Tergores luka, tertoreh pisau
Menikam jantung sendiri
Karena apa? Bukankah aku tidak salah apa-apa?
*
“Ayo masuk, Bang,” ajak Laras sambil menggamit tangan Nusa.
Pria itu berdiri mematung di depan pagar rumah yang tidak terlalu besar itu. Nusa malu, malu untuk melangkah masuk. Harga dirinya sebagai suami terasa jatuh ke dasar bumi jika ia sudah berada di dalam rumah tersebut.
“Ayo, Bang. Tidak apa-apa.”
Laras berusaha membujuk, dan ini bukan bujukan yanag pertama. Sudah dua hari ini wanita itu membujuk Nusa supaya bersedia tinggal bersama orang tua Laras. Keadaan ekonomi mereka semakin sulit dan mereka sudah menunggak kontrakan rumah selama dua bulan. Si pemilik kontrakan sudah tidak mengizinkan mereka lagi untuk tinggal di sana.
Awalnya Nusa menolak, karena sudah di usir akhirnya Nusa bersedia mengikuti kemauan Laras untuk mengungsi ke rumah orang tuanya.
Dengan berat hati Nusa akhirnya ke sana.
“Ayooo.” Laras menarik tangan Nusa lebih kuat karena suaminya itu tak kunjung melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam.
“Tapi, Dek.” Nusa masih saja ragu. Ia menatap wajah Laras yang terlihat lelah.
Kemudian tatapannya beralih pada perut Laras yang sudah nampak buncit, sekali lagi ia membuang nafasnya.
Andai saja Laras sedang tidak hamil, Nusa akan tetap bersikeras untuk tidak mau di ajak ke rumah ini.
Demi Laras, demi buah hati mereka yang sedang Laras kandung, Nusa menggerakkan kakinya untuk mengikuti Laras masuk ke dalam.
Dengan menahan malu yang luar biasa, Nusa mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kayu yang sedang tertutup tersebut.
Ratri tersenyum lebar ketika ia membuka pintu melihat wajah anak dan menantunya.
“Nusa, Laras, ayo masuk,” ajak Ratri dengan ramah.
Laras tersenyum lebar, Nusa tersenyum paksa.
“Ayo, Bang. Kita masuk,” ajak Laras dengan terus menggamit tangan suaminya.
“Apa kabar, Nak?” tanya Ratri pada keduanya, terlihat di mata Ratri kalau Nusa sedang membawa dua tas besar. Naluri keibuannya sudah menangkap kalau terjadi sesuatu kepada mereka.
“Bu, maaf....” Nusa menghentikan ucapan.
Ratri tersenyum, ia sudah menduga apa yang akan Nusa sampaikan.
“Ayah ada, Bu?” Laras balik bertanya, menghindari kekakuan suaminya.
“Ayah belum pulang, kalian istirahat saja di dalam, pasti capek dalam perjalanan kemari, kan? Untung kamar kamu selalu ibu bersihkan setiap hari, jadi kalau datang dadakan seperti ini, ibu tidak perlu lagi membersihkan kamar.”
Wajah Nusa mendadak pias mendengar ucapan mertuanya, ia menelan ludah merasa malu atas ketidakmampuannya sebagai suami. Ratri saja bisa menilai kalau ia bisa gagal seperti ini.
Ratri mendorong Nusa dan Laras untuk masuk ke kamar, ia sadar kata-katanya barusan telah melukai hati Nusa. Bagaimanapun, ia tetap tidak bisa menyalahkan menantunya itu, Ratri tau kalau Nusa sudah bekerja keras selama ini, hanya saja nasib nya yang masih kurang beruntung.
Tidak masalah bagi Ratri jika keduanya tinggal bersama mereka, dari awal mereka menikah Rustam-ayah Ratri juga sudah menawarkan hal ini, hanya saja Nusa yang menolak. Mereka hanya punya satu anak, sejak Laras menikah rumah mereka menjadi lebih sepi. Jika Rustam bekerja, Ratri hanya sendirian di rumah. Ia bukan tipe ibu-ibu yang suka main ke rumah tetangga untuk bergosip.
Nusa dan Laras sudah berada di dalam kamar, Ratri menuju dapur untuk membuatkan dua gelas teh manis. Nanti saja ia bertanya pada Laras apa yang sudah terjadi.
“Bang,” panggil Laras saat melihat Nusa masih diam.
“Abang malu.” Nusa langsung berkata mengeluarkan isi hatinya.
“Tidak apa-apa, ibu juga tidak marah,” ujar Laras menenangkan.
“Ibu memang tidak marah, karena itu abang malu. Abang malu karena tidak mampu memberikan kehidupan yang layak pada kamu dan calon buah hati kita,” ucap Nusa pilu.
“Jangan dipikirkan, Bang. Aku yakin suatu hari nanti abang akan berhasil dan lebih dari mampu untuk menghidupi kami.”
*
Nyatanya kini, setelah Nusa merasakan hidup layak dan hidup enak bersama Sekar, ia justru dihadapkan pada kenyataan pahit berada dalam tubuh seekor kucing.
“Meooong.” Nusa merasa ada harapan baginya untuk masuk ke dalam saat dua orang perawat menuju ke dekatnya.
Dia berlari dan menyelip di kaki seorang perawat yang hendak membuka pintu ruangan yang ada di depannya. Secepat kilat Nusa berlari hingga ia berhasil masuk ke dalam.
“Hei, kucing ini kenapa bisa masuk ke sini?”
“Entahlah, hanya kucing liar. Jika tidak menganggu biarkan saja.”
“Tapi ini ruangan steril loh, mana boleh ada binatang masuk ke sini.”
“Benar juga, nanti kita yang di marahi.”
“Usir saja.”
“Oke.”
Perawat tersebut mendorong tubuh Nusa dengan kaki nya, tapi Nusa bertahan supaya tidak keluar dan terus mengeong mengatakan kalau ia tidak mau di usir dari sana.
Jangan usir aku, aku hanya ingin kembali pada tubuhku.
“Berisik ah. Kenapa gak mau di bawa keluar.”
“Angkat saja!”
“Oke!”
Lalu dia menarik pundak dan menjinjing Nusa, membawa kucing tersebut ke luar ruangan.
“Meooong.”
Nusa menjerit. Ia menggoyangkan tubuhnya agar terlepas dari jinjingan si perawat, karena kuatnya pegangan si perawat dan kuatnya Nusa mengeram, taring Nusa mengenai tangan si perawat.
“Aduh! Dasar kucing liar!”
Dia melempar tubuh Nusa jauh.
“Meoong.”
Nusa mengeram kesakitan, tubuhnya membentur tembok yang membuat fokusnya berkurang. Pandangannya melayang dan Nusa butuh waktu untuk memfokuskan kembali dirinya sebelum ia kembali pada tubuhnya.
Dengan pelan ia melangkah lagi ke ruangan tadi. Namun sayang, kedua perawat yang tadi berada di dalam sekarang sudah keluar dan masuk ke ruangan lain.
Pupus sudah harapan Nusa. Untuk menemui tubuhnya saja ia sudah berjalan puluhan kilo dan saat sudah menemukan ia harus menerima kenyataan kalau tidak mudah untuk masuk ke sana.
Meskipun sudah ada kesempatan dan karena ia hanya seekor kucing ia di anggap hewan penganggu, padahal ia hanya ingin masuk kembali ke dalam tubuhnya dan mengembalikan jiwa si kucing yang mungkin sedang berada di dalam tubuh Nusa.
*
Pintu rumah terbuka, Rustam masuk ke rumah karena memang pintu tidak di kunci. Ia menatap heran pada putrinya yang sedang menata makan malam di meja dapur.
“Ayah, Ayah sudah pulang?” laras menghampiri dan mencium punggung tangan Rustam.
“Kamu kenapa ada di sini? Suamimu kemana?” tanya Rustam heran.
Mendengar suara Rustam, Nusa segera keluar dari kamar. Tadi ia sudah memberanikan diri bicara dengan Ratri dan sekarang ia juga harus bicara dengan Rustam menjelaskan kenapa mereka sekarang di sini.
“Yah, aku dan Laras untuk sementara akan tinggal di sini dulu,” ucap Nusa dengan meredam malu.
Rustam memandang tajam pada Nusa kemudian beralih pada Laras yang ada di dekatnya.
“Hhmmm.”
Tanpa melihat Nusa, Rustam berlalu menuju kamarnya. Itulah kenapa ia belum menyetujui putrinya menikah dengan Nusa karena Nusa memang belum bisa di andalkan untuk memberikan kehidupan yang layak bagi Laras.
Nusa menatap nanar punggung Rustam yang melalui dirinya.
*
“Kucing aneh, kenapa ia menatap nanar pintu ruangan itu?”
Perawat yang tadi membuang Nusa keluar berbicara. Temannya mengangkat kedua bahu menanggapi ucapan si perawat itu.
“Apa mungkin dia melihat sesuatu di dalam sana? Hiiii... kok aku jadi merinding ya? Jadi takut untuk masuk ke sana lagi. Katanya kucing bisa melihat sesuatu yang kita tidak bisa lihat loh?”
“Hush! Jangan berfikiran macam-macam, kita sedang kerja!”