Lily berdiri di belakang Xen yang sedang membuka kunci kamar sedangkan Rose berdiri di belakang Lily sambil melihat sekitar. Sebelumnya, Xen dan Rose sudah mengecek semua pintu dan jendela untuk memastikannya terkunci dan tertutup rapat.
Cklek!
Setelah kunci kamar terbuka, perlahan Xen membuka pintu. Lily mendapati kamar yang berbeda jauh dengan yang ada di mimpinya. Di kenyataan kamar kedua orang tuanya lebih rapi dan ada lebih banyak barang di dalamnya. Penghargaan-penghargaan yang mereka dapatkan juga tersusun rapi di dinding kamar.
Mungkin bagi sebagian orang, menaruh penghargaan yang mereka dapatkan di kamar itu terlalu berlebihan, tapi di Music Kingdom adalah hal biasa. Alasan utamanya karena penghargaan itu terbuat dari emas murni sehingga menjadi barang yang sangat mahal.
Lily melihat tumpukan buku yang ada di kamar orang tuanya. Sebagian buku ada yang sudah di bacanya sedangkan sisanya belum pernah dilihatnya. Buku-buku yang ada di kamar orang tua Lily berbeda jauh dengan buku-buku yang ada di kamar Lily. Isinya lebih berat dan juga lebih sensitif.
Di ujung rak buku ada buku yang sangat ingin dibaca Lily, judulnya'Magic in Words'. Buku itu adalah sebuah buku best seller 20 tahun lalu, tapi masih menjadi buah bibir di masyarakat. Hanya saja, buku itu sudah tidak dicetak lagi. Kebanyakan buku cetaknya juga sudah rusak karena banyak orang tertarik membacanya tapi tidak menyimpannya dengan baik.
Ada banyak orang yang merasa buku itu tidak berguna karena ia tidak mengerti isinya dan akhirnya menyia-nyiakan buku itu. Sedangkan di pojok rak buku orang tua Lily, buku itu masih tersimpan dengan rapi.
"Ayah, Ibu apakah aku boleh meminjam ini? Aku sangat penasaran dengan isinya," pinta Lily sambil mendekati dan menunjuk buku yang dimaksudnya. "Boleh, tapi nanti saat kita kembali," ucap Rose sambil menggandeng tangan Lily.
Sedangkan Xen mendekati salah satu alat musik yang ada di kamar setelah mengunci kembali pintu kamar. Xen sempat menoleh sebentar ke arah Rose dan Lily untuk mengecek apakah mereka sudah siap atau belum, Rose mengangguk pelan saat Xen melihat ke arahnya.
Xen memainkan alat musik bernama triangel. Ia membunyikan triangel sebanyak sepuluh kali. Di dua bunyi pertama, mulai muncul sebuah lingkaran sihir. Lalu, di bunyi-bunyi selanjutnya lingkaran sihir itu terus membesar. Semakin besar lingkaran sihir itu, Rose berjalan bersama Lily untuk mendekatinya.
Tepat di dentingan ke sepuluh, Rose menarik Lily untuk melompat ke dalam lingkaran sihir itu, diikuti dengan Xen yang menjatuhkan triangle yang dipegangnya dan langsung melompat. Untungnya tanpa aba-aba pun Lily sudah memperkirakan bahwa ia akan melompat ke dalamnya sehingga ia langsung menyesuaikan diri dan tidak memberatkan Rose.
(Note : Triangle adalah jenis alat musik idiophone dalam keluarga perkusi. Ini adalah sebatang logam, biasanya baja tetapi terkadang logam lain seperti tembaga berilium, dibengkokkan menjadi bentuk segitiga. Instrumen biasanya dipegang oleh suatu lingkaran dari beberapa bentuk benang atau kawat di kurva atas.)
Tidak sampai semenit mereka berpindah tempat, mereka sampai di sebuah desa yang masih sangat asri. Semenjak mereka sampai, Lily dapat mendengar dengan jelas alunan musik di seluruh desa. Lagu yang mereka mainkan berbeda satu sama lain, tapi rasanya menyatu dengan sendirinya. Siapapun yang mendengarkannya pasti akan menyukai perpaduan lagu yang mereka mainkan.
"Coba tebak?" Rose menunjukkan sebuah bangunan yang lebih besar dari bangunan lainnya. Di bangunan itu tertera tulisan 'Kepala Desa'. Beberapa saat kemudian keluar seorang pria yang masih sangat gagah dari rumah itu. Lily memperhatikan orang itu dengan seksama, "Apakah ini Music Kingdom sebelum menjadi sebuah kerajaan?" tanya Lily yang menyadari bahwa pria yang keluar dari rumah itu adalah Robertz, Raja Music Kingdom saat ini.
"Lebih tepatnya, ini adalah memori milik kami." Xen dan Rose membawa Lily untuk mengikuti Robertz yang mulai berjalan keluar dari desa.
Cukup jauh dari desa, Robertz bertemu dengan seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam serta sebuah topi yang cukup besar hingga mereka tidak bisa melihat wajah pria itu. "Semua anak yang kamu minta sudah ada di rumah itu, mereka adalah anak terlatih. Semuanya sesuai dengan permintaanmu," ucap pria serba hitam itu dengan suara yang khas.
"Baiklah, ini bayaranmu," ucap Robertz sambil menyerahkan beberapa kantong emas dan pria serba hitam itu menyerahkan sebuah kunci rumah ke Robertz. Setelah itu percakapan selesai dan Robertz berjalan cepat ke arah rumah yang dimaksud pria tadi.
Begitu Robertz membuka pintu, ia menemukan 20 anak dengan kisaran usia 7-12 tahun di dalamnya. Semuanya anak terlatih dan dua diantaranya adalah orang tua Lily.
Setelah itu, Xen, Rose dan Lily tiba-tiba masuk ke sebuah lingkaran sihir dan kembali ke masa kini.
"Memori yang kami simpan dalam alat musik itu hanya sampai sini, karena kami memang berniat menunjukkan memori ini padamu. Memori lainnya sudah kami masukkan ke alat musik lain, tapi memori itu terlalu kelam. Singkat cerita, kami bukanlah penduduk asli dari Music Kingdom begitu juga denganmu, Lily," jelas Xen tepat saat mereka sampai di masa kini.
"Keberadaan badan dan nyawa kami saling bertolak belakang. Nyawa kami tidak dapat menyesuaikan keadaan di sini. Kami mulai merasakannya setelah kami menginjak umur 10 tahun, atau bisa dibilang tepat saat Music Kingdom menyatakan kemerdekaannya. Itulah kenapa kamu pingsan dan mendapat mimpi seperti itu. Kami tidak tahu mimpi apa yang kamu dapatkan, tapi yang jelas inti semua mimpinya sama. Music Kingdom yang mengkhianati kami dan juga cara untuk kabur dengan akhiran aneh." Rose juga melanjutkan ucapan Xen.
"Selain itu, selalu ada surat yang berasal dari Music Kingdom dengan isi yang buruk dan kejadian-kejadiannya seperti nyambung dengan kenyataan hanya saja sebagian besar bertolak belakang," tambah Xen dengan sangat yakin.
Rose dan Xen sudah terlalu sering memimpikannya sehingga tidak mengagetkan lagi. Awalnya mereka berharap Lily memiliki nyawa yang berbeda dengan mereka agar Lily tidak merasakan hal yang sama, tapi ternyata Lily benar-benar mewarisi semua hal dari mereka.
Setelah mendengar ucapan kedua orang tuanya itu, Lily tersentak kaget karena hal itu benar-benar sama dengan apa yang dimimpikannya.
"Memangnya tidak ada cara untuk menghilangkannya? Kalau tetap ada, kapan saja aku akan memimpikannya?" Lily segera bertanya karena melewati satu mimpi saja sudah sangat melelahkan, apakah hidupnya harus seperti ini terus?
"Kami belum menemukannya, cara satu-satunya yang kami tahu adalah dengan keluar dari Music Kingdom dan biasanya kami hanya melakukannya saat ada tugas, sedangkan hari lainnya kami berusaha sekuat tenaga untuk menahannya agar tidak gila. Karena saking seringnya kadang kami tidak bisa membedakan kenyataan dengan mimpi. Lalu, untuk siklusnya. Awalnya hal itu akan datang setiap hari dan makin lama frekuensi terjadinya akan semakin berkurang. Saat ini kami hanya mendapatnya dua minggu sekali," jelas Rose sambil mengambil sebuah buku catatan.
Lily melihat isinya dan ternyata buku itu adalah catatan mimpi-mimpi yang dialami kedua orang tuanya. Mereka mencatatnya sambil berharap akan menemukan benang merah untuk menghilangkan kejadian ini.
"Oh iya Lily, bukankah kamu belum ulang tahun?" tanya Xen setelah mengingat sesuatu yang amat penting. Lily menggeleng pelan.
"Lalu apa yang telah kamu lakukan?" tanya Rose yang juga baru menyadari hal itu. "Aku melihat teman sekelasku yang mengecek kekuatan sihirnya, layaknya tradisi kerajaan," jawab Lily setelah mengingat apa yang terakhir kali ia lakukan sebelum pingsan.
Xen dan Rose saling pandang karena mereka tidak tahu bahwa hal itu bisa memicu Lily menjadi lebih cepat.