Bab 13 – Jealousy

1487 Kata
Tepat pukul 9 malam, mobil Abi yang dikendarai Durna tiba di halaman lobby gedung kantor tempat Melinda bekerja. Melinda segera masuk ke dalam mobil dan mendapatkan kecupan dari Abi. Namun, sepanjang perjalanan menuju Altitude, Abi terus fokus pada iPad dalam genggamannya. Melinda pun hanya bisa pasrah. Sepertinya memang Abi sangat sibuk hari itu. Tak perlu waktu lama Durna mengendarai mobil majikannya dari kawasan Sudirman menuju kawasan M.H. Thamrin berhubung hari sudah malam dan kemacetan jalan raya mulai berkurang. Pelayan menyambut kehadiran Melinda dan Abi dengan sangat ramah dan melayani tamu restoran itu dengan sangat baik. Para tamu di restoran itu berani mengeluarkan biaya cukup besar hanya untuk seporsi makanan, tentu saja mereka harus dilayani dengan pelayanan terbaik. Melinda tampak sangat senang saat menu pesanannya tersaji di hadapannya. Ia sudah sangat lapar berhubung ia sudah cukup lama menahan rasa laparnya demi menantikan makan malam bersama sang suami. Sayangnya, Abi malah lebih tertarik mengurus pekerjaannya melalui iPad daripada menyantap hidangan makan malamnya. “Abi,” panggil Melinda. “Hmm?” balas Abi. “Makan dulu, Bi.” “Iya, Mel. Kamu makan duluan aja. Aku masih harus review pengajuan kontrak kerjasama JJSG Coal dengan perusahaan electric bombastic car sebelum kita setuju atas permintaan kerjasama mereka.” “Ini udah malam, Bi, dan kamu belum makan dari tadi.” “Maaf, Sayang, aku harus kirim e-Mail-nya sekarang karena tiga hari lagi kita harus kasih keputusan ke EBC apakah kita terima permintaan mereka atau tidak. Jadi, aku harus selesaikan review malam ini juga. Sebentar lagi selesai, kok.” Ucapan Abi itu bukannya membuat Melinda memahaminya, justru semakin membuat istrinya itu kesal. “Bi, kamu sadar gak sih kita udah lama gak ngobrol dengan benar?! Kamu selalu saja sibuk!” “Sayang, ... aku melakukan ini semua juga demi kamu, demi keluarga kita.” “Tapi, aku kangen kamu, Bi!” Ucapan Melinda itu akhirnya membuat Abi sadar bahwa Melinda hanya ingin agar suaminya benar-benar ada jiwa dan raga untuknya. “Mel, ...,” ujar Abi berusaha untuk menenangkan Melinda yang sedang menyantap steak-nya dengan wajah ditekuk. Namun, Melinda mengacuhkan panggilannya itu. Abi pun mendesah pelan lalu meletakkan iPad di atas meja dan mulai menyantap hidangan makan malamnya daripada Melinda semakin marah padanya. *** Pagi-pagi sekali Abi sudah pergi ke kantor di saat Melinda masih bersiap untuk mandi pagi. Sejak kejadian di Altitude, Melinda mogok bicara padanya. Abi pun malas membujuk Melinda agar tidak marah lagi. Lagipula, nanti siang ia memiliki agenda rapat penting dengan pihak Bursa Saham untuk membicarakan keinginannya guna mengajukan agar saham perusahaan properti miliknya melenggang di bursa saham, maka, Abi pun memilih untuk segera pergi ke kantor untuk mempersiapkan dirinya dan memastikan bahwa semua dokumen yang akan diajukan sudah lengkap dan tepat. Baru saja tiba di kantornya, Abi memanggil Vika untuk segera masuk ke dalam ruang kerjanya. “Ya, Bi, ada apa?” tanya Vika saat tiba di hadapan Abi. “Vika, tolong carikan tiket pesawat ke Barcelona dan hotel untuk saya dan Melinda. Oh ya, yang kelas bisnis, ya,” ujar Abi dengan mantap yang membuat Vika ternganga sejenak. “Oh, b-baik. Tanggalnya?” “Hmm, ... 3 sampai 7 bulan depan.” “Baik, Bi. Nanti aku carikan, ya.” “Tolong carikan hari ini juga, ya. Melinda harus ajukan cuti dulu ke kantornya, makanya kamu harus sekarang juga cari tiketnya.” “Baik, Bi. Aku akan segera kasih kabar ke kamu.” “Thanks, Vika.” “Sama-sama.” Vika keluar dari dalam ruang kerja Abi dengan raut wajah yang tegang. Ia marah pada kebahagiaan Melinda. Dasar sial, di saat emosinya memuncak, Vika tetap saja harus melaksanakan perintah Abi. Kemarahannya semakin menjadi-jadi saat dilihatnya harga tiket pesawat dan hotel bintang lima yang akan didapatkan Melinda. *** Pukul 10 malam, Abi kembali tiba di rumahnya setelah menghadiri acara makan malam bersama dengan para pejabat dari Kementerian. Ia mendapati Melinda sedang menyaksikan tayangan drama favoritnya. Ia pun segera mendarat di ranjang lalu mengecup pipi Melinda. “I have something for you,” ujarnya. Melinda menatap Abi dengan tatapan malas karena ia sudah menebak Abi akan memberikannya perhiasan emas atau berlian atau tas atau jam tangan dari luxury brand. Ya, wajar Melinda bosan. Ia sudah sering mendapatkan barang-barang mewah itu setiap kali Abi meminta maaf padanya. Namun, kali ini berbeda. Abi menunjukkan e-Mail atas pemesanan tiket pesawat kelas bisnis melalui layar ponselnya. “Tadaaa!” seru Abi. Kedua mata Melinda terbelalak saat membaca pesan yang tertulis di badan e-Mail itu. “I-ini ... apa?” tanya Melinda untuk memastikan dugaannya tidak salah. Ya, Melinda meyakini bahwa itu adalah e-Mail atas pemesanan tiket pesawat, tetapi, ia tidak mau merasa senang sebelum mengetahui kebenarannya. “Aku mau ajak kamu ke Barcelona lagi. Aku udah kosongin jadwal tanggal 3 sampai 7 bulan depan biar kita bisa liburan.” “Liburan?!” seru Melinda dengan senyum semringahnya. “Ya, aku mau menikmati quality time sama kamu.” “Yakin?” “Yakin. Aku udah minta Vidi untuk kosongin jadwal aku dan gantiin aku misal ada rapat mendadak.” “Kenapa? Kamu kan lagi banyak kerjaan, apalagi JJSG Property mau IPO, kan? Emang boleh kamu ninggalin kantor selama itu?” Abi pun tersenyum mendapati pertanyaan Melinda. Ia hanya meninggalkan kantor, bukan meninggalkan pekerjaannya. “Istri aku bilang dia kangen sama aku, jadi, aku harus ada untuk dia. Dia yang terpenting untuk aku.” “Ah, kamu gombal!” keluh Melinda yang membuat Abi terkekeh. Namun begitu, Melinda tetap memeluk Abi dengan erat. “Makasih, Sayang!” ujarnya. “Iya. Jangan marah lagi, ya,” balas Abi. “Siapa yang marah?” ujar Melinda seraya melepaskan pelukannya. “Ya kamu.” “Enggak tuh.” “Oh ya? Terus, yang dari kemarin diemin aku terus siapa, ya?” “Siapa yang diemin kamu?” “Ya kamu!” “Enggak. Kamu aja yang baperan.” Melinda menjulurkan lidahnya seraya terkekeh mendapati ekspresi Abi yang terkejut atas ucapannya. Ia pun mengambil ponselnya untuk melakukan pencarian di internet mengenai tempat mana saja yang akan ia kunjungi selama di Spanyol. “Apa kamu bilang?” ujar Abi seraya memeluk Melinda dan menghujami wajah istrinya itu dengan kecupan