Setelah mengantar Ziyana sampai rumah, Gentala kembali ke rumah sakit. Ia sudah sempat pulang dan makan ketika Ziyana pingsan. Gentala ke ruangan operasi, ternyata operasi sudah selesai dan beberapa saat lagi pasien akan dibawa ke ruangan ICU.
Tiba-tiba beberapa polisi menghampiri Gentala. Mereka menanyakan kronologi kecelakaan dan status Gentala dengan korban. Mereka akan berusaha mencari keluarga korban. Mereka juga meminta Gentala bersedia menjadi saksi untuk korban dan memberikan kesaksian di kantor polisi.
Gentala bersedia dan mereka pergi ke kantor bersama.
Sepulang dari kantor polisi yang ternyata memakan waktu cukup lama, Gentala langsung menuju ICU. Di sana ia diizinkan untuk melihat pasien ke dalam. Saat itulah wanita tersebut sadar.
Wanita itu menatap sayu wajah Gentala. Ia lalu melirik ke kanan dan kiri mencari tahu di mana ia sekarang berada. Tubuhnya susah untuk digerakkan bahkan ia tidak dapat merasakan sebagian tubuhnya.
“A ... ku ... di ... ma ... na?” tanyanya dengan suara pelan nyaris tidak terdengar. Gentala mendekatkan wajahnya untuk mendengarkan lebih jelas sebab ia hanya melihat dari embun yang muncul di masker oksigen yang terpasang di wajah pasien.
“Apa?” tanya Gentala.
Pasien mengulangi pertanyaannya dengan susah payah. Suaranya tetap pelan tapi kali ini Gentala dapat memahami pertanyaan pasien.
“Kamu ada di ICU di rumah sakit. Kamu habis mengalami kecelakaan. Saya yang membawa kamu ke sini. Kami tidak dapat menemukan identitasmu, tidak ada keluarga yang bisa dihubungi, jadi, saya berinisiatif menjadi wali sementara untukmu. Kalau boleh tahu, siapa nama kamu dan adakah keluarga yang bisa dihubungi?” Gentala menjelaskan dan bertanya mengenai identitas korban.
Wanita itu baru teringat peristiwa sebelum kesadarannya menghilang. Ia sedang putus asa saat itu dan berniat bunuh diri, ia berlari dan berdiri di tengah jalan. Ia merasakan tubuhnya terbentur dengan keras lalu kegelapan merenggutnya. Ternyata ia belum mati. Kenapa ia harus diselamatkan? Toh, ia juga akan mati, ia hanya ingin mempercepat kematiannya.
Wanita itu tidak menjawab pertanyaan Gentala, air mata menetes dari pelupuk mata. Tiba-tiba wanita tersebut sesak napas. Gentala panik dan langsung memanggil perawat. Gentala diminta keluar, dokter datang dan cepat memberi tindakan.
Gentala berdiri di depan ICU. Ia menatap nanar dari jendela. Apakah hidup wanita itu begitu berat? Apa yang terjadi sebenarnya?
“Ana, itukah kamu? Apa yang terjadi padamu? Aku janji akan selalu ada si sisimu.” Janji yang terucap dengan tulus. Melupakan sosok lain yang ada di hatinya. Melupakan seseorang yang selama ini berarti dan selalu bersamanya, melupakan janji lain yang ia ikrarkan lebih dulu.
Gentala melihat jam yang melingkar di pergelangan lengannya. Tak terasa hari sudah malam. Ia pun memutuskan untuk pulang karena ia pun tidak bisa masuk ke ruangan ICU. Ia akan kembali ke rumah sakit besok pagi.
Baru saja sampai rumah, ponselnya berbunyi. Ia mengangkat telepon tersebut seraya membuka pintu.
“Halo,” sapa Gentala.
“Halo, Mas. Kamu di mana sekarang? Tadi Mama kamu telepon aku nanyain kamu. Mama pikir kamu sama aku. Emangnya kamu ke mana, Mas?”
Ternyata yang menelepon adalah Ziyana. Ia tidak melihat nama penelepon tadi langsung mengangkat begitu ponselnya berbunyi.
“Oh, iya. Tadi aku ke kantor ada kerjaan mendadak yang harus aku urus. Ini baru pulang,” ucapnya.
Gentala tidak enak hati berbohong pada Ziyana, tetapi untuk bicara jujur pun ia enggan. Entahlah, hatinya mengatakan ia harus merahasiakannya. Ziyana pasti tidak suka jika tahu Gentala kembali ke rumah sakit dan Gentala tidak ingin memancing perdebatan.
“Oh, kamu udah makan? Mama sama Papa kamu kan belum pulang dari Hongkong. Nanti kamu telepon mereka ya.”
“Iya, aku udah makan. Aku akan telepon mereka nanti. Kamu gimana sekarang? Udah enakan badannya, masih lemes nggak?” tanya Gentala.
“Alhamdulillah, udah nggak lemes lagi. Tadi aku makan banyak banget, sampai Mama bilang aku kayak orang kelaparan.” Lalu terdengar tawa Ziyana.
“Bagus, deh. Makan yang banyak. Dikatain kayak orang kelaparan juga nggak apa-apa yang penting sehat. Aku nggak mau kamu sakit lagi. Ya udah, aku tutup dulu teleponnya, ya? Aku mau mandi. Udah gerah banget, bye, Sayang.”
Sambungan telepon langsung terputus. Ziyana menatap nanar ponsel di tangannya. Padahal ia masih banyak yang ingin ia bicarakan. Ziyana menghela napas panjang. Berpikir positif saja, mungkin Gentala sedang lelah, mengingat hari ini banyak sekali yang terjadi.
Namun, kenapa Gentala sampai berbohong padanya? Ia tahu kekasihnya itu tidak ke kantor sebab tadi ia menelepon sekretaris Gentala. Lantas ke mana Gentala pergi setelah mengantarnya? Tidak mungkin ‘kan dia kembali ke rumah sakit?
***
Sudah dua hari berlalu dan Ziyana belum juga bertemu dengan Gentala, telepon pun jarang. Banyak kasus yang harus ia tangani. Video call juga tidak mereka lakukan. Gentala pun tidak pernah menghubunginya.
Alasan Gentala berbohong tidak pernah Ziyana tanyakan. Pekerjaan yang menumpuk membuat pikirannya teralihkan, walau kadang insting seorang kekasih bekerja dan mengirim sinyal bahwa ada sesuatu terjadi pada Genta, bukan fisik, tetapi hati.
Hari ini ia akan bertemu Gentala, ia sengaja memasak untuk makan siang mereka. Ziyana tidak mengatakan niatnya pada sang kekasih. Biar menjadi sebuah kejutan. Toh, ia juga sering ke kantor Gentala tanpa pemberitahuan.
Setelah jam menunjukkan pukul sebelas siang, Ziyana segera bersiap berangkat ke kantor Gentala yang jaraknya sekitar satu kilometer, tetapi karena sering macet jadi membutuhkan waktu agak lama.
Akhirnya ia sampai juga di kantor Gentala. Ziyana keluar dari mobil tidak lupa membawa bekal untuk kekasihnya. Ia berjalan dengan santai. Begitu sampai di depan ruangan Gentala, sekretaris sang kekasih menyapanya.
“Mbak Ziya mau ketemu Pak Genta, ya?” tanya wanita cantik berhijab sekretaris Gentala.
“Iya, Pak Gentanya ada?” tanya Ziyana.
“Pak Genta hari ini nggak ke kantor, sudah beberapa hari ini beliau nggak masuk kantor, Mbak.”
Ziyana terkejut, tetapi ia berusaha menampilkan wajah biasa saja. “Oh, iya. Saya lupa. Dia udah bilang, sih. Ya udah, kalau gitu saya pergi dulu. Makasih, ya.”
Ziyana berlalu pergi dengan rasa malu dan kecewa. Ia malu karena pasti sekretaris Gentala akan menganggap terjadi sesuatu antara ia dan Gentala. Ia kecewa karena Gentala tidak jujur, tidak pernah menghubunginya, sehingga ia harus tahu dari orang lain tentang Gentala yang tidak pernah pergi ke kantor. Lantas ke mana Gentala selama ini?
Ziyana memutuskan pergi ke rumah Gentala, mungkin lelaki itu ada di rumahnya. Sampailah ia di rumah Gentala. Ziyana keluar dari mobil tanpa membawa bekal untuk kekasihnya. Ia disambut oleh ibunya Gentala, Silvana Ayu Adiputra.
“Ziya, udah lama kita nggak ketemu. Apa kabar?” tanya Silvana seraya mencium pipi kiri dan kanan.
“Alhamdulillah baik, Tante sendiri apa kabar?”
“Alhamdulillah baik. Kamu ke sini sendiri? Mana Genta?” tanya Silvana.
“Jadi, Gentala nggak ada di rumah, Tante?” tanya Ziyana memastikan.
“Nggak, sekarang Genta sepertinya sedang sibuk, pagi-pagi dia udah berangkat ke kantor dan pulang malam jam sembilan kadang jam sepuluh. Ditanya katanya lembur. Itu anak lembur terus. Kamu bilangin, dong ziya, jangan lembur terus gitu, mana sampai rumah masih kerja lagi.” Jawab Silvana. Mereka masih berdiri di depan pintu.
Apa lagi ini? Ternyata Gentala bukan saja membohonginya, tetapi juga membohongi orang tuanya sendiri, kenapa?