"Kenapa harus Bagas yang bayarin rumah sakit Ibu?" Damar nenyela.
Perhatian Aruna kini berpindah pada sosok kakak sepupunya itu. "Aku belum ada uang, Mas, jadi Bagas bantu."
"Terus kenapa kamu gak bilang sama Mas kalo butuh uang, Run?" Damar berujar tak suka. Kenapa harus Bagas kalau Aruna dan Ibu masih memiliki dirinya yang masih satu keluarga dengan mereka? "Mas bisa kok bayarin biaya rumah sakit, Tante."
"Nggak masalah, Mas." Bagas membalas sambil merangkul pinggang Aruna, senyum jenakan tak luntur sama sekali sejak tadi dari wajahnya. Semenjak Aruna melepas tangannya secara tiba-tiba saat melihat Damar, Bagas mendadak ingin bermain-main dengan gadis itu. "Udah tugas saya sebagai pacar yang sebentar lagi bakalan jadi suami Aruna."
Eh?
Aruna dengan cepat menolehkan kepalanya, mencurahkan seluruh perhatiannya hanya untuk memberi tatapan kaget pada Bagas. "Gas!" geramnya pelan.
"Kenapa sih, Sayang?" Tangan Bagas masih setia melingkari pinggangnya, membuat Aruna semakin kesal.
Oh, ya ampun. Aruna tahu mereka sedang bersandiwara, tapi tidak perlu berlebihan seperti ini?
"Nikah?" Ibu yang awalnya memasang wajah penuh senyum sekarang berubah terkejut. Aruna tidak sedikit pun bercerita tentang hubungannya dengan Bagas yang sudah sejauh itu.
"Iya, Bu. Saya mau nikahin Aruna." Bagas memasang wajah tak bersalah. Toh, pada akhirnya mereka memang akan menikah kan? "Boleh kan kalo minggu depan Papi saya ketemu sama Ibu?" Lalu beralih menatap Damar. "Sama Mas Damar juga, Aruna pasti ngajak kok. Itu juga kalo mau, kalo gak mau ya gak apa-apa," selorohnya lagi dengan tampang yang amat sangat ... sangat menyebalkan!
Astaga! Habis makan apa sih Bagas ini? Aruna rasanya ingin sekali menyeburkan kepala Bagas ke dalam kolam air dingin agar otaknya sedikit lebih baik.
"Kamu serius mau nikah sama orang ini, Run?" Damar tidak ingin menanggapi rancauan Bagas, ia lebih memilih bertanya langsung pada adiknya. Karena Damar tak percaya Aruna mau menikah dengan lelaki seperti Bagas, yang dari luarnya saja sudah terlihat berengsek.
"Bu—kan gitu maksudnya." Aruna tergagap, menggerakan kedua bola matanya dengan gugup.
Pembicaraan tentang pernikahan tidak ada di dalam naskah. Tadi malam mereka tidak membahas sejauh itu. Ini pasti karena Bagas terlalu banyak berimprovisasi.
Ck, Bagas! Awas saja nanti.
"Run?" Aruna menoleh salah tingkah pada Ibu yang masih memasang wajah terkejut. "Benar mau nikah?"
Apa sudah sejauh itu hubungan anaknya dengan lelaki yang baru ia kenal hari ini?
"Bu ..." Aruna segera melepas tangan Bagas yang melingkari pinggangnya. "Itu —"
"Maaf udah buat Ibu kaget," sela Bagas. "Saya cuma gak mau pacaran terlalu lama, biar gak jadi gosip. Apa lagi kalo tiba-tiba perut Aruna membesar."
Eh?
Detik itu juga, mungkin hanya wajah Bagas yang masih terlihat santai, sementara ketiga lainnya sudah membuka mata lebar-lebar dengan raut wajah terkejut.
"Run, kamu gak lagi ...." Damar menggantung kalimatnya dengan bibir menganga.
Aruna langsung mengibaskan kedua tangan cepat "Nggak!" jawabnya, kemudian beralih pada Ibu. "Nggak kok, Bu." Aruna berusaha mengurai kesalahpahaman itu, sementara Bagas,
Oh, si biang onar itu bahkan masih terlihat santai. Setelah membuat kehebohan di sana, ia sama sekali tidak menunjukan rasa bersalahnya, atau memang dia sama sekali tidak memiliki rasa itu?
"Gak sejauh itu, Bu." Bagas mempertegas. "Bagaimanapun saya dan Aruna itu sudah sama-sama dewasa, takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Ada seringai saat ia dan Aruna saling bertatapan.
Ya ampun. Aruna merasakan jantungnya sudah terjun bebas ke dasar perut. Setiap kata yang Bagas keluarkan membuat Aruna ketar ketir, takut Ibu akan berpikiran buruk.
"Bu ..." Bagas memanggil Ibu yang seketika menoleh ke arahnya. "Jadi ... saya bolehkan bawa Papi ketemu sama Ibu?"
***
Langkahnya terlihat terburu-buru, ada emosi yang menggelegak setiap hentakan kaki itu menyentuh lantai. Rasanya, Aruna ingin sekali menenggelamkan Bagas yang sedang berjalan di belakangnya sambil terus bersiul, seolah tidak ada masalah di antara mereka.
Aruna menggeram. Astaga! Dimana sih Bagas menyimpan otaknya?
"Kamu apa-apaan sih, Gas!" Aruna berbalik, menyentak kesal pada Bagas yang mendadak berhenti setelah mereka tiba di parkiran rumah sakit. "Saya udah bilang jangan mengacau!"
Menaikan sebelah alisnya, Bagas menatap Aruna tak terima. "Gue bikin kacau apaan sih?" jawabnya.
"Kamu gak sadar apa yang udah kamu lakuin di dalam tadi?"
Bagas mengedik. Menurutnya pertemuan pertamanya dengan Ibu hari ini berjalan baik-baik saja, atau memang sebenarnya ini yang sudah ia rencanakan. Hanya untuk mengerjai gadis itu.
"Bagas, kamu tuh gak bisa egois kayak gini!"
"Apa sih? Emang gue ngomong apaan?"
Oh ya Tuhan. Aruna tidak bisa untuk tidak melebarkan matanya dan juga mulutnya saat mendengar jawaban itu. "Semalam pejanjiannya cuma ketemu Ibu dan bilang kalo kita pacaran. Nggak ada obrolan tentang pernikahan, Bagas!"
"Loh, kita emang mau nikah, kan?"
Aruna semakin gemas. "Tapi gak usah dibahas di pertemuan pertama sama Ibu dong!"
Bagas dengan wajah santai dan raut tak bersalah melengos membuka kunci mobilnya. "Hari ini atau besok sama aja, Aruna, Ibu juga bakalan tahu."
"Bagas!" Aruna masih menahan diri untuk tidak menonyor kepala lelaki itu. "Kamu ngerti keadaan gak sih? Tahu kan kalo ada namanya, tunggu hingga waktu yang tepat?"
Bagas berbalik, menatapnya penuh menantang. "Terus menurut lo, kapan waktu yang tepat?"
"Seengganya bukan sekarang, Bagas!" Aruna maju ke depan, membuat lelaki itu melangkah mundur dengan kerjapan ngeri.
"Tunggu-tunggu, lo marah?" Bagas masih terus melangkah mundur hingga tubuhnya menyentuh badan mobil. Meski dengan tubuh kecil dan mungil seperti hamster, ternyata Aruna sangat menyeramkan kalau sedang marah.
"Ibu baru aja sembuh, kamu mau buat Ibu saya sakit lagi?"
"Ta—tapi." Duh, kok mendadak suara Bagas jadi tercekat gitu ya?
"Please! Kalo apa-apa tuh dipikirin dulu!"
"Run." Bagas menahan kedua bahu Aruna. "Elo mending masuk dulu deh." Ia buka pintu mobil bagian depan untuk Aruna. "Lo kalo lagi marah kok nyeremin gitu sih?"
"Buat apa saya masuk?"
"Gue anterin pulang ... yuk-yuk ... pulang aja, lo kayaknya kecapekan," tawar Bagas setengah takut.
Masih mencoba menahan rasa kesal pada lelaki di depannya ini, Aruna lantas menghembuskan napasnya yang terdengar memburu seraya menundukan wajah dan memejamkan mata. "Saya gak mau pulang sama kamu."
"Gratis kok, gue anter sampe depan rumah, apa depan kamar? Depan mana aja gue anter deh."
Aruna kemudian mengusap wajahnya yang terasa lelah setelah bekerja seharian ini, ditambah dengan Bagas yang mengacau di dalam kamar Ibu tadi.
"Selain Ibu, ada Mas Damar yang harus saya berikan penjelasan. Kamu pulang aja," ujarnya seraya mengangkat wajah dan mempertemukan padangan mereka.
Mendengar nama Damar, membuat jiwa kepo Bagas bergejolak. Sejak tadi ia ingin bertanya, tetapi belum ada waktu yang pas. "Damar tuh siapanya elo?"
"Kakak sepupu."
"Kok lo gak minta bantuan dia aja, kenapa malah nurutin permintaan konyol bokap gue?"
Aruna menggeleng. "Ceritanya panjang." Ada hela pelan yang terdengar dari bibirnya. "Kamu pulang aja sana."
***
Di kursi panjang itu, dengan diterangi cahaya bulan dan lampu taman. Aruna dan Damar duduk bersisihan dengan pandangan lurus ke depan. Setelah Ibu tertidur, Damar segera mengajak Aruna untuk berbicara berdua di sana perihal biaya rumah sakit Ibu yang dibayarkan oleh Bagas.
"Mas bisa bantu kamu sama Tante kok, Run."
Sebenarnya, bukan Bagas yang membayar biaya rumah sakit Ibu, melainkan Pak Riady. Aruna berkata demikian hanya agar Ibu tidak curiga.
"Selain biaya berobat Ibu, Mas juga tahu kalo Om Hadi punya hutang milyaran sama temannya. Gimana kamu akan bayar itu?"
Aruna yang sudah tidak lagi merasakan beban saat hutang itu disebut lantas tersenyum tipis. "Itu juga udah dibayar kok, Mas. Aku udah gak punya hutang apa-apa."
Damar seketika terkejut. "Sama Bagas?"
"Ya," jawab Aruna.
Membelalak, Damar tidak menyangka Bagas memiliki uang sebanyak itu. Maksudnya—ya wajar saja sih, ayahnya merupakan konglomerat nomor satu di Indonesia.
"Tapi, Run, tolong kalo ada apa-apa kabarin, Mas." Damar menghela seraya memiringkan badannya, menarik bahu Aruna hingga menatapnya. "Mas ini keluarga kamu. Kita keluarga kan, Run?" tanyanya dengan sorot lemah.
"Aku gak mau nyusahin siapa pun."
"Kamu bisa nyusahin Bagas, itu artinya kamu juga bisa nyusahin Mas."
Tapi tetap saja, Aruna merasa tidak bisa menyusahkan Damar. Keluarga mereka bukan keluarga konglomerat, hanya saja memang berkecukupan. Jadi Aruna tahu, untuk membayar hutang milyaran itu tidak akan mudah.
Dan dirinya dengan Bagas? Itu tidak gratis, ada harga mahal yang harus Aruna bayar.
"Mas tenang aja ya, Bagas gak akan buat aku kesulitan kok." Ya, setidaknya sampai satu tahun masa pernikahan mereka nanti.
Pada intinya, Aruna tidak mungkin menyusahkan keluarga yang telah membuang Ayah.
"Aruna juga udah diterima kerja. Jadi Mas tenang aja. Semua akan baik-baik aja."
Karena Aruna yakin, tidak ada pengorbanan yang sia-sia, apalagi untuk orang yang ia cintai.
****