Suryo duduk menyandar di sandaran sofa, dua anaknya baru saja meninggalkan Suryo dan masuk ke kamar masing-masing. Pun begitu dengan semua anggota keluarga yang sudah datang jauh-jauh dari kampung untuk menghadiri pernikahan. Tak hayal lagi, semuanya menyalahkan Suryo atas kejadian pagi tadi. Kejadian yang mereka anggap sangat memalukan. “Kenapa kamu menjadi pria yang tidak teliti seperti ini? Harusnya kamu selidiki dulu wanita yang akan kamu nikahi. Cari malu saja! Dasar, ceroboh!” Terngiang kembali ucapan Pakde Parno, adik bungsu orang tua Suryo. Satu-satunya kerabat dari pihak bapak yang masih hidup. Pakde Parno sudah sangat sepuh, namun beliau masih kuat dan bersikeras datang untuk menyaksikan pernikahan kedua keponakannya. Suryo menghela nafas, permasalahan kali ini memang sangat