ganas hingga membuat wanita itu terkekeh geli dan ponselnya terlepas dari genggamannya. “Hahaha, ... ampun, Abi!” ujar Melinda yang tidak bisa berhenti tertawa karena Abi menggelitiki pinggangnya. “Tiada ampun bagimu,” balas Abi. Dibaringkannya tubuh Melinda di atas ranjang dan ia pun memposisikan tubuhnya berada di atas istrinya itu. Disusurinya tubuh indah itu dan menikmati setiap jengkalnya. Melinda pun mendesahkan kenikmatan yang didapatkannya. Ia tidak dapat menolak setiap sentuhan yang membuatnya meneriakkan nama pria yang menjamah tubuhnya. *** Hari yang ditunggu-tunggu Melinda akhirnya tiba. Sudah beberapa minggu lalu ia mengajukan cuti untuk menikmati liburan bersama sang suami dan hari itu akan segera tiba. Tepat pukul lima sore, Melinda sudah menonaktifkan laptopnya dan memasukkannya ke dalam laptop. Ia ingin segera pulang ke rumah untuk bersiap-siap sebelum keberangkatannya ke Spanyol. “Woilah, semangat banget, Bund!” celetuk Nicky begitu mendapati Melinda tampak riang gembira menghampiri meja kerjanya. Saat jam istirahat makan siang tadi Melinda menawarkan Nicky untuk pulang kerja bersamanya dengan diantar oleh sopirnya. Nicky pun menerima tawaran Melinda tersebut. Lumayan, bisa hemat ongkos, pikir Nicky. “Ya, dong! Kan mau liburan,” balas Melinda dengan senyum merekah. “Wah, Mbak Mel mau honeymoon lagi, ya?” ujar Fatin dengan wajah semringah. “Semoga berhasil pembuahannya, ya, Mel,” timpal Karlina. “Aduh, Karlina, bahasanya halus bener,” ujar Tirta yang membuat rekan-rekan satu timnya tertawa. Setelah berpamitan pada rekan-rekan kerjanya, Melinda dan Nicky melangkah bersama-sama menuju lift. Di sana mereka bertemu Harfandi yang baru saja keluar dari dalam toilet. Sebelum menerjang jalanan ibu kota di jam pulang kantor, Harfandi memastikan bahwa dirinya tidak ingin buang air selama perjalanan. “Wah, ada apa, nih? Kelihatannya seneng banget,” ujar Harfandi yang mendapati Melinda tertawa riang gembira saat menceritakan bagaimana Abi memberikannya tiket liburan ke Spanyol setelah pertengkaran mereka akibat Abi yang selalu saja sibuk. “Ya jelas dong Melinda happy berat. Dia kan mau honeymoon sama ayang bebnya,” balas Nicky untuk menggoda Melinda. ‘Oh, sial!’ ujar Harfandi membatin. “Good luck, ya, Mel!” ujarnya pada Melinda dengan senyuman palsunya. “Good luck?” tanya Melinda yang tidak mengerti mengapa Harfandi mengatakan hal itu padanya. “Semoga cepat isi,” jawab Harfandi. Nicky pun tertawa dan ikut mengamini ucapan Harfandi, sedangkan Melinda tersenyum malu-malu karena semua orang berpikir ia dan Abi sedang berusaha untuk mendapatkan keturunan. Ding! Pintu lift terbuka. “Pak Har, kita pulang dulu, ya,” ujar Nicky sebelum masuk ke dalam lift. “Duluan, ya,” ujar Melinda pada Harfandi. “Ya, hati-hati,” balas Harfandi seraya melambaikan tangan pada sepasang sahabat itu. ‘Kalaupun kamu hamil, aku gak akan biarkan bayi itu lahir, Melinda. Aku gak sudi Abi mendapatkan kebahagiaan di hidupnya,’ ujar Harfandi membatin seraya melangkah kembali menuju ruang kerjanya untuk mengambil laptopnya dan pulang kembali ke unit apartemennya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN