“Jadi anak itu tidak berbohong, dia benar. Aku memang seorang kucing. Tapi bagaimana itu bisa terjadi?
“Meooong.... Meoonggg....” Nusa berteriak karena tidak terima dengan tubuh barunya.
Tidak hanya berteriak tapi Nusa juga mencakar apapun yang dilihatnya.
Bugh!!!
Satu pukulan kembali mendarat di kepala Nusa.
“Mamaaa... kucingnya nakal lagi.” Haikal berteriak memangil mamanya setelah memukul Nusa.
Nusa sendiri tetap meronta-ronta, ia mencakar apapun yang ada di dekatnya. Jelas ia tidak terima dengan tubuhnya yang baru.
“Dimana tubuhku? Kembalikan tubuhku? Aku tidak mau berada di sini. Aku seorang manusia, bukan seorang kucing.” Nusa terus mencakar-cakar. Ia sudah seperti kucing gila. Tidak terkendalikan!
Bugh!
Haikal kembali memukuli Nusa, Nusa kalap dan mencakar kaki Haikal dengan kedua tangannya.
“Aawww... Mamaaaa....” Haikal berteriak dan berlari menjauhi Nusa yang masih menggila.
“Kenapa?” teriak wanita yang di panggil Mama.
“Kau kena cakar? Makanya kucing itu tidak boleh dipukuli!”
“Dia jahat... dia kucing jahat... aku tidak suka dengan kucing jahat!” rengek Haikal.
“Sini mama obati lukanya.”
Nusa mendengar percakapan keduanya lalu ia sadar jika ia telah melukai Haikal. Ia lalu terdiam.
Nusa kelelahan, ia terlalu kaget karena mendapati jiwanya berada dalam tubuh seekor kucing. Layar televisi di depannya masih menampilkan berita tentang dirinya yang pingsan. Nusa memasang kedua telinganya mendengarkan kembali info yang reporter itu sampaikan.
Lalu... dengan pelan ia melangkahkan kakinya menuju pintu belakang tempat ia tadi membuang hajat, Nusa menengadah... langit sangat tinggi berada di atasnya, dunia begitu luas, tubuhnya menjadi sangat kerdil dalam wujud seekor kucing.
“Kenapa aku tidak menyadari? Kenapa aku tidak tau jika tubuhku berubah mejadi kucing?”
“Kau tidak boleh masuk ke rumah aku lagi!” Haikal berteriak lalu terdengar dentuman keras yang berasal dari pintu tempat Nusa keluar tadi. Pintu ditutup rapat oleh Haikal.
Nusa menatap lurus pada pintu rumah yang sudah tertutup itu. Tidak ada lagi hasrat dan keinginannya untuk masuk ke rumah itu. Yang terfikir oleh Nusa sekarang adalah bagaimana caranya supaya ia bisa kembali ke tubuhnya.
“Meooong.” Nusa merintih pelan. Tubuhnya sakit akibat pukulan Haikal namun hatinya jauh lebih sakit ketika harus menerima keadaan. Rasa sakit yang sekarang jauh lebih perih dari kata bodoh yang di ucapkan Sekar.
Kemudian Nusa mulai melangkah meninggalkan rumah yang tadi malam sudah memberikannya kenyamanan. Bodohnya Nusa, ia malah tidak tau dimana berada sekarang, dan terlebih lagi... Nusa juga tidak tau tujuan yang akan ditempuhnya. Salah! Nusa tau tujuan yang akan di tempuhnya tapi Nusa tidak tau jalan menuju ke sana.
Nusa mengingat lagi rumah sakit tempat tubuhnya di rawat. Ia bertekad akan menemukan rumah sakit itu. Nusa harus mengembalikan jiwanya ke tempat semestinya, ia tidak boleh berlama-lama berada di tubuh kucing ini, karena ia harus mencari keluarga yang telah ia tinggalkan tiga tahun yang lalu.
Pelan dan pasti, Nusa mulai menjauh dari tempatnya semula. Ia berdiri di pinggir jalan, menatap baliho besar yang menampilkan sebuah informasi. Dari tulisan yang ada di baliho tersebut, ia mengira-ngira, dimana posisinya sekarang.
Nusa beralih pada baliho satu lagi, meyakinkan diri tentang nama daerah yang ia baca pada baliho sebelumnya. Dari informasi yang tertera di baliho, nama tempat ia berdiri sekayang, rumah sakit tempat tubuhnya di rawat berada sekitar 150 kilometer lagi dari tempat ia berada sekarang.
“Jauh sekali...,” ucap Nusa di dalam hati.
Namun Nusa punya tekad yang kuat kalau ia harus menyatukan kembali tubuh dan jiwanya, setelah itu... ia akan mencari Larasati, ia akan meminta maaf kepada istrinya itu dan akan melakukan apapun supaya mereka mau menerima kehadirannya kembali.
Nusa berjalan pelan, tidak perlu jarak nan jauh yang akan ia tempuh, tidak peduli hujan ataupun panas yang akan menyerang, tidak perlu lapar ataupun tempat yang nyaman untuk tinggal. Yang jelas... Nusa harus menemukan tubuhnya dan menyatu lagi bersama jiwanya.
Tiga jam sudah berlalu....
“Meooong....”
Nusa kelaparan, perutnya melilit sakit. Ia baru ingat kalau ia belum makan dari kemaren malam. Pertengkarannya dengan Sekar membuat selera makannya menghilang, selain itu Sekar juga sudah tidak menyediakan lagi makan malam untuk dirinya.
“Meooong...”
Nusa berdiri di sebuah warteg di pinggir jalan, aroma ikan goreng dari dalam warteg sangat menggoda membuat air liurnya menetes. Ia memberanikan diri masuk ke dalam warteg, mencoba meminta sesuatu dari si pemilik maupun dari pengunjung yang sedang makan di dalam.
“Meooong,” pinta Nusa, kedua matanya menatap orang-orang yang sedang mengisi perutnya dengan lahap. Tidak satupun yang mengacuhkan kedatangan Nusa. Ternyata menjadi seekor kucing itu sangat menderita.
“Meooong....” Nusa meminta lagi, meminta belas kasihan dari pengunjung warteg.
Tidak ada satupun yang bergeming, mereka tidak mengacuhkan rintihan Nusa. Mereka tidak memedulikan Nusa yang sedang kelaparan.
Kemudian pandangan Nusa beralih pada ikan yang tersusun rapi di etalase warteg, ikan tersebut terlihat sangat lezat, air liur Nusa sudah menetes, perutnya semakin melilit membayangkan lezatnya ikan tersebut saat masuk ke dalam mulutnya.
“Meooong....”
Sekali lagi Nusa meminta, tetap tidak ada respon dari orang yang ada di dalam sana. Akhirnya ia memberanikan diri untuk melompat ke atas etalase. Perjalanannya sangat jauh, ia butuh makan untuk mengisi tenaga.
“Dasar kucing kurang ajar!”
Sreeeetttt.....
“Meooong....”
Nusa melompat turun dengan cepat, kulit tubuhnya perih karena tersiram air panas. Wanita pemilik warteg itu sangat kejam. Apa salahnya membagi Nusa seekor ikan untuk Nusa makan, ini malah menyiramnya dengan air panas yang membuat bulu-bulu Nusa mengerucut.
“Heiii... jangan kasar dengan seekor kucing.”
Kepala Nusa menoleh ke belakang, ia mendengar seseorang sedang berbicara membelanya.
“Ini! Makanlah!”
Pria yang tadi membelanya melempari Nusa dengan sebuah tulang ikan.
“Tulang ikan? Aku tidak pernah memakan tulang.”
Nusa menatap tulang tersebut, sebegitu malangkah nasibnya? Tidak ada seorangpun yang mau memberinya sedikit daging ikan yang lembut.
Karena Nusa sangat lapar, satu tangannya mencoba menjangkau tulang tersebut. Ia mulai menggigit tulang itu.
“Hmmmm... ternyata tulang ikan lezat juga,” ujar Nusa.
Tidak butuh waktu lama, ia telah menghabiskan tulang tersebut.
“Meooong.” Nusa meminta lagi. Satu tulang tidak cukup untuk mengisi lambungnya yang besar.
“Sudaaah! Pergi sana! Sudah di kasih hati malah minta jantung!” usir pria tadi.
“Makanya aku tidak mau memberi makan kucing liar! Mereka rakus-rakus!” umpat wanita yang menyiram Nusa tadi.
“Kalau mereka sudah di beri makan, mereka akan ketagihan! Nanti mereka akan datang lagi untuk meminta makan,” lanjutnya.
Wanita itu berjalan ke samping warteg sambil membawa piring kotor dari pengunjung yang sudah selesai makan. Nusa mengikuti karena ia mencium aroma ikan di piring tersebut.
Nusa menatap tulang-tulang beserta sampah lainnya yang masuk ke kantong plastik hitam, lalu wanita itu berjalan ke tempat yang agak jauh dan melempar kantong plastik itu ke dalam tempat sampah.
“Meooong.”
Nusa berlari dan melompat ke tong sampah tersebut, ia mengais mencari tulang-tulang ikan yang sudah di buang si pemilik warteg.
Nusa sudah tidak peduli, yang jelas ia bisa makan.
Nusa kelaparan!