Asisten Pribadi

1192 Kata
"Jadi ... lo bakalan nikah?" Jadira atau biasa dipanggil Dira, sahabat Bagas sejak masa SMA, terkejut saat tiba-tiba saja lelaki itu mengabarkan kalau dirinya akan segera menikah. "Gue terpaksa, Dir." Bagian yang paling sulit bagi Bagas saat ini adalah ketika ia harus menjelaskan semuanya kepada Dira. Perempuan manis yang sudah menjadi sahabatnya selama hampir sembilan tahun ini. "Bokap ngambil semua fasilitas gue, gue ngerasa gak bisa hidup tanpa itu semua." "Pilihan lo udah tepat, dan gue yakin pilihan bokap lo itu pasti baik." "Dir ..." Bagas melirih seraya menggengam tangan Dira. "Selamat, ya." "Maafin gue." "Kenapa lo minta maaf?" Dira tersenyum, atau sebenarnya terpaksa tersenyum. "Setiap manusia memang harus menikah kan, Gas?" "Tapi gue gak cinta sama dia," ucap Bagas tidak berbohong. Dira melepas genggaman tangan Bagas, lalu berbalik, membelakangi lelaki itu seraya bersidekap. "Gas, kita cuma sahabatan." "Gue udah janji gak akan ninggalin lo." "Tapi pada akhirnya lo tetep ninggalin gue, kan?" Ada nada terluka yang keluar dari suara Dira, dan Bagas tahu kalau Dira pasti terluka dengan keputusannya itu. "Sekali pun gue ngelarang, elo tetep nikah, kan?" Bagas segera mendekat, menyentuh bahu Dira dari belakang. "Gue bakalan cerain dia setelah satu tahun menikah." "Apa pun bisa terjadi selama satu tahun, Gas." Dira buru-buru menghapus air matanya yang jatuh. "Apa lo masih bisa tepatin janji lo sama gue? Janji yang lo ucapin sembilan tahun yang lalu?" Bagas memutar bahu Dira, mempertemukan pandangan mereka. "Gue bakalan tepatin janji gue sama lo." Ia hapus bulir air mata yang menetes di pipi perempuan itu. "Gue udah janji dan gue gak akan ninggalin lo." Tak butuh waktu lama, Dira langsung menghamburkan tubuhnya masuk ke dalam pelukan Bagas, melesakan wajahnya ke dalam ceruk leher lelaki itu. Dira menangis, membuat bahunya bergetar dan Bagas mengelusnya untuk menenangkan. Persahabatan mereka terjadi saat keduanya duduk di bangku SMA. Meski keduanya menamai hubungan mereka dengan kata persahabatan, meski seluruh dunia tahu mereka bersahabat. Tapi nyatanya, hubungan mereka lebih dari itu. "Lo udah janji, Gas, lo gak bisa kabur gitu aja." "Ya, gue janji." *** Hari ini adalah hari pertama Aruna diterima bekerja, setelah dua hari yang lalu dirinya dinyatakan lolos sebagai kandidat yang tepat untuk mengisi kekosongan menjadi seorang personal asisten. Aruna tidak yakin bisa bekerja dengan baik hari ini, karena sesungguhnya ucapan Bagas masih terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Ya ampun, mereka akan menikah? Dengan perjanjian? Aruna rasanya masih belum percaya. Terlebih sekarang Ibu meminta untuk bertemu dengan Bagas. Ah, kenapa belum apa-apa sudah rumit sekali? "Pagi, Bu." Satpam gedung ini menyapa Aruna dengan sopan. Ia diperintahkan untuk langsung naik ke lantai sepuluh, dimana ruangan Direktur berada. Sebenarnya Aruna belum tahu seperti apa sosok yang akan menjadi bosnya itu, karena kemarin ia hanya bertemu dengan kepala HRD saja. Tapi, yang Aruna dengar bosnya itu adalah seorang laki-laki muda berumur 25 tahun, hanya berbeda empat tahun darinya, dan biasanya bos-bos muda akan berwajah tampan seperti CEO di dalam cerita. Eh? Kenapa ia bisa berpikir sejauh itu? "Run." "Iya, Mbak." Aruna yang sedang memandangi kertas jadwal di tangannya menoleh penuh pada wanita muda dengan blazer hitam yang kini sedang duduk di balik meja kerjanya. Namanya Shafa, Sekertaris Bapak Direktur yang katanya masih muda itu. Ia ditugaskan untuk membantu Aruna mempelajari jadwal harian Bos mereka. "Di sini setiap hari senin akan ada meeting mingguan. Pak Danish biasanya langsung ke ruang meeting. Dia bakalan ke ruangan setelah meeting selesai. Jadi setiap hari Senin kamu gak perlu langsung ke lantai sepuluh." Aruna mendengarkan dengan fokus yang sepenuhnya tercurah pada wajah Shafa. "Makan siang Bapak biasanya jam satu, itu pun kalo gak ada pertemuan dengan klien. Biasanya, kalau ada klien, Bapak bakalan makan di luar, dan kamu sebagai asistennya yang harus memesankan tabel." Shafa menatap Aruna yang terdiam fokus, mencoba membaca raut wajah gadis itu. "Kamu paham, kan?" "Iya, Mbak, saya udah paham kok." "Nah, yang kamu pegang itu." Shafa menunjuk selembar kertas yang berada di tangan Aruna. "Itu jadwal Bapak selama seminggu, bisa berubah mendadak, tergantung mood Bapak." Maksudnya? Aruna mendadak tidak paham. "Kadang Bapak suka ngebatalin meeting gitu aja. Kalo itu terjadi, tugas kamu hanya harus menghubungi beberapa klien dan mengganti jadwal Bapak." Lalu ia mengangguk paham. Hingga bermenit-menit kemudian Aruna habiskan waktunya untuk mempelajari kertas jadwal itu. Mempersiapkan mobil, mengikuti bos pergi kemana pun, mengatur baju kerja, mengatur makan siang dan camilannya. Oh astaga, jadi seperti ini tugas seorang personal asisten? Pantas tidak butuh lulusan tinggi dengan nilai tinggi, ijazah SMA seperti dirinya saja masih bisa di terima. Tak lama, pintu lift di depan sana terbuka. Shafa segera berdiri yang langsung diikuti oleh Aruna. Sosok tegap dengan stelan kemeja khas executive muda keluar dari benda alumunium itu. Aruna memandangi sosok itu. Terlihat tampan, benar seperti dugaannya. "Pagi, Pak," sapa Shafa begitu Danish melewati meja kerjanya. Lelaki itu berhenti sejenak, menatap sosok Aruna yang mungkin terlihat asing di matanya. "Siapa, Shaf?" tanyanya pada Shafa yang seketika mengalihkan pandangannya pada gadis itu. "Asisten pribadi Bapak yang baru, namanya Aruna." Danish meneliti tubuh Aruna dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Pagi, Pak," sapa Aruna sopan. Danish lantas menggerakan kepalanya, meminta Aruna untuk masuk ke dalam ruangan. Aruna sempat bingung, namun Shafa mendorongnya untuk segera masuk ke dalam ruangan Bos mereka. Dengan jantung yang berdebar tak karuan, Aruna memilin jari-jari tangannya yang saling tertaut di depan rok span hitamnya. Ia mengamati ruangan Danish, rapi dan wangi. "Ehem." Deheman lelaki itu membuat Aruna gelegapan seketika. Tubuhnya panas dingin dan kakinya seolah lemas sekali. Danish sudah duduk di kursinya, kembali menatap Aruna dengan sorot mata yang sulit ditebak. "Duduk." Lelaki itu memerintah seraya menunjuk kursi di depan meja kerjanya. Tanpa berpikir dua kali, atau mungkin takut dibilang tidak menuruti perintah atasan, Aruna segera menarik kursi itu dan mendudukan bokongnya di sana. Bisa ia lihat Danish yang sedang menekan intercom. "Shaf, panggil HRD, minta dia untuk bawakan profil gadis ini." "Iya, Pak." Aruna semakin deg-degan saja mendengar itu. Danish terlihat tegas, nada suaranya pun terdengar berat. Mirip bos-bos galak di Drama Korea yang sering ia tonton. "Tadi nama kamu siapa?" "Aruna, Pak." "Umur kamu?" Danish bertanya dengan tangan sibuk mencoret-coret berkas di atas meja kerjanya. "Du—a puluh satu." Mendengar nada bergetar dari suara Aruna membuat Danish mendengus geli. Ia mengangkat wajahnya sedikit, membuat Aruna kian ketakutan. Masa sih baru kerja sudah berbuat salah? "Masih muda," ujarnya. Tak lama pintu diketuk dua kali dari luar, dan Bu Riani sang Kepala HRD yang kemarin menginterviewnya masuk ke dalam. Wanita itu menunduk hormat pada Danish. "Saya, Pak." "Kamu bawa berkas profil gadis ini?" Bu Riani mengangguk, menyerahkan satu map berisikan CV Aruna saat melamar kerja kemarin. "Ya udah, kamu boleh pergi." "Baik, Pak." Kepergian Bu Riani menyisahkan ketegangan di ruangan itu. Aruna masih saja terus meremat rok hitamnya, berusaha mengurai rasa gugup di d**a. Sementara itu Danish mulai membuka lembar demi lembar profil Aruna. Sesekali ia terdiam, membaca dengan serius, lalu diam-diam tersenyum. "Shafa sudah kasih tahu kamu kan apa saja yang harus kamu kerjakan?" Aruna mengangguk cepat. "Sudah, Pak." "Kalo gitu kamu sudah bisa bekerja hari ini, meja yang ada di sebelah meja Shafa, itu akan menjadi meja kerja kamu." "Baik, Pak." Lantas Aruna keluar dari ruangan itu, melangkah menuju meja kerjanya yang berada di sebelah meja kerja Shafa. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN