Bab 12 – Saya Gak Akan Ninggalin Kamu, Kok!

1421 Kata
Harfandi merasakan tubuhnya sudah mulai pegal. Diliriknya jam di pojok kanan bawah laptopnya. Rupanya hari sudah berada di pukul 8 malam. Setelah jam istirahat makan siang tadi, Harfandi terus fokus pada pekerjaannya menganalisis keuangan KBE hingga ia lupa waktu. Perutnya pun sudah mulai terasa keroncongan. Ia memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya malam hari itu. Dimatikan nyala laptopnya lalu memasukkannya ke dalam tas kerjanya. Saat melintasi ruang tim HRD, Harfandi mendapati lampu ruangan tersebut masih menyala terang. Ia pun segera menghampiri ruang kerja yang pintunya terbuka lebar itu dan mendapati Melinda yang masih berada di balik meja kerjanya. Tok tok tok. Harfandi mengetuk pintu ruang kerja tersebut. “Eh, iya, Pak,” ujar Melinda seraya menatap Harfandi. “Ehem,” dehem Harfandi untuk mengingatkannya agar tidak memanggil namanya dengan embel-embel sapaan ‘bapak’. “Eh, maaf, Har,” balas Melinda seraya terkekeh. “Ada apa?” tanyanya. “Kamu kok belum pulang?” ujar Harfandi yang malah balik bertanya. “Saya lagi nunggu suami saya. Dia mau jemput ke sini.” Dalam batinnya, Harfandi berdecih kesal. Ia berharap Abi mengalami kecelakaan yang menyebabkan pria itu tidak dapat menjemput Melinda. Biarlah nanti ia menikahi Melinda dan menafkahinya. “Kamu mau tunggu di lobby gedung aja, gak? Saya sudah mau pulang. Tinggal kamu sendiri lho yang di kantor.” “Iya deh, saya tunggu di lobby saja.” Melinda segera mematikan nyala laptopnya lalu memasukkan semua barangnya ke dalam tas. Lebih baik ia menunggu Abi di ruang tamu gedung kantornya sambil memainkan ponselnya daripada harus berada di kantor seorang diri. “Gak usah buru-buru, Mel, takutnya malah ada yang tertinggal,” ujar Harfandi karena ia melihat Melinda sangat grasak-grusuk memasukkan barang-barang miliknya ke dalam tas dan merapikan meja kerjanya. “Saya gak akan ninggalin kamu, kok!” lanjutnya. Tiba-tiba saja Melinda mematung sejenak. Ia teringat pada ucapan Abi yang berjanji tidak akan meninggalkannya. Saat Abi dijodohkan dengan Vika, Melinda memilih untuk mengalah. Melinda merelakan Abi menikah dengan Vika agar Abi dan kedua orang tuanya tidak terus-menerus bertengkar karena Abi terus saja mengatakan pada orang tuanya bahwa dirinya hanya ingin menikah dengan kekasihnya, bukan Vika. Pada akhirnya, Abi membuktikan ucapannya. Dengan tegas ia menolak Vika untuk menjadi istrinya dan memperistri Melinda. *** Saat menunggu pintu lift terbuka, Harfandi terus memandangi Melinda dengan tatapan yang cukup tajam. Melinda sedang mengetik sesuatu di ponselnya yang diperkirakan Harfandi wanita itu sedang berkirim pesan dengan sang suami. “Oh, ya, Mel, ...,” panggil Harfandi yang membuat Melinda menatapnya, “saya dengar cerita dari teman-teman kantor kita, ... katanya kamu istrinya Abimanyu Diratama Joyonegoro, Dirut JJSG. Apa benar?” tanyanya yang berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang Melinda. Tidak. Harfandi tidak berpura-pura bertanya tentang suami Melinda pada para rekan kerjanya sebelumnya. “Oh, ... iya,” jawab Melinda seraya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Sesungguhnya, Melinda tidak terlalu suka jika teman-teman kantornya membicarakan suaminya sebab ia tidak mau ada perlakuan berbeda padanya hanya karena ia adalah seorang istri dari pebisnis ternama. “Kenapa kamu kerja di sini? Suami kamu kan punya perusahaan besar,” tanya Harfandi lagi. “Karena ada Nicky,” jawab Melinda. Kali ini dengan senyum semringah. Ding! Pintu lift terbuka. Harfandi mempersilakan Melinda untuk masuk lebih dulu ke dalam lift. “Oh, ya, kamu dan Nicky sangat dekat,” ujar Harfandi melanjutkan percakapannya dengan Melinda. “Iya. Saya dan Nicky memang satu kampus dan satu jurusan saat kuliah dan kami bersahabat. Abis lulus kuliah, Nicky keterima kerja di KBE. Dia yang ngasih tau saya di kantornya lagi butuh staf baru untuk HR. Saya apply, deh, tapi, waktu itu saya cuma satu tahun aja kerja di KBE karena waktu itu suami saya bawa saya ke Amerika.” “Oh, iya. Orang kaya pasti kuliah di luar negeri,” ujar Harfandi seraya menyunggingkan bibirnya untuk menandakan hal tersebut memang sudah lumrah terjadi. “Kuliah S2, sih. S1-nya di sini, kok. Abi itu kakak kelas saya.” “Oh gitu. Jadi, setelah pulang ke Indonesia, kamu kerja lagi di KBE?” “Iya. Saya merasa kesepian karena Abi sibuk kerja. Saya ada usaha kecil-kecilan di bidang aksesoris, tapi, rasanya