Terpergok Berujung Hukuman
“Bikin malu!”
Aku terhempas ke atas sofa meski perempuan itu berusaha menahan jatuh tubuhku. Walau ada dalam keadaan terdesak, masih kusempatkan diri mencoba menepisnya. Papi yang melihatku memperlakukan kasar isterinya, berjalan cepat menghampiri seraya mengangkat tangannya.
“Bang, sudah. Istighfar!” Perempuan bernama Ayuni, isteri muda papi, kembali berusaha menjadi tameng dengan berdiri tepat di depanku.
Wajah papi tampak semerah kepiting rebus dengan bibir bergetar. Pertanda ia sedang marah besar. Dan sepertinya … aku ada dalam masalah yang serius sekarang.
“Jangan selalu membelanya, Dek. Lihatlah, bahkan untuk menghargaimu pun dia tak sudi!”
Ada yang perih menyayat di dalam sini saat mendengar itu. Bagaimana papi memperlakukanku seolah musuh yang harus ditumpas habis. Yeah … bukankah dalam rumah ini, aku adalah penjahatnya?
“Sudahlah, Bang. Tenangkan dirimu. Ayo kita bicarakan semua dengan baik-baik, dengan kepala dingin,” bujuknya, seraya mengelus-elus lengan papi.
Dan papi, selalu akan menjadi pria penurut kalau sudah begitu. Hebat. Aku memang harus mengakui pesona perempuan itu. Pria setegas dan sekaku papi, bisa menjadi begitu manis bila tengah berhadapan dengannya. Pemandangan yang sungguh jauh berbeda dibandingkan dengan mami dulu.
“Sebenarnya, apa maumu, Shana? Kelakuanmu makin hari makin tak terkendali! Kamu mau bikin papi malu? Mau bikin papi mati mendadak? Harus dengan cara apa lagi papi mendidikmu, biar kamu bisa bersikap selayaknya anak normal lainnya?”
Deg! Meski sebenarnya kalimat semacam itu sering diucapkan papi, tak urung, aku masih terserang baper mendengarnya.
Mendidik?
Bersikap selayaknya anak normal lainnya?
Bah!!
Apakah bahkan papi mampu introspeksi diri dengan cara mendidiknya? Apa ia merasa sudah begitu sempurna menjadi orang tua hingga menuntut kesempurnaan yang sama dariku sebagai seorang anak?
“Hidupku memang sudah lama nggak normal, Pi. Masa sih Papi nggak sadar itu? Papi terlalu asyik fokus dengan hal lain hingga papi lupa, Papi punya hal penting lain yang lebih layak untuk diurus!”
“Kamu …!” Papi hendak berdiri dari duduknya dan seperti biasa, sambil mengacungkan telunjuknya pada wajahku. Kebal!
Lagi-lagi, sang mimi peri menghalangi. Ajaib, hanya bermodal sentuhan lembut darinya, papi kembali tunduk. Apa cara itu yang ia pakai dulu ketika mengalihkan fokus papi dari mami, hingga kini berhasil memilikinya?
“Bahkan untuk bicara pun, kamu sudah tidak perlu susah payah memakai pikiran! Kamu anggap apa papi? Kurang apa selama ini papi selalu menuruti keinginanmu yang kelewatan itu? Kamu pikir, kalau papi orang lain, papi bakalan sudi berbuat itu? Semua karena aku ini papimu!”
“Keinginan aku yang mana, Pi? Oke, Papi memang memenuhi kebutuhan materi aku, unlimited. Tapi untuk hal lain, Papi nol besar!” Tudingku, akhirnya. Lama-lama ada dalam posisi terdakwa sepihak, membuat kesabaranku sudah sampai pada limitnya.
“Lihat, Dek … lihat sendiri kelakuannya! Kalau bukan karena kamu yang selalu menahan, sudah sejak lama aku bakal mendisiplinkannya!”
Wow! Kalimat papi benar-benar menegaskan posisiku yang hanyalah trouble maker baginya. Tak ada lagi kasih sayang murni untukku. Semua hanyalah sisa, karena cinta papi sudah terserap habis untuk isteri muda dan bahkan anak sambungnya. Aku yang keluarga sesungguhnya, tersingkir dengan miris.
“Aku salah, Pi? Aku salah? Papi pernah nilai diri sendiri nggak kalau Papi juga salah ke aku, ke mami? Aku nggak pernah merasa punya keluarga utuh karena sikap tak acuh papi pada kami. Papi lebih suka sibuk mengejar materi, hingga lupa, kami nggak hanya butuh itu. Tapi untuk orang lain, Papi bisa begitu hangat dan penuh cinta. Papi nggak mikirin perasaan aku yang selalu merasa tersisih setiap harinya. Aku muak, Pi!”
“Papi selalu mengaturku untuk menjadi seseorang sesuai keinginan Papi. Bahkan untuk urusan kuliah pun, Papi semua yang atur, tanpa mau tahu aku suka atau nggak! Papi nggak pernah menganggap penting keinginanku, karena disini, Papi adalah orbit-nya. Papi egois! Semua orang harus tunduk, kecuali … dia. Untuk yang satu itu, aku harus mengakui, kalau dia berhasil membuat Papi yang malah tunduk padanya!”
“Kurang ajar! Kamu benar-benar mirip mami-mu, Shana! Nggak ada yang lebih benar kecuali dirinya! Papi bahkan gagal mendidik dia menjadi isteri yang sesuai harapan pria pada umumnya. Begitu kamu bilang Papi egois?”
“Dan untuk urusan kuliahmu, Papi melakukan itu karena ingin yang terbaik untuk kamu. Papi ingin kamu bisa meneruskan perusahaan kita nantinya. Dan untuk itu, tentu kamu butuh bekal ilmu yang sesuai. Bukan seperti pilihan konyolmu itu. Belum lagi kering kejengkelan Papi, kamu tambah lagi dengan kelakuan yang lebih membuat malu. Kamu nggak mikir, kamu itu semacam murahan yang bisa diperlakukan seenaknya saja oleh orang lain?”
Oke, Papi memang berhak jengkel padaku. Diam-diam, aku berhenti dari jurusan kuliah yang diinginkan Papi dan memilih keinginanku sendiri. Sudah sejak lama, aku tertarik pada dunia design fashion dan nekad memutar haluan meski tahu reaksi papi akan semurka itu.
Saat papi tahu, tamparan pertama kali melayang untukku. Papi bahkan melakukannya di depan isteri dan anak sambungnya, membuatku seperti manusia rendah tak berharga diri. Papi juga sempat menghentikan aliran dana untukku, membekukan segala kartu sakti hingga aku merasa nyaris sekarat.
Di saat itulah, aku mengenal Hans. Mahasiswa seni lukis yang kerap memintaku menjadi obyek lukisnya. Oke, pose yang diminta Hans memang bisa dibilang s*****l dan mengumbar keindahan tubuh. Tapi, aku senang melakukannya. Bukankah seni memang seperti itu?
Hans mengatakan, dirinya terinspirasi dari mendiang maestro Antonio Blanco. Memiliki sebuah meseum fenomenal yang nyaris semua lukisannya blak-blakan menampilkan sisi e****s dari seorang perempuan. Aku bahkan pernah menyambangi museum sang maestro bersama Hans di Bali. Dan di sana , aku benar-benar dibuat geleng-geleng kepala dengan sajian lukisan yang sungguh memanjakan mata para pria.
Hans pernah memintaku untuk berpose seperti itu. Meski ia bilang, sketsa wajahku akan dikaburkan, tapi ya tetap saja. Menjadi obyek lukis dengan pose sepolos bayi, terus-terang, aku belum berani. Paling hanya sebatas mengenakan gaun kelewat sexy, dan yang terparah, hanya mengenakan underwear.
Awalnya, aku melakukan itu demi uang. Aliran dana yang tiba-tiba dihentikan Papi, sempat membuatku mati gaya. Drop. Meski hasil yang didapat dari model lukis tidak sederas papi, tapi lumayan untuk membuatku tetap eksis menikmati hidup. Hingga lama-lama, aku mulai menikmatinya. Sekali pun Papi kembali membuka keran dana, aku tetap melakukan kerja sampingan itu.
Imbasnya, kuliah design fashion yang akhirnya menjadi pilihanku, ikut terbangkalai. Aku seolah kehilangan fokus karena kadung menikmati pekerjaan bersama Hans. Aku merasa berharga dan bernilai, dan merasa puas akan penghargaan orang atas karyaku, tidak, karya Hans dengan aku sebagai modelnya.
Hingga entah bagaimana caranya, papi tahu. Kurasa, papi sudah meyelidiki tentang kegiatanku, hingga ia tahu alamat studio Hans dan menarikku dengan paksa dari sana tadi. Parahnya, saat itu aku sedang berpose dengan lingerie super sexy yang nyaris menonjolkan lekuk tubuhku. Papi bahkan mengancam akan melaporkan Hans dan merobek kanvas berisi lukisan tubuhku menjadi serpihan kecil.
“Aku melakukan itu untuk seni, Pi. Bukan untuk mengganggu pria beristeri agar berpaling dari keluarganya!” Tanpa sadar, aku membalas ucapan Papi dengan kalimat tanpa sensor. Dihina semacam murahan oleh orang tua sendiri, menurut kalian, bagaimana rasanya?
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Rasanya … sakit. Pipiku bahkan berdenyut kencang akibat kuatnya tenaga papi menampar. Kali ini, sang mimi peri tak berhasil menghalangi papi menyakitiku. Atau, dia memang sengaja karena ikut geram? Ah, peduli setan!
“Cukup sudah! Cukupkan sikap kurang ajarmu sampai di sini. Rupanya, kamu harus benar-benar diberi pelajaran untuk bisa introspeksi diri. Bersiaplah, Shana, karena Papi akan mengirimmu ke campalagian besok lusa!!”
A … apa? Aku tak salah dengar, kan? Campalagian, kampung halaman Papi yang bagiku adalah desa tertinggal itu? Tidakk!!
“Renungkan dirimu dengan baik di sana. Kamu harus tahu, kerasnya berjuang untuk menjalani hidup. Mungkin dengan begitu, kamu bisa sedikit bersyukur dengan apa yang pernah papi beri untukmu!”
Aku tergugu dengan lutut gemetar. Aku berharap papi hanya asal bicara karena sedang marah, atau kalau tidak …
Kalau tidak, berarti aku betul-betul ada dalam masalah besar. Karena Campalagian bagiku, adalah nama lain dari neraka dunia!!