Bab 1
Ziyana dan Gentala sedang menghabiskan waktu berdua, setelah hampir satu bulan mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Mereka hanya bertemu secara virtual lewat video call. Sebagai pengacara ia kadang harus ke luar kota untuk menyelesaikan kasus yang ditanganinya. Begitu juga Gentala yang sibuk dengan bisnisnya. Mereka kini dalam perjalanan menuju bioskop.
Tiba-tiba terdengar suara gesekan ban mobil dan aspal disusul suara benturan yang kencang. Keadaan menjadi kacau, suasana riuh seketika. Gentala menghentikan mobilnya di sisi jalan. Ia ingin melihat situasi yang terjadi.
“Sayang, kamu tunggu di sini, ya. Aku mau lihat ada apa di depan.” Gentala turun dari mobil, meninggalkan Ziyana yang juga merasa penasaran.
Ziyana tidak menuruti perintah Gentala, ia ikut turun menyusul kekasihnya itu. Ia menerobos kerumunan yang langsung ramai. Ia langsung memalingkan muka melihat seorang wanita tergeletak di jalan dekat pagar pembatas trotoar. Darah menggenang di bawah kepala. Ia tak kuasa melihatnya.
“Telepon ambulance!” teriak salah satu orang di sana.
“Bawa aja dia ke mobil saya, Pak. Dia harus segera ditolong dan ambulance terlalu lama.” Gentala spontan mengatakan seperti itu karena melihat keadaan korban yang mengenaskan. Ia hanya berpikir wanita itu harus secepatnya ditolong.
“Jangan, Mas! Keadaannya parah, tunggu medis aja dulu. Seenggaknya pendarahanan di kepala bisa diatasi lebih dulu. Biar nggak kehabisan darah,” sahut bapak yang lain.
“Iya, takutnya juga ada patah tulang. Soalnya benturannya keras banget.” Yang lainnya ikut bersuara.
Mereka akhirnya menunggu ambulance datang dan untungnya tidak memakan waktu yang lama. Setelah ditangani petugas medis, korban diangkat ke dalam mobil ambulance. Gentala segera naik ke dalam mobilnya, Ziyana mengikuti Gentala. Terlihat polisi datang ke TKP menahan sopir truk yang menabrak korban.
“Kita ikuti ke rumah sakit, ya? Kasihan dia tidak ada yang mendampingi,” ucap Gentala. Ziyana juga setuju karena ia pun merasa kasihan. Biarlah acara mereka gagal. Mereka bisa pergi menonton lain kali.
Alasan sebenarnya Gentala ingin mengikuti ke rumah sakit, sebenarnya adalah karena ia melihat kalung yang dipakai oleh korban. Ia merasa tidak asing dengan kalung tersebut. Sebab kalung itu dia yang pesan khusus kepada pembuatnya langsung dan hanya ada satu-satunya.
Ia penasaran dengan sosok wanita tersebut. Bagaimana kalung itu bisa ada padanya? Apakah dia adalah Ana, cinta pertamanya yang sudah lama ia cari.
Sesampainya di rumah sakit. Korban segera ditangani. Gentala dan Ziyana menunggu di depan IGD dan dokter memutuskan korban harus operasi secepatnya untuk menghentikan pendarahan di kepala juga pendarahan di dalam perut. Untuk itu mereka perlu persetujuan keluarga pasien.
Namun, sayangnya tidak ditemukan identitas apa pun bersama korban. Mereka tidak bisa menghubungi keluarga korban. Gentala bersedia menjadi wali dan bertanggung jawab juga membiayai operasi tersebut. Setelah urusan administrasi selesai operasi pun dilakukan.
“Mas, kenapa kamu mau tanda tangan. Kalau ada apa-apa gimana?” tanya Ziyana.
“Ini darurat, Sayang. Kalau terlambat dia bisa aja mati! Kita nggak tahu siapa keluargnya, gimana kita bisa hubungi mereka? Kamu tenang aja, nggak akan terjadi apa-apa.” Gentala menenangkan Ziyana.
“Mas, aku lapar. Kita pulang, yuk. Dia kan sedang dioperasi, kita juga nggak bisa ngapa-ngapain.” Ziyana memang lapar, tadi ia sengaja belum makan sebelum berangkat karena niatnya ingin makan dengan Gentala.
“Oke, ayo kita makan.” Gentala baru ingat, ia dan Ziyana memang belum makan.
“Tapi, kita makan di kantin rumah sakit aja, ya,” pinta Gentala pada Ziyana.
“Kok, gitu. Emangnya kamu nggak mau pulang?” tanya Ziyana.
“Aku masih belum tenang selama wanita itu belum ada keluarganya.” Selesai Gentala bicara seorang perawat menghampiri mereka.
“Maaf, Mas wali dari korban kecelakaan, ya?” tanya perawat itu.
“Iya,” jawab Gentala.
“Begini, saat ini pasien kekurangan darah sedangkan darah di rumah sakit dengan golongan AB- sedang kosong. Apa Mas kenal orang yang punya golongan darah AB-?” tanya perawat tersebut.
Gentala melirik Ziyana, seingatnya Ziyana memiliki golongan darah AB- . Ziyana pun melirik Gentala, “Apa?” tanya Ziyana.
“Golongan darah kamu, AB- ‘kan?”
“Iya,” jawab Ziyana.
“Nah, dia golongan darahnya AB- Sus. Dia mau, kok, donor darahnya."
Ziyana langsung menggeleng. “Sayang, aku ‘kan belum makan, sekarang aja badan aku lemas, perut aku lapar,” Ziyana tidak berbohong ia memang lapar dan badannya lemas.
“Sayang, kamu cuma lapar sedangkan yang di dalam sana nyawanya sedang diambang kematian. Kamu tinggal makan aja dulu. Kamu ikut cek darah sana. Aku ke kantin sebentar, beliin kamu makanan.”
“Memang boleh, Sus, donor darah dalam keadaan perut kosong?” tanya Ziyana.
“Sebenarnya tidak boleh, berhubung ini darurat demi nyawa pasien, dibolehkan. Asal pendonor harus minum air atau jus minimal 500 ml, juga makan kue atau roti setengah jam sebelum donor.”
Gentala terus mendorongnya untuk mendonorkan darah. Ziyana tidak bisa lagi mengelak, ia terpaksa setuju mendonorkan darahnya. Gentala langsung pergi ke kantin membeli jus dan makanan untuk Ziyana. Sementara itu, Ziyana ikut perawat tadi untuk cek kesehatan sebelum donor darah.
***
Ziyana baru saja sadar. Ia sempat pingsan setelah selesai mendonorkan darahnya. Ziyana melihat ke tangan kanannya yang terpasang jarum infus. Kepalanya masih terasa pusing. Berapa lama ia tidak sadarkan diri?
Gentala tidak ada di ruangan tersebut. Ke mana dia? Ziyana ingat Gentala begitu memaksanya untuk mendonorkan darah, padahal ia tahu Ziyana belum makan. Rasanya aneh sekali terasa agak janggal, seperti bukan Gentala yang biasanya selalu perhatian. Bahkan sekarang, sosoknya pun tidak terlihat.
Tega sekali Gentala meninggalkannya. Ziyana berusaha untuk duduk saat itulah pintu ruangan donor terbuka. Gentala berdiri di depan pintu lalu melangkah masuk menghampiri Ziyana membantunya duduk dengan nyaman.
“Gimana sekarang? Masih pusing atau ada keluhan lain?” tampak kekhawatiran di wajah Gentala. Ia merasa sangat bersalah telah meminta Ziyana untuk donor darah. Ia sangat panik begitu Ziyana pingsan.
“Udah nggak begitu pusing. Kamu dari mana, Mas?” tanya Ziyana. Suaranya masih terdengar lemah.
“Aku abis ngabarin orang tua kamu dan menjelaskan yang terjadi. Sekarang kalau kamu udah enakan, kita pulang, ya. Kamu harus istirahat. Maaf, karena kita nggak jadi nonton dan ngabisin waktu berdua. Padahal kita jarang banget punya waktu kayak gini.” Raut penyesalan tampak di wajah Gentala.
“Iya, aku ngerti, kok. Semua ‘kan di luar kendali kita. Padahal kamu nggak perlu telepon mereka, nanti mereka khawatir, aku ‘kan nggak kenapa-napa.” Ziyana yakin ketika pulang nanti, orang tuanya pasti akan mencercanya dengan banyak pertanyaan.
“Ya, nggak bisa begitu, dong! Kamu ‘kan pergi sama aku, tanggung jawab aku, kalau terjadi sesuatu sama kamu, mereka harus tahu.”
“Iya, iya ... yuk, kita pulang! Tapi, ini cabut dulu.” Ziyana menunjuk tangan kanannya yang masih terpasang jarum infus.
Gentala memanggil perawat, meminta mencabut jarum infus di tangan Ziyana, meskipun cairannya belum habis. Gentala menuntun Ziyana yang masih lemas. Ia akan mengantarkan Ziyana pulang lebih dulu lalu kembali ke rumah sakit.