Hari itu, tidak banyak yang Aruna kerjakan, ia hanya menyiapkan makan siang Danish dan juga membatalkan beberapa meeting yang tidak bisa dihadiri oleh lelaki itu, pun karena dirinya masih baru di sana. Aruna mengerjakan apa yang memang seorang asisten pribadi lakukan.
Sore pukul 17.00, setelah pulang bekerja, Aruna menghubungi Bagas. Sebelumnya mereka sudah sepakat akan bertemu di rumah sakit, tempat dimana Ibu dirawat. Aruna sudah menjelaskan semuanya pada Bagas, tentang ia yang tidak sengaja mengatakan pada Ibu kalau mereka sedang berpacaran.
Bagas tidak masalah, menunjukan sekali kalau lelaki itu memang bukan tipe orang yang sulit untuk diajak bekerja sama. Bagas menanggapi cerita Aruna dengan santai, padahal hari ini mereka akan memulai semua sandiwara itu.
"Kamu dimana?" Aruna berujar dari balik ponselnya, menghubungi Bagas yang mengatakan akan datang terlambat.
"Di parkiran."
"Ya udah, saya ke sana."
Mematikan panggilan itu, Aruna berjalan ke parkiran rumah sakit. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Aruna melihat Bagas yang baru saja keluar dari mobil.
Ia segera menghampiri. "Gas."
Bagas menoleh, lalu mendapati Aruna berdiri di sebelahnya. "Oy," sahut lelaki itu.
"Makasih kamu udah mau dateng."
Bagas mengangguk, menutup pintu mobilnya lalu menatap Aruna. "Gue cuma harus bersandiwara jadi pacar lo, kan?"
"Hem, cuma sebentar kok."
Kemudian Bagas mengunci mobilnya, melangkah bersama Aruna memasuki gedung rumah sakit. Mereka berjalan bersisihan di sepanjang lorong.
Jadi, selain meminta Bagas datang hari ini, Aruna juga sempat meminta Bagas untuk menyamakan cerita tentang pertemuan pertama mereka yang sebenarnya Aruna karang dengan kebohongan lalu bersikap di depan Ibu layaknya sepasang kekasih yang sama-sama jatuh cinta.
"Tenang, nyokap lo gak akan curiga kok." Bagas berujar setelah mendapati gadis di sebelahnya itu tak berhenti menghela sejak tadi. "Gue yakin nyokap lo malah seneng dapet menantu macem gue." Kedua alisnya bergerak naik turun setelah mengucapkan itu.
Aruna yang melihatnya sontak memutar kedua bola matanya malas.
Oh, sombongnya manusia ini.
"Saya harap kamu gak mengacau."
"Gue bukan pengacau. Lo tenang aja, hari ini bakalan beres," ujar Bagas pongah, lalu pandangannya jatuh pada penampilan Aruna yang tampak berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. "Lo kerja ya?" tanyanya kemudian.
"Iya." Aruna mengangguk. "Kenapa?"
"Nggak, gue kira lo masih kuliah. Bokap bilang umur lo baru 21 tahun."
"Hem, saya memang masih kuliah, cuma semester ini cuti dulu, gak ada biaya."
Bagas mangut-mangut seraya beroh-ria. Ia bukan lelaki yang gampang tersentuh hanya karena mendengar cerita menyedihkan.
"Ngomong-ngomong, bokap gue tahu lo kerja?"
Aruna mengangguk lagi. "Tahu, Pak Riady minta saya buat berhenti, tapi saya gak mau."
"Kenapa?"
"Saya gak mau Ibu curiga. Lagi pula, kamu sendiri kan yang bilang kalo kita nikah cuma untuk satu tahun?" Bagas mengangguk. "Setelah selesai sama kamu, saya tetap harus mencari uang buat biaya hidup. Jadi saya gak mau menyia-nyiakan pekerjaan ini."
Karena bagi Aruna, mencari pekerjaan itu sangat sulit.
"Gue bakalan kasih lo harta gono gini setelah kita pisah nanti, gue pastiin lo gak akan kesulitan soal biaya hidup."
Sebenarnya, apa sih yang sedang mereka bicarakan? Belum menikah saja sudah membahas perceraian. Mungkin keduanya tidak sadar sedang mendahului rencana Tuhan.
Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan yang menentukan.
"Saya gak mau hidup dari uang seperti itu." Tubuh mereka sudah tiba di lorong koridor ruang rawat Ibu. "Membayar biaya rumah sakit Ibu dengan uang hasil membohongi pernikahan saja saya merasa gak tenang."
Oh, benar-benar gadis suci, pikir Bagas.
"Jadi, kamu gak keberatan kan kalo saya bekerja?"
Bagas menatap turun wajah Aruna yang kini sudah berhenti di depan kamar rawat Ibu. Ia lantas mengulurkan tangannya ke depan, meminta Aruna untuk menyambut itu.
Untuk beberapa saat Aruna tampak bingung, namun Bagas memberi arahan dengan gerakan kepalanya. Mengerti maksud Bagas, Aruna lantas mengangkat tangannya untuk menyambut uluran tangan lelaki itu.
"Gue gak keberatan kalo lo mau kerja, apa pun yang lo mau, gue bakalan ngebebasin lo." Bagas menggenggam tangannya erat. "Lo setuju kan, calon istri?"
Dan Aruna tersenyum membalas itu.
***
Aruna membuka pintu itu dengan sebelah tangan yang terbebas, karena sebelahnya lagi sedang Bagas genggam.
Begitu pintu terbuka, Aruna melihat tubuh Ibu yang masih berbaring di atas ranjang, namun begitu ia masuk lebih dalam, Aruna terkejut begitu mendapati ada sosok lain di samping Ibu. Sosok itu, sosok yang sangat ia kenal, lelaki yang dulu selalu menemani hari-harinya.
"Mas Damar?" Dilepasnya genggaman tangan Bagas yang seketika membuat lelaki di sebelahnya itu melongo di tempat.
Eh? Main dilepas aja?
Damar Hardian Wardhana, sang sepupu tampan yang saat ini sedang melanjutkan pendidikan spesialisnya di Melbourne, Australia. Damar kembali ke Indonesia begitu dirinya mendengar kabar kematian sang paman yang tak lain merupakan Ayah Aruna.
Damar merupakan anak dari kakaknya Ayah. Ayah dan Ibu menikah tanpa restu keluarga. Ibu yang seorang yatim piatu di sebuah panti asuhan bertemu dengan Ayah yang saat itu sedang mengadakan santunan di sana.
Mereka saling jatuh cinta, sayangnya hubungan mereka tidak direstui. Hingga dihembusan napas terakhirnya, keluarga Ayah tidak juga menganggapnya sebagai bagian dari keluarga Wardhana.
Hanya Damar sosok dari keluarganya yang selalu membantu Aruna.
"Mas apa kabar?" Aruna dengan air mata mengembang di pelupuk mata mendekat, lalu menghambur ke dalam pelukan Damar. Ia tumpahkan tangisnya di sana, ia lepaskan ketakutannya. "Aruna kangen."
Bagas merengut melihat pemandangan itu. Siapa? Benaknya bertanya.
"Ayah, Mas. Ayah." Aruna merasakan elusan lembut di punggung belakangnya. Entah mengapa, perasaannya kini terasa tenang setelah bertemu Damar. "Ayah udah gak ada."
Damar semakin mengeratkan pelukan itu. "Maaf ... maaf Mas baru datang. Maaf udah buat kamu ngelewatin ini sendirian."
Karena Damar tahu, Aruna tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Ibu dan dirinya.
****
Di sore yang menjelang malam itu, Bagas dan Aruna duduk di sofa panjang yang ada di ruang rawat Ibu, sementara Ibu yang sudah terbangun masih berada di atas ranjang, terduduk dengan punggung bersandar. Sedangkan Damar, lelaki itu duduk di tepi ranjang yang berhadapan langsung dengan kedua pasangan yang sekarang sedang menunjukan ekspresi berbeda.
Bagas yang terlihat tenang, dan Aruna yang terlihat gugup.
Setelah selesai melepas rindu dengan Damar, Aruna memperkenalkan Bagas pada kakak sepupunya itu sebagai kekasihnya. Sesuatu yang tidak pernah Damar sangka sama sekali. Aruna memiliki kekasih? Gadis itu bahkan sangat sulit untuk didekati oleh laki-laki. Aruna tipe gadis yang kaku dan kurang bergaul.
"Jadi ... kalian bener pacaran?"
"Iya, Mas." Bagas yang menjawab, lelaki itu memberikan senyum santai meski Damar menunjukan raut yang sebaliknya. "Udah satu bulan. Ya kan, sayang?" Dielusnya kepala Aruna yang seketika mendelik tidak suka.
Gadis itu menyengir kaku, bergerak tidak nyaman seraya mencoba menjauhi tangan Bagas dari kepalanya. Jujur, Aruna risih sekali diperlakukan seperti itu.
"Bagas," Ibu memanggil, yang seketika membuat perhatian Bagas dan Aruna jatuh pada sosok di atas ranjang itu.
"Iya, Bu."
"Ibu mau bilang makasih sama kamu." Ada senyum lemah di wajah Ibu saat beliau berujar demikian. "Makasih ya kamu udah bayarin biaya berobat Ibu. Itu gak sedikit loh, Gas."
"Gak apa-apa, Bu, saya seneng kok bisa ngebantu Ibu sama Aruna."
"Ibu gak tahu harus bilang apa lagi selain terima kasih sama kamu. Nanti, kalo Ibu udah sehat, Ibu janji bakalan masakin makanan kesukaan Bagas."
"Woah!" Bagas berseru heboh, entah dibuat-buat apa memang sifat aslinya seperti itu. "Saya tunggu, Bu. Jadi gak sabar mau makan masakan Ibu."
"Makanan kesukaan Bagas apa?" tanya Ibu.
"Saya pemakan segala kok, Bu, yang penting minumnya teh botol sosri."
Sontak Ibu tertawa keras, pemandangan yang tak lagi Aruna lihat semenjak Ayah meninggal. Ibu tertawa. Tapi, yang membuatnya semakin terpaku adalah sosok di sebelahnya yang tak ia sangka bisa memperlakukan Ibu begitu sopannya.
"Ibu masakin ayam bakar madu, mau? Itu makanan kesukaan Aruna."
"Boleh, Bu." Ia melirik sekilas pada Aruna yang sedang menatapnya dari samping. "Kalo gitu berarti Ibu harus cepet sehat, biar saya gak kepikiran terus buat nyobain masakan Ibu. Saya gak bisa tidur kalo kepikiran, Bu. Kalo saya gak bisa tidur, saya maunya deket-deket Aruna terus," kelakarnya lagi yang membuat Ibu semakin tertawa lepas.
Aruna langsung mendengus, tak lupa dengan kedua bola matanya yang berputar jengah. Apa-apaan lelaki ini? Pintar sekali menggombal. Ck, Bagas benar-benar berbahaya.
****