“Meooong....”
Nusa berlari menebus hujan dan gelapnya malam, tubuhnya sakit di pukul seseorang menggunakan tangkai sapu. Apa salahnya hingga dia dipukuli? Ia hanya berdoa kepada Tuhan untuk dikembalikan kepada keluarganya, berkumpul dengan anak kandung dan istrinya agar ia bisa menebus dosanya pada anak dan istri yang telah ia tinggalkan.
Apakah pukulan itu hukuman yang di berikan Tuhan kepadanya karena telah meninggalkan Larasati, Cakrawala dan Lentera?
Jika iya, Nusa akan menyerahkan diri lagi pada orang yang telah memukulnya, satu pukulan saja tidak akan cukup untuk menghapus dosa yang telah ia buat, satu pukulan saja tidak akan bisa menghapus luka yang telah ia toreh pada Larasati dan kedua anaknya. Satu pukulan saja tidak bisa menebus waktu tiga tahun yang telah ia buang sia-sia bersama Sekar dan kedua anaknya.
“Meooong....” Nusa kembali berteriak. Merengsek masuk ke dalam bangunan tempat ia berteduh tadi melalui jendela yang masih terbuka. Tubuhnya basah karena air hujan, tapi ia sama sekali tidak merasa kedinginan.
“Meooong....” Nusa memanggil si pemilik bangunan.
“Kalau kau yang di kirim tuhan untuk menghukum ku, ayo pukul lagi aku,” jerit Nusa.
Bug!
Satu pukulan lagi mendarat di kepala Nusa, pria itu sama sekali tidak lari seperti tadi. Ia diam dan pasrah menerima pukulan lain yang bertubi-tubi yang di berikan kepadanya.
“Meooong.... meooong....” Suara Nusa melemah, menerima beberapa pukulan di tubuh membuat tulang-tulang tubuhnya sakit. Ia merasakan darah mengucur di pelipis matanya.
“Haikal! Apa yang kau lakukan?” teriak seorang wanita dari dalam, mengambil tangkai sapu dari tangan seorang anak lelaki yang memukul Nusa.
“Kucing itu jahat!” anak yang bernama Haikal itu menunjuk Nusa.
“Aku? jahat? Iya... aku jahat. Aku sudah meninggalkan anak kandung dan istriku demi seorang janda kaya raya. Tapi siapa yang kucing? Aku bukan kucing!”
Nusa melihat ke kiri dan kanan, barangkali ada seekor kucing berada di dekatnya. Tidak ada!
Wanita yang berteriak memanggil Haikal itu membungkuk, ia mengusap kepala Nusa.
“Kau tidak boleh memukul seekor kucing, kucing itu juga makhluk hidup seperti kita,” ucapnya.
“Meooong....” Nusa mengangkat kepala, rasa pusing akibat pukulan Haikal mereda karena sentuhan wanita itu.
Nusa merasa tubuhnya melayang ke udara, ia terangkat dan berada di telapak tangan wanita itu.
“Meooong... meooong....” Nusa memberontak, ia kasihan pada wanita yang telah mengangkat tubuhnya, pasti wanita itu keberatan. Namun ternyata, ia lebih kuat dari yang Nusa bayangkan.
“Meooong,”
Tubuh Nusa di letakkan di sebuah sofa, Lagi... Nusa merasakan nyaman ketika tangan lembut wanita itu mengusap tubuhnya.
“Terima kasih,” ucap Nusa sambil memejamkan mata, setidaknya ia tidak kedinginan dan ada tempat berteduh malam ini.
“Haikal, bawakan Mama kotak obat.” Wanita itu berteriak pada anak lelaki yang telah memukul Nusa tadi, sementara ia sendiri pergi entah kemana meninggalkan Nusa sendirian yang sedang rebahan di sofa.
Nusa terkesiap, handuk kecil basah membasahi pelipis matanya. Wanita tadi sedang membersihkan darah kering akibat luka pukulan anak kecil yang bernama Haikal tadi.
Lalu wanita itu meneteskan obat di pelipis Nusa, pria itu mengernyit, perih ia rasakan ketika tetesan cairan merah itu menyentuh luka di kulitnya.
“Ayo kita tidur, ini sudah larut malam.”
Wanita itu berdiri dan menggandeng tangan anaknya menjauhi Nusa.
“Maaa... jendela nya belum di tutup. Nanti ada kucing lain yang masuk ke rumah kita.”
“Ayo kita tutup.”
Samar Nusa mendengar pembicaraan antara ibu dan anak itu.
“Lagi... dia menyebut kucing. Hmmmm.... biarkan saja. Yang penting aku bisa tidur dengan nyaman malam ini,” ujar Nusa sambil memejamkan mata.
**
Nusa membuka mata, anak laki-laki yang memukulnya tadi malam berteriak-teriak di telinga Nusa.
“Ngeeeng... ngeeeng....” Haikal, anak lelaki yang nakal itu menjadikan tubuh Nusa sebagai jalan untuk melajukan mobil-mobilan yang sedang ia mainkan.
Nusa menghela nafasnya, biarkan saja, toh ibunya sudah berbaik hati memberikan Nusa tempat tidur malam ini. Lagian anak ini masih kecil, Nusa bisa memaklumi, ia membiarkan Haikal memanfaatkan tubuhnya untuk bermain.
Kembali Nusa memejamkan mata. Beberapa menit kemudian perut Nusa melilit, panggilan alam yang rutin Nusa lakukan harus segera di lakukan.
“Meooong.”
Dengan cepat Nusa bangkit dan melompat dari sofa. Ia bingung harus kemana, ia tidak tau kamar kecil di rumah tersebut.
“Mamaaa... kucingnya lari.” Haikal berteriak.
“Bukakan pintu belakang.”
“Puuuss... puuusss....” Haikal berteriak, Nusa menoleh, perutnya semakin melilit, Nusa sudah tidak tahan lagi dan ketika Haikal membukakan pintu, Nusa langsung saja berlari ke sana, melompat dengan cepat ke arah rumput yang terpapar di halaman.
Sreeettt....
Nusa merasa lega karena hajatnya sudah tersampaikan. Lalu ia masuk kembali ke dalam rumah. Nusa kembali ke tempatnya semula, mau bermain lagi bersama Haikal. Namun perhatian Nusa teralihkan pada televisi yang sedang menyala di ruang tengah rumah tersebut.
Nusa berjalan pelan ke arah televisi yang sedang menayangkan sebuah berita, mata Nusa membelalak melihat tayangan tersebut.
“Itu motorku di bawa kemana?” Nusa berteriak.
“Dan itu... itu kan aku. Heiiii... kenapa aku bisa di telivisi? Aku mau di bawa kemana?”
Nusa berkata sambil teriak, namun ia merasa suaranya tercekat di tenggorokan. Kedua matanya menatap lurus pada televisi yang menayangkan berita tentang dirinya.
Nusa semakin mendekat, matanya membesar menyaksikan tubuhnya yang di masukkan ke dalam sebuah ambulance.
Kemudian tampilan layar berganti menjadi wanita cantik yang membawakan sebuah berita.
Ditemukan seorang pria yang sedang pingsan di depan sebuah ruko kosong di kawasan Meranti. Diduga pria tersebut terkena aliran listrik dan sekarang sedang tidak sadarkan diri. Pria tersebut akan di bawa ke rumah sakit terdekat untuk menjalani pemeriksaan.
Bagi anggota keluarga, silahkan menghubungi rumah sakit.
Nusa mundur beberapa langkah ke belakang, kartu tanda pengenalnya terpampang jelas di layar televisi.
“Tidak mungkin... tidak mungkin... jika aku di bawa ke rumah sakit bagaimana aku bisa di sini?”
Nusa menggelengkan kepala pertanda ia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya di televisi. Lalu tubuhnya membentur meja kaca. Sebuah meja segi empat yang terletak di depan sofa tempat ia tidur semalam.
Nusa naik ke atas meja tersebut, ia melihat bayangan dirinya lewat pantulan kaca.
“Tidaaakk!” Nusa berteriak. Kedua tangannya mencakar-cakar wajahnya yang di kaca.
Kemudian ia teringat kata Haikal tadi malam.
“Kucing itu jahat!”
“Maaa... jendela nya belum di tutup. Nanti ada kucing lain yang masuk ke rumah kita.”
“Jadi anak itu tidak berbohong, dia benar. Aku memang seorang kucing. Tapi bagaimana itu bisa terjadi?
“Meooong.... Meoonggg....” Nusa berteriak karena tidak terima dengan tubuh barunya.