"Jam sebelas nanti Bapak ada meeting bersama divisi keuangan. Jam satu Bapak makan siang bareng Pak Hendra, dilanjut pertemuan dengan Bu Sandra dari Bank Oliver." Aruna membacakan semua jadwal Danish untuk satu hari ke depan dari tablet di tangannya. "Jam tiga hanya mengecek bangunan di Area Lima, setelah dari Area Lima jadwal Bapak sudah tidak ada lagi."
Aruna mengakhirinya dengan senyum di wajah. Tangannya tersimpan rapi di depan tubuh dengan tablet dalam genggaman. Mata Aruna menatap lurus pada sang bos yang belum juga mengangkat wajah dari berkas-berkas di meja.
"Sandra coba kamu konfirmasi lagi ya, Run, tepat jam berapanya."
"Iya, Pak."
"Dan untuk makan siang dengan Pak Hendra saya gak mau di restoran jepang, tolong carikan restoran Italy saja."
"Siap, Pak." Aruna segera mencatat semua perintah yang Danish katakan. "Ada lagi, Pak?" tanyanya pada lelaki yang masih sibuk menatapi berkas di atas meja itu.
Sesaat Aruna masih terdiam di tempatnya, menunggu Danish mengucapkan perintah lagi, hingga kemudian lelaki itu mengangkat wajah dan menatap Aruna. Sorot matanya terlihat membingungkan, Aruna sampai merasa gugup.
"Mulai besok, kamu jangan pake rok itu lagi."
"Ya?" Aruna terkejut, sedikit tidak paham dengan kalimat Danish barusan. Ia bahkan sampai mengerjapkan matanya berulang-ulang lalu menurunkan pandangan menyapu seluruh penampilannya. "Memang kenapa ya, Pak?" tanyanya, berharap sang bos mau menjelaskan.
"Rok kamu terlalu pendek."
"Apa?" Ia kembali terkejut, namun kali ini dengan kedua bola mata yang terbuka lebar.
"Saya gak bermaksud membuat kamu malu, hanya saja saya gak mau kamu dijadikan bahan lecehan karyawan laki-laki di sini."
Ugh! Aruna malu sekali. Bahkan kini ia sudah bisa merasakan wajahnya yang memanas dan terbakar, mungkin sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Maaf, Pak," ujarnya menunduk sambil berusaha menurunkan roknya yang kekecilan itu pelan-pelan.
Danish ingin tersenyum, merasa lucu saat melihat wajah Aruna yang memerah. Tapi ia tidak ingin membuat gadis itu semakin malu, maka yang ia lakukan selanjutnya adalah menganggukan kepala, dan kembali menatap Aruna. "Saya udah selesai, kamu boleh balik ke tempat kamu."
"Ba—baik, Pak."
Saat Aruna berbalik dan hendak membuka pintu ruangan, suara Danish yang dingin dan berat terdengar lagi di telinganya. "Run ..."
"Iya, Pak." Aruna berbalik dengan cepat, sangat cepat hingga Danish menaikan sudut bibirnya. Aruna malu sekaligus merasa bodoh.
Demi apa pun, ia ingin segera keluar dari ruangan itu.
"Saya mau kopi."
Aruna langsung menyanggupi. "Baik, Pak." Bergerak gelisah, Danish pun seolah tahu gelagat Aruna yang ingin segera pergi dari sana.
"Ya sudah, kamu boleh keluar."
Buru-buru Aruna keluar dari ruangan itu. Di setiap langkah kakinya, ia berharap memiliki mesin waktu agar terhindar dari kejadian memalukan ini.
***
Tiba di dalam pantry, Aruna tak tahan untuk tidak menjedukan kepalanya pada lemari kabinet di depan. Sumpah demi apa pun, ia malu sekali. Entah bagaimana ia harus berhadapan dengan Danish setelah ini. Menghindar pun tidak mungkin, lelaki itu adalah bosnya, dimana pun, kapan pun, ia harus siap bertemu dengannya.
"Ya ampun, aku malu!" gerutunya sambil terus membenturkan kepala pada lemari. Andai di depannya saat ini ada kolam, mungkin Aruna sudah menenggelamkan kepalanya di sana. "Malu! Malu! Malu!"
Lagi pula, Danish perhatian sekali padanya, padahal Shafa juga memakai rok, terlihat sama pendek dan ketatnya, tapi mengapa hanya Aruna yang ditegur? Ditegur oleh bos karena sesuatu yang memalukan benar-benar membuat jantung Aruna rasanya ingin copot.
Oh, semoga hari ini tidak ada lagi yang membuatnya buruk.
Mengambil cangkir untuk membuatkan kopi yang Danish perintahkan, Aruna tersentak ketika ponselnya berdering. Merogoh kantung blazer dan mengeluarkan benda pipih itu dari sana, Aruna mendapati nama Bagas tertera di layar.
Seketika ia berdecak, masih sedikit kesal dengan kejadian kemarin. Dengan ibu jari yang menggeser tombol hijau pada layar ponselnya, Aruna pun segera menjawab panggilan itu. "Hall—"
"Bokap gue minta ketemu."
Belum selesai kalimat Aruna terucap, Bagas sudah lebih dulu menyerobotnya.
"Lo pulang jam berapa?"
Aruna yang masih memegang cangkir kopi lantas menggeram, memutar bola matanya kesal. Dimana sih sopan santun lelaki itu? Setidaknya, Bagas bisa membiarkan Aruna selesai berbicara sebelum ia mengutarakan tujuannya.
"Woii? Lo denger gue gak sih?"
"Enggak!"
"Dasar budeg!"
Aruna pun menggeram. Ugh! Kalau ada di depannya, sudah ia pukul lelaki itu. "Jadi Pak Riady mau ketemu saya?"
"Mau ketemu lo sama gue," jelas Bagas sedikit mempertegas. "Ada yang mau dia omongin. Atau jam makan siang ini lo bisa izin keluar?"
Melirik sekilas jarum jam di tangan, Aruna tampak berpikir. "Nggak bisa, bos saya ada pertemuan di luar pas jam makan siang, saya harus ikut. Pulang kerja, bisa?"
"Ya udah," putus Bagas. "Tapi gue gak bisa jemput lo, gue harus ke suatu tempat dulu nanti."
"Hm." Aruna mengangguk seolah Bagas bisa melihat itu di seberang sana. "Gak apa-apa, saya naik taksi aja."
"Kalo gitu gue tutup."
Dan sambungan itu pun benar-benar terputus sebelum ia sempat membalasnya. Aruna berdecak, menatap layar ponselnya yang menampilkan waktu panggilan mereka.
"Serius? Lelaki gak sopan ini yang bakalan nikah sama aku nanti?"
***
Aruna mengerjakan tugasnya dengan baik hari ini. Mereservasi restoran yang diminta Danish, menemani lelaki itu bertemu dengan beberapa orang di luar kantor, menyiapkan berkas dan juga keperluan lainnya. Aruna sudah cekatan meski masih ada beberapa hal yang terlupakan.
Dan juga, semua berjalan lancar kecuali satu hal, perihal roknya yang Danish bilang terlalu pendek. Sepanjang Aruna berada di sana, ia melihat semua karyawan wanita memakai rok yang seukuran dengannya. Lantas, mengapa hanya dirinya yang ditegur?
Kan ia jadi malu.
Seperti yang tertera di dalam kontrak, jam kerja Aruna dimulai dari jam sembilan pagi sampai dengan jam lima sore setiap hari, dan jika lebih dari itu, Aruna akan dianggap lembur.
Tepat jam 17.00 Aruna segera merapikan meja kerjanya, bertepatan dengan itu juga Danish keluar dari ruangannya. Aruna segera memberi hormat seraya menyapa.
"Sore, Pak."
"Shafa mana, Run?" tanya Danish begitu tubuhnya sejajar dengan meja Aruna. Di sebelahnya, meja Shafa kosong karena wanita itu izin ke toilet.
"Ke toilet, Pak."
Danish mangut-mangut. "Kamu pulang naik apa?"
"Naik angkutan, Pak."
"Mau bareng?"
Ada apa sih dengan bosnya ini? Tadi perihal rok, sekarang pulang bareng. Bisa dimusuhi satu kantor ia kalau ketahuan pulang bersama bos.
"Gak, Pak, terima kasih. Saya juga mau ke suatu tempat dulu."
"Oke. Kalau gitu saya duluan."
"Baik, Pak."
Danish pun melangkah menuju lift lantai 10 yang dibuat khusus untuk orang-orang penting di lantai itu.
Tak lama setelah Danish pergi, Shafa kembali ke tempatnya. "Pak Danish udah pulang ya?"
"Udah, Mbak, barusan."
"Duh, perut saya sakit, jadi gak bisa nunggu bos pulang." Shafa kini juga mulai merapikan peralatan kerjanya di atas meja, bersiap-siap untuk pulang. "Dia nanyain saya, Ga?"
Aruna tersenyum. "Nanya, Mbak, tapi udah saya bilang kalo Mbak lagi ke toilet."
"Terus dia biasa aja gitu?"
Aruna mengernyit, sedikit bingung. "Biasa aja sih, Mbak." Lalu penasaran. "Memang kenapa, Mbak?"
"Gak apa-apa sih, soalnya saya belum terlalu kenal dengan sifat Pak Danish." Seraya mendengarkan Shafa bercerita Aruna terus merapikan barang-barangnya ke dalam tas. "Dia kan baru pindah dari luar negri, baru gantiin Pak Alex."
Seketika gerakan tangannya terhenti. "Loh, saya kira Pak Danish itu sudah lama jadi Direktur di sini."
"Gak kok, baru sebulan lah."
Oh, berarti bukan hanya Aruna yang menjadi anak baru di sini, Danish juga.
Melirik jarum jam di tangan yang sudah menunjukan pukul lima sore lewat sepuluh menit, Aruna bergegas merapikan barang-barangnya. "Mbak, saya duluan ya."
"Iya, Run. Kok buru-buru banget?"
"Iya." Menutup risleting tasnya, Aruna lantas menyampirkan benda itu ke balik punggungnya. "Saya lagi ditunggu orang."
"Oh, oke deh. Hati-hati, Run."
"Iya, Mbak."
Buru-buru masuk ke dalam lift, Aruna tidak mau kalau Bagas nanti mengomel karena ia terlambat. Lelaki itu kan sering sekali marah-marah. Ingat pertemuan pertama mereka yang membuat Aruna terkejut. Saat itu Bagas sedang berteriak nyaring pada Pak Riady. Dengan ayahnya saja bisa sekurang ajar itu, apalagi dengannya. Aruna merinding membayangkan itu.
Tiba di lobby, Aruna langsung mencari taksi yang akan membawanya menuju gedung PT. Angkasa Jaya. Hampir dua puluh menit taksi yang ia gunakan berkutat dengan kemacetan jalanan yang dipenuhi dengan kendaraan di jam kerja pulang, akhirnya Aruna tiba di gedung perusahaan itu.
Dari depan gedung terpampang jelas logo perusahaan yang menunjukan kemewahan dan megahnya bangunan itu. Siapa pun yang melihatnya pasti setuju kalau pemilik gedung ini adalah salah satu orang berpengaruh di Negeri ini.
Tiba di depan pintu kaca lobby, Aruna disapa oleh Satpam penjaga yang berdiri di sana. Sudah jam pulang kantor, sebagian lampu di dalam gedung itu sudah dimatikan, tapi masih ada beberapa karyawan yang belum pulang berkumpul di tengah lobby.
"Sore, Mbak," sapa Satpam yang bernama Danang. "Mau ketemu siapa?"
Aruna tersenyum tipis. "Saya mau ketemu dengan Bapak Riady."
"Sudah buat janji sebelumnya?"
Mengangguk, Aruna ingin menjawab, tapi seketika terinterupsi oleh suara melengking dari dalam sana.
"Kasih dia masuk!"
Baik Aruna dan Pak Danang sama-sama mengalihkan perhatian mereka ke sumber suara. Untuk beberapa saat keduanya sama-sama terkejut. Pak Danang yang memucat perlahan menundukan kepala seraya menyapa sosok itu. "Sore, Pak," ujarnya takut-rakut.
Bagas dengan aura menyeramkan dan wajah mengeras berdiri di dekat meja resepsionis seraya memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Awalnya, tidak ada yang salah. Tapi begitu Bagas kembali bersuara, mendadak mata Aruna ikut melebar.
"Dia pacar gue! Langsung diantar masuk!" Bagas memerintah dengan wajah pongah.
Sontak bukan hanya Aruna yang terkekut, beberapa karyawan yang masih berada di sana pun langsung membelalakan mata mereka kaget.
Ziedan Bagas Wijaya memiliki kekasih? Sejak kapan? Yang mereka tahu Bagas adalah seorang anak konglomerat yang sibuk menghabiskan uang di dalam kelab malam. Bagas hanya seorang lelaki yang gemar bermain wanita. Tak disangka bos mereka memiliki kekasih. Apalagi wajah kekasihnya terlihat begitu manis dan polos.
Ck, kasihan sekali yang menjadi kekasihnya.
Pak Danang yang ikutan terkejut pun lantas menundukan kepala ke arah Aruna seraya terus mengucapkan maaf. "Maaf, Bu, Maaf. Maaf saya gak tahu Ibu pacarnya Pak Bagas."
Aruna yang berusaha menenangkan diri perlahan mengerjap dan beralih menatap Pak Danang yang ketakutan. "Gak apa-apa, Pak," ujarnya memaklumi. "Gak perlu minta maaf."
"Besok-besok kalo lo lihat pacar gue ke sini, langsung diantar masuk! Jangan lo tahan di depan pintu!" bentak Bagas yang membuat Aruna menatap ke arahnya dengan sorot mata kesal.
Ada apa sih dengan lelaki itu?
Sebenarnya Pak Danang tidak salah, hanya saja Bagas memang gemar sekali mencari kesalahan orang lain. Apalagi membentak bawahannya. Ia hanya sedang bosan, dan sedikti bermain-main tidak masalah, kan?
"Iya, Pak. Maaf. Gak akan saya ulangi lagi." Wajahnya sudah sepucat sagu, tubuhnya pun bergetar ketakutan. "Maaf ya, Bu."
Aruna menghela, menggerakan kepalanya naik turun seraya tetap memasang senyum maklum di wajah. "Iya, Pak, saya maafin."
Lalu tatapannya beralih lagi pada Bagas. Aruna kesal sekali dengan lelaki itu, selain karena sikapnya yang tidak sopan pada Pak Danang, Aruna juga kesal karena Bagas mengakuinya sebagai pacar di depan karyawan lelaki itu.
Ck, seperti Aruna mau saja menjadi pacarnya?
Seolah tahu kalau dirinya sedang ditatap tidak suka oleh Aruna, Bagas pun menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringai. "Apa?" tantangnya.
Aruna lantas mendesis, menggeram tertahan dengan bibir mengerucut sebal. Memang harus ya setidak sopan itu pada bawahan?
Malas menanggapi pelototan tajam Aruna, Bagas pun berlalu dari tempatnya untuk melangkah menuju lift. Baru dua langkah beranjak, ia kembali berteriak pada gadis itu.
"Buruan! Mau gue tinggal!"
Aruna melipat bibirnya ke dalam, merasa kesal sekaligus tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalas Bagas. Menyebalkan sekali memang lelaki itu. Sepertinya pertemuan mereka akan selalu berhasil membuat tensi Aruna tinggi.
****