Mendadak perjalanan pulang menjadi sunyi, bukan berarti saat mereka pergi, tidak begini, hanya saja rasanya sedikit berbeda. Aruna yang duduk di samping Pak Supir mendadak takut, pasalnya Danish yang berada di kursi belakang mendadak jadi lebih pendiam dari sebelumnya.
Saat mereka berangkat, Danish masih menanyakan beberapa hal tentang pekerjaan pada Aruna, tapi kali ini Danish benar-benar terdiam tanpa mengucapkan apa pun. Pasti karena Bagas. Aruna tebak, Danish tidak suka pada sikap Bagas yang menyeleneh tadi.
Ck, kenapa sih ia harus bertemu Bagas di sana?
Begitu pun ketika mereka tiba di gedung perusahaan. Danish turun begitu saja, melangkah masuk dengan cepat, membuat Aruna yang mengenakan heels melangkah terburu-buru untuk menyamakan langkah kaki mereka.
Tiba di dalam lift yang membawa tubuh mereka menuju lantai sepuluh. Di dalam ruangan berbentuk kubus itu, tidak ada yang bersuara. Aruna berdiri dengan wajah menunduk dan d**a yang berdebar cepat. Sementara Danish yang menjulang tinggi di depannya hanya terus menatap lurus pada pantulan tubuh mereka di pintu lift.
Satu lantai sudah terlewati, baik Aruna dan Danish masih sama-sama terdiam. Aruna jelas tidak akan membuka suara, ia hanyalah bawahan. Maka, hingga kemudian Danish yang membuka suaranya lebih dulu.
"Run."
"Ya, Pak?" Aruna sontak mengangkat wajah, menatap Danish yang masih memberinya punggung.
"Pacar kamu itu Direktur PT. Angkasa Jaya, ya?"
"Ha?" Aruna jelas terkejut. Ia bahkan nyaris menjatuhkan rahangnya ke bawah. Bagaimana Danish bisa tahu?
Oh, jelas saja, mereka kan sama-sama pengusaha.
"Bagas Wijaya?" Danish bertanya lagi yang Aruna balas dengan anggukan kaku.
"I—iya, Pak."
"Anak pertama Pak Riady?"
"Ya." Memangnya ada berapa anak Riady Wijaya di dunia ini? Hanya Bagas seorang, yang tengil dan menyebalkan.
Ck, membicarakan Bagas selalu berhasil membuat Aruna kesal.
"Saya gak nyangka kamu bisa pacaran sama dia."
Eh?
Mata Aruna yang tadinya mengerjap gugup kini berubah termangu. Ada sesuatu yang mengganggu, dan itu membuatnya tidak nyaman.
"Kelihatan gak cocok ya, Pak?" Aruna bertanya dengan senyum yang dipaksa. Mendadak ia tidak percaya diri, apalagi kalau mengingat ia dan Bagas berasal dari kalangan yang berbeda.
Bagas anak seorang konglomerat sedangkan dirinya hanya seorang karyawan biasa.
Mungkin itu juga yang dipikirkan Danish.
"Saya gak maksud gitu, Run." Danish yang masih menampilkan wajah dinginnya lalu menoleh, memandang Aruna yang berdiri di belakangnya dengan senyum tipis. "Kamu salah paham."
"Gak apa-apa kok, Pak." Aruna mencoba mengerti. "Saya tahu posisi saya. Siapa pun orangnya pasti akan berpikir sama, saya memang gak pantes pacaran sama anak konglomerat."
Yang sontak membuat kening Danish terlipat dalam. "Kenapa kamu jadi berpikiran jauh ke sana? Memangnya ada kalimat saya yang merendahkan kamu."
"Nggak, Pak. Ucapan Bapak gak salah." Aruna menunduk, memilin jari-jari tangannya yang saling tertaut. "Cuma saya aja yang tiba-tiba merasa gak percaya diri pas Bapak bilang gitu."
Duh, baper banget ya!
Danish lalu berdecak samar, memutar tubuhnya untuk menatap wajah Aruna sepenuhnya
Oh, ini aneh sekali. Selama tiga minggu mereka bersama, baru kali ini keduanya membahas sesuatu di luar pekerjaan. Apalagi membahas masalah pribadi seperti ini.
"Kamu itu perempuan hebat." Danish menjeda kalimatnya sesaat, hanya untuk menarik napasnya dalam-dalam. "Kamu bahkan bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik."
Tak paham, dengan cepat Aruna mengangkat wajahnya, menatap Danish dengan sorot mata bingung. "Jadi maksud Bapak, Bagas gak baik?"
Danish sejenak memejamkan matanya, kembali menarik napas, lalu memijat keningnya perlahan.
Oh, ya ampun ... mengapa berbicara dengan Aruna jadi semerepotkan ini?
"Gak gitu, Aruna," helanya putus asa, ia lantas membalikan tubuh menghadap ke depan. "Udahlah, saya ngomong sama kamu jadi muter-muter gitu."
Loh? Aruna mengerjapkan matanya, berkedip berulang-ulang. Kenapa jadi dirinya yang salah? Padahal sejak tadi Aruna tidak berujar yang aneh-aneh.
"Perasaan saya cuma nanya loh, Pak," balas Aruna pelan, tapi masih bisa Danish dengar.
Kembali menatap pantulan tubuh mereka pada pintu lift, Danish pun berujar, "kamu lupain aja ucapan saya yang tadi."
Aruna langsung mencebik tak kentara, lalu menundukan kepalanya.
"Umur kamu juga masih terlalu muda untuk pacaran."
"Saya udah dua puluh tahun loh, Pak."
"Dibanding dengan saya kamu masih terlalu muda."
Ngomong-ngomong, umur Danish ternyata bukan 25 tahun seperti yang digosipkan anak kantor, tapi 29 tahun, tidak terlalu jauh dari umur Bagas, hanya terpaut dua tahun lebih tua. Aruna juga baru mengetahui itu saat melihat profil Danish kemarin.
Jadi ... jika dibandingkan dengan umurnya, Danish memang jauh lebih tua darinya.
Hihi. Aruna tertawa dalam hati.
"Tapi kamu gak usah ngatain saya tua juga loh, Run."
Eh?
Kok dia tahu?
Aruna lantas tergagap, menggeleng cepat seraya mengibaskan tangannya dengan gugup. "Ng—gak kok, Pak." Lalu menggigit bibirnya pelan dan menunduk seolah telah tertangkap basah menertawakan bos.
Ugh! Bagaimana Danish bisa tahu? Atau mungkin lelaki itu memiliki indera ke enam, hingga bisa mendengar isi hati orang lain.
Sementara Aruna mengutuki dirinya, Danish justru tersenyum geli melihat tingkah lucu gadis itu.
***
Bagas benar-benar menjemputnya. Aruna pikir lelaki itu hanya membual, tapi ketika dirinya akan melangkah keluar lobby, Bagas meneleponnya dengan nada menyebalkan seperti biasa.
"Gue di seberang. Buruan, jangan lama."
Lalu panggilan itu terputus secara sepihak. Selalu Bagas yang memutus panggilan mereka meski Aruna yang menghubunginya sekalipun.
Riady meminta Aruna untuk menikahi Bagas agar watak anaknya itu berubah, tapi belum menikah saja Aruna rasanya sudah ingin menyerah. Huh! Kalau seperti ini, mungkin belum setahun Aruna sudah minta pisah.
Melangkah keluar gedung perusahaan, Aruna menatap lurus pada area luar yang ternyata sedang di turuni hujan. Aruna lupa membawa payung, pun ia tak tahu kalau akan hujan. Sementara Bagas pasti sedang menunggunya di dalam mobil. Lelaki itu kan tidak suka menunggu.
Berniat untuk menerjang hujan, Aruna tersentak saat bahunya disentuh oleh seseorang dari belakang. Sontak ia menoleh, mendapati Danish berdiri di belakangnya dengan satu buah payung di tangan.
Buru-buru Aruna membungkuk menyapa bosnya itu. "Sore, Pak." Ia kira Danish sudah pulang, karena tadi sebelum turun ke lobby, bosnya itu sudah berpamitan pulang dengannya dan juga Shafa.
"Hujan," ujarnya, lalu mengulurkan sebuah payung pada Aruna. "Pake payung saya aja."
Aruna yang masih terkejut segera menolak itu. "Gak usah, Pak. Saya bisa lari kok sampe depan sana," tunjuknya pada tepi jalan.
Danish langsung menggeleng. "Tetep aja, hujannya deras. Kamu butuh payung."
Benar sih, tapi kenapa rasanya aneh sekali mendapatkan perhatian dari bos, sementara mereka masih berada di lingkungan kerja.
Demi apa pun, bukan Aruna ingin menolak, tapi ia takut menjadi bahan gibahan setelah ini. Bukan apa-apa, kedekatannya dengan Danish bahkan sudah dipertanyakan oleh beberapa karyawan.
"Em," Aruna tampak berpikir. Menolak tentu akan kehujanan, menerima pun hanya menambah masalah. "Gak apa-apa, Pak?"
"Gak apa, pake aja." Danish masih terus menyodorkan payung itu pada Aruna, membuat gadis itu menatap bergantian wajah sang bos dan payung di depannya.
Sesaat Aruna ingin menerima payung itu, tiba-tiba Bagas muncul di depan sana, melangkah dengan sebelah tangan memegangi payung yang melindungi tubuhnya dari hujan.
"Pacar!" panggil lelaki itu, yang kontan membuat Aruna memejamkan mata dan menggigit bibirnya geram.
Astaga! Jangan sekarang, Bagas!
Bagas semakin dekat, membuat raut wajah Danish berubah. "Gue udah nebak kalo lo pasti gak bawa payung," celotehnya begitu tiba di depan mereka.
Danish mendadak menurunkan tangannya yang memegang payung.
"Kenapa gak tunggu di mobil?" Aruna berujar pelan, tapi masih bisa didengar oleh Danish.
"Terus lo mau ujan-ujanan?"
"Saya bisa pinjam payung."
"Dan ngebuat gue nunggu lebih lama?" Sontak Aruna terdiam, mencebikan bibirnya kesal. Mengapa setiap berdebat dengan Bagas ia selalu kalah?
Menyebalkan.
"Ternyata kamu dijemput." Danish menyela, membuat kedua pasang kekasih yang gemar berdebat itu menoleh serempak.
Aruna bahkan lupa kalau Danish masih ada di sana, berdiri di antara dirinya dan Bagas. Ini pasti karena Bagas yang selalu membuatnya sport jantung.
"Woi, Danish."
Aruna lagi-lagi dibuat membelalak.
Bagas itu ada masalah apa sih?
Seraya menggeram, Aruna menoleh dengan raut pias. Bagas menyapa Danish dengan santai, seolah mereka adalah dua orang yang sudah lama tidak bertemu. Bahkan Bagas mengangkat tangannya ke udara untuk menambah keakraban itu.
"Mau jemput pacar nih," ujarnya berkelakar, yang Danish tanggapi dengan senyuman tipis.
"Hujan."
"Iya, kasihan kalo keujanan."
Aruna berdecak, tidak lupa ia rotasikan kedua bola matanya. Kasihan? Ia pikir Aruna percaya?
"Tadinya saya mau meminjamkan Aruna payung, tapi ternyata anda datang menjemput."
Bagas melipat bibirnya untuk menahan tawa. Lelaki yang sudah menanggalkan jas kerjanya dan hanya menyisahkan kemeja putih tanpa dasi yang kedua lengannya sudah digulung hingga siku itu menepuk bahu Danish pelan, membuat Aruna lagi-lagi melebarkan matanya.
"Santai aja, gak usah kaku. Gue bukan rekan kerja lo."
Oh, betapa santainya Bagas saat ini. Bahkan Aruna rasanya ingin sekali membungkam bibirnya agar tidak berbicara sembarangan.
"Lo baru mau pulang?"
Danish mengangguk. "Ya."
"Jam segini?" Bagas terkejut. Pasalnya, sebagai bos ia selalu pulang lebih dulu dari bawahannya.
Tentu saja, Danish dan Bagas adalah dua orang yang berbeda.
"Ada beberapa hal yang harus saya obrolkan dengan petinggi yang lain," jelas Danish. "Kalian gak butuh payung lagi? Satu payung terlalu sempit."
"Gak. Kan bisa pelukan, biar romantis," seloroh Bagas yang disusul gelak tawa.
Aruna kontan mendengus. Bagas dan segala kekonyolannya. Bahkan ia nyaris menjatuhkan diri pada genangan air di depan sana karena terkejut melihat kelakuan Bagas.
"Maaf, saya tidak terpikir ke sana."
Lagi-lagi Bagas tertawa, menggelengkan kepalanya dengan geli. "Lo kaku banget, kayaknya kapan-kapan lo harus ikut nongkrong bareng gue," ujarnya lagi.
Danish hanya tersenyum, menanggapi Bagas dengan anggukan kepala. Ia lalu mengembalikan payung itu pada supir pribadinya.
"Kalo gitu. Gue duluan, Nish," pamit Bagas.
Aruna pun yang gelagapan ikut berpamitan pada sang atasan. "Saya duluan ya, Pak."
"Hem, hati-hati, Run."
Bagas dan Aruna lantas meninggalkan lobby perusahaan itu dengan tubuh yang saling berdempetan. Payung yang Bagas bawa memang kecil, hingga tetesanan air masih bisa membasahi tubuh keduanya.
"Kamu geser dikit dong, Gas!" Aruna berujar, sembari mendorong bahu Bagas dengan langkah kaki yang saling beriringan. "Baju saya basah."
"Gue juga basah," ujar Bagas tidak mau kalah.
"Kamu kan cowok."
"Emangnya kalo sakit milih gender?"
"Seenggaknya cowok lebih kuat dari cewek."
Bagas mencibir. "Sama aja, kalo sakit, gue tetep gak bisa ngapa-ngapain."
Heuh! Aruna menghela tak habis pikir. Seperti inilah kalau sejak kecil segalanya selalu dituruti. Tidak bisa mengalah, bahkan dengan seorang wanita sekali pun.
"Mending gini aja deh." Lantas Bagas menarik pinggang Aruna untuk lebih dekat, merangkul pinggulnya hingga tubuh mereka semakin berdempetan. "Kan kalo gini aman," ujarnya.
Refleks Aruna membelalak, menggeliat tak nyaman di dalam rangkulan Bagas. "Kamu jangan cari kesempatan dalam kesempitan ya!"
"Siapa yang cari kesempatan?"
"Itu tangan kamu."
"Mana ada ngerangkul tapi gak dipegang?" dengus Bagas kesal.
"Saya gak butuh kamu rangkul, lepas!" Aruna menyentak.
Tapi, bukannya melepas, Bagas malah sengaja menarik pinggang gadis itu semakin erat. Ia pun berbisik pelan, "jangan gerak-gerak, d**a lo berasa banget."
Butuh satu detik,
Dua detik,
Tiga detik,
Oh,
Hingga sepuluh detik terlewati dan Aruna baru mengerti dengan apa yang Bagas ucapkan barusan.
"Bagaaaassssss!!"
****
follow akun i********: aku yukk @anna.nanana_