Bab 11 - Seandainya

1424 Kata
“Good morning, Sweetheart!” bisik Abi ketika mendapati Melinda terjaga dari tidurnya. Melinda pun tersenyum padanya dan meminta untuk memeluknya dengan erat. Tentu saja Abi mengabulkan keinginan istrinya itu. Sudah satu minggu ini Abi kembali dari Kalimantan, tetapi, belum sekalipun ia dan Melinda bercengkerama selayaknya suami istri. Lagi-lagi mereka harus rela waktunya lebih banyak dihabiskan untuk pekerjaan mereka. Hari itu Abi sedang tidak ada pekerjaan yang mendesaknya untuk tiba lebih awal di kantor dan tidak ada rapat yang harus dihadirinya. Oleh karena itu, ia memilih bergelung lebih lama lagi di dalam selimut dengan sang istri dan memberikannya sentuhan hangat yang membuat wanita itu berkali-kali meneriakkan kenikmatan yang didapatkannya. Setelah mendapatkan kepuasan batinnya, Abi melepaskan Melinda dari kungkungannya. Dikecupinya wajah istrinya itu yang masih mencoba untuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat permainan panas mereka. “Jam berapa sekarang?” tanya Melinda. “Udah hampir jam tujuh,” jawab Abi. “Hah?!” ujar Melinda histeris. Ia bangkit dari posisi berbaringnya untuk menatap jam beker di atas nakas. “Huaaa!” teriaknya begitu mengetahui ia hampir telat ke kantornya. Buru-buru ia bangkit dari ranjangnya dan berlari menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian yang akan ia pakai ke kantor hari itu. “Kenapa sih, Mel?” tanya Abi seraya bangkit dari posisi berbaringnya. “Aduh, sebentar lagi aku telat ke kantor, nih!” jawab Melinda “Kantor kamu kan ada sistem flexible morning hour,” ujar Abi seraya bangkit dari ranjang. “Ya tetap aja aku gak enak kalau terlambat! Aku kan bagian dari HR. HR itu kan wajah perusahaan.” “Ya udah, sini, aku mandiin biar cepet.” “Gak mau! Nanti kamu nakal lagi kan aku yang repot!” balas Melinda sebelum masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci rapat pintunya yang membuat Abi terkekeh. *** “Wah, tumben telat! Abis indehoy sama laki lo ya makanya telat?” goda Nicky yang berpapasan dengan Melinda saat ia baru saja membeli segelas kopi dan sebungkus roti di mini market dan Melinda yang baru saja tiba di gedung kantor mereka di pukul 9 pagi. “Gue bangunnya telat!” balas Melinda untuk mengelak dari godaan Nicky. Sayangnya, wajahnya bersemu merah dan ia tidak sanggup untuk menurunkan bibirnya yang tertarik ke atas karena sebenarnya tebakan Nicky memanglah benar. “Kecapean gara-gara digempur laki lo semalaman, kan?” goda Nicky lagi yang membuat Melinda mencubit pelan lengannya. “Ih, apa sih, lo?!” protes Melinda dengan memberutkan wajahnya. “Udah deh, ngaku aja.” “Ih, Nicky! Kan gak enak kalau kedengeran orang lain!” “Ya udah sih gapapa. Semua orang kan tau lo istri sahnya kak Abi.” “Ya tapi gak enak dong bahas ranjang di kantor!” protes Melinda lagi yang akhirnya bisa membungkam mulut Nicky walau sahabatnya itu tetap saja terkekeh. Mereka pun bersama-sama memasuki lift yang akan membawa mereka ke lantai 20. “Oh, ya, Mel, nanti kita makan siang di mana?” “Oh, iya, Nick, sorry, hari ini gue mau makan siang sama laki gue.” “Ya ampun, Mel, masih belum puas tadi malem?” “Ih, gak gitu! Kan jarang-jarang gue bisa makan siang sama laki gue. Mumpung dia lagi gak sibuk, ya udah, kita janjian makan siang bareng deket sini.” “Eh, tapi, nanti lo jangan indehoy lagi di mobil.” “Ih, ya enggaklah!” Ding! Pintu lift terbuka. Nicky berlari-lari kecil menuju kantornya seraya tertawa puas setelah berhasil menggoda Melinda diiringi sahabatnya itu yang mengejarnya. “Nicky! Awas lo, ya!” ujar Melinda. Tepat di depan pintu masuk kantor KBE, Melinda dan Nicky berpapasan dengan Harfandi yang baru saja keluar dari dalam toilet pria. Harfandi pun menyapa kedua wanita itu. “Hai, ada apa nih ketawa riang gembira begitu?” “Ini, Pak, si Melinda ...,” ujar Nicky yang langsung saja dipotong oleh Melinda. “Kita abis ngomongin drakor baru, Pak,” ujar Melinda secepat kilat agar Nicky tidak mengucapkan hal-hal aneh pada CFO baru mereka itu. “Ih, drakor. Orang kita tadi lagi ngomongin dracin,” ujar Nicky yang lagi-lagi sengaja menggoda Melinda. “Eh, i-iya, Pak, ... dracin,” timpal Melinda seraya menunjukkan seringai kudanya. Harfandi tampak mengerutkan dahinya karena Melinda seperti menutupi sesuatu darinya dan Nicky yang tahu tentang rahasia Melinda itu terus menggoda sang sahabat. “Apa judulnya?” tanyanya. Melinda pun kembali menunjukkan seringainya. “CEO yang menyamar jadi tukang sapu demi bertemu cinta sejati,” jawab Nicky asal saja karena ia sendiri pun belum pernah menyaksikan drama Cina. “Dasar wanita. Mau menerima cinta kalau prianya kaya,” ujar Harfandi untuk menyindir Melinda yang menikahi pewaris JJSG. “Walaupun kaya, tapi, kalau cowoknya b******k ya saya juga ogah, Pak,” balas Melinda. “Betul!” timpal Nicky. *** “Mel, saya makan siang dulu, ya,” ujar Reihan pada Melinda karena tiga orang sohibnya, Tirta, Paulus, dan Nanu sudah menjemputnya untuk pergi ke kantin bersama-sama. “Oh, iya, Pak,” balas Melinda. “Kamu gak makan siang?” “Saya lagi nunggu suami saya, Pak. Kita udah janjian mau makan siang bareng.” “Ya sudah, saya duluan, ya.” Melinda pun tersenyum dan mengangguk pada Reihan sebelum bosnya itu keluar dari dalam ruang kerja timnya. Melinda mengedarkan pandangannya ke seisi kantor. Kantornya itu terasa sangat sepi sebab semua orang telah pergi ke kantin, ke warteg, dan ke mall untuk menikmati makan siangnya. Hanya tersisa beberapa orang saja yang masih berada di sana termasuk dirinya, dua orang dari tim Information and Technology, dan seorang receptionist. Melinda pun mengambil ponselnya untuk menghubungi Abi. Jam sudah menunjukkan pukul 12.15 dan 45 menit lagi jam istirahat makan siang akan segera berakhir, maka, ia harus segera menikmati makan siangnya agar tidak telat kembali ke kantor. Baru saja ia akan melakukan panggilan ke nomor ponsel Abi, suaminya itu terlebih dulu menghubunginya. “Halo, Bi. Sebentar, ya, aku turun dulu ke bawah,” ujar Melinda menjawab panggilan telepon Abi seraya bangkit dari kursinya dan menyambar tote bag-nya. “Mel, maaf banget. Aku gak bisa makan siang sama kamu sekarang,” ujar Abi yang membuat kedua mata Melinda terbelalak dan mulutnya ternganga. “Apa?!” “Pak Zulkifli dari Mawar Property majuin rapat untuk proyek pembangunan apartemen baru mereka karena besok subuh dia harus berangkat ke Singapore, jadi, malam ini dia harus siap-siap untuk besok.” “Kenapa kamu gak bilang dari tadi, sih?!” “Iya, maafin aku, Sayang. Pak Zulkifli juga ngasih taunya mendadak banget. Vidi juga terpaksa batalin makan siang sama istrinya karena rapat dadakan ini.” Terdengar suara desahan kesal dari Melinda di ujung sana. “Nanti malam aku jemput, ya. Kita makan malam di Altitude,” ujar Abi agar Melinda tidak marah. Melinda pun terpaksa pasrah menerima keadaannya yang lagi-lagi menerima pembatalan janji dari Abi. Daripada ia semakin kesal, ia terima saja ajakan makan malam Abi itu. *** Berhubung Nicky sudah pergi ke kantin bersama rekan-rekan lainnya dan jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah satu siang, Melinda pun memutuskan untuk memasak mi instan di microwave saja. Saat sedang menikmati semangkok mi instannya, Harfandi tiba-tiba saja muncul di pantry dan segera menghampiri meja yang ditempatinya. “Hai, Melinda,” sapa Harfandi seraya mengambil styrofoam box berisi makan siangnya yang tadi dibelikan oleh Office Boy di kantin dan mengambil piring dari rak. “Eh, iya, hai,” balas Melinda seraya tersenyum. “Sendirian aja nih?” “Iya, teman-teman makan di luar.” “Saya gabung, ya.” Harfandi pun menarik kursi yang tepat berseberangan dengan Melinda. “Silakan,” balas Melinda. Harfandi segera duduk di hadapan Melinda lalu membuka styrofoam box dan menuangkan isinya, nasi putih dan ayam bakar, berserta lalapannya, ke atas piring. “Kamu makan mi instan aja?” tanya Harfandi saat tidak mendapati lauk lain di dalam mangkok Melina. “Iya.” “Makan yang proper, dong.” “Lagi pengen aja makan mi instan,” balas Melinda diiringi senyumannya untuk menutupi rasa sedihnya karena Abi membatalkan janji makan siang mereka. Sudah lama ia dan Abi tidak makan siang bersama di restoran favorit mereka, tetapi, di saat Abi sudah berjanji akan membawanya ke sana malah suaminya itu membatalkan janjinya tepat di saat jam istirahat makan siang. “Maaf, Mel, tadi aku banyak kerjaan, jadinya baru bisa makan siang sekarang. Andai aja aku tau kamu sendirian di pantry dan cuma makan mi instan, aku akan bawa kamu ke restoran aku aja,” ujar Harfandi yang membuat Melinda tersenyum. “Gapapa, Har. Aku emang lagi kangen banget makan mi instan ini.” “Jangan keseringan, ya. Gak baik untuk kesehatan.” “Siap, Bos!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN