Jika ada penyesalan pastilah penyesalan itu hadir di belakang.
Jika waktu bisa di putar, ingin aku kembali pada masa lalu,
Masa di saat aku bersama mereka yanag tulus mencintaiku.
*
“Ayo kita makan, Bang.” Larasati membawa dua piring yang sudah berisi nasi dari meja kecil yang ada di dapur, satu ia letakkan di depan Nusa dan satu lagi ia letakkan di depannya. Lalu ia membagi ikan goreng menjadi dua bagian, bagian kepala menjadi bagiannya dan sisanya ia tarok di piring Nusa.
“Daging ikannya untuk kamu saja, biar abang yang makan bagian kepala,” ujar Nusa dengan iba.
Mereka baru saja menikah, wanita di depannya ini rela meninggalkan kedua orangtuanya karena memilih hidup berdua dengan Nusa. Ayah dan Ibu mertua Nusa sudah menawarkan untuk tinggal bersama mereka dulu sampai Nusa bisa membeli rumah dan membawa putri mereka hidup dengan layak, tapi Nusa menolak. Ia ingin bertanggung jawab sendiri atas hidup Larasati dan Laras bersedia di bawa hidup berdua meskipun dengan ekonomi yang sangat terbatas seperti saat ini.
"Aku suka kepala ikan, untuk abang saja dagingnya,” jawab Larasati sambil tersenyum kecil lalu tangannya terangkat menyuap nasi ke dalam mulutnya sendiri.
Nusa memperhatikan dengan seksama, Laras makan dengan sangat lahap.
“Tadi siang kamu makan apa?” tanya Nusa kemudian.
“Makan nasi, Bang.”
“Lauk apa?”
Laras terdiam, menatap wajah Nusa sesaat. Wajah itu, wajah tampan suaminya tampak sangat lelah setelah bekerja seharian di bawah terik sinar matahari. Laras tidak mau membebani pikiran Nusa lagi dengan masalah lauk yang ia makan setelah seharian ia bekerja keras di luar. Laras ingin, suaminya melepas penat tanpa berfikir apa-apa saat pulang.
“Kan pagi tadi ada sisa telor dadar, aku makannya pakai itu aja,” jawab Laras berbohong, padahal sisa telor dadar yang Laras maksud sudah ia masukkan ke dalam kotak bekal makan siang Nusa.
Nusa mengangguk, tidak apa Laras makan pakai dadar telor daripada makan pakai garam seperti dua hari yang lalu.
Nusa memakan nasi dan lauk ikannya dengan lahap, sesekali ia melihat pada Laras yang juga makan dengan lahap meskipun dengan lauk seadanya. Kemudian Nusa mengambil sedikit bagian ikannya dan meletakkannya di piring Laras.
“Kamu juga perlu makan daging, kamu juga perlu sehat. Kalau kamu sakit, aku juga akan sakit,” ujar Nusa karena tidak tega melihat Laras makan seadanya.
Lagi wanita itu tersenyum kecil, senyum yang sangat manis di mata Nusa. Karena senyum itulah Nusa tergila-gila pada Laras dan tidak sabar untuk menikahinya meskipun ia belum memiliki pekerjaan yang layak.
Untung saja Laras menerima lamarannya, ternyata Laras memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Hanya satu rintangan Nusa waktu itu, orang tua Laras yang masih ragu untuk melepaskan putri kesayangannya ke tangan Nusa, karena satu alasan.
Pekerjaan.
Nusa belum memiliki pekerjaan tetap, ia kerja serabutan. Tukang panggul, kuli bangunan, tukang kebun, apapun di lakoni Nusa untuk bisa bertahan hidup.
“Terima kasih, Bang,” jawab Laras.
Nusa tersenyum bahagia, Laras adalah wanita yang sangat baik, cantik dan mau menerima Nusa apa adanya. Mau hidup bersama Nusa bermodalkan cinta saja. Sangat susah mencari orang seperti Laras di zaman ini. Mungkin hanya ada satu diantara seribu.
*
Mata besar Nusa menatap nanar pada tulang-tulang ikan yang bercampur dengan kotoran lain di dalam tong sampah besar itu, dengan cepat ia meraih tulang tersebut dengan mulutnya dan memakannya sampai habis sebelum pemilik warteg datang untuk mengusirnya. Lebih menakutkan lagi jika ia datang dengan membawa air panas dan menyiramnya seperti yang wanita itu lakukan tadi. Nusa tidak mau lagi di siram, rasanya sangat perih.
Mulutnya bergerak ke atas dan bawah untuk mengunyah, giginya yang tajam menghancurkan tulang tersebut sebelum masuk ke tenggorokannya. Hatinya ikut hancur bersamaan dengan gigitan tulang dalam mulutnya.
Tidak cukup dengan tulang, ia pun menjilati dan mencicipi sisa-sisa nasi yang terbuang di dalam sana. Ini pengalaman pertama Nusa memakan nasi buangan yang ada di dalam tong sampah, mau bagaimana lagi, jika ia tidak memakannya maka ia tidak akan punya tenaga untuk berjalan jauh ke tempat tujuaannya.
Nusa menangis, meratapi nasib yang melandanya saat ini, secepatnya dia harus menemui Laras dan meminta maaf atas kesalahan yang ia lakukan.
“Meooong.”
Dia melompat keluar dari tong sampah dan melanjutkan kembali perjalanan, perutnya sudah terisi dan cukup untuk hari ini.
*
Cuaca sangat panas, tubuh kecil Nusa sudah lelah berjalan jauh. Hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya membuat fokus Nusa jadi terbagi. Untung saja tidak banyak pejalan kaki yang melewati pinggiran jalan yang Nusa lalui ini. Sekarang sudah jarang di temui pejalan kaki, rata-rata mereka sudah memiliki motor sendiri atau bisa naik ojek bagi yang belum memiliki kendaraan.
Nusa masih semangat untuk berjalan, sedikitpun ia belum merasakan lelah. Jika ia seorang manusia, ia pasti sudah lelah dan tubuhnya meminta untuk tidur agak sebentar. Ada untungnya jiwanya berada dalam tubuh kucing, ia seperti memiliki tenaga seratus kali lipat dari biasanya.
Apa tadi? Apa yang aku pikirkan?
Aku bersyukur berada dalam tubuh seekor kucing?
Tidak! Aku tarik lagi isi pikiran konyol itu, aku tidak mau berada di dalam tubuh seekor kucing yang membuat aku kesulitan mencari Larasati dan kedua anakku.
Aku tetap ingin menjadi manusia dan menebus semua kesalahan serta dosa yang aku perbuat.
Nusa terus berjalan, hingga sampai di rumah sakit yang di tuju. Karena ia berada di dalam tubuh seekor kucing dengan mudah ia bisa masuk ke rumah sakit dan berkeliling mencari tubuhnya.
Mata biru Nusa menatap sebuah pintu yang tertutup. Ingatannya tentang berita yang disampaikan reporter televisi pagi tadi saat ia berada di rumah Haikal masih teringat jelas jika tubuhnya berada di dalam ruang khusus yang letaknya berada di samping rumah sakit yang mana di belakang ruang tersebut ada taman bunga yang disediakan untuk pasien yang ingin melepas rasa bosan saat di rawat.
Mereka, semua manusia itu mengira kalau Nusa sedang koma dan mereka menunggu sanak keluarga Nusa datang untuk menjenguk.
Foto Nusa sudah di sebarkan melalui televisi dan koran lokal supaya berita Nusa pingsan bisa di ketahui oleh saudaranya secepat mungkin.
“Meooong.”
Nusa menggigit kaki celana seorang perawat laki-laki yang kebetulan lewat. Pria itu menunduk dan menggosok kepala Nusa dengan lembut. Sepertinya ia termasuk penyuka kucing, jika tidak... nusa pasti sudah mendapatkan tendangan.
“Kau lapar?” tanya si pria sembari mengusap kepala Nusa.
“Meooong.” Nusa menarik ujung celana pria itu lebih kuat lagi, meminta padanya untuk membukakan pintu ruangan tersebut agar ia bisa bertemu dengan tubuhnya.
“Kau mau apa?” tanyanya heran sambil mengeluarkan sepotong roti dalam saku pakaian kerjanya.
“Aku hanya punya ini.” Kedua tangannya merobek plastik pembungkus roti dan meletakkan roti tersebut di dekat kaki Nusa.
“Meooong.”
Nusa bermaksud menolak roti dan terus menarik ujung celana si perawat. Saking kuatnya gigitan Nusa, ujung celana si perawat berbunyi. Bekas jahitan bawahnya terlepas hingga membuat bagian tersebut terbuka.
“Haish... kucing liar. Sudah di baikin malah bikin kesel.” Si perawat akhirnya berdiri dan menjauhkan kakinya dari Nusa.
“Meoong.... meooong.”
Nusa berlari mengejar, tapi si perawat tadi tidak mengacuhkan. Dia terus berjalan dengan cepat seolah tidak mendengar teriakan Nusa.
Akhirnya Nusa kembali ke tempat semula dengan lesu, berharap kalau akan ada orang lain yang akan lewat ke sana atau ada orang lain yang akan masuk ke ruangan itu sehingga Nusa juga bisa masuk untuk melihat tubuhnya.
Nusa duduk dengan kepala di tegakkan persis di depan pintu sambil memandangi pintu ruangann yang tertutup itu.