Pasangan Bagas

1937 Kata
Bagas memang bukan bos yang galak dan tegas, apalagi berwibawa. Bagas terkenal sekali dengan sikap semena-mena dan tidak peduli pada masalah orang lain, apalagi hanya seorang bawahan. Ia akan memberi hukuman bukan karena kesalahan, tapi karena tidak suka. Ia juga akan mengerjai beberapa karyawan karena merasa bosan. Pernah suatu hari ia menghukum seorang karyawan laki-laki hanya karena tidak suka melihat orang itu memakai dasi berwarna merah. Sangat konyol memang, tapi seperti itulah Bagas. Tidak ada wibawanya di mata semua karyawan. Kalau bukan karena gaji yang besar, mereka mungkin sudah memilih untuk berhenti bekerja. Beruntung Bagas di karuniai wajah tampan dan tubuh yang tinggi bak seorang model. Di balik sikapnya yang tengil dan menyebalkan, setidaknya Bagas tetap terlihat mempesona di mata para karyawan wanita, pun tidak akan ada yang bisa menolak pesonanya. Tapi mungkin tidak dengan Aruna. Baginya, Bagas tidak lebih dari sebuah bencana. Di umur yang baru menginjak 21 tahun Aruna terpaksa merelakan statusnya berubah menjadi seorang istri. Bahkan ia merasa hampir gila karena harus menikahi laki-laki yang tidak ia cintai. Terlebih, ada syarat di dalam pernikahan mereka. Aruna rasanya tidak paham dengan isi kepala dari lelaki yang sedang berdiri di sampingnya itu. Lelaki yang sedang sibuk mengotak-atik ponselnya sementara dirinya sedang sibuk menatap angka yang terus bergulir satu persatu pada lift yang membawa mereka menuju lantai tertinggi di dalam bangunan ini. Tidak ada yang bersuara. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, hingga kemudian suara denting lift terdengar seiring dengan pintunya yang terbuka lebar. Sesaat tubuh mereka keluar dari benda aluminium itu, Bagas mengulurkan tangannya pada Aruna, meminta gadis itu untuk menggengamnya. Tapi Aruna yang bingung hanya memandang tangan dan wajah Bagas bergantian. "Kenapa?" tanyanya dengan kedipan polos. Melihat kepolosan sang gadis, Bagas sontak menggeram, menghela napasnya yang tersendat dengan kasar sebelum kemudian menarik paksa tangan Aruna untuk ia genggam. "Jangan sampe bokap curiga," katanya dengan nada gemas. "Kita udah pernah ngelakuin ini di rumah sakit." Terdiam sejenak untuk mencerna maksud ucapan Bagas, Aruna yang mulai mengerti pun mengangguk dengan bibir mengerucut. "Bilang dong, kamu cuma nyodorin tangan gitu, saya mana ngerti." Kalau dilanjutkan, mungkin mereka akan berdebat dan perdebatan mereka akan panjang. Tapi Bagas sedang terburu-buru, maka ia memilih untuk menarik tangan Aruna dan menyeret tubuh gadis itu untuk melangkah cepat menuju ruangan Papi. "Pelan-pelan, Gas!" Aruna meringis pelan dengan kaki terseok-seok. "Tangan saya sakit." Masa bodo! Bagas tidak peduli sekalipun Aruna kesulitan menyamakan langkah kaki mereka, ia hanya ingin cepat sampai dan bertemu Papi lalu setelah semuanya selesai, Bagas akan mebemui Dira di apartemen wanita itu. Karena jujur, mereka sudah membuat janji. Masih terus menarik tangan Aruna yang kesulitan melangkah, Bagas kemudian menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu jati berwarna cokelat dengan corak mewah. Tak mau repot-repot untuk mengetuk pintu, Bagas membuka ruangan itu dengan sekali sentak hingga suara gaduh terdengar cukup nyaring di sana. Riady yang berada di dalamnya seketika menoleh kaget, begitu pun dengan Aruna yang mendadak membelalakan matanya. "Bagas!" Aruna menegur, antara kaget dan juga kesal. "Kamu harusnya ketuk pintu dulu!" ujarnya berusaha mengingatkan, tapi Bagas dengan segala ketengilan yang ia miliki tidak memperdulikan itu. "Gak ada waktu," katanya, dan terus menyeret tubuh Aruna hingga berhenti di depan Riady yang sedang terduduk di sofa dengan tangan memegang berkas dan kaca mata yang bertengger di hidung. Bagas lalu tersenyum penuh maksud pada ayahnya itu. "Aku udah dateng, sama Aruna," ujarnya seraya mengangkat tangan mereka yang saling bergandengan. "Kamu bisa kan ketuk pintu dulu?" Seolah tidak peduli pada laporan sang anak, Riady menatap jengkel ke arah anaknya itu. "Gak sopan kamu, Gas!" "Ya elah, Pi." Bagas melengos, bibirnya mencibir tipis. "Sama anak sendiri juga." Tidak ada raut menyesal sama sekali, Bagas seolah tidak mengenal apa itu sopan santun, membuat Riady yang melihatnya hanya bisa menghela napas. "Kamu itu, Gas!" Riady menggeleng tak habis pikir, bagaimana merubah anaknya itu? Riady menghela, lantas meminta mereka berdua untuk duduk di depannya. Di detik selanjutnya, pandangan Riady sudah jatuh pada wajah manis Aruna yang menunduk. Ia menyapa gadis itu lembut. "Aruna apa kabar?" Kontan Aruna mengangkat wajahnya kaget, lalu menatap sang calon mertua dengan senyum tipis. "Baik, Pak," jawabnya sopan masih dengan tangan Bagas yang menggengam tangannya. "Bapak apa kabar?" "Saya baik." Riady membalasnya, sangat ramah dan hangat. "Gimana kabar Ibu kamu?" "Alhamdulillah, semakin baik, Pak." Aruna meremat kelima jari tangannya yang bebas di atas pangkuan. "Saya mau bilang terima kasih sama Bapak karena udah bayarin biaya rumah sakit Ibu saya." Mendengar itu, Riady sempat terdiam, lalu sedikit tertohok. Mengingat ia membantu Aruna karena meminta imbalan dari gadis itu, yaitu menikahi Bagas. "Kamu nggak perlu berterima kasih, saya jadi merasa bersalah." Eh? Aruna mengerjap. Sekali, dua kali. Tunggu. Bukan itu maksudnya, Aruna sungguh sungguh hanya ingin mengucapkan terima kasih tanpa berniat menyindir. "Maaf, Pak." "Tidak apa, saya tahu bukan itu maksud kamu." Riady mengalihkan pembahasan mereka. "Oh, iya. Bagas cerita, katanya kemarin dia sudah bertemu dengan ibu kamu?" Aruna melirik sekilas pada lelaki di sebelahnya yang sedang menyeringai itu, lalu ia mendesah dalam hati, sebelum kemudian menganggukan kepalanya pelan. "Iya, Pak." "Terus, gimana respon ibu kamu? Dia setuju dengan hubungan kalian?" "Ibu—" Aruna mendadak tercekat dengan mata terbuka lebar saat tiba-tiba Bagas mengecup punggung tangannya. Aruna mengerjap, lalu tersadar setelah matanya bertemu dengan mata Bagas. Apa-apaan sih lelaki ini? "Ibu bilang apa, sayang?" Bagas lantas menambahi agar Aruna segera menjawab pertanyaan Papi. Padahal ia sedang menggoda gadis itu. "Ibu ... itu—" oh ya ampun, Aruna jadi kesulitan bersuara karena Bagas. "Ibu bilang, beliau setuju." Riady tersenyum lega. Akhirnya meminang Aruna untuk menjadi menantunya berjalan dengan lancar. "Jadi ke depannya kalian mau gimana? Sudah serius berpacaran kan?" "Serius, Pi." "Run?" Riady beralih pada Aruna. "Kamu bisa nerima Bagas kan?" "Bi—bisa, Pak." "Bisa belajar untuk saling mencintai?" Bagas segera menyerobot. "Ya bisalah, Pi. Kita juga udah punya rencana buat kencan malam minggu ini," bohongnya. Kencan kepalamu gundul! "Papi gak usah khawatir, aku sama Aruna udah merasa cocok satu sama lain kok." Aruna segera mendengus tak kentara. Bibirnya terlipat kesal. Apanya yang cocok? gumamnya dalam hati. Setiap kali bertemu mereka hanya akan berdebat terus. "Jadi ... sudah yakin untuk menikah?" Sebenarnya Aruna belum siap membahas masalah ini, ia masih belum ingin membahas hubungannya dengan Bagas. Karena kemarin, setelah Bagas pulang, Ibu terus mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan dan itu membuat Aruna jengkel. "Gas?" Papi beralih pada Bagas karena Aruna hanya terdiam. Bagas sendiri masih bingung, masih belum yakin. Tapi Bagas dengan sikap impulsifnya berujar lantang, seolah memang itu yang Aruna inginkan juga. "Aku mau secepatnya nikahin Aruna, Pi." Yang sontak membuat gadis itu menoleh dengan gerakan cepat. "Kata orang, kalo sudah siap menikah, maka lebih cepat akan lebih baik." Aruna semakin melebarkan matanya, menatap Bagas horor. Bagas itu kenapa sih? Sejak kemarin selalu membicarakan tentang pernikahan. Padahal masih jelas diingatan Aruna kalau Bagas sendiri yang menolak menikahinya di dalam kafe. "Kamu yakin?" Papi bertanya menantang, tahu kalau anaknya tidak bisa diperlakukan seperti itu. "Yakin, Pi." Sudah jelas Bagas langsung menjawabnya. Dengan wajah sombong dan senyum angkuh, ia lalu melepaskan tangan Aruna dan beralih mengusap puncak kepala gadis itu. "Aku juga udah ngelamar Aruna di depan Ibu," katanya lagi bersama senyum pongah. Oh, Aruna rasanya ingin melumat otak Bagas yang bodoh itu. "Melamar?" Papi pura-pura terkejut, karena sesungguhnya beliau sudah mengetahui perihal lamaran yang Bagas utarakan pada Ibu Aruna dari anak buahnya yang menguntit lelaki itu. "Wah ... Papi gak nyangka kamu bisa seberani itu." Bagas menarik seringainya kian tinggi, menatap Papi penuh jemawa. Ia pun sebenarnya sudah tahu kalau segala gerak geriknya diamati oleh anak buah Papi. Maka itu Bagas berani mengucapkan lamaran di depan Ibu kemarin. "Oh, jelas dong, Pi. Apa sih yang aku takutin?" Tentu tidak ada, bahkan dengan Papinya sendiri saja ia tidak takut. Sementara, Aruna yang masih berada di tengah-tengah conversation antara Bagas dan Riady hanya mematung di tempatnya. Tidak tahu harus menanggapi seperti apa sikap implusif Bagas? Lelaki itu bertindak sedirian saja, padahal dalam masalah ini mereka adalah partner kerja. Harusnya Bagas meminta persetujuan Aruna dulu untuk melakukan sesuatu. "Udah menentukan tanggal?" "Kalo bisa besok, aku gak masalah, Pi." Bagas menyahut santai, sesantai sikapnya pada semua orang. Aruna sontak memejamkan kedua matanya, merasa kesal setiap mendengar Bagas bersuara. "Maaf, Pak Riady," selanya sambil membuka mata. "Tapi, saya gak bisa menikah dalam waktu dekat ini." Baik Riady maupun Bagas sama-sama menatap Aruna heran. "Loh, kenapa?" "Sesuai kontrak di perusahaan tempat saya bekerja, mereka melarang saya untuk menikah hingga enam bulan masa kerja." "Kalo gitu kamu bisa langsung resign, Run." Aruna menggeleng cepat. "Maaf, tapi saya gak bisa." "Saya yang akan mengganti dendanya." "Tapi tetap saya gak bisa." Karena Aruna tidak ingin kehilangan pekerjaan ini setelah dirinya dan Bagas bercerai. Satu tahun, itu tidak lama, dan Aruna tidak yakin bisa mendapatkan pekerjaan sebaik di sana. "Sejujurnya, Run." Pak Riady menghela, melepaskan kaca matanya dan meletakan itu ke atas meja. Ia memijat sedikit bagian pangkal hidung sebelum kemudian menatap Aruna lagi. "Saya tidak setuju kamu bekerja di sana." Ada sorot mata yang sulit Aruna jelaskan saat Riady menatapnya. "Saya yakin Bagas bisa menafkahi kamu dan Ibu kamu. Dia bisa memenuhi segala kebutuhan kalian." Bagas mengerjapkan matanya perlahan. Maksudnya, menafkahi dengan uang Papi kan ya? Aruna pun yakin akan hal itu. Meski Bagas tidak menafkahinya, Aruna yakin Pak Riady tak akan tinggal diam. Ia dan Ibu pasti tidak akan kekurangan. Tapi, lain halnya setelah dirinya dan Bagas berpisah nanti. Aruna tetap harus mencari uang untuk membiayai kebutuhan hidupnya dan Ibu. "Saya tetap ingin bekerja, Pak. Bukan karena uang, tapi karena saya ingin mencari pengalaman." Riady bisa apa? Ia tidak mungkin terus menekan Aruna. Gadis itu ingin menikah dengan Bagas saja rasanya Riady sudah bersyukur. "Baiklah, kalau itu memang yang kamu inginkan." Lalu terdiam sesaat. "Enam bulan lagi, kalian akan menikah. Itu tidak bisa diganggu gugat." Oh, d**a Aruna tiba-tiba bergemuruh hebat. Menikah? Mengapa terdengar begitu spele dan gampang? "Tapi, Run ..." Aruna kembali memfokuskan perhatiannya pada lelaki paruh baya itu. "Kalau kamu merasa sudah lelah bekerja, tolong katakan pada saya, saya akan membantu kamu." Mengangguk cepat, Aruna lantas memberikan senyum tipis pada Riady. "Terima kasih, Pak." Bagas yang melihat peluang akhirnya berujar memutus percakapan antara Aruna dan Papi. "Pi, berarti apartemen aku bakalan dibalikin, kan?" "Kamu masih mau tinggal di apartemen?" Papi balas bertanya dengan kening terlipat dalam. Memang apa lagi yang Bagas inginkan kalau bukan apartemennya kembali. Ia tidak mungkin bersusah payah melamar Aruna di depan Ibu kalau bukan untuk itu. "Iya lah, Pi," sahutnya bersungut-sungut. "Kan biar deket kalo aku mau ke kantor." Nyatanya itu hanya sebuah alasan. Niat Bagas memiliki apartemen hanya agar dirinya dengan mudah keluyuran tengah malam. "Nanti Papi akan minta Bayu untuk membuka akses apartemen kamu." "Yes!" Bagas langsung berseru heboh, wajahnya berbinar kegirangan. "Gitu dong, Pi." Aruna yang merasakan keanehan lantas menatap Bagas penuh curiga. Pasti ada alasan Bagas melamarnya di depan Ibu? Pasti bukan semata-mata karena Bagas ingin menikahinya. Oh jelas mereka tidak saling cinta. Jadi ... karena apartemen? Ya Tuhan, harusnya Aruna sudah bisa menebak ini. Bagas tidak mungkin menginginkan pernikahan dipercepat kalau bukan untuk kepentingannya. Ck, sialan! "Ya udah, kalo gitu aku anter Aruna pulang dulu, Pi." Bagas beranjak berdiri, memberi kode pada Aruna untuk mengikutinya. "Pi, jangan lupa bilangin Bayu buat buka akses apartemen aku," ingatnya dengan senyum merekah. Papi hanya mengangguk seraya menghela napas pelan. Sudah hafal dengan sikap anaknya. Bagas akan pergi begitu saja saat apa yang lelaki itu inginkan sudah tercapai. "Kalo gitu saya pamit dulu, Pak Riady." Aruna berujar sopan seraya menyalami tangan Riady. "Assalamualaikum." "Walaikumsalam." Riady menjawab, bibirnya tertarik lebar karena melihat perlakuan sopan Aruna padanya. Jelas sikap gadis itu bertolak belakang sekali dengan sikap Bagas. Riady merasa ia tidak salah telah memilih Aruna sebagai pasangan Bagas. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN