Lily tidak berpindah tempat sama sekali. Ia hanya duduk dan jantungnya berdegup semakin kencang setiap kali ia mendengar suara langkah kaki di dekat pintu masuk menuju lorong bawah tanah tempatnya berada. Orang-orang yang sekarang berada di rumahnya berbicara dengan cara berteriak sehingga Lily dapat mendengarnya dengan jelas.
"Bongkar semuanya! Pastikan bahwa kalian mengecek semua bagian! Semua hal yang bisa kalian buka, semua hal yang bisa kalian lihat, semua hal yang bisa kalian cium dan semua hal yang bisa kalian dengarkan, cek semuanya tanpa kecuali! Jika ada bagian yang luput dari pencarian, kalian tahu pasti akibatnya!" teriak George untuk kesekian kalinya.
Semua anggota pasukan yang ada di sana merinding untuk kesekian kalinya. Sekarang mereka hanya bisa pasrah, karena semua bagian bahkan di loteng sekalipun sudah di cek, tapi hasilnya nihil. Eksekusi umum sudah terbayang-bayang di pikiran mereka.
"Fokus! Jangan pikirkan hal lain!" teriak George yang memperhatikan raut wajah dan gerakan mata anak buahnya. "Tugas kalian hanya membawa seorang anak remaja yang sudah dikurung berminggu-minggu dengan penjagaan ketat. Tidak mungkin ia sudah dibunuh hewan pendamping, pasti ada laporan tentang itu. Ayolah! Masa tugas semudah ini kalian tidak bisa." George melanjutkan omelannya, tapi kali ini berbeda. Terdengar suara langkah kaki yang berjalan keluar rumah, suara George juga terasa semakin jauh.
Setelah suara omelan George menghilang, suara orang-orang yang membongkar-bongkar barang kembali terdengar. Lily mengubah posisinya dan memberanikan diri untuk merangkak menjauhi rumahnya. Setelah ia selesai membaca situasi dan memperkirakan berbagai langkah yang bisa diambilnya, Lily menyadari bahwa ia bisa bergerak saat situasi cukup ramai dan berhenti saat sudah mulai sepi.
Lorong bawah tanah itu ternyata cukup panjang, Lily merangkak cukup jauh. Untungnya senter yang dibawa Lily dapat bertahan cukup lama. Ia mengatur senternya agar menghasilkan cahaya redup agar baterainya tidak cepat habis, karena Lily tidak tahu pasti berapa lama ia akan merangkak di sana.
Lorong bawah tanah ini dilapisi keramik sederhana dan lorong awalnya hanya memiliki satu jalur, tanpa naikan dan turunan. Seratus meter awal hanya bisa digunakan untuk merangkak, lalu akan ada perbesaran lorong sampai tingginya 2 meter. Dari situ, Lily mulai berjalan biasa.
Sepanjang mata memandang hanya terlihat lorong yang sangat panjang, Lily bahkan tidak bisa memperkirakan dimana dia berada sekarang.
***
Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, Lily melihat cahaya di kejauhan. Ia mempercepat langkah kakinya dan sampailah Lily pada sebuah pintu yang merupakan ujung dari lorong itu. Cahaya yang dilihat Lily tadi ternyata berasal dari celah di antara pintu. Lily membuka pintu itu dan mendapati sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan itu terlihat seperti sebuah laboratorium.
Di salah satu dinding ada foto kedua orang tuanya bersama dengan Lily yang masih di gendong dan juga seorang anak laki-laki yang terlihat beberapa tahun lebih tua dari Lily. Di dinding lainnya ada banyak penghargaan berjejer, tapi penghargaan yang ada di sana berbeda dengan yang ada di rumah. Penghargaan-penghargaan itu memiliki simbol dari Diamond Kingdom. Lagi-lagi lily bingung dengan apa yang ditemukannya.
Tiba-tiba ada suara langkah kaki yang mendekati ruangan itu, tidak hanya satu atau dua orang melainkan belasan orang. Lily melihat ke sekeliling, berusaha mencari tempat persembunyian. Ia tidak menemukan tempat untuk bersembunyi sama sekali, apalagi ia baru saja sampai dan belum mengelilingi ruangan itu.
Tepat saat pintu lain dari laboratorium itu dibuka, Lily hanya jongkok dan tidak berpindah tempat sama sekali. "Tadi sensor mendeteksi ada yang masuk ke ruangan ini, coba cek terlebih dahulu sebelum kita memakai ruangannya." Terdengar sebuah suara yang familiar di telinga Lily.
Lily memberanikan diri untuk mengintip melewati celah-celah antar barang yang ada di laboratorium walaupun ia sangat takut. Setelah melihat wajah orang yang tadi berbicara, Lily berusaha mencerna lagi apa yang sedang terjadi. Ia berusaha memahami situasinya, tapi tetap tidak mengerti juga. Akhirnya, Lily mengambil tindakan secara acak. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih lagi karena sudah terlalu bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ayah?" ucap Lily setelah menarik napas panjang. Ia juga berdiri agar tubuhnya terlihat. Lily sudah pasrah. Kedua orang tuanya yang dikabarkan meninggal malah ditemuinya disini. Teka-teki super sulit yang didapatnya pun tidak dapat dipecahkannya dengan baik. Para prajurit yang tiba-tiba mencarinya pun ia tidak mengetahui alasannya.
Entah ini perangkap atau bukan. Ia pasrah. Benar-benar pasrah. Tak ada yang bisa dilakukan Lily lagi, jika ia tidak muncul pun, ia hanya akan tertangkap basah dalam beberapa menit lagi.
Plak!
Terdengar suara sebuah pukulan, atau lebih tepatnya sebuah tamparan yang membangunkan Lily dari mimpi panjangnya. "Lily! Akhirnya kamu bangun juga!" teriak Mila, salah satu teman sekelas Lily. Semua orang yang ada di ruangan menghentikan kegiatan mereka dan langsung berkumpul di dekat Lily.
Lily melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa ini adalah rumahnya sendiri, lalu tadi itu apa? Hanya mimpi belaka? Rasanya sangat nyata. "Memangnya, aku kenapa?" tanya Lily sambil melihat ke sekeliling.
"Kamu pingsan di lapangan, setelah Wreyn mengecek kekuatan sihirnya." Mila menjelaskan dengan singkat dan jelas. Sedangkan Lily kaget karena menyadari bahwa hal-hal yang dilaluinya itu merupakan mimpi, mimpi yang sangat suram dan menguras tenaga. Ada satu hal yang mengganjal bagi Lily, kenapa mimpi dan kenyataannya bisa terhubung dengan sangat baik.
"Oh iya, kamu juga dapat surat dari Music Kingdom. Karena kamu tak kunjung bangun jadi kami sudah membukanya." Mila menunjukkan sebuah surat dengan bentuk dan tulisan di bagian depan yang sama persis seperti mimpi Lily. "Apa isinya?" tanya Lily sambil mengambil surat itu dari tangan Mila.
"Orang tuamu akan pulang hari ini," jawab Hilda yang juga teman sekelas Lily. Sepertinya anak kelasnya secara bergantian menjaga Lily karena Lily tinggal sendirian dan tak ada yang menjaganya. Lily dapat melihat itu dari kerusuhan kamarnya dan sepertinya seisi rumahnya juga ikut menjadi kapal pecah saat ia pingsan.
"Lily, rasanya kamu berubah. Bahkan sampai beberapa menit pun kamu tidak mencari buku atau bacaan lainnya, pandanganmu juga berbeda dari biasanya," ucap Ronald, salah satu teman sekelas Lily yang juga merupakan ketua kelas Lily.
Lily tersentak kaget menyadari hal itu, semua hal yang dialaminya di mimpi bertolak belakang dengan kenyataan kecuali bagian itu. Pikirannya benar-benar berubah, total.
"Entahlah, aku lapar," jawab Lily asal, ia berusaha mengubah topik pembicaraan karena ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Tentu saja kamu lapar, kamu pingsan selama dua hari," ucap Hilda sambil membawa beberapa makanan dan juga air putih.
Lily hanya tersenyum tipis walaupun ia kaget ternyata ia hanya pingsan dua hari padahal di mimpinya sudah sebulan.
Lily makan dan mengobrol dengan teman-temannya untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ia sadar bahwa semua pikiran negatifnya tidak berguna karena pikiran teman-temannya bahkan tidak sampai untuk melakukan hal itu.
Waktu berlalu, sampai akhirnya kedua orang tua Lily sampai di rumah dan semua teman Lily pamit pulang.
"Akhirnya kamu punya teman ya," goda Ayah Lily ketika teman-teman Lily sudah pulang. Lily hanya tersenyum tipis, tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Kami mendapat surat dari mereka saat kamu pingsan," ucap Rose--Ibu Lily--sambil menunjukkan sebuah surat yang ditulis dengan tangan. Lily tidak memberikan respon apapun walaupun dia tidak tahu tentang hal itu.
"Sudahlah, ia masih seperti biasanya sayang. Tidak merespons apapun yang kita katakan," ucap Roviuz Xen--Ayah Lily--sambil merangkul Rose dan pergi ke kamar untuk mandi dan membongkar isi koper. Sedangkan Lily langsung kembali ke kamar dan membereskan kamarnya. Sebenarnya sebagian kekacauan sudah dirapikan oleh teman sekelasnya yang cukup tahu diri itu, tapi masih ada yang harus dibereskan sendiri oleh Lily.
"Lily! Sudah waktunya makan malam," panggil Rose bahkan sebelum Lily selesai membereskan barang-barangnya. "Iya," jawab Lily tanpa sadar, lalu ia segera ke luar kamar dan menuju ruang makan.
Ketika Lily sampai di ruang makan, kedua orang tuanya memperhatikan Lily dari atas sampai bawah. "Ada apa?" tanya Lily sambil duduk di kursi meja makan. Rose dan Xen saling pandang.
"Lily, apa yang sebenarnya terjadi selama kami pergi? Untuk pertama kalinya kamu membalas saat dipanggil untuk makan, bahkan kamu menyadari bahwa kami sedang memperhatikanmu sampai bertanya ada apa. Apakah ini benar-benar Lily? Jangan-jangan kamu orang lain yang berperilaku seperti Lily?" tanya Rose dengan tatapan mata menyelidik.
"Ini benar-benar aku, ceritanya panjang dan ... sudahlah, lupakan saja. Aku mau bertanya hal lain," ucap Lily yang malas menceritakan mimpinya yang sangat panjang itu, bahkan ia masih mengingat detail mimpi itu.
"Apa?" tanya Xen yang sangat bersemangat untuk menjawab pertanyaan Lily. Sebenarnya Lily jarang bertanya ke orang tuanya, biasanya Lily lebih memilih untuk mencari jawabannya sendiri daripada bertanya.
"Apakah kalian tahu sesuatu tentang lorong bawah tanah di dekat sini?" tanya Lily dengan hati-hati. Ia tidak menyebutkannya dengan jelas untuk memastikan apakah orang tuanya benar-benar tahu atau tidak?
Rose dan Xen tidak langsung menjawab, mereka saling pandang dan tampak berpikir keras. "Maksudmu?" tanya Xen balik. "Laboratorium tersembunyi," jawab Lily dengan singkat, ia hanya ingin memastikan apakah mimpinya memiliki kesamaan lain dengan kenyataan atau tidak.
"Lily, kamu pernah masuk ke kamar kami?" tanya Rose lagi. Sepertinya mereka ingin memastikan sesuatu sebelum menjawab pertanyaan utama Lily.
"Di kenyataan tidak pernah, tapi kalau di mimpi mungkin pernah," jawab Lily jujur. "Owh! Iya, kami tahu tentang lorong bawah tanah, tapi yang kamu temukan di mimpi posisinya berbeda dengan yang sebenarnya ada. Akan kami jelaskan setelah makan, sudah waktunya kami menjelaskan lebih jauh," ucap Xen yang mulai menyuap makanannya.