dan mempersiapkan segalanya untuk keberlangsungan acara ulang tahun KBE ditambah ia juga harus bertugas sebagai Master of Ceremony.
“Yo, bangun, Yo. Ini kita gak tau kosan kamu yang mana,” ujar Nicky seraya menepuk paha Tyo.
Dengan rasa kantuk yang masih menyergapnya, Tyo terpaksa terjaga dari tidurnya. Ia menatap area sekelilingnya dari balik kaca jendela mobil dan menemukan rumah kosnya. “Yang itu,” ujarnya seraya menunjuk sebuah rumah bertingkat tiga. Harfandi pun menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah tersebut. “Makasih banyak, ya, Pak Har, Kak Nicky,” ujarnya sebelum keluar dari dalam mobil.
“Sama-sama,” balas Harfandi.
“Met istirahat, Yo,” balas Nicky.
Baru saja Tyo membuka pintu mobil, ia mendapati pintu pagar rumah di hadapannya yang berwarna putih. “Hmm, ... Pak,” ujarnya.
“Ya?” balas Harfandi.
“Bukan ini rumahnya,” ujar Tyo yang baru menyadari ia salah rumah sebab rumah indekosnya berpagar hitam.
“Hah?” ujar Harfandi dan Nicky berbarengan.
“Kamu udah pindah kos?” tanya Nicky.
“Bukan. Rumah kos saya mirip rumah ini, tapi, bukan yang ini,” jawab Tyo yang membuat Nicky tertawa dan Harfandi mendengus kesal.
“Hadeh, jadi, kos kamu yang mana?” tanya Harfandi pada Tyo.
***
Setelah mengantar Tyo ke rumah kosnya yang sesungguhnya, Harfandi mengantar Nicky pulang ke rumah kos yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah kos yang ditempati Tyo. “Makasih banyak, ya, Pak. Maaf sudah merepotkan,” ujar Nicky saat Harfandi menghentikan laju mobilnya di depan pintu pagar rumah kosnya.
“Tenang aja, Nicky. Bukan kamu yang ngerepotin, tapi, si Tyo tuh. Gara-gara dia, kita jadi keliling-keliling Setiabudi,” balas Harfandi yang membuat Nicky terkekeh.
“Hati-hati di jalan, ya, Pak.”
“Ya. Selamat istirahat.”
Harfandi kembali melajukan mobilnya setelah memastikan Nicky memasuki pintu pagar rumah kosnya dengan aman. Dengan hati berbunga-bunga, Nicky melangkah menuju kamar kosnya di lantai dua. Ia tidak sabar memberi tahu Melinda betapa senangnya ia diantar pulang oleh Harfandi dan mengobrol berdua dengan bosnya itu.