bosan. Untungnya, Nicky bilang karyawan yang dulu gantiin saya resign dan pindah kerja ke perusahaan lain karena dapat jabatan lebih tinggi, jadi, ya udah, saya lamar kerja lagi deh ke KBE.” “Oh, I see.” Pintu lift terbuka di lantai dasar. Harfandi mempersilakan Melinda untuk keluar dari dalam lift lebih dulu. “Makasih, ya, Har, udah mau nungguin saya berberes tadi,” ujar Melinda saat ia dan Harfandi sudah sama-sama melewati pintu akses gedung. “No problem, Mel. Oh, ya, suami kamu belum datang, kan? Ikut saya saja, yuk, ke Perfetto,” ajak Harfandi. “Boleh,” balas Melinda. Mereka pun bergegas menuju restoran Italia yang berada di lantai dasar gedung perkantoran elit tersebut. *** Harfandi memesan makan malamnya berupa spaghetti vongole dan segelas red wine, sedangkan Melinda hanya memesan segelas air jeruk. “Kamu gak pesan makan?” tanya Harfandi setelah pelayan membawa catatan pesanan mereka ke dapur. “Gak usah. Nanti kan saya mau makan malam sama suami saya,” jawab Melinda seraya tersenyum. “Kita gak usah pakai sebutan ‘saya kamu’, ya. Pakai sebutan ‘aku kamu’ aja, kayaknya lebih cocok. Ya, kecuali kalau di kantor,” ujar Harfandi karena merasa ia dan Melinda berbicara dalam kondisi terlalu formal. “Oke,” balas Melinda dengan senyuman manisnya. “Ajak aja suami kamu makan di sini.” “Hmm, ... dia udah pesan tempat di Altitude.” *“Uh, fancy!” (*Uh, mewah!) **“This is a fancy restaurant too,” (**Ini juga restoran mewah) balas Melinda seraya terkekeh mengingat harga menu di restoran tersebut hanya bisa dijangkau oleh para bos di gedung kantor itu. Ya, jarang sekali terlihat staf biasa mampir ke sana. “Gimana rasanya jadi istri pewaris JJSG?” “Biasa aja.” “Masa?” “Ya sama aja seperti jadi istri lainnya.” “Kamu pernah menikah sama orang lain selain Abimanyu?” canda Harfandi. “Bukan begitu,” balas Melinda seraya terkekeh. “Maksud aku, ... kalau berdasarkan apa yang aku lihat dari ibu aku dan cerita teman-teman lainnya yang sudah menikah, apa yang mereka alami sebagian besar juga aku alami. Dulu kalau lagi libur, aku bisa bangun siang, tapi, sejak nikah, paling siang ya mungkin bangun jam 7 atau 8 kali, ya. Misal aku lagi sakit, dulu aku bisa rebahan aja di tempat tidur, tapi, setelah nikah, aku tetap harus memastikan kebutuhan suami aku terpenuhi walau mungkin aku lagi demam.” “Kalau istri aku lagi sakit, pasti aku akan minta dia untuk istirahat total dan gak perlu mikirin keperluan aku dulu.” “Iya, Abi juga seperti itu, tapi, aku-nya yang khawatir. Aku ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja.” ‘Cih!’ decih Harfandi membatin. “Nanti setelah kamu menikah, kamu akan paham betapa istri kamu selalu memastikan kebutuhan kamu terpenuhi,” ujar Melinda yang dibalas Harfandi dengan senyuman dan anggukkan kepalanya. Tak perlu menunggu waktu terlalu lama, pelayan sudah menghidangkan pesanan makanan dan minuman Melinda dan Harfandi. “Hmm, ... wanginya sedap sekali,” ujar Melinda. “Yakin kamu gak mau pesan?” tanya Harfandi untuk berusaha agar Melinda tidak pergi dari hadapannya secepat mungkin. “Enggak. Terima kasih,” balas Melinda yang benar-benar yakin untuk tidak membuat dirinya tidak terlalu kenyang agar ia bisa menikmati makan malam berduanya dengan sang suami. Telepon Melinda berdering. Abi menghubunginya untuk mengatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan bersama Durna dan sebentar lagi akan tiba di gedung kantor istrinya itu. “Har, aku pergi duluan, ya. Abi udah mau sampai.” “Gak dihabiskan dulu minumnya?” Melinda pun meneguk air jeruknya, tetapi, hanya seperempatnya saja. “Har, ini tolong nanti kamu bayar, ya,” ujar Melinda setelah merogoh tasnya dan mengambil selembar uang seratus ribu rupiah lalu menyerahkan uang itu pada Harfandi. “Bawa saja. Ini saya traktir.” “Eh, gak usah.” “Kenapa? Karena suami kamu kaya raya makanya kamu gengsi ditraktir?” ujar Harfandi untuk mengintimidasi Melinda. “Eh, e-enggak, kok,” balas Melinda dengan raut wajah khawatir Harfandi akan tersinggung. “Ya sudah, malam ini saya yang traktir.” “Makasih banyak, ya, Har.” “Sudah sana ke lobby biar suami kamu gak kelamaan nungguin kamu.” “Oke, aku pamit, ya. Hati-hati nanti di jalan pulang.” “Ya, hati-hati juga, Melinda.” Melinda bangkit dari kursinya dan melangkah pergi dari dalam restoran Italia itu diiringi tatapan tajam Harfandi. Setelah Melinda menghilang dari pandangannya, Harfandi memandangi gelas berisi air jeruk di hadapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN