Calon Suami

1362 Kata
Tiba di restoran yang sudah Aruna reservasi sesuai dengan permintaan Danish, keduanya kemudian duduk di meja bundar yang berada di tengah ruangan. Restoran itu cukup sepi, karena memang hanya orang-orang berdasi yang sering datang ke sana. Beberapa dari mereka datang memang untuk makan siang, pun beberapa lainnya untuk bertemu rekan kerja. Dan ada juga yang datang ke tempat itu bersama selingkuhan mereka. Sedangkan Danish yang sudah tiga kali makan di restoran itu, kini datang bersama sekertarisnya. Wow, Aruna rasanya ingin menjerit. Bukannya nafsu, ia malah merasa melilit. "Gak dihabisin?" Danish bertanya seraya melahap lagi makanannya, lalu dikunyah dengan perlahan. "Gak suka?" "Su—ka kok, Pak." Suara Aruna tercekat sakit. Ya ampun, ingin menjawab pertanyaan bosnya saja ia sampai kehilangan suara. "Saya suka." "Terus kenapa gak dihabisin? Diet?" "Nggak," jawab Aruna lagi dengan kibasan tangan. "Saya cuma kenyang." "Oh, saya kira diet. Kamu gak usah diet, tubuh kamu udah bagus kok." Eh? Ini maksudnya apa? Danish tidak sedang memujinya kan? Atau memang sedang memuji? Atau meledek? Atau ... oke cukup. Aruna mengerjapkan matanya berulang-ulang. "I—iya, Pak." "Kamu juga jangan terlalu gugup sama saya." Duh, gimana tidak gugup. Diajak makan berdua sama bos itu rasanya nano-nano. Bikin mulas dan takut. Takut digosipin yang tidak-tidak. "Santai saja, Run, saya gak akan makan kamu kok," kelakar Danish mencoba melucu, tapi bagi Aruna itu sama sekali tidak lucu. Oh, atau haruskah ia pura-pura tertawa? "He—he—he," tawa Aruna garing. "Gak perlu dipaksa tertawa juga, Run." Tuh kan Aruna serba salah. "Ini bukan jam kerja, kamu gak perlu sungkan." Danish berujar santai, tapi suasana lain justru dirasakan Aruna. Ia malah merasa sangat mulas. Ini pertama kalinya Aruna makan bersama Danish, yang notabennya adalah bosnya. Tapi bukan itu yang Aruna permasalahkan, melainkan ketakutan jika ada salah satu karyawan PT. Bangun Negara yang melihatnya duduk satu meja dengan bos mereka. Itu bisa jadi gosip terhangat di perusahaan nanti. "Oh iya, Run." "Iya, Pak?" jawabnya buru-buru. "Ayah kamu kerja apa?" Wajah Aruna yang tadinya gugup perlahan berubah menyendu. Sampai saat ini kalau ada orang yang menanyakan tentang Ayah, Aruna masih merasa sedih dan sakit hati. Sedikit banyak ia masih belum bisa menerima kepergian Ayah. Meremat serbet di atas pangkuannya, Aruna lantas menjawab, "Ayah saya ... sudah meninggal, Pak." Danish yang sedang mengunyah seketika terpaku, memandang lurus wajah Aruna yang berubah muram. Ia lantas berdehem, merasa sudah salah bertanya. "Maaf, saya gak maks—" "Nggak apa-apa, Pak." Aruna paksakan senyumnya, tidak mungkin kan ia menekuk wajahnya di depan atasan. "Saya gak masalah," ujarnya kemudian. Lantas Danish membuang mukanya, menatap kaca restoran yang menampilkan kemacetan jalanan. Ia kembali berdehem, mendadak merasakan tenggorokannya tercekat. Danish dengan cepat meletakan sendok dan garpu yang ada di tangannya ke atas meja, menenggak air putihnya sebelum kemudian kembali menatap Aruna lagi. "Saya sudah selesai makan, kita balik sekarang." "Baik, Pak," jawab Aruna cepat. Keduanya pun langsung beranjak dari meja itu, melangkah keluar. Aruna menunggu Danish yang sedang membayar makan di depan pintu restoran, sesaat ia sedang menunduk, menatap hak sepatunya, tiba-tiba suara menganggetkan terdengar dari balik punggungnya. "Woi, pacar." Aruna sontak mengangkat wajahnya. Pacar? Mengerjap sesaat, ia pun menoleh ke belakang, dimana Bagas baru saja masuk ke dalam restoran seraya melambai. Astaga, kenapa ada lelaki itu? "Ngapain lo?" Bagas dengan wajah tengil dan konyolnya menghampiri Aruna, ia mendekati gadis itu dan berdiri di depannya. "Kamu ngapain?" Ck, malah balik nanya. Bagas berdecak. "Gue yang nanya duluan, jadi elo yang harus jawab," sungutnya. "Ngapain lo di sini? Sendirian?" "Nggak kok, saya sama—" "Maaf?" Danish yang sudah membayar bill datang menyela, membuat kedua pasang kekasih—prett, Aruna bisa mual mendengar itu—menoleh serempak. "Siapa, Run?" Mendadak Aruna menjadi blingsatan, ia tergagap kaku seakan tidak siap untuk memperkenalkan Bagas pada Danish. "I—ni, Pak ... dia—" "Bagas." Ternyata Bagas lebih dulu memperkenalkan dirinya. Ia menyodorkan tangannya ke depan untuk berjabat tangan dengan Danish. "Pacar Aruna," tukasnya menjelaskan. Mata Danish kontan mendelik. Pacar? Ia kira, Aruna masih sendiri. "Bagas, Pak Danish ini atasan saya." Dan tolong jangan membuat ulah, tambahnya dalam hati. "Saya Danish." Danish pun akhirnya menerima jabatan tangan Bagas. "Maaf membawa pacar anda untuk makan siang dengan saya." "Gak masalah." Bagas dengan sikap santainya menjawab setelah jabatan tangan itu terlepas. "Saya gak keberatan kalo yang bayar bukan pacar saya." Aruna sontak menganga lebar, rahangnya bahkan nyaris menyentuh lantai. Tuh kan! Baru saja ia mengatakan untuk jangan membuat ulah, tapi Bagas sudah membuatnya jantungan. Bagas! Aruna menggeram kesal. Kedua telapak tangannya sudah mengepal erat. Kalau saja mereka hanya berdua, Aruna sudah melemparkan bogem mentah ke wajah lelaki itu. Tapi respon berbeda diberikan oleh Danish, ia malah terkekeh geli, seolah menangapi kekonyolan Bagas. "Untungnya saya yang bayar, jadi tidak masalah kan?" "Oh, jelas nggak dong. Malah saya harusnya berterima kasih karena anda udah mengajak pacar saya makan." "Tidak masalah." Lalu Danish beralih pada Aruna yang masih mematung di sebelahnya. "Saya tunggu di mobil, Run, kamu silahkan bicara dengan pacar kamu." Aruna yang terhenyak lantas mengangguk kaku, ia memberi senyuman penuh maaf pada Danish. Sungguh, ia malu sekali. "Baik, Pak, saya tidak akan lama," ujarnya tidak enak. Setelahnya, Danish berpamitan pada Bagas yang dijawab dengan anggukan kepala dari lelaki itu. Di tempatnya, Bagas terdiam sejenak. Ia menatapi punggung Danish yang perlahan menjauh. Bagas merasa tidak asing dengan wajah lelaki itu, seperti pernah melihatnya di suatu tempat. "Gas!" Bagas terhenyak, menoleh ke arah Aruna. Oh, mungkin karena mereka bekerja di bidang yang sama. Mungkin saja mereka pernah bertemu di suatu pertemuan. Ya, bisa jadi "Kamu tuh!" Aruna mendekat ke arahnya sambil bersungut-sungut. "Bisa gak sih kamu gak malu-maluin saya!" "Gue malu-maluin lo kenapa?" "Tolong jangan ngaku-ngaku kalo saya itu pacara kamu," tekan Aruna. Seingatnya mereka hanya berpacaran saat di depan Pak Riady dan Ibu. "Oh ..." Bibir Bagas sontak tertarik ke atas, membentuk senyum meledek. "Jadi elo mau gue memperkenalkan diri sebagai calon suami?" Lalu bibirnya mencebik. "Bilang dong." "Apa?" Aruna menggeram, berusaha meredam kekesalannya. "Jangan gila, Bagas! Saya tahu kamu hanya senang meledek saya. Kali ini kamu sedang menginginkan apa? Terakhir kali kamu melamar saya di depan Ibu, kamu sedang menginginkan apartemen kamu balik lagi, kan? Lalu sekarang apa?" "Nggak ada kok," jawab Bagas santai. "Gue cuma mau memperkenakan diri sama bos lo—eh, ngomong-ngomong, muka bos lo kok gak asing? Gue kayak pernah lihat? Tapi dimana ya? Apa jangan-jangan dia juga sering ke kelab malam?" "Dia bukan kamu, Gas!" "Emang gue kenapa?" tanya Bagas dengan sebelah alis terangkat. "Hoby keluar masuk kelab malam!" Bagas terkekeh pelan, maju selangkah ke depan untuk memutus jarak di antara mereka. "Oh ... jadi lo stalking-in gue?" bisiknya menyeringai. "Udah sejauh apa?" "Kamu pikir saya gak punya kerjaan harus nguntit kamu." Aruna bersidekap, mendesis menantang Bagas. "Kamu gak sepenting itu! Dan harus kamu ingat, siapa pun tahu perangai kamu, Gas! Ada di seluruh media!" Bagas berdecih remeh, tidak tersinggung sama sekali. Bagas malah terlihat bangga dengan kepopuleran dirinya atas segala sensasi yang ia buat. Aruna sampai berpikir, apa sebenarnya Bagas memiliki otak? Atau urat malunya sudah putus? "Hebat dong gue, semua orang sampe tahu kayak gitu." Aruna melongo, tidak habis pikir. "Harusnya elo merasa tersanjung gue sebut pacar. Hitung-hitung lo ikutan terkenal." "Oh ya? Dan saya gak minat." Aruna nyaris merotasikan kedua bola matanya saat mengucapkan itu. Bibir Bagas sontak mencibir. Tak lama wajahnya terangkat sombong. "Elo tahu kan, media gak pernah memberitakan tentang pacar gue. Dan selamat, lo bakalan jadi cewek pertama yang masuk ke dalam media sebagai pacar pertama gue." Oke, Aruna tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak mendengkus. Kini matanya pun sudah berputar jengah. "Terserah kamu! Waktu saya sudah terbuang percuma hanya untuk meladeni rancauan kamu yang tidak berguna itu!" Lalu Aruna mendorong d**a Bagas pelan, hanya untuk membuat tubuh lelaki itu sedikit menjauh darinya hingga Aruna bisa cepat-cepat pergi dari sana, terutama dari lelaki yang mengaku sebagai pacarnya itu. "Woi, calon istri!" Bagas berteriak nyaring di belakang sana, yang Aruna tebak jika kini semua orang sedang menatap ke arahnya. Lelaki itu! Astaga! "Nanti gue jemput, ya." Aruna tidak ingin menanggapi, tidak ingin menghentikan langkah kakinya. Ia hanya terus berjalan keluar dari restoran itu. Masa bodo dengan Bagas yang terus berteriak, paling lelaki itu hanya sedang membual. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN